By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Kongres GMNI XXII: Panggung Oportunis atau Forum Progresif?

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Senin, 14 Juli 2025 | 14:08 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Ilustrasi Kader GMNI yang marah dengan menunggang kuda karena Marhaenisme dipermainkan(Desain: Redaksi)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kongres ke‑22 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), diselenggarakan di Bandung pada 15–18 Juli 2025, menjadi panggung dua pilihan besar: apakah ini menjadi arena idealisme progresif bagi kader marhaenis, atau hanya semacam panggung opportunis bagi elite organisasi?

📰 Kabar Terkini: Semangat dan Kewaspadaan dari Berbagai Cabang

Berbagai DPC GMNI sedang mempersiapkan diri dengan ambisi ideologis tinggi:

DPC GMNI Banyuwangi bahkan menyiapkan dua armada ke Bandung untuk solidkan barisan dan mempertegas posisi mereka di kongres XXII.

GMNI Surabaya menyatakan kesiapan penuh, berharap kongres menjadi sarana regenerasi dan reposisi organisasi secara ideologis. DPC GMNI Surabaya juga menekankan komitmen pada AD/ART dan menolak provokasi politik praktis .

DPC GMNI Buton Raya meskipun tanpa wilayah secara administratif, mereka menegaskan bahwa mereka hadir bukan untuk ambisi pribadi, tetapi membawa “amanah sejarah”, melawan intervensi elit parpol, dan menjaga marwah marhaenisme Bung Karno.

DPD GMNI Gorontalo menyatakan dukungan penuh, menegaskan bahwa mereka membawa suara nyata rakyat—nelayan, petani, buruh—ke arena kongres. Mereka mengingatkan agar kongres tidak sekadar acara seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi ideologis dan moral.

Sementara itu, Badan Kerja Cabang GMNI Bandung dan DPC GMNI Bandung dibawah pimpinan Irfan Ade menyatakan penolakan terhadap wacana kongres yang dipaksakan — Mereka menilai hal tersebut mencederai nilai-nilai perjuangan dan sejarah Bandung sebagai saksi Konferensi Asia-Afrika.

Dengan begitu beragamnya respons, terlihat jelas bahwa harapan besar sekaligus kewaspadaan tinggi menyelimuti penyelenggaraan kongres ini.

⚠️ Panggung Oportunis?

Terhadap konkretisasi kongres, potensi oportunisme mengintai. Sejumlah cabang menyoroti kemungkinan intervensi elit negara dan partai politik yang mencoba menjadikan kongres sebagai instrumen legitimasi atau arena kompromi politik semu. Ini sesuai kekhawatiran dari DPC GmnI Bandung yang menolak dengan tegas jika kongres berubah menjadi “alat dagang politik”.

Baca Juga:   Whoosh dan Demokratisasi BUMN

Kritik ini menjadi refleksi penting: bila keputusan kongres lebih dominan dipengaruhi oleh politik praktis daripada substansi perjuangan, maka kongres kehilangan fungsi sebagai laboratorium ide marhaenisme Bung Karno.

🌟 Forum Progresif? Harapan Masih Terbuka?

Meski begitu, banyak cabang yang optimis. DPD GMNI Sulawesi Barat dan DPC GmnI Seram Bagian Barat berkomitmen menjadikan kongres sebagai momentum mengusung isu rakyat: agraria, HAM, dan melawan “penjajahan gaya baru”. Ini menunjukkan bahwa di antara hiruk-pikuk politisasi, masih ada roh perjuangan yang kuat mengusung agenda rakyat.

Jika semangat ini dipertahankan, kongres dapat menjadi ruang konstruktif: bukan hanya memilih pengurus, tapi merumuskan peta strategi kerakyatan, memperkuat pemikiran kritis, dan meneruskan manifesto politik Bung Karno.

🧭 Soekarno: Spirit “Vivere Pericoloso” untuk GMNI

Marhaenisme adalah roh yang tak boleh mati dalam GMNI. Bung Karno, melalui pidato “Tahun Vivere Pericoloso” pada 17 Agustus 1964, menyerukan agar kita hidup “berbahaya” demi revolusi:

> “Kita ini satu bangsa banteng… marilah kita berani nyrempet-nyrempet bahaya… Hiduplah ber‑Vivere Pericoloso di atas jalan yang dikehendaki oleh Tuhan dan diridhai oleh Tuhan.”

Semangat ini adalah seruan idealisme murni: revolusi bukan proyek nyaman, melainkan panggilan berani melawan struktur penindasan. Jika kongres ini gagal membumikan idealisme itu—hanya ramai dibicarakan di ruang protokoler atau dipenuhi kepentingan posisi—maka kongres telah kehilangan relevansi revolusioner.

Soekarno juga berpesan:

> “Negara Indonesia dalam bahaya… Revolusi adalah satu proses… gelora samudera berjalan terus… Pasang‑naik pasang‑surut itulah yang dinamakan iramanya Revolusi.”

Baginya, kesuksesan organisasi harus diukur dari daya tahan di tengah gejolak; bukan seberapa elegan acara formalnya.

—

Semangat keutuhan GMNI ini mendapat penegasan dari tokoh-tokoh revolusioner lain:

Rosa Luxemburg, dalam Reform or Revolution, menekankan:

Baca Juga:   Hipotetis: Relevansi Gerak Marhaenis tehadap Marhaenisme dalam Melawan Tantangan Zaman Diera Kekinian

“Revolusi tanpa kesadaran kelas hanyalah parade boneka di tangan borjuasi.”

Kongres harus mendorong kesadaran akar—agar GMNI bukan “monocultural elite”.

Antonio Gramsci menyatakan:

“Krisis adalah ketika yang lama belum mati, dan yang baru belum lahir.”
GMNI tengah mengalami masa transisi ideologis. Kongres berpotensi menjadi kelahiran gerakan baru—jika tidak tertahan nostalgia atau oportunisme.

Che Guevara mengingatkan:

“Revolusi bukan sekadar mengubah sistem, tapi mengubah kesadaran kita untuk hidup dan berjuang bersama rakyat.”

Aksi kolektif, bukan sekadar wacana formal, diharapkan muncul dari kongres ini.

🛠 Aksi Konkret agar Kongres “Bermakna”

Agar kongres benar-benar menjadi forum progresif, berikut beberapa langkah:

1. Transparansi Prosedural: seluruh proses pemilihan dan debat platform harus terbuka dan diawasi, mencegah lobby rahasia atau manipulasi hasil.

2. Debat Ideologis Tajam: perlu diskusi mendalam tentang isu struktural hari ini—neokolonialisme digital, kebijakan reforma agraria, kesenjangan ekonomi, HAM, dan demokrasi media massa.

3. Agenda Praksis Realistis: hasil kongres harus disertai rencana aksi konkret—pengorganisasian petani, buruh, rakyat miskin kota dan pendidikan marhaenisme di kampus & desa, serta advokasi sosial.

4. Perlindungan terhadap Intervensi: DPC Surabaya dan Gorontalo memberi contoh menjaga kongres dari provokasi politik—ini harus menjadi sikap kolektif nasional.

5. Penyertaan Rakyat dan Ahli: undang panelis dari basis rakyat (petani, buruh, kaum miskin kota) dan akademisi kritis, agar kongres menjadi ubun-ubun permasalahan rakyat.

🏁 Penutup: Kongres sebagai Ujian Ideologi

Apakah GMNI XXII adalah panggung oportunis atau forum progresif? Waktu dan hasil kongres-lah yang akan menjawab.

Jika kongres ini menghasilkan struktur baru tanpa peta perjuangan rakyat—hanya birokrat muda yang nyaman di birokrasi—itu berarti GMNI kehilangan nyali revolusionernya. Namun jika lahir kesadaran mendalam, strategi kolektif, dan agenda menjunjung marhaenisme—maka GMNI akan membuktikan bahwa semangat Soekarno masih hidup.

Baca Juga:   Tegas Inginkan Persatuan, DPC GMNI Lubuklinggau Nyatakan Sikap Tak Hadiri Kongres GMNI di Bandung

Seperti pesan Bung Karno:

“Revolusi tidak boleh tidur.”

Kongres bukan kemenangan akhir—tetapi awal dari revolusi nyata di dalam dan luar GMNI, walaupun harapan itu setipis roti.***


Penulis: Dimas Muhammad Erlangga, Kader Marhaenis Reflektif.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:13 WIB
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08 WIB
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
Kamis, 15 Januari 2026 | 09:03 WIB
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:27 WIB
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat
Rabu, 14 Januari 2026 | 22:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, berolahraga dengan bersepeda di Kota Surabaya, bertajuk “Gowes Keliling Surabaya”, Sabtu (15/10/2022) pagi. FILE/IST. Photo

Bersepada Keliling Surabaya, Hasto Sampaikan Pesan Megawati

Marhaenist - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto berolahraga dengan bersepeda di Kota…

Marhaenisme Ingatkan Bahaya Pilkada Tertutup, Bayu Sasongko: Oligarki Berbalut Legalitas

Marhaenist.id, Jakarta - Wacana pengubahan mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada), baik langsung…

Pemerintah Lakukan Diskriminasi dalam Penghapusan Utang UMKM

Marhaenist.id - Pemerintah lagi lagi melakukan kebijakan diskriminatif terhadap lembaga keuangan koperasi. Utang…

GO TO HELL WITH YOUR TARIFF: Jalan Politik Non-Blok dan Wujudkan Trisakti

Marhaenist.id - (10/4/2025) Konferensi Asia Afrika diselenggarakan pada 18-24 April 1955 di…

Diduga Kuat Dikriminalisasi, Inilah Kejanggalan Kasus Hukum Ibu Guru Supriyani!

Marhaenist.id - Kasus dugaan kriminalisasi seorang guru honorer di Kecamatan Baito sontak…

Layangkan Penyataan Sikap Ke Pemerintah, GMNI Se-Indonesia Tolak Pemberian Gelar Pahlawan Kepada Suharto

Marhaenist.id, Jakarta – Dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, kami Aktivis GMNI…

Diduga Ada Penyalahgunaan Anggaran Pembebasan Lahan Pasar Mamasa, GMNI Desak Kejati Sulbar Periksa Terduga Pelaku

Marhaenist.id, Mamasa - Polemik pembebasan lahan Pasar Mamasa masih terus bergulir, hal…

Kirimkan Tulisan Anda ke Marhaenist.id, Inilah Syarat dan Ketentuannya!

Marhaenist.id - Marhaenist dengan tagline Ever Onward Never Retreat merupakan media online…

Teror Kepala Babi dan Intimidasi Terhadap Pers

Marhaenist.id - Kita hidup di era di mana pertarungan ideologi dan kepentingan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?