By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Negara Hukum Indonesia Bukan Negara Undang-Undang
Marhaenist.id dan Segelas Kopi: Pengabdian Tanpa Batas
DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di Kantor Pusat Panin Bank, Soroti Dugaan Perampasan Hak Debitur

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Gelar FDG, DPD PA GMNI Jakarta Raya Dorong Pemprov Lakukan Reforma Agraria Perkotaan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 19 Oktober 2025 | 00:28 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: DPD PA GMNI Jakarta Raya saat menggelar FGD I bertema 'Reforma Agraria Perkotaan sebagai Ruang Hidup yang Berkeadaban' di Sekretariat DPP PA GMNI, Jakarta, Sabtu, (18/10/2025)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Raya menggelar Focus Group Discussion (FGD) I bertema ‘Reforma Agraria Perkotaan sebagai Ruang Hidup yang Berkeadaban’ di Sekretariat DPP PA GMNI, Jakarta, Sabtu, (18/10/2025).

Dalam Focus Group Discussion tersebut, DPD PA GMNI Jakarta Raya menyoroti semakin menyempitnya ruang hidup rakyat akibat ketimpangan penguasaan tanah di perkotaan.

Melalui kegiatan Focus Group Discussion itu pula, para alumni GMNI Jakarta Raya mengingatkan perlunya langkah konkret dari Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) untuk mengembalikan hak rakyat atas tanah dan ruang kota.

“Rakyat Jakarta semakin kehilangan haknya atas ruang hidup. Banyak kawasan padat dan pemukiman rakyat tergeser oleh proyek-proyek komersial. Reforma agraria perkotaan harus menjadi prioritas agar pembangunan tidak hanya menguntungkan segelintir pihak,” ujar Ariio Sanjaya, Ketua DPD PA GMNI Jakarta Raya.

Seraya menegaskan bahwa reforma agraria bukan sekadar agenda pedesaan, melainkan juga mendesak di wilayah perkotaan, Ario menambahkan bahwa reforma agraria perkotaan tidak hanya soal redistribusi tanah, tetapi juga soal penataan ruang yang manusiawi dan berkeadaban.

“Ruang kota harus dikembalikan kepada rakyat. Prinsip keadilan sosial sebagaimana digariskan dalam Pancasila harus menjadi dasar dari kebijakan tata ruang dan pembangunan Jakarta ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris DPD PA GMNI Jakarta Raya, Miartiko Gea, menekankan bahwa tanah dan ruang kota adalah bagian dari hak konstitusional rakyat yang harus dijamin oleh negara.

“Hak rakyat atas tanah adalah hak asasi. Pemprov DKJ dan pemerintah pusat harus berani mengambil langkah berkeadilan untuk mengoreksi ketimpangan yang sudah lama terjadi. Jangan biarkan kota ini menjadi ruang yang hanya ramah bagi pemodal, tetapi keras bagi rakyat kecil,” tegas Miartiko.

Baca Juga:   Suluh Marhaenis Situbondo: Irham Kahfi, Idealisme Bung Karno di Tangan Generasi Baru

Disisi lain, Anggota DPRD DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo menegaskan bahwa Jakarta merupakan kota dengan tingkat ketimpangan tertinggi kedua di Indonesia setelah Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kita tidak bisa memungkiri bahwa Jakarta adalah kota yang timpang. Kelihatannya megah dan gemerlap, tetapi sejujurnya ketimpangan itu nyata,” ujar Dwi Rio dalam FGD tersebut.

Menurutnya, akar persoalan di Jakarta bukan semata soal kemiskinan atau keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, tetapi lebih mendasar—yaitu penguasaan lahan.

“Ketika kita keliling ke kampung kota, persoalan utama bukan hanya soal fasilitas dasar, tapi penguasaan lahan yang tidak adil,” tambahnya.

Dwi Rio juga menyoroti munculnya egosektoral dan proyekisme dalam pembangunan Jakarta. Menurutnya, paradigma pembangunan yang berorientasi proyek membuat arah kebijakan menjadi tidak berpihak pada rakyat kecil.

“Motif politik anggaran harus jelas. Jalan dibangun, tapi untuk siapa?. Banyak infrastruktur yang justru menghubungkan real estate ke real estate berikutnya,” tegasnya.

Sebagai bagian dari upaya mendorong keadilan agraria di perkotaan, Dwi Rio bersama rekan-rekannya mendirikan Front Pejuang Tanah untuk Rakyat yang telah mendampingi ratusan kasus sengketa tanah.

“Kami selalu mendampingi rakyat agar bisa mendapatkan alat produksinya. Semua berpijak pada Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yang mengatur tata kelola agar warga memperoleh akses kepemilikan tanah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Iwan Nurdin menilai ketimpangan ruang di Jakarta telah menciptakan jurang sosial yang lebar antara kelompok kaya dan miskin.

“Orang kaya hidup di lingkungannya sendiri, bertolak belakang dengan masyarakat kecil. Kota akhirnya gagal menjadi tempat yang melahirkan kohesi sosial,” ungkapnya.

Iwan menegaskan, Reforma Agraria Perkotaan bukan sekadar perluasan makna dari reforma agraria di pedesaan, melainkan kebutuhan akan keadilan spasial. Ia mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempercepat pengakuan dan status hukum bagi permukiman rakyat.

Baca Juga:   Cara Login Database PA GMNI untuk Merubah Data Diri dan Memasukkan Foto Bung dan Sarinah

“Tanah negara harus jelas alokasinya. Jangan sampai hanya dinikmati korporasi. Rumah untuk rakyat miskin jangan justru dibeli korporasi,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penataan ruang yang lebih partisipatif dan pelayanan publik yang berkeadilan.

“Jakarta perlu gubernur yang berani membentuk satgas percepatan penyelesaian konflik agraria. Revitalisasi kawasan rakyat harus dilakukan agar keadilan bisa tercipta,” lajut Iwan.

Sementara itu, pengamat tata ruang dan perkotaan, Dedy Rachmadi, menyoroti rendahnya literasi hukum masyarakat terhadap Undang-Undang Pokok Agraria.

“Banyak di antara kita saja yang bias membaca UUPA, apalagi masyarakat umum. Padahal pemahaman ini penting sebagai dasar perjuangan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa masalah ketimpangan penguasaan tanah telah membuat fungsi sosial tanah terabaikan. Karena itu, ia mendorong agar gagasan Reforma Agraria tidak hanya berpijak pada mekanisme ekonomi pasar.

“Bagi alumni GMNI, isu konflik lahan, penggusuran, dan krisis perumahan menjadi relevan untuk diperjuangkan. Ke depan, kita butuh Reforma Agraria yang berpihak pada rakyat,” tandasnya.

Diketahui, FGD tersebut disebutkan oleh panitia, merupakan rangkaian kegiatan menuju Konferensi Daerah (Konferda) V PA GMNI Jakarta Raya yang nantinya digelar oleh DPD PA GMNI Jakarta Raya.

Dengan tema besar ‘Menyongsong 500 Tahun Jakarta dan Tantangan Membangun Peradaban Kota’ forum ini menjadi wadah konsolidasi gagasan para pemikir, aktivis, dan pejabat publik lintas generasi dalam semangat marhaenisme dan keadilan sosial.

“Rencananya akan dilaksanakan empat seri FGD, yaitu soal agraria, tata kelola pemerintahan, Jakarta sebagai kota berdikari secara ekonomi, dan komitmen negara atas layanan jaminan sosial,” ucap Lukman Hakim, Ketua Pantia Konferda V.

Dalam Focus Group Discussion maupun pembukaan Konferda V, pihak penyelenggara Konferda akan menghadirkan berbagai narasumber dari Tokoh-Tokoh Nasional yang sudah berpengalaman dibidangnya masing-masing.

Baca Juga:   Maret 2025, PA GMNI Berduka: 3 Kadernya Telah Pergi

“Kami menghadirkan narasumber tokoh nasional, baik dalam sesi FGD dan pembukaan Konferda V. Dipilih nama, seperti Anies Baswedan, Soni Sumarsono, Djarot Saiful Hidayat, Bambang Wuryanto, Ganjar Pranowo, Prof Muradi, Agung Nugroho, Renanda Bachtar, Karyono Wibowo, Agus Jabo, Ichsanudin Noorsy, Rocky Gerung, Adi Prayitno, dan tokoh lainnya. Pada konferda, kami juga mengundang Gubernur Jakarta sebagai keynote speaker,” pungkas Lukman Hakim.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Minggu, 10 Mei 2026 | 19:33 WIB
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB
Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M. S. (Foto: Sang)/MARHAENIST.
Negara Hukum Indonesia Bukan Negara Undang-Undang
Jumat, 8 Mei 2026 | 20:07 WIB
Marhaenist.id dan Segelas Kopi: Pengabdian Tanpa Batas
Jumat, 8 Mei 2026 | 16:29 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di Kantor Pusat Panin Bank, Soroti Dugaan Perampasan Hak Debitur
Jumat, 8 Mei 2026 | 14:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Salah Satu Pendiri GMNI Wafat, Media Marhaenist.id Bersedih dan Merasa Kehilangan

Marhaenist.id, Kendari - Media Marhaenist.id menyampaikan duka cita yang mendalam dan kesedihannya…

DPR Bikin Emosi: Kok Bisa Orang-Orang ‘Kualitas Rendahan’ Duduk di Senayan?

Marhaenist.id - Sejak 25 Agustus 2025, rangkaian demonstrasi yang marak di berbagai…

Revolusi Industri 4.0 dan Ancaman Pemiskinan Struktural Kaum Buruh

Marhaenist.id - Revolusi Industri 4.0, yang ditandai dengan integrasi teknologi digital, kecerdasan…

GMNI Soroti Penurunan Kuota KIP Kuliah dan LPDP 2023–2026: Alarm Darurat Akses Pendidikan Tinggi Nasional

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Soroti Kasus Korupsi Pembebasan Lahan Pasar, GMNI Mamasa Desak Kejati Sulbar Segera Tetapkan Tersangkanya

Marhaenist.id, Mamasa - Terkait dengan kasus korupsi pembebasan lahan Pasar Mamasa, pihak…

Rayakan HUT yang Ke 80 Tahun, Guntur Sukarno Putra Luncurkan Buku ‘Sang Saka Melilit Perut Megawati’

Marhaenist.id, Jakarta - Guntur Soekarno Putra, Ketua Dewan Ideologi Persatuan Alumni (PA)…

Refleksi Hari Perempuan Internasional: Guyonan Seksis, Cerminan Mentalitas Bobrok!

Marhaenist.id - Perempuan selalu dielu-elukan sebagai simbol keindahan, kelembutan, dan inspirasi. Namun,…

Presiden Joko Widodo menyalami Shin Tae Yong usai menyaksikan pertandingan tim nasional sepak bola Indonesia melawan Australia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Selasa malam, 10 September 2024. BPMI Setpres/Vico

Saat-Saat Jokowi Ditenggelamkan Oleh Mulyono di GBK

MARHAENIST - Bergema usai pertandingan Timnas Indonesia vs Australia di stadion GBK…

Ahlusunnah wa Syiah wal Marhaenisme: Teologi Perlawanan bagi Kaum Tertindas

Marhaenist.id - Sejarah panjang umat manusia memperlihatkan satu pola yang terus berulang:…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?