By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses & Kualitas Layanan Kesehatan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 13 Januari 2026 | 18:01 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dibawah kepemimpinan Risyad-Patra menilai kebijakan Universal Health Coverage (UHC) di Indonesia melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), masih memperlihatkan kesenjangan antara capaian kebijakan dan realitas akses layanan kesehatan.

Diketahui sejak peluncuran 2014 cakupan kepesertaan JKN Nasional terus meningkat hingga kini mencapai 98% penduduk Indonesia. Serta skor indeks cakupan layanan UHC meningkat dari 66 menjadi 67. Hal ini perlu mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Namun meskipun demikian, masyarakat perlu menyoroti apakah pemerintah telah sukses menjalankan akses layanan kesehatan yang merata dan inklusif atau belum.

Penilaian ini disampaikan sebagai bagian dari evaluasi kritis terhadap kebijakan pemerintah yang sudah baik, yang kemudian perlu diperbaiki pada sektor permerataan akses dan kualitas layanan kesehatan.

Secara konstitusional, kesehatan merupakan bagian integral dari cita-cita bangsa Indonesia. Pembukaan UUD 1945 menegaskan tujuan negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, yang dipertegas melalui Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945.

Oleh karena itu, UHC bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan mandat ideologis dan konstitusional negara. Artinya negara tidak cukup hanya menjamin pembiayaan kesehatan, tetapi juga wajib memastikan ketersediaan dan keadilan akses layanan.

Namun, dalam praktiknya, penerapan UHC di Indonesia masih menyisakan persoalan mendasar, terutama terkait ketimpangan akses dan kualitas layanan kesehatan.

Meskipun cakupan kepesertaan JKN telah mendekati universal, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih belum semua warga negara memperoleh perlindungan kesehatan yang setara.

Wakil Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat DPP GMNI, M. Rikzul Fikri, menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan tidak cukup dinilai berdasarkan data stastistik, tetapi harus memastikan bagaimana kebijakan itu dapat dinikmati oleh setiap warga negara.

Baca Juga:   DPC GMNI Bantaeng Kutuk Keras Tindakan Represif Oknum ASN Dinas PUPR Sinjai terhadap Kader GMNI Sinjai

“UHC di Indonesia hari ini terlalu sering dibaca sebagai keberhasilan administratif. Padahal bagi GMNI, ukuran utamanya bukan berapa persen rakyat yang punya kartu JKN, tetapi apakah kartu itu benar-benar menjamin rakyat mendapatkan layanan kesehatan yang layak.” ujarnya.

Menurut Rikzul Fikri, persoalan utama UHC terletak pada ketimpangan institusional. Negara telah hadir sebagai penjamin pembiayaan, tetapi belum sepenuhnya hadir sebagai penjamin ketersediaan layanan.

Konsentrasi rumah sakit rujukan, dokter spesialis, dan teknologi medis di kota-kota besar, hal ini menyebabkan wilayah pinggiran dan daerah penyangga mengalami keterbatasan layanan, meskipun secara geografis berdekatan.

“Kita sering menemukan kondisi di mana rumah sakit daerah penuh dan kekurangan tenaga, sementara rumah sakit besar di kota menjadi rujukan utama. Ini menunjukkan bahwa sistem kesehatan kita masih berorientasi pusat, bukan berorientasi pada kebutuhan rakyat,” lanjut Rikzul Fikri.

DPP GMNI memandang bahwa kondisi ini bertentangan dengan nilai keadilan sosial yang termaktub dalam Pancasila dan ideologi perjuangan GMNI. Keadilan sosial dalam bidang kesehatan tidak cukup dimaknai sebagai kesamaan status kepesertaan, melainkan harus diwujudkan dalam kesetaraan akses, mutu, dan hasil layanan kesehatan.

Dalam Kajian Akademiknya, GMNI merefleksikan perbandingan Sonora dan Arizona dalam buku Why Nations Fail karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson yang memperlihatkan bahwa perbedaan kualitas institusi dapat menciptakan kesenjangan kesejahteraan yang tajam, bahkan di wilayah yang berdekatan secara geografis.

Dalam sektor kesehatan, Arizona mampu menyediakan layanan yang relatif merata dan berkualitas tinggi, sementara Sonora tertinggal akibat lemahnya kapasitas institusional negara. Analogi ini menjadi relevan untuk membaca kondisi Indonesia, khususnya dalam penerapan Universal Health Coverage (UHC) melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tentu harapannya ketimpangan akses kesehatan semacam itu tidak terjadi di Indonesia.

Baca Juga:   GMNI Jaktim Gelar Diskusi Pentingnya GMNI bagi Gen-Z

M.Rikzul Fikri yang kerap disapa Bung Riki, juga menegaskan bahwa sistem rujukan JKN saat ini justru kerap memperlebar jarak antara rakyat dan layanan kesehatan yang memadai.

“Bagi rakyat kecil, rujukan itu bukan sekadar prosedur. Itu soal biaya transportasi, waktu, dan risiko keterlambatan penanganan. Maka dengan realita seperti ini, negara harus memastikan layanan kesehatan itu hadir sedekat mungkin dengan rakyat,” jelas Wakil Ketua Bidang Kesehatan DPP GMNI.

Lebih lanjut, GMNI menilai bahwa UHC berisiko menjadi mekanisme stabilisasi ketimpangan apabila negara membiarkan logika pasar mengisi kekosongan layanan publik.

Dalam satu wilayah yang sama, rumah sakit swasta dengan fasilitas modern dapat berdiri berdampingan dengan rumah sakit umum daerah yang kelebihan kapasitas dan kekurangan sumber daya. Situasi ini menciptakan segregasi layanan kesehatan berdasarkan kelas sosial, yang bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan.

“Kalau kualitas layanan kesehatan masih ditentukan oleh kemampuan ekonomi dan lokasi geografis, maka UHC belum menjawab amanat konstitusi. Itu artinya negara masih punya tantangan ke depannya,” tegas Bung Riki

Dalam kerangka perjuangan ideologis, DPP GMNI menempatkan UHC sebagai bagian dari agenda politik kerakyatan. Kesehatan dipandang sebagai prasyarat utama bagi manusia Indonesia yang merdeka dan bermartabat. Tanpa akses kesehatan yang setara, pembangunan manusia dan keadilan sosial hanya menjadi slogan.

Oleh karena itu, DPP GMNI mendorong negara untuk melakukan reformasi mendasar dalam sistem kesehatan nasional, khususnya dalam pemerataan tenaga medis, penguatan rumah sakit daerah, dan penataan ulang sistem rujukan agar benar-benar berorientasi pada keselamatan rakyat.

“UHC sudah seharusnya menjadi alat pemersatu bangsa dengan mengedepankan pembangunan institusi kesehatan yang inklusif, bukan sekadar laporan keberhasilan kebijakan. Di situlah kita dapat melihat peran negara,” pungkas Bung Riki.

Baca Juga:   Di Hari Lahir Pancasila, GMNI Kendari Harapkan Nilai Pancasila harus Mampu Diimplementasikan Pemangku Kebijakan di Sultra

Dengan demikian, UHC bukan hanya persoalan kebijakan kesehatan, melainkan ujian ideologis bagi negara bangsa Indonesia. Bagi GMNI, perjuangan untuk UHC yang adil dan inklusif adalah bagian dari upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

5 Lukisan Bertema Jokowi Dibredel, Intervensi Kekuasaan Merambah ke Dunia Seni Rupa

Marhaenist.id - Pelukis Yos Suprapto menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional, Jakarta (19/12).…

Akar Desa Indonesia Sayangkan Debat Cawapres Jadi Panggung Sindiran dan Minim Solusi Permasalahan Desa

Marhaenist.id, Jakarta - Debat kandidat calon wakil presiden yang kedua menjadi ujian kelayakan bagi…

Partai NasDem resmi mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai (Capres) calon presiden di 2024 oleh Ketua Umum NasDem Surya Paloh. Flash/Detik

NasDem Deklarasikan Anies Baswedan Capres Ditengah Suasana Berkabung Tragedi Kanjuruhan

Marhaenist - Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh mengumumkan Anies…

Pesan dari Timur, GMNI Manado: Kami serukan Kongres Persatuan!

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Manado dengan tegas menolak segala…

Masyarakat Rempang kembali Diserang, Banyak Korban Luka dan Kendaraan Dirusak

Marhaenist, Batam - Untuk kesekian kalinya, masyarakat Pulau Rempang menjadi korban kekerasan. Kali…

GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal

Marhaenist.id, Pasaman – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Anggota Polri yang Duduki Jabatan Sipil Harus Mundur atau Pensiun

Marhaenist.id, Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia…

Peringati Hari Lahir Pancasila, Sekjend PA GMNI: Momentum Penguatan Konsepsi Bernegara Bagi Oase Indonesia Raya

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Hakekat dari Pancasila adalah Membela Kaum Miskin

Marhaenist.id - Mungkin bagi sebagian besar aktivis mahasiswa saat ini yang berada…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?