By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Jalan Terjal Profesi Pendidik: Konsepsi Perjuangan dan Sasaran Konstruktif Memaknai Hari Guru Nasional

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Rabu, 27 November 2024 | 00:12 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Presiden Sukarno berbincang dengan murid-murid Sekolah Rakyat di Bone, Sulawesi Selatan 9 Oktober 1953. ANRI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Sangat tersanjung apabila kita melihat gagasan dasar yang telah dibangun didalam UUD 1945. Pada alineanya yang keempat termuat salah satu nilai atau poin penting yang telah digagas sebagai salah satu mekanisme atau mesin perubahan untuk mengkonstruksi tatanan masyarakat negara ini. Tujuan negara yang digagas itu merupakan bentuk upaya negara untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Daftar Konten
“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Terang Dalam Kegelapan

Konsepsi ini melahirkan sebuah paradigma sederhana bahwa hadirnya negara merupakan bagian dari upaya dalam merealisasikan keberlangsungan hidup warga masyarakat melalui pintu gerbang “pendidikan”. Lalu pertanyaannya siapakah yang menjadi pilar utama yang berada langsung dalam Medan perjuangan untuk memperjuangkan cita-cita dari visi pedagog ini? Jawabannya ialah para tenaga pendidik yakni para guru.

Situasi pendidikan di negara Indonesia tengah berada pada krisis subtansial. Dimana dalam praktiknya muncul sebuah kegagalan dalam menerjemahkan situasi persoalan endemik dalam negeri yang berada dalam ruang lingkup pendidikan. Hal  tentu berimplikasi pada keterlambatan dalam merekonstruksi tipologi pendidikan yang tengah diwarnai dengan dinamika konflik. Terkhususnya mengenai persoalan nasip para tenaga pendidik yakni para guru yang menjadi fokus perhatian, berkaitan dengan isu pemberdayaan dan kesejahteraan para guru.

 

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” 

Ungkapan ini sering kali kita dengar apa bila kita berbicara mengenai peran seorang guru. Disandingkan bagai seorang pahlawan tentu dapat dipahami bahwa seorang guru memiliki peran yang sangat signifikan dalam kemajuan nusa dan bangsa. Namun disamping itu, ungkapan ini justru bekonotasi negatif yang menimbulkan pemaknaan yang ambigu. Itu artinya ungkapan ini melahirkan pemaknaan yang heterogen dan mengandung dua kenyataan berbeda.

Disatu sisi Guru menjadi “pahlawan” yang merupakan penyematan untuk menghargai dedikasi dan partisipasi guru dalam kemajuan negara. Namun disini lain, Guru adalah “pahlawan yang dilupakan” karena ketiadaan imbal jasa yang sepadan dan layak atas perjuangan seorang guru. Kesejahteraan para guru terabaikan dan mungkin juga aspirasinya tak didengarkan.

Baca Juga:   Kapitalis dan Komunis

Kondisi ini merupakan “jalan terjal” bagi para tenaga pendidik yang terus-menerus menjadi bagian dari ketimpangan sosial di negara ini. Persoalan ini terus tumbuh dan  opis solutif yang dicapai pun belum semaksimal mungkin untuk memperjuangkan hak-hak dari para guru. Bagai langit yang tak berujung, penegakan terhadap hak-hak para guru pun hingga kini juga belum terselesaikan. Dewasa ini banyak kita temui beragam polemik yang berkaitan dengan isu tenaga kependidikan. Permasalahannya ini menjadi isu krusial yang tidak hanya menjustifikasi kehidupan tenaga kependidikan. Disamping itu, muncul juga ketidakberdayaan dari para tenaga pendidik.

Miris melihat banyak dari sekian guru di Indonesia yang nasibnya tak diperhatikan. Para guru seringkali dituntut untuk memiliki profesionalisme dan kualitas yang meyakinkan. Dimana mereka harus mempunyai semangat etos kerja dan daya saing yang berkompeten dalam menjawab beragam tantangan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bentuk dari kewajibannya. Namun sangat disayangkan, bahwa sampai detik ini pun banyak dari para guru yang belum dihargai perjuangannya. Seringkali upah yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab dan pengabdian mereka. Ada pula nasib para guru yang sering kali mendapat perlakuan yang tidak adil.

 

Terang Dalam Kegelapan

Dalam memaknai hari guru yang diperingati  setiap tanggal 25 November tentu harus dilihat juga mengenai arti dari guru itu sendiri. Kata “guru” berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri atas kata “gu” yang artinya kegelapan dan kata “ru” yang artinya terang. Kata ini mengalami proses pemaknaan yang kemudian dimaknai sebagai “terang dalam kegelapan”.

Peran guru perlu dimaknai sebagai garda terdepan dari bagian usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehadiran guru menjadi momen penting dalam menentukan arah dan nasib bangsa ini kedepannya. Bangsa yang maju tentu tak terlepas dari peran para guru. Bagai terang dalam gelapnya dunia, para guru hadir sebagai penuntun setiap jejak langkah dan juga peristiwa untuk sampai pada cita-cita bangsa ini.

Baca Juga:   Pahlawan Soeharto dan Negara Amnesia

Terlebih lagi kalau kita melihat kegigihan dan perjuangan para guru yang ada di daerah 3T yakni daerah terdepan, terpencil dan terluar. Walaupun dengan segala keterbatasan faktor penunjang yang ada baik itu fasilitas atau kelayakan yang diterima secara personal maupun bersifat publik. Para guru senantiasa memaksimalkan mungkin komitmen mereka untuk terus melangkah dan memberikan cahaya pada setiap sisi jalan yang gelap. Hal ini membuktikan bahwa semangat yang hidup dalam hati setiap  insan tenaga pendidik tidak bisa dihancurkan hanya dengan hasrat untuk kepentingan pribadi semata.


Penulis: Valention Sukarto Patihuriq, Kader GmnI Hukum UWKS Surabaya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Menyoal Pilkada Langsung dan Atau Tak Langsung

Marhaenist.id - Langsung dan atau tidak langsung?” Pertanyaan ini sepintas sederhana, tetapi…

Sesalkan Kekerasan Aparat ke Pembentang Spanduk di Gunungkidul, Ganjar: Anda Tahu kan Itu Rakyat?

Marhaenist.id, Pontianak - Kasus kekerasan yang dilakukan oknum aparat terhadap warga yang…

GMNI Soroti Debat Pilkada Bantaeng di Makassar: Bikin Malu, Ricuh di Kampung Orang

Marhaenist.id, Makassar - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPC GMNI Jaktim: Teknologi Digital Perkuat Marhaenisme hingga ke Akar Rumput

Marhaenist.id, Jakarta Timur — Perkembangan teknologi dan digitalisasi dinilai menjadi instrumen strategis…

Heri Purnomo Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua PA GMNI Kota Bekasi

Marhaenist.id, Kota Bekasi – Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Lakukan Tindakan Kekerasan, DPK GMNI Kesehatan dan Hukum Institut Toraja Raya Kecam Perbuatan 2 Petugas RS Elim Rantepao

Marhaenist.id, Toraja Utara – Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Forkomcab GMNI Sumsel Menolak Kongres yang tidak berlandaskan Persatuan

Marhaenist.id, Sumsel - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat ini telah memasuki…

GMNI Soroti Akses Mineral Kritis dalam Perjanjian Dagang Indonesia–AS, Tegaskan Kedaulatan Energi Nasional

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Tidak Harus Anti Kepada Seseorang Yang Mau Berbuat Baik dan Mau Bersama GMNI

Marhaenist.id - Saya menambahkan beberapa hal dari tulisan "GMNI WAJIB TOLAK KADER…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?