
Marhaenist.id – GMNI Cabang Bandung, atau yang akrab dikenal sebagai GMNI Kancil, bukan sekadar sekretariat organisasi yang berdiri di Jalan Kancil, tetapi ruang hidup yang terus menyalakan api pemikiran dan semangat perjuangan kader-kadernya.
Kunjungan kami ke tempat ini bukan hanya perjalanan biasa. Saya, sebagai Ketua DPK GMNI UBPK Bung Jeje Zaenudin, bersama Sekretaris Bung Gahara Abhirama, datang dengan kesadaran bahwa ternyata Bandung bukan kota biasa, dan bukanlah ruang yang netral.
Bandung adalah ruang historis, ruang ideologis, dan ruang yang sejak lama melahirkan gagasan-gagasan besar dalam perjalanan bangsa. Ada satu perasaan yang sulit dijelaskan ketika kami menjajakan kaki di Bandung ini. Dalam skala yang mungkin berbeda, kami merasakan hal yang pernah dirasakan oleh Bung Karno ketika datang ke kota ini.
Bandung bukan sekadar tempat untuk datang dan pergi, tetapi tempat untuk pulang. Pulang pada gagasan, pulang pada semangat, dan pulang pada akar perjuangan.
Setibanya di Sekretariat GMNI Cabang Bandung, kami tidak diposisikan sebagai tamu. Kami diterima sebagai saudara. Sambutan hangat terasa sejak awal, tanpa sekat formalitas yang berlebihan. Suasana sekretariat sederhana, namun penuh makna. Ruang itu hidup, bukan karena bangunannya, tetapi karena orang-orang dan gagasan yang mengisinya.
Diskusi yang terbangun bukanlah diskusi kosong. Setiap percakapan mengarah pada substansi. Realitas sosial dibedah secara kritis, posisi gerakan dipertanyakan secara jujur, dan arah perjuangan dirumuskan dengan kesadaran ideologis. Di sana terlihat bahwa organisasi benar-benar dijalankan sebagai ruang kaderisasi yang hidup, bukan sekadar simbol atau struktur administratif.
GMNI Kancil menunjukkan bahwa sekretariat bukan hanya tempat berkumpul, tetapi menjadi laboratorium pemikiran. Tempat di mana kader diasah bukan hanya secara organisatoris, tetapi juga secara intelektual dan ideologis. Kultur diskusi, keberanian berpikir, dan semangat kolektif terasa begitu kuat.
Dari kunjungan ini, kami belajar banyak hal. Bukan hanya soal bagaimana mengelola organisasi, tetapi bagaimana membangun kultur gerakan yang progresif. Kultur yang mendorong kader untuk terus membaca realitas, berani berpendapat, dan tetap berpijak pada nilai-nilai perjuangan.
Perjalanan kami kembali ke Karawang membawa lebih dari sekadar cerita. Kami pulang dengan semangat baru, perspektif yang lebih luas, serta tanggung jawab yang semakin besar. Apa yang kami rasakan di Bandung menjadi bahan refleksi sekaligus dorongan untuk terus berbenah.
Kunjungan ini menegaskan satu hal penting, bahwa gerakan tidak akan pernah mati selama ruang-ruang kecil seperti sekretariat tetap hidup. Selama masih ada diskusi, pemikiran, dan keberanian untuk bergerak, maka harapan akan selalu ada.
GMNI Cabang Bandung sekali lagi membuktikan dirinya bukan hanya sebagai tempat berkumpulnya kader, tetapi sebagai rumah ideologis yang menghidupkan pikiran dan menjaga nyala perjuangan.***
Penulis: Jeje Zaenudin, Ketua DPK GMNI UBPK.