By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Gambar tentang "Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG" (Foto: Mochammad Faizin)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ekspansi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan pergeseran besar dalam struktur prioritas fiskal negara, sekaligus mencerminkan arah kebijakan yang kental dengan pendekatan populis dalam pengelolaan anggaran publik. Pada 2025, anggaran program ini tercatat sebesar Rp71 triliun, kemudian meningkat tajam menjadi Rp335 triliun pada 2026. Dalam struktur APBN, lonjakan tersebut menempatkan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga dengan porsi anggaran yang meningkat signifikan, sekaligus memperluas dominasi belanja negara pada sektor program intervensi sosial berskala besar.

Dari sisi pembiayaan sektoral, MBG tercatat menyerap anggaran lintas sektor dalam jumlah besar. Sekitar Rp223 triliun atau ±29 persen dari total anggaran pendidikan (Rp769 triliun) dialihkan untuk mendukung program ini. Selain itu, sektor kesehatan turut berkontribusi sebesar Rp24,7 triliun, serta sektor ekonomi sebesar Rp19,7 triliun. Struktur ini menunjukkan bahwa MBG tidak berdiri sebagai program tunggal, tetapi menjadi variabel yang memengaruhi komposisi fiskal lintas kementerian dan sektor pembangunan manusia.

Pada saat yang sama, negara juga membangun struktur pelaksana baru melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Skema ini membuka ruang bagi yayasan, organisasi kemasyarakatan, dan badan usaha untuk menjadi mitra pelaksana layanan gizi di lapangan. Diikuti dengan rencana pengangkatan sekitar 32.750 pegawai SPPG menjadi PPPK, kebijakan ini memperluas struktur birokrasi baru di luar sektor pendidikan yang sudah ada.

Ekspansi tersebut berjalan paralel dengan kondisi sektor pendidikan yang masih menghadapi persoalan ketenagakerjaan struktural. Di tengah kebutuhan perbaikan sistem layanan pendidikan dasar, tekanan fiskal akibat perluasan program baru mempersempit ruang penyelesaian berbagai persoalan yang telah lama berlangsung di sektor pendidikan, termasuk status dan kesejahteraan tenaga pendidik.

Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memperlihatkan sejumlah persoalan serius di lapangan, terutama pada aspek pengawasan kualitas dan keamanan pangan. Sejumlah insiden keracunan massal mencerminkan bahwa ekspansi program belum sepenuhnya diikuti dengan kesiapan sistem kontrol mutu yang memadai di tingkat pelaksana.

Baca Juga:   Teror Kepala Babi dan Intimidasi Terhadap Pers

Pada Januari 2025 di Sukoharjo, sekitar ±40 siswa mengalami keracunan makanan pada fase awal implementasi program. Insiden ini kemudian diikuti oleh laporan pada 24 September 2025 yang mencatat sekitar 6.000 kasus keracunan. Puncaknya, data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) per 23 Desember 2025 mencatat lebih dari 20.000 korban keracunan yang terkait dengan pelaksanaan program MBG.

Merespons temuan tersebut, Prabowo Subianto menyatakan bahwa jumlah korban tersebut hanya sekitar 0,0017 persen dari total 30 juta penerima manfaat. Namun, pernyataan ini menuai kritik karena dipandang mereduksi persoalan keselamatan publik menjadi sekadar angka statistik, tanpa memberikan perhatian yang memadai terhadap dimensi kualitas layanan dan dampak sosial yang ditimbulkan di lapangan.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan adanya kesenjangan antara skala ekspansi program dan kesiapan sistem pengawasan, distribusi, serta standar keamanan pangan. Dalam konteks kebijakan publik berskala besar, persoalan tersebut tidak dapat diposisikan sebagai insiden terpisah, melainkan sebagai indikator kelemahan struktural dalam implementasi program.

Meningkatnya prioritas alokasi anggaran untuk pembiayaan program MBG dan perluasan struktur pelaksana melalui SPPG mengakibatkan tekanan terhadap sektor-sektor fundamental pembangunan manusia. Alokasi sekitar Rp223 triliun atau ±29 persen dari anggaran pendidikan (Rp769 triliun) menunjukkan bahwa sebagian besar ruang fiskal pendidikan terserap oleh program ini, sehingga mempersempit ruang penyelesaian persoalan struktural yang telah lama ada, termasuk ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik.

Kontras tersebut semakin jelas ketika dibandingkan dengan kondisi riil di lapangan. Salah satu kasus yang menggambarkan situasi ini adalah Ribut Santoso, guru honorer di Lumajang yang telah mengabdi sejak 2003, dengan pola pendapatan yang sangat terbatas. Tercatat, pada awal masa pengabdiannya ia menerima sekitar Rp25.000, dan pada 2025 hanya meningkat menjadi sekitar Rp1,05 juta. Data ini menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan guru honorer berjalan sangat lambat dibandingkan dengan ekspansi belanja program baru yang berskala besar.

Baca Juga:   Api Perjuangan Marhaenisme: Merayakan 70 Tahun GMNI dalam Mempertahankan Kesejahteraan Kaum Marhaen

Kesenjangan serupa juga terjadi pada sektor kesehatan. Data Persatuan Perawat Nasional Indonesia menunjukkan bahwa perawat non-ASN masih menerima gaji di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1,25 juta per bulan, yang menegaskan bahwa tenaga layanan publik di sektor dasar masih berada dalam posisi kesejahteraan yang terbatas, meskipun berhadapan langsung dengan kebutuhan layanan masyarakat yang tinggi.

Di sisi lain, tekanan fiskal daerah juga mulai terlihat. Sekitar 9.000 PPPK di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan berpotensi terdampak kebijakan pembatasan belanja pegawai dalam APBD, yang mengharuskan alokasi belanja pegawai tidak melebihi batas tertentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi kebijakan di tingkat pusat tidak selalu diikuti dengan kemampuan fiskal yang memadai di tingkat daerah, sehingga memunculkan ketidakseimbangan baru dalam struktur ketenagakerjaan sektor publik.

Kondisi yang terjadi pada sektor pendidikan, kesehatan, serta ketenagakerjaan daerah menunjukkan bahwa ekspansi kebijakan fiskal tidak dapat hanya dibaca dari sisi percepatan program, tetapi juga dari dampaknya terhadap keberlanjutan sektor-sektor layanan dasar. Ketika ruang fiskal pendidikan terserap dalam jumlah besar oleh program seperti MBG, sementara persoalan guru honorer masih belum terselesaikan, maka terjadi ketidakseimbangan prioritas yang
semakin sulit diabaikan.

Komplikasi yang menubuh dalam program MBG memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan dan desain fiskal negara agar tidak terjadi pergeseran orientasi dari penguatan layanan publik menjadi sekadar ekspansi program berskala besar. Pengawasan yang lebih ketat terhadap alokasi anggaran, termasuk transparansi distribusi dana dan struktur pelaksana seperti SPPG, menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa kebijakan tidak kehilangan akuntabilitasnya.

Perbaikan kebijakan perlu diarahkan pada penyelesaian masalah struktural di sektor pendidikan dan kesehatan, terutama terkait status dan kesejahteraan tenaga kerja non-ASN. Tanpa koreksi tersebut, ekspansi program berisiko memperlebar ketimpangan antara kebutuhan dasar layanan publik dan prioritas belanja negara yang lebih berorientasi pada program jangka pendek.

Baca Juga:   Efek Ani-Ani Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan publik tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau cepatnya implementasi, tetapi oleh sejauh mana kebijakan tersebut mampu memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Tanpa keseimbangan tersebut, ekspansi fiskal hanya akan menghasilkan pertumbuhan struktur program tanpa diikuti penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai tujuan utama pembangunan.***


Penulis: Mochammad Faizin, Wakil Ketua Bidang Politik GMNI Jember.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB
GMNI UBP Karawang Perkuat Kaderisasi Lewat Lapak Baca Buku Gratis di Momentum PMB
Sabtu, 18 April 2026 | 09:29 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Kebudayaan dan Sosialisme

Marhaenist.id - Pada 3 Februari 1926, Leon Trotsky memberikan sebuah ceramah berjudul…

Ajaran Dasar Dalam Pendidikan Yang Terlupakan

Marhaenist.id -Setiap tanggal 2 mei kita memperingati hari pendidikan Nasional, tapi untuk…

Bapak Bangsa dan Pancasila-nya

Marhaenist.id - Bung Karno pernah bertanya kepada Presiden Yugoslavia, Josef Broz Tito,…

Menag Adakan Natal Bersama: Simbol Kecil, Dampak Besar — Asal Jangan Sekadar Panggung Saja

Marhaenist.id - Ketika Kementerian Agama menetapkan tema “C-LIGHT: Christmas — Love in…

GMNI Deklarasikan Manifesto Ekonomi Nasional

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Indonesia…

Gelar FDG, DPD PA GMNI Jakarta Raya Dorong Pemprov Lakukan Reforma Agraria Perkotaan

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Menggali Makna Pemikiran Ki Hadjar Dewantara: “Jadikan Setiap Tempat adalah Sekolah, Jadikanlah Setiap Orang adalah Guru”

Marhaenist.id - Dalam perspektif filsafat, pernyataan Ki Hadjar Dewantara "Jadikanlah Setiap Tempat…

Bung Karno Bukanlah Komunisme!

Marhaenist.id - Sukarno itu Marxis sejati tetapi bukanlah komunis sama sekali, karena…

Tantangan dan Potensi Peternakan Berkelanjutan di Masa Depan

Marhaenist.id - Pada tahun 2050, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai sembilan miliar jiwa.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?