By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara
DPC GMNI Jember Tolak Tegas Wacana Reduksi Kampus sebagai Instrumen Industri
DPC GMNI Jember Kecam Krisis Etika DPRD Jember: Legislator Gen Z Gagal Menjadi Teladan Politik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Dampak Perang terhadap Lingkungan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 17 Maret 2026 | 09:05 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Ilustrasi Perang Amerika-Israel vs Iran (Sumber: IA)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist id – Perang bukan sekadar pertempuran antar tentara. Ia adalah mesin penghancur lingkungan terbesar yang pernah diciptakan manusia. Setiap peluru, setiap bom, setiap tank yang melaju, meninggalkan luka permanen di bumi. Di Ukraina, misalnya, jutaan hektar lahan subur berubah menjadi gurun beracun karena ranjau dan bahan peledak.

Di Gaza, air tanah yang sudah langka kini tercemar oleh bahan kimia senjata. Di Myanmar atau Sudan, hutan-hutan yang menjadi paru-paru kawasan lenyap dalam sekejap demi “jalan strategi militer”.

Data PBB sudah berulang kali menyatakan: perang menyumbang hingga 5-6% emisi karbon global setiap tahun—lebih besar dari seluruh industri penerbangan sipil dunia. Tapi siapa yang membayar tagihannya? Bukan presiden atau jenderal di istana, melainkan rakyat kecil yang kehilangan air bersih, tanah subur, dan udara yang bisa dihirup tanpa batuk darah.

Kita sering mendengar klaim “perang demi keamanan nasional”. Tapi mari kita jujur, perang selalu dimulai oleh segelintir orang yang haus kekuasaan dan sumber daya. Mereka yang duduk di ruang rapat mewah, jauh dari ledakan, yang memutuskan “kita harus menang”.

Sementara rakyat yang tinggal di desa-desa pinggiran harus menghadapi kenyataan: sungai yang dulu jernih kini berwarna hitam karena tumpahan minyak dari tank yang terbakar; hutan yang dulu memberi kayu bakar dan obat-obatan kini menjadi medan ranjau; hewan-hewan liar yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat punah dalam semalam.

Anak-anak lahir dengan cacat karena ibu mereka menghirup debu uranium yang tersebar. Ibu-ibu kehilangan bayi karena air yang tercemar. Petani kehilangan mata pencaharian karena tanah tak lagi bisa ditanami selama puluhan tahun. Inilah yang disebut “dampak kolateral”, istilah dingin yang menyembunyikan penderitaan jutaan rakyat tak berdosa.

Baca Juga:   Polarisasi Otoritarianisme Gagal, Demokrasi Harus Terus di Kawal

Yang lebih ironis, perang justru mempercepat krisis iklim yang sudah mengancam kita semua. Bom yang meledak melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah masif. Pembakaran hutan untuk “membuka jalur” militer melepas karbon yang seharusnya diserap pohon. Sementara itu, negara-negara kaya yang memasok senjata terus berbicara soal “green transition” di forum-forum internasional.

Mereka menjual jet tempur dan rudal sambil pura-pura peduli lingkungan. Padahal, setiap dolar yang dihabiskan untuk perang adalah dolar yang dicuri dari dana reboisasi, dari program air bersih, dari perlindungan satwa. Rakyat yang paling miskin: petani, nelayan, masyarakat adat, yang paling dulu merasakan akibatnya: gagal panen, banjir bandang karena hutan hilang, ikan mati karena laut tercemar.

Kita, rakyat biasa, bukan pion dalam permainan geopolitik. Kita adalah korban utama. Saat pemimpin dunia saling tuding dan mengirimkan senjata, yang mati bukanlah mereka. Yang mati adalah anak-anak yang tak sempat belajar karena sekolahnya menjadi reruntuhan beracun.

Yang menderita adalah ibu-ibu yang tak lagi bisa memberi ASI karena tubuhnya penuh racun. Yang kehilangan masa depan adalah generasi muda yang harus menghirup udara beracun dan minum air yang sudah tak layak.

Sudah saatnya kita berhenti melihat perang sebagai “keniscayaan sejarah”. Perang adalah pilihan. Pilihan segelintir elite yang mengorbankan bumi dan rakyat demi ambisi mereka. Jika kita benar-benar mencintai lingkungan, kita harus menolak perang dengan tegas, bukan hanya dengan poster di jalan, tapi dengan menuntut akuntabilitas: siapa yang memulai, siapa yang memasok senjata, dan siapa yang harus bertanggung jawab membersihkan racun yang mereka tinggalkan.

Lingkungan bukan milik negara atau militer. Lingkungan adalah rumah kita bersama. Saat rumah itu dibakar demi “kepentingan nasional”, yang kehilangan bukanlah para jenderal, melainkan kita, rakyat yang setiap hari berjuang hanya untuk bertahan hidup. Sudah cukup.

Baca Juga:   Tolak Kongres Bandung, GMNI Bangka Belitung Seruhkan Kongres Persatuan untuk Mengakhiri Perpecahan

Hentikan perang. Lindungi bumi. Kembalikan hak hidup kepada rakyat. Karena tanpa lingkungan yang sehat, tak ada kemenangan yang berarti, hanya puing-puing dan air mata yang tak pernah kering.***


Penulis: Samuel Adrian Sihombing, Kader GMNI Medan sekaligus Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Meda.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
Rabu, 13 Mei 2026 | 15:49 WIB
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
Rabu, 13 Mei 2026 | 14:23 WIB
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB
DPC GMNI Jember Tolak Tegas Wacana Reduksi Kampus sebagai Instrumen Industri
Rabu, 13 Mei 2026 | 00:57 WIB
DPC GMNI Jember Kecam Krisis Etika DPRD Jember: Legislator Gen Z Gagal Menjadi Teladan Politik
Selasa, 12 Mei 2026 | 22:06 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Krisis Pengungsi Rohingya Berlarut, GMNI: Bukti Lemahnya Diplomasi Pertahanan Kita

Marhaenist.id, Jakarta - Sebanyak 157 orang pengungsi Rohingya mendarat di Desa Karang Gading,…

Aliansi Jombang Bergerak: GMNI dan IKABEMJO Desak DPR dan KPU Patuhi Putusan MK

Marhaenist.id, Jombang – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Marhaenisme & Pengentasan Kemiskinan: Momentum Hari Raya Idul Fitri

Marhaenist - Hari raya Idul fitri 1445H telah berlalu, menjadi momentum bagi…

Alumni GMNI Waingapu.

Mari Satukan Langkah dan Hentikan Kebiasaan Mewariskan Perpecahan di GMNI!!!

Marhaenist.id - Sebagai alumni GMNI, saya merasa terpanggil untuk menyampaikan kegelisahan ini.…

UKT Naik, Mahasiswa Tercekik, GMNI Surabaya: Pemerintah Tidak Berpihak Pada Pendidikan

Marhaenist.id, Surabaya - Maraknya gelombang protes mahasiswa akibat melejitnya Uang Kuliah Tunggal…

Resensi Buku: Antara Marhaenisme dan Marxisme

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Marhaenisme merupakan salah satu pemikiran penting dalam sejarah perjuangan…

Diskusi Pra-Konfercab DPC GMNI Jaksel: Menegakkan Supremasi Sipil atau Mempertahankan Kekuasaan?

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Diduga Tak Terima Ditanyakan Soal Komitmen Persatuan, Imanuel Cahyadi Bawah Lari Palu Sidang Saat Kongres hingga Berakhir Ricuh

Marhaenist.id, Bandung — Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ke XXII versi…

GMNI Soroti Debat Pilkada Bantaeng di Makassar: Bikin Malu, Ricuh di Kampung Orang

Marhaenist.id, Makassar - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?