By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Penggunaan DAK sebagai Alat Kampanye Politik di Kabupaten Kepulauan Meranti

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Jumat, 27 September 2024 | 20:19 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
FOTO: Eko Zaiwan, Alumni GMNI, Peneliti Presisi45. MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id – Kasus di Kabupaten Kepulauan Meranti, di mana Dana Alokasi Khusus (DAK) digunakan sebagai bagian dari kampanye politik Bupati yang mencalonkan diri kembali, menimbulkan pertanyaan besar tentang pemahaman dan fungsi DAK itu sendiri. Penerimaan DAK sering kali diglorifikasi oleh pemerintah daerah sebagai prestasi, padahal secara hukum dan substansi, DAK bukanlah bentuk penghargaan atau hasil keberhasilan suatu daerah.

  1. DAK Bukan Prestasi, Melainkan Bantuan

Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta UU Nomor 1 Tahun 2022, DAK merupakan dana bantuan yang dialokasikan pemerintah pusat untuk menangani kebutuhan spesifik di daerah yang memiliki urgensi, seperti kemiskinan, infrastruktur yang rusak, pendidikan, dan kesehatan. Alokasi DAK didasarkan pada indikator-indikator objektif yang mencerminkan masih adanya masalah mendesak di daerah tersebut.

Dalam hal ini, penerimaan DAK di Kabupaten Kepulauan Meranti menunjukkan bahwa daerah ini masih memiliki tantangan besar dalam hal pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan ekonomi. Penerimaan DAK bukanlah hasil dari pengelolaan ekonomi daerah yang baik, melainkan sebuah pengakuan dari pemerintah pusat bahwa daerah tersebut masih memerlukan bantuan untuk mengatasi masalah-masalah kritis. Dengan demikian, menjadikan penerimaan DAK sebagai bahan kampanye politik adalah tindakan yang tidak tepat dan cenderung menyesatkan publik.

  1. Kampanye yang Menyesatkan

Penggunaan narasi DAK sebagai “kesuksesan” Bupati dalam kampanye politiknya di Kabupaten Kepulauan Meranti, yang mencalonkan diri kembali, tidak hanya memanipulasi fakta, tetapi juga bertentangan dengan tujuan utama dari DAK. DAK tidak diberikan sebagai penghargaan atas kinerja pemerintah daerah, melainkan sebagai bantuan untuk memperbaiki kekurangan yang masih ada. Dengan menggunakan DAK sebagai bahan kampanye, seolah-olah menunjukkan bahwa Bupati berhasil mengelola daerah dengan baik, padahal justru sebaliknya—DAK diterima karena adanya masalah yang memerlukan perhatian segera. Klaim keberhasilan melalui penerimaan DAK ini juga mengaburkan perbedaan antara DAK dan Dana Bagi Hasil (DBH). DBH merupakan bentuk nyata dari prestasi ekonomi daerah, di mana dana tersebut dihasilkan dari kontribusi ekonomi daerah terhadap pendapatan nasional melalui pajak atau sumber daya alam. Jika sebuah daerah menerima DBH yang besar, itu menunjukkan keberhasilan pengelolaan ekonomi daerah tersebut. Sementara itu, DAK justru mencerminkan bahwa daerah tersebut masih tergolong tertinggal dan memerlukan bantuan.

  1. Fokus Seharusnya pada Peningkatan Kemandirian Ekonomi
Baca Juga:   Mengurai Benang Kusut Korupsi SDA dan Syahwat Politik Dinasti di Wilayah Pesisir

Alih-alih menggunakan DAK sebagai alat politik, pemerintah daerah seharusnya fokus pada bagaimana memanfaatkan DAK secara efektif untuk menyelesaikan permasalahan spesifik yang dihadapi. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti harus berupaya meningkatkan kemandirian ekonomi daerah melalui kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan berkelanjutan.

Dengan begitu, ketergantungan terhadap bantuan pusat, seperti DAK, dapat berkurang seiring dengan peningkatan pendapatan asli daerah dan peningkatan DBH yang lebih mencerminkan prestasi ekonomi. DAK seharusnya digunakan sebagai solusi sementara untuk memperbaiki masalah-masalah mendesak, bukan dijadikan bahan kampanye yang menyesatkan. Dalam jangka panjang, pemerintah daerah perlu membangun strategi yang lebih solid untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi di tingkat lokal, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada bantuan pusat dan menunjukkan prestasi yang sesungguhnya melalui peningkatan DBH.

  1. Kesimpulan: Penggunaan DAK sebagai Kampanye adalah Manipulasi

Penggunaan DAK sebagai alat kampanye di Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan tindakan yang tidak tepat dan menyesatkan. DAK tidak boleh dianggap sebagai hasil dari keberhasilan pemerintah daerah, tetapi sebagai pengingat bahwa daerah tersebut masih memerlukan bantuan untuk mengatasi berbagai tantangan. Pemerintah daerah seharusnya fokus pada bagaimana menggunakan DAK secara optimal untuk menyelesaikan masalah, bukan menggunakannya untuk menciptakan kesan keberhasilan politik yang palsu. Kesuksesan daerah sejati akan tercermin dari pengurangan ketergantungan pada DAK dan peningkatan penerimaan DBH yang berbasis pada pertumbuhan ekonomi yang sehat dan mandiri.

Penulis: Eko Zaiwan, Peneliti Presisi45 (Alumni GMNI).

 

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

UKT Naik, Mahasiswa Tercekik, GMNI Surabaya: Pemerintah Tidak Berpihak Pada Pendidikan

Marhaenist.id, Surabaya - Maraknya gelombang protes mahasiswa akibat melejitnya Uang Kuliah Tunggal…

Bahlil Respon Pernyataan Cak Imin, Karyono Wibowo Nilai Bukan Sekadar Balas Dendam Politik

Marhaenit.id, Jakarta — Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan…

RUU Dewan Pertimbangan Presiden: Konsolidasi Kekuasaan, Menguatkan Presiden Untuk Melemahkan Demokrasi

Marhaenist - Sejauh ini, keberadaan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tidak memberikan solusi…

Berharap Dualisme Segera Berakhir, Dua Alumni GMNI Dukung adanya Kongres Persatuan

Marhaenist.id - Perpecahan antara kubu Imanuel Cahyadi/Soejahri Somar dan Arjuna Putra Aldino/M.…

Alumni GMNI Sampit, Indra Kurniawan/MARHAENIST

Indra Kurniawan Apresiasi Sarinah Rere Usai Terpilih di Konfercab GMNI Kotim

Marhaenist.id, Kotawaringin Timur - Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-I Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Dialektika Mahaenisme (Metode Berpikir)

Marhaenist.id - Marhaenisme adalah ideologi perlawanan terhadap kolonialisme, kapitalisme, imperialisme, dan feodalisme…

Aceh, Helsinki, dan Konstelasi Kekuasaan Baru: Dari Perlawanan ke Koalisi Elit

Marhaenist.id - Dua dekade setelah Perjanjian Damai Helsinki 2005, relasi antara Negara…

Sikapi Situasi Politik Nasional, Raden Hernawan Tuntut Pemakzulan Gibran dan Copot Kapolri

Marhaenist.id, Jakarta – Aktivis Indonesia yang juga merupakan Kader Gerakan Mahasiswa Nasional…

Moment Ganjar Lamar Aktivis Perempuan Jogjakarta

Marhaenist.id, Jogjakarta - Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo punya cara jitu…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?