By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Kongres GMNI XXII: Panggung Oportunis atau Forum Progresif?

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Senin, 14 Juli 2025 | 14:08 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Ilustrasi Kader GMNI yang marah dengan menunggang kuda karena Marhaenisme dipermainkan(Desain: Redaksi)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kongres ke‑22 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), diselenggarakan di Bandung pada 15–18 Juli 2025, menjadi panggung dua pilihan besar: apakah ini menjadi arena idealisme progresif bagi kader marhaenis, atau hanya semacam panggung opportunis bagi elite organisasi?

📰 Kabar Terkini: Semangat dan Kewaspadaan dari Berbagai Cabang

Berbagai DPC GMNI sedang mempersiapkan diri dengan ambisi ideologis tinggi:

DPC GMNI Banyuwangi bahkan menyiapkan dua armada ke Bandung untuk solidkan barisan dan mempertegas posisi mereka di kongres XXII.

GMNI Surabaya menyatakan kesiapan penuh, berharap kongres menjadi sarana regenerasi dan reposisi organisasi secara ideologis. DPC GMNI Surabaya juga menekankan komitmen pada AD/ART dan menolak provokasi politik praktis .

DPC GMNI Buton Raya meskipun tanpa wilayah secara administratif, mereka menegaskan bahwa mereka hadir bukan untuk ambisi pribadi, tetapi membawa “amanah sejarah”, melawan intervensi elit parpol, dan menjaga marwah marhaenisme Bung Karno.

DPD GMNI Gorontalo menyatakan dukungan penuh, menegaskan bahwa mereka membawa suara nyata rakyat—nelayan, petani, buruh—ke arena kongres. Mereka mengingatkan agar kongres tidak sekadar acara seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi ideologis dan moral.

Sementara itu, Badan Kerja Cabang GMNI Bandung dan DPC GMNI Bandung dibawah pimpinan Irfan Ade menyatakan penolakan terhadap wacana kongres yang dipaksakan — Mereka menilai hal tersebut mencederai nilai-nilai perjuangan dan sejarah Bandung sebagai saksi Konferensi Asia-Afrika.

Dengan begitu beragamnya respons, terlihat jelas bahwa harapan besar sekaligus kewaspadaan tinggi menyelimuti penyelenggaraan kongres ini.

⚠️ Panggung Oportunis?

Terhadap konkretisasi kongres, potensi oportunisme mengintai. Sejumlah cabang menyoroti kemungkinan intervensi elit negara dan partai politik yang mencoba menjadikan kongres sebagai instrumen legitimasi atau arena kompromi politik semu. Ini sesuai kekhawatiran dari DPC GmnI Bandung yang menolak dengan tegas jika kongres berubah menjadi “alat dagang politik”.

Baca Juga:   DPC GMNI Batam Gelar Kelas Ideologi dan Buka Bersama, Tegaskan Peran Perempuan dalam Barisan Marhaenisme

Kritik ini menjadi refleksi penting: bila keputusan kongres lebih dominan dipengaruhi oleh politik praktis daripada substansi perjuangan, maka kongres kehilangan fungsi sebagai laboratorium ide marhaenisme Bung Karno.

🌟 Forum Progresif? Harapan Masih Terbuka?

Meski begitu, banyak cabang yang optimis. DPD GMNI Sulawesi Barat dan DPC GmnI Seram Bagian Barat berkomitmen menjadikan kongres sebagai momentum mengusung isu rakyat: agraria, HAM, dan melawan “penjajahan gaya baru”. Ini menunjukkan bahwa di antara hiruk-pikuk politisasi, masih ada roh perjuangan yang kuat mengusung agenda rakyat.

Jika semangat ini dipertahankan, kongres dapat menjadi ruang konstruktif: bukan hanya memilih pengurus, tapi merumuskan peta strategi kerakyatan, memperkuat pemikiran kritis, dan meneruskan manifesto politik Bung Karno.

🧭 Soekarno: Spirit “Vivere Pericoloso” untuk GMNI

Marhaenisme adalah roh yang tak boleh mati dalam GMNI. Bung Karno, melalui pidato “Tahun Vivere Pericoloso” pada 17 Agustus 1964, menyerukan agar kita hidup “berbahaya” demi revolusi:

> “Kita ini satu bangsa banteng… marilah kita berani nyrempet-nyrempet bahaya… Hiduplah ber‑Vivere Pericoloso di atas jalan yang dikehendaki oleh Tuhan dan diridhai oleh Tuhan.”

Semangat ini adalah seruan idealisme murni: revolusi bukan proyek nyaman, melainkan panggilan berani melawan struktur penindasan. Jika kongres ini gagal membumikan idealisme itu—hanya ramai dibicarakan di ruang protokoler atau dipenuhi kepentingan posisi—maka kongres telah kehilangan relevansi revolusioner.

Soekarno juga berpesan:

> “Negara Indonesia dalam bahaya… Revolusi adalah satu proses… gelora samudera berjalan terus… Pasang‑naik pasang‑surut itulah yang dinamakan iramanya Revolusi.”

Baginya, kesuksesan organisasi harus diukur dari daya tahan di tengah gejolak; bukan seberapa elegan acara formalnya.

—

Semangat keutuhan GMNI ini mendapat penegasan dari tokoh-tokoh revolusioner lain:

Rosa Luxemburg, dalam Reform or Revolution, menekankan:

Baca Juga:   Studi Terhadap Prilaku Keserakahan, Seberapa Mengerikannya Manusia? (Bagian 2)

“Revolusi tanpa kesadaran kelas hanyalah parade boneka di tangan borjuasi.”

Kongres harus mendorong kesadaran akar—agar GMNI bukan “monocultural elite”.

Antonio Gramsci menyatakan:

“Krisis adalah ketika yang lama belum mati, dan yang baru belum lahir.”
GMNI tengah mengalami masa transisi ideologis. Kongres berpotensi menjadi kelahiran gerakan baru—jika tidak tertahan nostalgia atau oportunisme.

Che Guevara mengingatkan:

“Revolusi bukan sekadar mengubah sistem, tapi mengubah kesadaran kita untuk hidup dan berjuang bersama rakyat.”

Aksi kolektif, bukan sekadar wacana formal, diharapkan muncul dari kongres ini.

🛠 Aksi Konkret agar Kongres “Bermakna”

Agar kongres benar-benar menjadi forum progresif, berikut beberapa langkah:

1. Transparansi Prosedural: seluruh proses pemilihan dan debat platform harus terbuka dan diawasi, mencegah lobby rahasia atau manipulasi hasil.

2. Debat Ideologis Tajam: perlu diskusi mendalam tentang isu struktural hari ini—neokolonialisme digital, kebijakan reforma agraria, kesenjangan ekonomi, HAM, dan demokrasi media massa.

3. Agenda Praksis Realistis: hasil kongres harus disertai rencana aksi konkret—pengorganisasian petani, buruh, rakyat miskin kota dan pendidikan marhaenisme di kampus & desa, serta advokasi sosial.

4. Perlindungan terhadap Intervensi: DPC Surabaya dan Gorontalo memberi contoh menjaga kongres dari provokasi politik—ini harus menjadi sikap kolektif nasional.

5. Penyertaan Rakyat dan Ahli: undang panelis dari basis rakyat (petani, buruh, kaum miskin kota) dan akademisi kritis, agar kongres menjadi ubun-ubun permasalahan rakyat.

🏁 Penutup: Kongres sebagai Ujian Ideologi

Apakah GMNI XXII adalah panggung oportunis atau forum progresif? Waktu dan hasil kongres-lah yang akan menjawab.

Jika kongres ini menghasilkan struktur baru tanpa peta perjuangan rakyat—hanya birokrat muda yang nyaman di birokrasi—itu berarti GMNI kehilangan nyali revolusionernya. Namun jika lahir kesadaran mendalam, strategi kolektif, dan agenda menjunjung marhaenisme—maka GMNI akan membuktikan bahwa semangat Soekarno masih hidup.

Baca Juga:   DPD GMNI Sulbar Kritik Kinerja Polda Sulbar, Soroti Dugaan Pungli dan Lambannya Penanganan Kasus

Seperti pesan Bung Karno:

“Revolusi tidak boleh tidur.”

Kongres bukan kemenangan akhir—tetapi awal dari revolusi nyata di dalam dan luar GMNI, walaupun harapan itu setipis roti.***


Penulis: Dimas Muhammad Erlangga, Kader Marhaenis Reflektif.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
Senin, 11 Mei 2026 | 17:58 WIB
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Senin, 11 Mei 2026 | 17:16 WIB
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Senin, 11 Mei 2026 | 12:16 WIB
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Minggu, 10 Mei 2026 | 19:33 WIB
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Sukses Gelar Konfercab, Erik R Sibu – Fridodis Korois Resmi Terpilih sebagai Pimpinan GMNI Halut Periode 2025-2027

Maharenist.id, Halut - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara (Halut) sukses…

Foto: Warga Kebon Sayur Yang di Tangkap Paksa Oleh Aparat (Bapak Juned)/MARHAENIST.

Kronologis Penangkapan Paksa Terhadap Warga Kebun Sayur Yang Menolak Pengusuran

Marhaenist, Jakarta - Pada hari ini, rabu (13/08/2025) telah terjadi upaya penangkapan…

Foto: Pelantikan DPC GMNI Jeneponto (Dok. GMNI Jeneponto)/MARHAENIST.

GMNI Jeneponto Kukuhkan Pengurus Baru, Siap Bumikan Trisakti Bung Karno di Bumi Turatea

Marhaenist.id, Jeneponto — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Namanya Tan Malaka!

Marhaenist.id - Tokoh ini namanya seolah terkubur selama puluhan tahun. Setelah reformasi…

Hati-Hati Advokat! KUHP Baru Bisa Menjerat Jika Langgar Etika, Ini Tips Waketum PERADI

Marhaenist.id, Jakarta — Dengan diberlakukannya Pasal 509 KUHP baru dalam UU No.1…

Rudi Tanjung: Bangkitkan Kaum Intelektual, Kokohkan Pancasila di Bumi Nusantara

Marhaenist.id, Selatpanjang – Dalam upaya memperkuat nilai-nilai Pancasila di wilayah perbatasan NKRI,…

Lembaga Kebudayaan Untuk Merajut Kebhinekaan Indonesia

Bulan Oktober identik dengan peringatan Sumpah Pemuda. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928…

Endus dugaan Terima Suap dalam Perekrutan Pandis, GMNI Minta Ketua Bawaslu Mimika Segera Diganti

Marhaenist.id, Mimika – Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Mimika, Frans Wetipo, diduga…

Komitmen Berantas Premanisme, Ketua Pemuda Demokrat Surabaya: Parkir Liar Rugikan Masyarakat dan PAD

Marhaenist.id, Surabaya – Viral kasus dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh juru…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?