By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Menag Adakan Natal Bersama: Simbol Kecil, Dampak Besar — Asal Jangan Sekadar Panggung Saja

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 14 Desember 2025 | 23:27 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Abdullah Said Ketua DPK GMNI Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta bersama Rekan (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ketika Kementerian Agama menetapkan tema “C-LIGHT: Christmas — Love in God, Harmony Together”, itu bukan sekadar permainan kata yang enak dipajang di poster acara. Tema ini menaruh kasih (love) sebagai fondasi dan harmoni (harmony) sebagai tujuan bersama—dua hal yang justru paling sering hilang ketika agama dibawa ke ruang publik dengan nada saling curiga.

Fakta bahwa Kemenag menginisiasi rangkaian Natal bersama dan menghadirkan Menteri Agama di dalamnya menunjukkan upaya simbolik yang tidak bisa dipandang remeh.

Saat hadir dalam perayaan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa “tidak boleh ada sekat di antara sesama anak bangsa” dan menyebut keberagaman Indonesia sebagai “lukisan Tuhan yang sangat indah.” Kalimat ini penting, bukan karena puitisnya, tetapi karena ia datang dari pejabat negara yang memegang otoritas moral dan administratif dalam urusan keagamaan. Negara, setidaknya pada momen ini, memilih tampil sebagai pengelola keragaman—bukan penjaga satu tafsir.

Mengapa simbol semacam ini relevan? Karena politik identitas di Indonesia tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi sering berangkat dari isyarat-isyarat kecil: siapa hadir di mana, siapa diakui, siapa dibiarkan berdiri sendiri. Kehadiran Menag dalam perayaan Natal menurunkan legitimasi klaim bahwa ruang publik hanya milik kelompok tertentu. Ia tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi memberi sinyal bahwa negara tidak alergi pada perbedaan.

Menariknya, sinyal negara ini hadir di tengah fenomena lain yang juga khas zaman ini: anak muda yang santai—kadang terlalu santai—dalam memperlakukan agama di media sosial. Menurut Bung Said, Penggiat Literasi Lintas Agama “Candaan nyeleneh, meme lintas iman, plesetan ayat, hingga humor gelap bertema surga-neraka berseliweran tiap hari di lini masa.

Baca Juga:   Membangun Kembali Oposisi Marhaen di Era Post-Politics

Sebagian melihatnya sebagai kreativitas, sebagian lain menganggapnya banal atau bahkan ofensif. Namun satu hal jelas: generasi muda sedang mencari cara baru berelasi dengan agama—lebih cair, lebih personal, dan sering kali tanpa rasa takut berlebihan”, tungkasnya.

Di titik inilah peran simbol negara menjadi penting. Ketika negara menunjukkan sikap dewasa dan tenang dalam merespons perbedaan—tidak reaktif, tidak panik, tidak menggurui—ia memberi contoh bagaimana ruang publik bisa dikelola tanpa harus tegang.

Anak muda yang bercanda soal agama bukan selalu sedang menista; sering kali mereka sedang menguji batas, mencari bahasa baru, atau sekadar ingin didengar. Negara yang inklusif justru memberi konteks agar kebebasan berekspresi tidak berubah menjadi konflik identitas.

Pijakan ideologis untuk sikap ini bukan hal baru. Soekarno pernah menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia harus melampaui sekat primordial: “Itulah konsep nasionalisme yang didirikan Indonesia.

Bukan orang Jawa, bukan orang Sumatera… tapi orang Indonesia.” Nasionalisme semacam ini tidak alergi pada perbedaan ekspresi—selama tujuan akhirnya tetap kebersamaan. Kehadiran Menag di Natal bersama adalah contoh kecil bagaimana negara bisa menghidupkan kembali semangat itu dalam praktik.

Secara moral, pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi dasar yang lebih dalam: “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya.” Etika ini relevan bukan hanya untuk relasi antar-umat beragama, tetapi juga untuk membaca fenomena anak muda hari ini. Menghormati manusia berarti memahami konteks zamannya, termasuk cara mereka bercanda, berpendapat, dan merayakan identitas—tanpa langsung menghakimi atau membungkam.

Tentu, kritik tetap perlu dijaga. Simbol tanpa kebijakan hanya akan menjadi dekorasi. Tema C-LIGHT tidak boleh berhenti sebagai panggung perayaan, sementara di lapangan masih ada diskriminasi, pembatasan rumah ibadah, atau kriminalisasi ekspresi.

Baca Juga:   Mungkinkah De-Sukarnoisasi Djilid II Terjadi ?: Rekonsilisasi Elit & Harga Sembako Melejit era Pseudo-Demokrasi 2024

Jika negara ingin serius, maka langkah berikutnya harus konkret: pendidikan pluralisme yang relevan dengan budaya digital, kebijakan perlindungan minoritas yang tegas, dan ruang dialog yang tidak hanya formal, tetapi juga akrab dengan bahasa anak muda.

Penutupnya sederhana namun tegas. Kehadiran Menteri Agama dalam perayaan Natal Kemenag dengan tema “C-LIGHT: Christmas — Love in God, Harmony Together” adalah langkah yang patut diapresiasi. Ia memberi sinyal bahwa negara bisa hadir tanpa menggurui, bisa merangkul tanpa kehilangan wibawa.

Di tengah generasi muda yang makin santai—bahkan kadang nyeleneh—dalam membicarakan agama, sikap negara yang dewasa justru menjadi penyeimbang. Tinggal satu pertanyaan tersisa: apakah cahaya itu akan dijaga tetap menyala, atau padam begitu panggung dibongkar?***


Penulis: Abdullah Said Ketua DPK GMNI Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Rabu, 15 April 2026 | 14:58 WIB
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Rabu, 15 April 2026 | 14:13 WIB
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Selasa, 14 April 2026 | 20:54 WIB
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
Selasa, 14 April 2026 | 19:40 WIB
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan
Selasa, 14 April 2026 | 19:26 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Mahfud MD Resmi Mundur dari Jabatannya Sebagai Menko Polhukam di Kabinet Jokowi

Marhaenist.id, Jakarta - Mahfud MD telah resmi mengudurkan diri sebagai Mentri Koordinator…

GMNI Sulbar Soroti Pembangunan Kantor KDMP Tanpa Papan Proyek, Desak Kejari dan DPRD Jalankan Tupoksi

Marhaenist.id, Mamasa — Pembangunan kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah…

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka

Marhaenist.id - Indonesia bagiku bukan sekadar tanah kelahiran. Indonesia adalah anugerah tuhan…

Jokowi Terima Anggota Bawaslu Periode 2022-2027

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum…

Hadiri Halal Bil Halal DPD PA GMNI Kalbar, Arudji Tekankan Alumni dan Kader GMNI Agar Bergotong Royong

Marhaenist.id, Kubu Raya - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan…

Telah Lahirkan Tokoh-Tokoh Nasional, Siapa Sajakah Mereka yang Pernah Berorganisasi di GMNI?

Marhaenis.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau yang sering disebut GMNI merupakan…

Sukarno, Marsixme, dan Bahaya Pemfosilan

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Sejatinya buku ini saya temukan dalam bentuk buku elektronik/e-book…

Foto: Abdy Yuhana bersama Para Hadirin yang hadir mengikuti kegiatan Peluncuran Buku itu (Kredit foto: Abdy Yuhana)/MARHAENIST.

Amendemen Konstitusi Dinilai Problematik, Abdy Yuhana: Pendiri Bangsa Kembali Menjadi Rujukan

Marhaenist.id, Jakarta - Setelah empat kali amendemen, konstitusi Indonesia dinilai problematik. Gagasan para…

DPP GMNI Gelar Diskusi Virtual “Spesial Ngabuburit Marhaenis”, Bahas Posisi Pancasila di Tengah Pergeseran Ideologi Global

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kembali…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?