
Marhaenist.id – Setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April kerap diidentikkan dengan simbol-simbol kultural seperti kebaya dan seremoni formal. Namun, jika ditelaah lebih dalam, momentum ini sesungguhnya mengandung dimensi reflektif yang penting, khususnya dalam memahami konsep keperempuanan dalam perspektif historis dan kontemporer.
Sosok Raden Ajeng Kartini tidak hanya relevan sebagai figur pahlawan, tetapi juga sebagai pemikir yang secara kritis menggugat konstruksi sosial yang membatasi perempuan pada zamannya. Melalui gagasan-gagasan yang terdokumentasi dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini mengartikulasikan pentingnya pendidikan, kebebasan berpikir, serta kesetaraan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban yang inklusif.
Dalam konteks sejarah, keperempuanan pada masa Kartini dibentuk oleh sistem sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat, baik secara kultural maupun struktural. Praktik seperti pembatasan akses pendidikan dan ruang gerak sosial menunjukkan bahwa identitas perempuan saat itu lebih banyak ditentukan oleh norma eksternal daripada pilihan individual.
Kartini hadir sebagai representasi kesadaran kritis yang menolak kondisi tersebut. Ia tidak hanya mempertanyakan peran tradisional perempuan, tetapi juga menawarkan alternatif pemikiran bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual dan peran strategis dalam kemajuan masyarakat. Perspektif ini menandai pergeseran penting dalam memaknai keperempuanan, dari sekadar konstruksi sosial menuju identitas yang lebih otonom dan dinamis.
Memasuki era modern, khususnya dalam kehidupan generasi muda seperti Gen Z, capaian emansipasi perempuan memang menunjukkan perkembangan yang signifikan. Akses terhadap pendidikan, karier, dan partisipasi publik semakin terbuka luas. Namun demikian, asumsi bahwa kesetaraan telah sepenuhnya tercapai perlu ditinjau kembali secara kritis.
Tantangan yang dihadapi perempuan saat ini tidak lagi selalu bersifat eksplisit, melainkan hadir dalam bentuk yang lebih subtil, seperti standar kecantikan yang sempit, tekanan sosial melalui media digital, serta ekspektasi untuk mampu menjalankan berbagai peran secara simultan. Kondisi ini menunjukkan bahwa bentuk ketidakadilan mengalami transformasi, bukan sepenuhnya hilang.
Dalam kerangka tersebut, nilai-nilai perjuangan Kartini justru menemukan relevansi baru. Kebebasan berpikir yang ia perjuangkan dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk mengkritisi norma sosial yang tidak adil, termasuk yang tersembunyi dalam budaya populer dan media digital.
Pendidikan, yang bagi Kartini merupakan alat pembebasan, kini dapat dipahami tidak hanya sebagai akumulasi pengetahuan formal, tetapi juga sebagai proses pembentukan kesadaran kritis dan literasi sosial. Dengan demikian, keperempuanan di era modern tidak lagi dapat dipandang sebagai identitas yang tunggal, melainkan sebagai spektrum pengalaman yang beragam dan terus berkembang.
Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, warisan pemikiran Kartini dapat menjadi landasan untuk membangun perspektif yang lebih reflektif dan inklusif. Keberanian untuk menyuarakan pendapat, menolak stereotip, serta menghargai pilihan hidup yang beragam merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pada saat yang sama, penting untuk disadari bahwa perjuangan menuju kesetaraan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Hal ini menuntut adanya kesadaran untuk saling mendukung dan menciptakan ruang yang aman bagi setiap individu untuk berkembang tanpa tekanan yang tidak proporsional.
Dengan demikian, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada dimensi simbolik, melainkan menjadi sarana evaluasi kritis terhadap dinamika keperempuanan di masa kini. Kartini tidak hanya meninggalkan warisan sejarah, tetapi juga kerangka berpikir yang mendorong dialog berkelanjutan tentang kesetaraan dan keadilan.
Dalam konteks ini, keperempuanan bukan sekadar identitas yang diwariskan, melainkan sebuah proses yang terus dibentuk, dipertanyakan, dan diperjuangkan seiring dengan perubahan zaman.***
Penulis: Sarinah Nida, Kader DPK GMNI UNPAM Serang.