By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?
Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
HistoricalOpini

Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 18 Mei 2026 | 05:30 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Gambar "Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?" (Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – ​Suatu hari, ada seorang anak muda yang melempar pertanyaan kritis yang bikin mikir: “Kalau yang menculik para jenderal itu tentara, dan yang dibunuh juga tentara, kenapa yang disalahkan dan dibantai habis-habisan justru orang-orang PKI?” Pertanyaan ini masuk akal.

Secara logika orang awam, kalau ada konflik di dalam tubuh militer, seharusnya itu urusan internal tentara. Mengapa jutaan anggota partai di tingkat bawah yang tidak tahu apa-apa harus ikut menanggung akibatnya sampai nyawa melayang?

Versi resmi sejarah memang menyebutkan petinggi PKI seperti DN Aidit adalah dalangnya. Namun, karena Aidit langsung dieksekusi mati tanpa sempat diadili secara terbuka di pengadilan, banyak orang akhirnya curiga bahwa ada konspirasi atau skenario besar yang disembunyikan di balik peristiwa berdarah ini.

​Jika kita membedah kejadian di lapangan pada malam jahanam itu, gerakan militer ini sebenarnya dibagi menjadi tiga pasukan khusus. Ada Pasukan Pasopati yang tugasnya menjemput paksa dan membunuh para jenderal Angkatan Darat, Pasukan Bimasakti yang mencaplok kantor RRI dan telekomunikasi untuk mengontrol informasi, serta Pasukan Gatotkaca yang berjaga di Lubang Buaya.

Lucunya, operasi ini dipimpin oleh Letkol Untung, seorang komandan dari pasukan elit pengawal Presiden (Cakrabirawa). Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan inilah yang membantai enam jenderal dan seorang perwira muda, sementara target utama mereka, Jenderal A.H. Nasution, justru berhasil lolos dari maut.

​Di sinilah plot sejarahnya mulai terasa aneh dan bikin dahi mengernyit. Dua batalyon militer yang dipakai Letkol Untung untuk menculik para jenderal—yaitu Batalyon 454 dan 530—ternyata adalah pasukan elit Kostrad yang berada di bawah komando langsung Mayor Jenderal Soeharto.

Bukan cuma pasukannya, para tokoh kunci gerakan ini seperti Letkol Untung dan Kolonel Latief adalah mantan anak buah erat Soeharto sewaktu di Divisi Diponegoro Semarang. Bahkan, ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Soeharto sebenarnya sudah tahu rencana ini, menyetujuinya, dan sengaja mendatangkan batalyon-batalyon tersebut dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tanpa memberi tahu Letkol Untung bahwa beliau juga menyiapkan pasukan tandingan dari RPKAD.

Baca Juga:   Menuju Ramadan–Lebaran 2026: Di Balik Kejamnya Tradisi Mudik

​Kejanggalan ini diperkuat oleh kesaksian para ahli sejarah barat. Sehari sebelum penculikan terjadi, Soeharto kedapatan sempat menginspeksi pasukan yang belakangan menjadi motor penggerak penculikan tersebut.

Ditambah lagi, Kolonel Latief sebenarnya sudah melapor secara pribadi kepada Soeharto pada malam sebelum kejadian tentang rencana “penculikan” para jenderal. Karena fakta-fakta inilah, banyak sejarawan yang ragu jika PKI adalah satu-satunya dalang tunggal.

Banyak yang menduga ini adalah konflik internal Angkatan Darat yang dimanfaatkan dengan cerdik. Meski demikian, dalam buku biografinya, Soeharto berkali-kali membantah keterlibatannya dan tetap bersikeras bahwa berdasarkan semua dokumen dan hasil interogasi, PKI-lah otak utama di balik gerakan pemberontakan tersebut.***


Sumber: Akun Facebook Sejarah Cirebon.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Minggu, 17 Mei 2026 | 22:36 WIB
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Minggu, 17 Mei 2026 | 20:19 WIB
Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua
Minggu, 17 Mei 2026 | 18:47 WIB
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen
Minggu, 17 Mei 2026 | 14:02 WIB
Penampakan Layar Film Pesta Babi oleh Cipayung Plus Kendari (Dok.Panitia)/MARHAENIST.
Cipayung Plus Kota Kendari Bersama Mahasiswa Papua Sukses Gelar Nobar Film Pesta Babi
Jumat, 15 Mei 2026 | 14:08 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Dukung Kongres Persatuan, GMNI Sultra: Ini adalah Cara Terbaik untuk Mengakhiri Dualisme

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Anak yang Diracuni dan Tubuh yang Ditertibkan

Marhaenist.id - Saat anak-anak jatuh sakit akibat makanan dari kebijakan negara dan…

Dukung Persatuan, DPD GMNI Sultra Apresiasi Terbentuknya Forum Nasional Komunikasi Persatuan dalam Konsolidasi Nasional di Blitar

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sulawesi…

Merajut Keberlanjutan dan Kemandirian Komisariat, DPK GMNI Hukum UNIB Gelar MAK

Marhaenist.id, Bengkulu – Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Rifqi Sukarno (Founder Depok Youth Movement)/Marhaenist.id.

Sekilas Memaknai Hari Buruh

Marhaenist.id - Tepat pada 1 Mei di seluruh belahan dunia sedang merayakan…

Netral, DPC PA GMNI Solo Larang Anggota Hadiri Deklarasi Dukungan Capres-Cawapres

Marhaenist - Ketua DPC Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI)…

Mengapa Rakyat Marah dan Ingin Membubarkan DPR?

Marhaenist.id, Jakarta - Aksi unjuk rasa Rakyat dengan tuntutan ingin membubarkan Dewan…

Gelar Diskusi Bersama Para Pakar, GMNI Jaksel Bahas Otoritarianisme Legal: Antara Hukum dan Kekuasaan

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPC GMNI Touna Sukses Gelar Kegiatan Akrab Marhaenis

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?