By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Marhaenisme & Pengentasan Kemiskinan: Momentum Hari Raya Idul Fitri

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Senin, 29 April 2024 | 17:37 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Muhammad Azzam Fawwaz, Kader GMNI UINSA Ahmad Yani. (Dokumen Istimewa)/Marhaenist.id.
Bagikan

Marhaenist – Hari raya Idul fitri 1445H telah berlalu, menjadi momentum bagi umat Islam merayakan kemenangan, setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Terlepas dari setiap aktivitas (baik itu yang pekerja maupun pelajar), baik itu masyarakat lokal, kedaerahan, nasional, maupun Internasional turut merayakan.

Daftar Konten
Cerita Kemiskinan Bung Karno Menjelang Hari Raya Idul FitriMarhaenisme Sebuah Ide maupun Praktik Pengentasan Kemiskinan

Namun masih terdapat perbedaan secara ekstrem bagi umat muslim yang menyambutnya. Misalnya terdapat kalangan muslim yang merayakannya dengan suka cita tahu gembira begitu pun sebaliknya masih menjumpai muslim yang merenungkan nasib kemiskinan dalam meratapi hari kemenangan simbolik contoh, memamerkan baju baru, omon-omon pekerjaan yang gaji besar dan sebagainya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Indonesia mencapai jumlah 25,90 juta jiwa (7,29%) pada Maret 2023 dari total populasi penduduk Indonesia berjumlah 278 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan data sebelumnya per September 2022 menunjukkan angka 26.36 juta jiwa (0,46 juta orang menurun, dari September 2022 ke Maret 2023).

Berdasarkan data yang di paparkan oleh BPS, pemerintah sudah menekan angka kemiskinan, namun tidak signifikan. Sependek penelusuran penulis, masih ditemukan fenomena kesenjangan sosial, serta maraknya penggunaan sumber daya alam yang di manfaatkan  secara ilegal bahkan ugal-ugalan yang dapat menyebabkan kerusakan alam. Selain itu juga maraknya korupsi secara berjamaah akibat menguatnya oligarki di tubuh pemerintahan (Kongkalikong pemerintah antara pengusaha)

Contoh pemberitaan Tempo dengan judul “Bahlil Lahadalia Soal Pencabutan Izin Tambang dan Dugaan Permintaan Uang” dalam redaksi Tempo tersebut menjelaskan dugaan ada dua ribu izin tambang yang di cabut oleh Bahlil sejak Januari 2024 melalui penghidupan pembentukan satgas sesuai keputusan presiden 2021. Dugaan tersebut bermuatan adanya pungli kepada pengusaha sebesar 5-25 milliar oleh orang yang dekat Bahlil, bahkan pengusaha juga diminta saham oleh Bahlil sendiri.

Baca Juga:   Raker DPD GMNI Jatim: Digitalisasi sebagai Upaya Penguatan Organisasi

Bahkan fenomena tersebut juga mendapatkan respon dari Jaringan Advokasi tambang. Jatam menilai bahwa ada dugaan pungli yang di lakukan oleh Menteri Bahlil terhadap para pengusaha. Sejauh yang diketahui oleh penulis dari berbagai sumber, atas kejadian tersebut, Pihak Jatam melaporkan Menteri Bahlil ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Isi laporan itu mengenai adanya gratifikasi atau pencucian uang yang dilakukan oleh orang dekat Bahlil. Jatam berharap kepada KPK untuk sesegera mungkin kasus ini di selidiki dan di ungkap secara cepat. Sebagai lembaga penegak hukum, KPK harus Independen dalam menangani perkara tersebut, agar nantinya tidak ada kerugian yang dialami negara maupun perseorangan.

Langkah-langkah tersebut yang diharapkan oleh penulis, semakin masif negara melakukan penindakan kepada koruptor secara tidak langsung juga mengurangi angka kemiskinan atau kesenjangan sosial. Mengingat bahwa negara mempunyai tanggung jawab yang besar kepada rakyatnya, serta menjamin hidup secara berkeadilan sosial dan sejahtera dalam bidang ekonomi maupun pendidikan sesuai amanat Undang-undang amandemen ke-4.

 

Cerita Kemiskinan Bung Karno Menjelang Hari Raya Idul Fitri

Di sini penulis mencoba merefleksikan kejadian kemiskinan ekstrem menjelang Hari Raya Idul Fitri yang di alami oleh bapak Proklamator kita (Ir. Soekarno). Mengutip dari bukunya Cindy Adam yang berjudul “Bung Karno Penyambung lidah Rakyat Indonesia”, dalam bukunya tersebut tepatnya pada Bab 3, menceritakan Sosok Soekarno dimasa muda yang hidup melarat di Mojokerto dengan keluarganya. Dalam kehidupan tersebut Soekarno tidak memiliki rumah pribadi, ia dan keluarganya menyewa kos yang bertempat di jalan Pahlawan No. 88. Dengan mengandalkan gaji bapaknya 25 di potong dengan harga sewa kos, ia bertahan hidup bersama keluarganya.

Seperti yang di ceritakan di buku tersebut, pada bulan Ramadhan tepatnya menjelang hari raya Idul fitri, di mana momentum tersebut adalah momentum yang sangat dinantikan oleh umat muslim di seluruh pelosok dunia setelah melaksanakan ibadah puasa selama 30 hari. Namun bagi Soekarno tidak, ia tidak pernah merayakan lebaran dengan suka gembira seperti teman-temanya atau pun tetangganya yang bisa membeli baju baru, bahkan zakat fitrah pun ia tidak sanggup untuk mengeluarkannya. Ia pada saat itu hanya berbaring di kamar seolah mati rasa sambil mendengarkan bunyi petasan yang meletup di sana kemari.

Baca Juga:   Polemik Tapera: Masalah atau Solusi?

Mengapa  pada masa itu banyak masyarakat atau rakyat melarat sepeti yang di alami oleh Soekarno? Perlu diketahui pada zaman tersebut Indonesia masih dikuasai oleh kaum penjajah atau kolonial Belanda. Sistem pemerintahan hanya bertumbuk kepada pusat atau bisa di sebut dengan sentralisasi (pembagian wilayah daerah), yang bertujuan untuk menumpuk kekuasaan pemerintah pusat ketimbang meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Penduduk yang imperialistik pada saat itu berkibar-kibar, yang hanya memberikan keuntungan sepihak melalui eksploitasi pengurasan sumber daya alam, kawasan-kawasan perkebunan di ubah dijadikan pabrik serta mengubah buruh tani  menjadi buruh pabrik lewat kerja paksa yang hanya digaji menim.

 

Marhaenisme Sebuah Ide maupun Praktik Pengentasan Kemiskinan

Marhaenisme adalah sebuah ideologi yang di perkenalkan lewat pidatonya yang berjudul “ Marhaenisme sebagai pandangan hidup” oleh presiden pertama Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno pada tahun 1963. Ideologi ini dihadirkan oleh Soekarno sebagai bentuk perlawanan kepada kaum kapitalis serta memperjuangkan kaum proletariat, yang mana ada kesenjangan sosial di antara keduanya.

Berangkat dari ideologi tersebut apakah bisa Marhaenisme digunakan untuk mengentaskan kemiskinan? Jawabannya bisa.

Asas-asas perjuangan dalam Marhaenisme yang telah di gali oleh  Soekarno menghasilkan cita-cita untuk menuju kerangka keseimbangan sosial, kerangka tersebut yaitu; Sosio-Nasionalisme-Sosio-Demokrasi, yang mana (Sosio-Nasionalisme) bermakna Nasionalisme yang berakar/ berdiri atas kaki sendiri, (Sosio-Demokrasi) bermakna semangat persatuan, yang bertujuan menciptakan keadilan sosial yang berpijak kepada nilai-nilai kemanusiaan. Kutub modal akan dikalahkan oleh kutub pekerja, kutub kapitalisme dikalahkan oleh kutub proletariat, diganti dengan sintesa baru yaitu sintesanya dunia yang tiada kelas.

Olehnya pandangan Marhaenisme semua warga Indonesia memiliki hak sama untuk memperoleh manfaat dari sumber daya alam dan produksi yang ada. dalam hal ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin. Dalam konteks masa kini Marhaenisme dalam segi teori maupun praktik dapat dijadikan pedoman atau jalan bagi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan yang telah terjadi di Indonesia masa kini, guna masyarakat mendapatkan akses untuk menikmati sumber daya alam, ekonomi, pendidikan yang adil serta mendapatkan jaminan atas hidup yang anti penindasan.***

Baca Juga:   Aksi Protes Peternak Buang Susu: Quo Vadis Kedaulatan Nasional

Penulis: Muhammad Azzam Fawwaz, Kader DPK GMNI UIN Sunan Ampel Kampus Ahmad Yani.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Rabu, 17 Desember 2025 | 00:13 WIB
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:06 WIB
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:18 WIB
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:16 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Jumpai Ketua DPRD Riau, Cipayung Plus Desak Pembentukan Pansus Defisit APBD: Biar Tahu Siapa Biang Keroknya!

Marhaenist.id, Pekanbaru – Kelompok Cipayung Plus Riau resmi mendesak DPRD Provinsi Riau…

Apresiasi Langkah Kejari, Ketua GMNI Inhil: Bongkar Tuntas Jaringan Korupsi di Indragiri Hilir

Marhaenist.id, Indragiri Hilir - Kejaksaan Negeri (Kejari) Indragiri Hilir (Inhil) membuat press…

Tanggapi Dualisme yang Sedang Terjadi, DPC GMNI Sejabodetabeksu Layangkan Pernyataan Sikap

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dilanda Banjir, Poros Rakyat Salurkan Bantuan 1 Ton Beras ke Masyarakat Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa

Marhaenist.id, Mamasa - Poros Rakyat Mamasa yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa Nasional…

Menyalakan Api Konferensi Asia-Afrika

Marhaenist.id - Tujuh puluh tahun lalu, Bandung menjadi saksi sebuah kebangkitan moral…

Beredar Akun IG PA GMNI Sulawesi Tenggara, DPD PA GMNI Sultra Nyatakan Tak Memiliki Akun IG

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Nasrani-Yahudi Dalam Tinjauan Madilog

AGAMA NASRANI Jesus Nazrenus Rex Jodioram Jesus dari Nazaret Rajanya Yahudi Agama…

Foto: Warga Kebon Sayur Yang di Tangkap Paksa Oleh Aparat (Bapak Juned)/MARHAENIST.

Kronologis Penangkapan Paksa Terhadap Warga Kebun Sayur Yang Menolak Pengusuran

Marhaenist, Jakarta - Pada hari ini, rabu (13/08/2025) telah terjadi upaya penangkapan…

Lakukan Kunjungan ke Daerannya, GMNI Mataram Gelar Aksi Damai: Wapres Gibran Cuma Bisa Omon-Omon

Marhaenist.id, Mataram - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?