By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 13 Mei 2026 | 15:49 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Mohamad Rifal Ayuba, Kabid Politik DPK GMNI UIN Datokarama Palu yang sedang berorasi (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id -;Darah juang yang mengalir dalam nadi pergerakan mahasiswa tidak akan pernah bisa diam melihat kebenaran dikooptasi oleh kekuatan gelap mana pun. Apalagi kalau cara-cara yang dipakai untuk membungkam karya dokumenter adalah intimidasi dan pembubaran paksa yang sangat represif.

Bagi saya, gelombang pembubaran ruang-ruang diskusi ini adalah bukti nyata kalau penguasa hari ini sedang mengalami ketakutan akut terhadap kebenaran yang terorganisir.

Saat film yang memotret perjuangan masyarakat adat mempertahankan tanahnya justru diserang balik lewat tekanan intelijen, di situ kita bisa melihat betapa tajamnya taring kolonialisme ekonomi yang bersembunyi di balik ketiak birokrasi dan aparat.

Ini adalah wajah asli penjajahan gaya baru. Instrumen kekuasaan yang harusnya dipakai buat melindungi hak warga, malah dipakai jadi perisai buat membentengi kepentingan pemodal supaya tidak diawasi publik.

Fenomena ini bikin saya makin sadar sama getirnya omongan Bung Karno dulu: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Hari ini musuh kita bukan lagi orang asing yang pegang senjata, tapi mentalitas “inlander” dari bangsa sendiri yang gemetar setiap kali ada diskusi intelektual yang kritis.

Membatasi akses informasi lewat pelarangan film itu usaha licik untuk memiskinkan akal sehat rakyat. Tujuannya jelas: supaya kita tetap “setengah merdeka”. Merdeka cuma di atas kertas, tapi otak dan ruang gerak kita sebenarnya masih dijajah.

Sangat memuakkan kalau institusi pendidikan dan aparat yang katanya garda depan buat mencerdaskan bangsa, malah jadi algojo buat membunuh kebebasan berekspresi.

Kolonialisme zaman sekarang tidak perlu lagi invasi militer; mereka cukup bungkam suara kritis, larang film yang bongkar ketidakadilan, lalu biarkan ketakutan yang mengontrol ruang publik.

Baca Juga:   Populisme dan Krisis Musyawarah dalam Demokrasi Kita

Kalau negara terus-terusan membiarkan intimidasi seperti ini, itu artinya mereka memang melegalkan perampasan hak asasi kita sebagai manusia.

Sebagai kader GMNI di UIN Datokarama Palu, saya tegaskan kalau melawan sensorisme ini adalah bagian dari amanat penderitaan rakyat. Kita tidak boleh membiarkan demokrasi cuma jadi upacara formalitas yang basi, sementara di belakang layar, kedaulatan rakyat digilas dan diskusi-diskusi kita diberangus.

Bung Karno pernah pesan: “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Perjuangan yang lampau adalah berguna sebagai kompas untuk menuju ke masa depan.”

Menolak pembungkaman ini artinya kita menolak untuk jadi buta terhadap penindasan yang sedang nyata-nyatanya terjadi di depan muka kita sendiri.***


Penulis: Mohamad Rifal Ayuba, Mahasiswa UIN Datokarama Palu Sekaligus Kabid Politik DPK GMNI UIN Datokarama Palu.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Aksi Turun Gunung SBY Melawan Oligarki Rezim, Berhasilkah?

Marhaenist - Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melemparkan…

Mantan penyidik senior KPK Novel Baswedan. Ari Saputra/Detik

Novel Baswedan: Tidak Ada Bukti Ganjar Terlibat Kasus e-KTP

Marhaenist - Eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebut tidak…

Ideologi Marhaenisme di Era Neo-Orba: Masihkah Relevan dalam Membela Kaum Marhaen?

Marhaenist.id - Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam sistem politik dan ekonomi…

Kongres GMNI Versi Immanuel: Anti Persatuan dan Klaim Sepihak

Marhaenist.id - Sekitar siang atau sore hari ini pada tanggal 15 Juli…

Foto: Bung Karno yang sedang sakit di Wisma Yaso (Sumber: Arsip Nasional Indonesia)/MARHAENIST.

Ironi Proklamator Kemerdekaan yang Diakhir Hayatnya Malah Diperkosa Kemerdekaannya

Marhaenist.id - Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja…

GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di Mabes Polri, Desak Pengusutan Tuntas Kematian Ermanto Usman

Marhaenist id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Analis Politik & Militer Universitas Nasional: Mayor Teddy Dipaksakan Jadi Letkol

Marhaenist.id, Jakarta - Kenaikan pangkat Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dari…

Dr. H. Sutrisno, SH., MHum. Dorong Penguatan KPPU Hadapi Praktik Oligopsoni

Marhaenist.id, Jakarta — Salah satu paradoks terbesar dalam perekonomian Indonesia hari ini…

Pilkada 2024: Kesadaran Politik Pemilih Muda 

Marhaenist.id - Masyarakat Indonesia akan menggelar Pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?