By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Fenomena Jersey Indonesia vs Bahrain: Simbol Harapan atau Hilangnya Nurani?

Trian Walem
Trian Walem Diterbitkan : Minggu, 6 April 2025 | 00:46 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Bagikan

Marhaenist.id – Momen emosional Indonesia vs Bahrain (25 Maret 2025) di stadion GBK berubah menjadi kontroversi ketika jersey yang dilempar Marselino Ferdinan, diduga ditujukan untuk seorang bocah dengan tulus dan penuh rencana membawa kardus dengan tulisan “Marselino Ferdinan may I have your jersey”, justru direbut oleh penonton lain, langsung menuju ke belakang stadion meninggalkan bocah itu yang tertunduk kecewa, membawa jersey yang seharusnya menjadi hadiah untuk harapan kecil itu. Namun terlintas dalam benak mengapa penonton lainnya tidak ada yang memberhentikan, menghalangi dan apakah cukup dengan menyoraki?

Aksi yang awalnya simbol kasih sayang, spontanitas support dan sportivitas tersebut menimbulkan pertanyaan tajam di benak publik: Apakah ini sekadar insiden acak, tidak disengaja atau refleksi mentalitas penonton dan cerminan sebagian masyarakat kita?

“Perilaku mengambil/merebut sesuatu yang bukan haknya bukan hanya sekadar tindakan egois, tapi juga bentuk unconscious bias terhadap kelompok yang rentan, seperti anak-anak. Ada perasaan superior karena yang satu kecil, lemah dan bisa diabaikan. Ini adalah titik awal dari selfishness dan ketimpangan sosial yang semakin sistemik. Revolusi mental sejak 1956 digaungkan bukanlah sekadar kata-kata kosong yang diucapkan tanpa makna. Revolusi mental harus dibumikan dengan nyata. Semoga tidak terus menerus menjadi pepesan kosong belaka. Jadikanlah sebuah gerakan kolektif ekspresif yang perlu ditanamkan sedari ini TK, sekolah dasar – menengah hingga perguruan tinggi, yang akan menjadi penerus bangsa,” tegas R.Bg. Angelo Basario Marhaenis Manurung, S.Psi., atau yang lebih dikenal dengan nama Elo.

Bisa bayangkan ketika kejadian ini terjadi pada sesama orang yang satu rentang usia, apakah ada yang mengalah atau keduanya malah mendapatkan posisi yang sama-sama tidak menguntungkan? Fenomena ini mengingatkan kita pada bagaimana kekerasan terhadap kelompok luar (outgroup) sering kali muncul dari kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sendiri (ingroup). Individu dengan kebutuhan tinggi untuk “belonging” dan kepekaan terhadap penolakan, lebih cenderung melakukan tindakan agresif atau tidak adil terhadap orang luar bahkan anak kecil. Tindakan merebut jersey itu bisa jadi lebih dari sekadar impuls; ia adalah simbolik dari dominasi sosial yang kita pilih untuk diabaikan.

Baca Juga:   Paradoks Demokrasi Hilangnya Makna Mensen (Rakyat) Dalam Demokrasi Indonesia

Mentalitas Koruptor di Tribun?
Peristiwa ini seakan miniatur praktik korupsi

Yap betul itu potret nyata korupsi dalam bentuk paling telanjang, tanpa dasi, tanpa kursi empuk, tapi dengan semangat yang sama yakni merebut yang bukan haknya. Mematikan kreativitas dan harapan anak yang datang dengan niat, harapan dan tulisan penuh cinta. Sedari dini disingkirkan oleh ego dewasa mengambil kesempatan dalam kesempitan, dengan dalih “siapa cepat dia dapat”. Berlaku tidal adil kepada yang lemah karena tahu tak ada yang berani memberhentikan, menghalangi tuk menegur dan sebatas menyoraki atau bisa jadi terlambat mengetahui kejadian. Bisa saja dalam opini ini disebut cermin mentalitas koruptif dalam skala mikro.

Apa Kata Ilmu Saraf? Otak Fanatik Bekerja Berbeda

Penelitian Bilgiç et al. (2020), menunjukkan bahwa fanatik sepak bola memiliki pola aktivasi otak yang berbeda dibanding penonton biasa, terutama di area dorsal anterior cingulate cortex (dACC), yang terlibat dalam pemrosesan emosi, motivasi, dan pengambilan keputusan. Saat menyaksikan momen emosional, seperti gol tim favorit atau rival, fanatik menunjukkan aktivasi yang lebih tinggi di wilayah otak ini. Aktivasi ini sejalan dengan keterlibatan dACC dalam bentuk cinta non-romantis seperti tribal love. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterikatan emosional tinggi terhadap tim dapat memicu reaksi yang kuat dan terkadang sulit dikendalikan, yang mungkin menjelaskan perilaku fanatik yang ekstrem di lapangan

Stadion sebagai Miniatur Masyarakat

Dalam konteks global, studi Cleland et al. (2024) menunjukkan bahwa perilaku rasis di stadion tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai yang tertanam sejak kecil. Menggunakan konsep habitus dari Pierre Bourdieu, studi ini menjelaskan bahwa sebagian penonton membawa nilai-nilai sosial dari masyarakatnya seperti perebutan jersey dari pemain menuju tribun penonton, dan mengaktualisasikannya lewat bahasa, sikap, dan tindakan diskriminatif terhadap kelompok/orang lain.

Baca Juga:   Menilai Keterlibatan TNI dalam Pelatihan KPU

Refleksi: Siapa Kita Saat Mendukung? Dukungan atau Dominasi?

Apakah kita hadir di stadion untuk menyemai semangat atau menyulut keserakahan?
Apakah tribun kita pancarkan cinta pada permainan atau justru jadi panggung ego yang bertepuk sebelah tangan?

Mari bertanya pada diri:

Apakah kita ingin anak-anak kita tumbuh percaya bahwa niat tulus akan sampai atau belajar bahwa suara kecil selalu dikalahkan oleh tangan yang lebih cepat dan tanpa malu? Apakah kita ingin membentuk generasi yang percaya bahwa keadilan bisa diraih atau justru menanamkan pelajaran pahit bahwa kebaikan bisa dikalahkan oleh kelicikan? Ketika satu tindakan mencuri harapan kecil, satu generasi belajar bahwa yang licik bisa menang di atas yang jujur.

Dalam olahraga peristiwa perebutan jersey setelah pertandingan selesai bukanlah kejadian satu-dua kali. Konteks ini jauh melampaui itu, ketika niat dan rencana harapan dilakukan sebelum permainan dimulai. Jika dibiarkan praktik ini perlahan akan dianggap wajar bahkan dibenarkan oleh masyarakat. Stadion adalah ruang publik, bukan ruang tanpa etika. Ia bisa menjadi cermin bangsa tempat nilai, moral, dan watak masyarakat terpancar nyata.

Jersey yang direbut itu mungkin hanya jahit kain. Anak itu mungkin juga hanya sekedar subjek.. Namun bagi sebagian orang mungkin saja, Ia adalah lambang harapan, simbol perjuangan kaum marhaen, cerminan keadilan yang seharusnya ditegakkan, dan pancaran masa depan yang layak diraih. Anak itu bukan sekadar penonton. Ia mewakili generasi yang percaya bahwa sportivitas dan ketulusan masih memiliki tempat di negeri dengan 1.340 suku bangsa, yang menjadi cermin kekayaan, keberagaman, sekaligus harapan terbesar dunia. Maka saat harapannya direnggut, yang tercabik bukan hanya mimpi melainkan juga nurani ibu pertiwi!

Baca Juga:   Pemerintah dan Praktik Manipulasi dalam Proyek Strategis Nasional pada Pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK 2)

Jika keadilan tak mampu ditegakkan di stadion, bagaimana mungkin kita berharap keadilan tumbuh di negeri ini? Kita selalu punya pilihan—menjadi penonton yang menjunjung nurani, atau sekadar massa yang kehilangan kendali.

Hari ini yang direbut adalah jersey. Besok bisa jadi hati nurani. Bisa juga akal budi. Atau malah keduanya?


Penulis: R.Bg. Angelo Basario Marhaenis Manurung, S.Psi.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:13 WIB
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08 WIB
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
Kamis, 15 Januari 2026 | 09:03 WIB
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:27 WIB
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat
Rabu, 14 Januari 2026 | 22:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Abidin Fikri Warning Pemerintah Pusat: Banjir Sumatera Menggila, Status Darurat Bencana Nasional Jangan Ditunda

Marhaenist.id, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI…

Soekarno Dalam Berbagai Kurun Perjalanan Waktu

Marhaenist - Ir. Soekarno adalah orang pertama yang mencetuskan konsep Pancasila sebagai…

Aktualisasi Marhaenisme dalam Gerakan, GMNI Malang Gelar KTD

Marhaenist.id, Malang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tiongkok yang Terbangun: Antara Ambisi Adidaya dan Narasi Jebakan Utang

Marhaenist.id - Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “Biarkan Tiongkok tertidur, sebab ketika ia…

Sepakbola Indonesia di selimuti awan hitam menyusul tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (01/10/2022) malam WIB. FILE/Ist. Photo

Tragedi Kanjuruhan, GBN Desak Jokowi Segera Mereformasi Polri

Marhaenist - Gerakan Bhinneka Nasionalis (GBN) turut berbelasungkawa sekaligus menyatakan prihatin, atas…

GMNI Malang Desak DPR RI Segera Mengesahkan RUU PPRT

Marhaenist.id, Kota Malang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Komandan Pacul Masuk dalam Bursa Menteri Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Marhaenist.id - Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul atau sering disebut Komandan Pacul…

Menapaki Jalan Persatuan: Rekonsiliasi Menjadi Konsekuensi Logis dari Perpecahan GMNI

Marhaenist.id - Tulisan ini bagian dari refleksi bagi kita sebagai kader GMNI…

Konversi Kompor Gas ke Listrik Tidak Berlaku Tahun Ini

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, program konversi kompor LPG 3kg…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?