By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Hedonisme Rudi Mas’ud dan Derita Masyarakat Kaltim
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Karikatur Gambar tentang "MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan" (Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pagi hari ini, jutaan anak Indonesia sarapan dengan hal yang sama, sesuatu yang praktis, manis, dan datang dari kotak. Sereal. Susu. Cepat, rapi, modern kata iklan.

Tapi kita jarang bertanya, sejak kapan itu jadi “sarapan ideal”?

Di Amerika Serikat, sereal tinggi gula dipasarkan puluhan tahun sebagai simbol hidup sehat dan efisien.

Iklan membentuk kebiasaan. Kebiasaan jadi budaya. Dan tanpa sadar, kita ikut mengimpor cara makan bukan karena paling cocok, tapi karena paling sering dilihat.

Padahal, Indonesia tidak pernah kekurangan pilihan.

Dulu, sarapan bisa berupa lontong sayur, bubur sagu, nasi uduk, atau sekadar singkong rebus dengan kelapa parut. Kombinasi karbohidrat, serat, lemak alami, dan rempah lengkap, kontekstual, dan sesuai tubuh kita.

Lebih dari itu, makanan kita punya cerita.

Tahun 1964, Sukarno mengumpulkan lebih dari 1.300 resep Nusantara dalam satu buku: Mustika Rasa. Ini bukan sekadar buku masak. Ini bukan hanya proyek politik. Ini geopolitik pangan.

Sukarno paham satu hal sederhana tapi mendasar yaitu apa yang dimakan rakyat adalah soal kedaulatan.

Rempah-rempah yang kita pakai hari ini dulu diperebutkan dunia. Bahkan, menurut catatan sejarah, informasi soal asal-usul rempah sering disembunyikan, dimonopoli, bahkan dimitoskan agar tetap dikuasai segelintir pihak. Artinya, sejak dulu, makanan bukan sekadar kebutuhan tapi alat kekuasaan.

Lalu hari ini, bentuknya berubah.
Bukan lagi monopoli jalur rempah, tapi monopoli persepsi.

Kita dibuat percaya bahwa yang modern itu yang instan. Yang sehat itu yang dikemas. Yang baik itu yang datang dari luar.

Di sinilah kita sering kalah bukan karena tidak punya, tapi karena tidak percaya pada milik sendiri.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya membuka peluang besar. Tapi pertanyaannya: mau diisi dengan apa?

Baca Juga:   Menapaki Jalan Persatuan: Rekonsiliasi Menjadi Konsekuensi Logis dari Perpecahan GMNI

Kalau hanya sekadar memenuhi kalori dengan makanan ultra-proses, kita kehilangan kesempatan. Tapi kalau diisi dengan pangan lokal berbasis resep Nusantara ini bisa jadi gerakan besar memperbaiki gizi, menghidupkan ekonomi lokal, sekaligus menanamkan identitas budaya.

Bayangkan anak-anak sekolah tidak hanya makan, tapi juga tahu mereka makan apa, dari mana asalnya, dan kenapa itu penting.

Bahwa tempe bukan sekadar lauk murah, tapi hasil fermentasi canggih. Bahwa sagu bukan makanan “kampung”, tapi sumber pangan masa depan. Bahwa rempah bukan pelengkap, tapi warisan peradaban.

Ini bukan soal romantisme masa lalu. Ini soal arah masa depan.

Kalau kita terus membiarkan pola makan ditentukan industri global, kita akan jadi pasar selamanya. Tapi kalau kita mulai dari hal sederhana meja makan kita bisa membangun kembali kedaulatan, pelan-pelan tapi pasti.

Mungkin perjuangan hari ini bukan lagi soal merebut kemerdekaan.

Tapi soal mempertahankan apa yang kita makan dan apa yang kita yakini tentang diri kita sendiri.***


Penulis: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Hedonisme Rudi Mas’ud dan Derita Masyarakat Kaltim
Rabu, 22 April 2026 | 10:34 WIB
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Selasa, 21 April 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi Gambar tentang "Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan" karya Noufal Hanif (Desain AI)/MARHAENIST.
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Selasa, 21 April 2026 | 20:10 WIB
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Selasa, 21 April 2026 | 10:25 WIB
Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

RBPR Deklarasikan Dukungan Untuk Pramono Anung-Rano Karno

MARHAENIST -  Pranowo Anung dan Rano Karno turut menghadiri acara deklarasi Rumah…

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

GMNI Jaksel Tuntut Pencopotan Kapolres dan Kapolsek Terkait Pembubaran Diskusi FTA: Usut Tuntas Otak di Balik Penyerangan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI)…

Guntur Soekarno, Marhaenisme dan Karakter Bangsa

"Kesejahteraan tak akan terwujud bila tidak ada penguatan dan persatuan jiwa bangsa.…

Isi Masa Tenang, Ganjar Pilih Kongkow Lesehan Bareng Warga

Marhaenist.id, Semarang - Ganjar Pranowo mengisi masa tenang kampanye menonton Slank bersama…

Todung Mulya Lubis: MK Paling Berwenang Melakukan Diskualifikasi Paslon

Jakarta, Marhaenist.id - Tim Hukum Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 3, Ganjar…

Pj Bupati Jombang Ingatkan Pesan Bung Karno Pada Pekerja Saat Hari Buruh Internasional

Marhaenist.id, Jombang - Peringatan Hari Buruh Internasional di Kabupaten Jombang dilakukan oleh…

GMNI Sulbar Soroti Pembangunan Kantor KDMP Tanpa Papan Proyek, Desak Kejari dan DPRD Jalankan Tupoksi

Marhaenist.id, Mamasa — Pembangunan kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah…

IMM dan GMNI Riau: Reformasi Polri Harus Tunduk pada Mandat Konstitusi, Bukan jadi Komoditas Politik Kekuasaan

Marhaenist.id, Pekanbaru – Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari IMM dan GMNI…

Sambut Ganjar, Warga dan Tokoh Adat Sematkan Selendang Beserta Topi Khas Manggarai

Marhaenist.id, Ruteng - Ganjar Pranowo melanjutkan safari politiknya di Ruteng, Kabupaten Manggarai,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?