By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?
Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

GMNI Soroti Penurunan Kuota KIP Kuliah dan LPDP 2023–2026: Alarm Darurat Akses Pendidikan Tinggi Nasional

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 2 Februari 2026 | 18:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Moh. Sehabudin, Ketua DPP GMNI Bidang Perguruan Tinggi dan Politik Kemahasiswaan (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dibawah Kepemimpinan Sujarhi-Amir menyoroti secara serius penurunan kuota beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dan Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam rentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023–2026.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi alarm darurat bagi akses pendidikan tinggi nasional, khususnya bagi mahasiswa dari keluarga tidak mampu dan kelompok sosial marjinal.

Melaui Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Politik Kemahasiswaan, Moh. Sehabudin, DPP GMNI menyatakan bahwa meskipun alokasi anggaran pendidikan secara normatif masih dipertahankan sebesar 20 persen dari APBN, realitas kebijakan justru menunjukkan adanya pengetatan kuota dan penyesuaian program beasiswa strategis yang berdampak langsung pada kesempatan mahasiswa miskin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

“Anggaran pendidikan mungkin tetap 20 persen, tetapi substansi kebijakannya menunjukkan kemunduran. Penurunan dan stagnasi kuota beasiswa negara adalah sinyal bahwa negara mulai mengendurkan tanggung jawabnya dalam menjamin pendidikan tinggi yang berkeadilan sosial,” tegas Sehabudin, Senin (1/2/2026).

DPP GMNI mencatat penurunan signifikan pada program beasiswa LPDP. Pada tahun 2023, jumlah penerima LPDP tercatat lebih dari 9.000 orang. Namun angka tersebut turun drastis menjadi sekitar 4.000 penerima pada tahun 2025, dan hanya mengalami kenaikan terbatas pada tahun 2026.

Kondisi ini dinilai sebagai bentuk pengetatan kebijakan yang berdampak langsung pada calon mahasiswa berprestasi dari latar belakang ekonomi lemah.

Berdasarkan kompilasi data Kemendikbudristek, LPDP, dan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 sekitar 62–65 persen penerima beasiswa pendidikan tinggi berasal dari keluarga miskin dan rentan.

Angka tersebut menurun menjadi sekitar 58 persen pada 2024, lalu kembali turun ke kisaran 52–55 persen pada 2025 seiring dengan pengetatan kuota dan meningkatnya kompetisi antarpendaftar.

Baca Juga:   GMNI UIN Jakarta Bersama Rakyat, Rayakan Kemerdekaan dengan Aksi Nyata

Pada 2026, meskipun terdapat sedikit penambahan kuota LPDP, proporsi mahasiswa miskin penerima beasiswa diperkirakan belum kembali ke level tahun 2023.

Penurunan kuota LPDP tersebut, lanjut Sehabudin, kerap dibenarkan dengan alasan efisiensi APBN dan menjaga keberlanjutan Dana Abadi Pendidikan.

Namun, DPP GMNI menilai kebijakan tersebut tidak diimbangi dengan skema alternatif yang memadai bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga miskin.

“Negara tidak boleh hanya berbicara soal keberlanjutan fiskal, tetapi mengabaikan keberlanjutan sosial,” ujarnya.

Sementara itu, program KIP Kuliah memang masih menjangkau lebih dari satu juta mahasiswa aktif di seluruh Indonesia. Namun, DPP GMNI menyoroti kecenderungan stagnasi kuota mahasiswa baru.

Pada tahun 2023, mahasiswa dari keluarga miskin dan rentan yang tertampung melalui KIP Kuliah mencapai sekitar 75 persen dari total penerima baru.

Persentase tersebut menurun menjadi sekitar 72 persen pada 2024, dan kembali turun ke kisaran 68–70 persen pada 2025, seiring meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi dan tekanan ekonomi masyarakat pascapandemi.

Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan riil mahasiswa miskin dengan kapasitas daya tampung program KIP Kuliah di berbagai daerah serta perguruan tinggi negeri dan swasta.

Banyak calon mahasiswa yang secara akademik memenuhi syarat, namun gagal memperoleh bantuan akibat keterbatasan kuota.

DPP GMNI menegaskan bahwa kebijakan penurunan atau stagnasi kuota beasiswa bertentangan dengan amanat konstitusi. Pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan dan mewajibkan negara membiayainya.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi serta komitmen dalam RPJMN dan Nota Keuangan APBN menempatkan pendidikan tinggi sebagai instrumen strategis pembangunan nasional.

“Jika kuota beasiswa dikurangi sementara biaya pendidikan terus meningkat, maka yang terjadi adalah peminggiran sistematis anak-anak rakyat dari bangku perguruan tinggi. Ini bertentangan dengan cita-cita keadilan sosial dan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegas Sehabudin.

Baca Juga:   Mahasiswa-Mahasiswi Indonesia, Ayo Bergabung Bersama GMNI!

Atas dasar tersebut, DPP GMNI mendesak pemerintah dan DPR untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan kuota KIP Kuliah dan LPDP dalam APBN 2026.

DPP GMNI juga menuntut penambahan kuota beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga miskin, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok sosial rentan.

Selain itu, GMNI mendorong transparansi dan partisipasi publik yang lebih luas dalam perumusan kebijakan pendidikan tinggi nasional, serta menolak segala bentuk komersialisasi pendidikan.

“Pendidikan tinggi harus menjadi alat emansipasi rakyat, bukan privilese segelintir orang. Negara tidak boleh mundur dari tanggung jawab sejarahnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkasnya.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?
Senin, 18 Mei 2026 | 05:30 WIB
Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Minggu, 17 Mei 2026 | 22:36 WIB
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Minggu, 17 Mei 2026 | 20:19 WIB
Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua
Minggu, 17 Mei 2026 | 18:47 WIB
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen
Minggu, 17 Mei 2026 | 14:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.

Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta

Marhaenist.id, Yogyakarta — Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), H.…

Bayu Sasongko: Jika Laut Diberi Harga, Siapa yang Menguasai Dunia?

Marhaenist.id, Singapura — Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan menegaskan bahwa negaranya tidak…

Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban

Marhaenist.id - Dunia hari ini tidak kekurangan kemajuan, yang langka justru makna.…

Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal

Marhaenist.id, Jakarta - Interupsi Senator Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor, dalam…

Lima Variabel yang Menentukan Cepat Lamanya Perang Israel dan AS melawan Iran

Marhaenist.id - Perang Israel dan AS melawan Iran akan memasuki minggu kedua.…

​Lawan Perang Imperialis AS! Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Kecam Rezim Prabowo-Gibran sebagai Boneka Amerika

Marhaenist.id, Jakarta – Gelombang kemarahan rakyat terhadap kebijakan luar negeri dan domestik rezim…

Selamatkan Demokrasi: DPC GMNI Jeneponto Desak Usut Tuntas Teror Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis HAM Andrien Yunus

Marhaenist.id, Jeneponto – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI)…

Kedaulatan Digital di Tengah Krisis Privasi Nasional: Menggugat Janji UU Perlindungan Data Pribadi

Marhaenist.id - Saat data pribadi — termasuk data kesehatan, identitas resmi (NIK),…

Mungkinkah De-Sukarnoisasi Djilid II Terjadi ?: Rekonsilisasi Elit & Harga Sembako Melejit era Pseudo-Demokrasi 2024

Marhaenis.id - Pada 2019, tahun yang tepat, hajatan demokrasi seperti Pemilihan Presiden…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?