By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelKabar Alumni GMNI

Sebuah Tribut untuk Warisan Keadilan Arief Hidayat dalam Diplomasi Konstitusional Asia

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 8 Januari 2026 | 11:41 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S./MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. dikenal sebagai salah satu figur penting dalam sistem peradilan konstitusi di Indonesia pada era terakhir, dengan pengalaman luas di bidang hukum dan akademik.

Ia adalah Hakim Konstitusi yang memiliki peran penting dalam mengawasi putusan-putusan terkait konstitusi dan integritas lembaga peradilan konstitusional Indonesia.

Sebelum menjadi hakim konstitusi, Arief Hidayat dikenal sebagai guru besar bidang hukum tata negara dan aktif di dunia akademis.

Untuk mengenal lebih jauh tentang Warisan Keadilan Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S., dalam Diplomasi Konstitusional di Asia, berikut ulasannya:

Latar Belakang dan Karier

Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. lahir pada tanggal 3 Februari 1956 di Semarang, Jawa Tengah. Sebagai seorang akademisi terkemuka di bidang hukum tata negara, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara pada tahun 2008 dan kemudian menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.

Dikenal dengan pendekatan “yuridis-romantik”, Hakim Arief menjembatani dimensi normatif dan sosiologis dalam hukum konstitusi, dengan menekankan harmoni ketimbang kekakuan doktrinal.

Sebagai pengagum mendalam ajaran Presiden Soekarno, Hakim Arief kerap mengutip visi sang Proklamator mengenai persatuan dan solidaritas dalam berbagai keterlibatan diplomatiknya.

Ia dilantik sebagai Hakim Konstitusi pada tanggal 1 April 2013, kemudian secara bulat terpilih sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, jabatan yang diembannya selama dua periode berturut-turut (2015–2017 dan 2017–2018).

Masa pengabdiannya sebagai Hakim Konstitusi berlangsung dari tahun 2013 hingga 2026, dan pada Februari 2026 ia akan mencapai batas usia pensiun wajib 70 tahun, menandai berakhirnya sebuah karier yang cemerlang di lembaga peradilan.

Presiden AACC (2015–2017)

Sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, Hakim Arief mengemban amanah sebagai Presiden Association of Asian Constitutional Courts and Equivalent Institutions (AACC) pada periode 2015–2017. Masa kepemimpinannya ditandai oleh upaya sadar untuk menanamkan prinsip musyawarah mufakat dan gotong royong sebagai ciri utama budaya pengambilan keputusan di AACC, yang ia sebut sebagai “Asian Way”.

Baca Juga:   Rayakan HUT yang Ke 80 Tahun, Guntur Sukarno Putra Luncurkan Buku 'Sang Saka Melilit Perut Megawati'

Filosofi ini membuahkan hasil pada tahun 2017, ketika—untuk pertama kalinya dalam sejarah asosiasi—AACC berhasil mencapai kesepakatan bersama mengenai suksesi kepemimpinan untuk beberapa periode ke depan.

Negara-negara anggota secara kolektif menyepakati bahwa Malaysia akan menjabat sebagai Presiden AACC untuk periode 2017–2019, diikuti oleh Kazakhstan, Mongolia, dan Thailand pada periode-periode selanjutnya. Pengaturan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mencerminkan semangat solidaritas dan perencanaan kelembagaan jangka panjang yang diperjuangkan oleh Hakim Arief.

Di bawah kepemimpinannya, Indonesia juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Kongres AACC ke-3 di Bali (Agustus 2016), yang menghasilkan pengesahan Deklarasi Bali serta pembentukan Sekretariat Permanen AACC yang bersifat tripartit, dengan Jakarta sebagai Sekretariat Perencanaan dan Koordinasi, Seoul sebagai Sekretariat Penelitian dan Pengembangan, serta Ankara sebagai Pusat Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Menjembatani Asia dan Afrika

Kolaborasi ini berpuncak pada Konferensi Bersama AACC–CCJA dengan tema “Mendorong Kerja Sama Asia–Afrika untuk Perlindungan Hak-Hak Fundamental Rakyat” yang diselenggarakan pada 4 Oktober 2022 di Bali sebagai acara sampingan Kongres WCCJ ke-5.

Hakim Arief, yang bertindak sebagai salah satu pembicara utama, menekankan tantangan bersama yang dihadapi negara-negara Asia dan Afrika dalam menegakkan hak asasi manusia serta mengusulkan pembentukan sekretariat permanen bersama guna memperdalam kerja sama antara kedua benua.

Melampaui kepemimpinan regional, Hakim Arief juga berperan penting dalam memperkuat suara Asia di dalam Biro WCCJ. Kehadiran Indonesia selama sebelas tahun di Biro tersebut—meliputi peran sebagai Presiden AACC, perwakilan kontinental Asia, tuan rumah kongres berikutnya, serta mantan tuan rumah kongres—tidak terlepas dari kepiawaian diplomasi beliau.

Mengusung Suara Asia ke Panggung Dunia

Salah satu warisan paling berkelanjutan dari Hakim Arief adalah terbangunnya kerja sama antarbenua antara Asia dan Afrika di bidang peradilan konstitusi. Pada 9 Agustus 2017 di Surakarta (Solo), Indonesia, AACC dan Conference of Constitutional Jurisdictions of Africa (CCJA) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang menandai dimulainya kemitraan bersejarah antara kedua asosiasi regional tersebut.

Baca Juga:   Bung Karno: Semboyan Kita Banyak Bicara, Banyak Bekerja

Hakim Arief memainkan peran kunci dalam mengamankan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Kongres ke-5 World Conference on Constitutional Justice (WCCJ) pada Oktober 2022. Dengan dukungan bulat seluruh negara anggota AACC, Indonesia berhasil membawa kembali kongres dunia tersebut ke Asia. Hal ini menjadi bukti meningkatnya peran strategis kawasan ini serta kepercayaan yang diberikan komunitas konstitusional global.

Dalam pernyataan penutupnya pada Kongres Madrid, Hakim Arief mengutip pidato bersejarah Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB tahun 1960, yang menyerukan kepada komunitas konstitusional dunia: “Kita memiliki kesempatan untuk bersama-sama membangun dunia yang lebih baik, dunia yang lebih aman, lebih adil, dan lebih damai. Maka peganglah kesempatan itu erat-erat dan gunakanlah sebaik-baiknya.”

Pada Kongres WCCJ ke-6 di Madrid (Oktober 2025), intervensinya mengenai independensi peradilan—yang berangkat dari teori hukum progresif dan pengalaman konstitusional Indonesia—menginspirasi rumusan penting dalam Komunike Madrid, yang menegaskan kembali bahwa keadilan konstitusional hanya dapat menjalankan perannya secara utuh apabila otonomi peradilan dijamin sepenuhnya.***


Discaimer: Tulisan ini diambil dari sebuah tulisan yang berbahasa Inggris dengan judul “A TRIBUTE TO JUSTICE ARIEF HIDAYAT’S LEGACY IN ASIAN CONSTITUTIONAL DIPLOMACY” lalu diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
Senin, 11 Mei 2026 | 17:58 WIB
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Senin, 11 Mei 2026 | 17:16 WIB
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Senin, 11 Mei 2026 | 12:16 WIB
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Minggu, 10 Mei 2026 | 19:33 WIB
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Resmi Dideklarasikan, DPC PA GMNI Touna Teguhkan Komitmen Kebangsaan Lewat Dialog Kebangsaan

Marhaenist.id, Touna – Dalam momentum bersejarah yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila,…

Dilanda Banjir, Poros Rakyat Salurkan Bantuan 1 Ton Beras ke Masyarakat Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa

Marhaenist.id, Mamasa - Poros Rakyat Mamasa yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa Nasional…

Audiens Bersama Kapolres, DPC GMNI Kota Metro Lampung Siap menjadi Mitra Kritis Polisi

Marhaenist.id, Kota Metro Lampung - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional…

Bung Karno dan Ibundanya Tercinta Ida Ayu Nyomang Rai

Marhaenist.id - Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dikenal tidak hanya sebagai…

Inggit Garnasih Pahlawan Nasional yang Tak Kunjung Diakui dan Telupakan

Marhaenist.id - Pada tanggal 7 Februari 1980, mantan Gubernur DKI Bang Ali…

Pencabutan Izin 28 Perusahaan Perusak Lingkungan, DPC PA GMNI Humbahas Ingatkan PT TPL Jangan Tekan Negara

Marhaenist.id, Doloksanggul — Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mencabut Izin Pemanfaatan Hutan…

Kisah Bung Karno Menjelang Idul Fitri

Marhaenist.id - Presiden RI Pertama Ir Soekarno menyimpan sejumlah kisah menarik menjelang…

Soroti Keberpihakan Pendidikan Tinggi untuk Mahasiswa Kurang Mampu, GMNI Sampaikan Rekomendasi ke PJ Gubernur Jatim

Marhaenist.id, Surabaya - Dalam rangka Bulan Bung Karno, Dewan Pimpinan Daerah (DPD)…

Foto: Dhiva Trenadi Pramudia, Institut Marhaenisme 27/MARHAENIST.

6 Buku untuk Memahami Mengapa Gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto Harus Ditolak

Marhaenist.id - Mendorong Soeharto menjadi pahlawan nasional bukan sekadar kekeliruan historis, melainkan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?