By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelInsight

Resensi Ekologi Marx – John Belammy Foster

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 12 September 2025 | 00:53 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Daniel Russell (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pendahuluan: Fenomena degradasi ruang hidup berupa kerusakan lingkungan menuntut kerangka pemahaman alternatif yang melampaui pandangan sempit ekonomi-politik arus utama. Lingkungan tidak cukup dipahami sebagai basis produksi yang sekadar bersifat instrumental, melainkan sebagai elemen esensial yang secara timbal balik menentukan eksistensi manusia dan pembangunan peradaban.

Kerusakan ekologis dewasa ini tidak dapat dipandang sebagai gejala alamiah, melainkan sebagai hasil dari intervensi manusia dalam relasi produksi. Sejak Revolusi Industri 1.0, logika kalkulatif yang bertumpu pada industrialisasi, massifikasi, dan spesialisasi produksi telah menstrukturkan pembangunan dengan orientasi utama pada penciptaan nilai jual. Akibatnya, baik manusia maupun alam direduksi menjadi sekadar instrumen produksi, yang pada gilirannya memungkinkan kapital melakukan gerak internalisasi maupun eksternalisasi.

Seluruh proses tersebut bertumpu pada filsafat antroposentris-Cartesian yang menempatkan manusia sebagai pusat universal pembangunan. Paradigma ini bukan hanya memberi legitimasi etis bagi eksploitasi alam, tetapi juga menutupi fakta mendasar bahwa kelangsungan hidup manusia sepenuhnya bergantung pada keseimbangan ekologis.

“Hakikat ikan air tawar adalah medianya, air. Namun, sungai tak lagi menjadi ‘hakikat’ ikan setelah ia tersubordinasi oleh industri—tercemar oleh pewarna dan limbah, dilalui kapal uap, atau dialihkan ke kanal-kanal yang drainasenya sederhana pun dapat merampas media kehidupan ikan.” —Karl Marx, Manuskrip Ekonomi dan Filsafat 1844.

Alienasi

Dalam kerangka Marxis, alienasi merupakan konsep fundamental untuk memahami keterputusan manusia dari kerja, produk, dan alam. Dalam mode produksi kapitalis, buruh kehilangan kendali atas hasil kerjanya; produk yang dihasilkan justru berdiri berhadapan dengannya sebagai kekuatan asing yang menguasai.

Alienasi ini tidak semata memisahkan buruh dari produk kerjanya, tetapi juga dari alam sebagai medium kehidupan. Alam yang semestinya menjadi tubuh inorganik manusia (meminjam istilah Marx) diubah menjadi sekadar bahan baku produksi. Dengan demikian, buruh mengalami keterasingan ganda: dari kerja yang ia lakukan, dari hasil yang ia ciptakan, sekaligus dari lingkungan yang menopang kehidupannya.

Baca Juga:   Negara Hukum Berwatak Pancasila

Alienasi ekologis ini memperlihatkan bahwa relasi sosial dalam kapitalisme secara inheren juga merupakan relasi ekologis. Keduanya terjalin dalam satu kesatuan proses yang lahir dari logika akumulasi kapital, di mana baik kerja manusia maupun alam direduksi menjadi instrumen bagi ekspansi nilai.

Kepemilikan Pribadi (Private Property)

Kepemilikan pribadi atas alat produksi adalah fondasi struktural kapitalisme. Melalui mekanisme ini, ruang dan sumber daya alam ditransformasikan menjadi komoditas. Hutan, tanah, air, bahkan udara direduksi menjadi aset yang tunduk pada logika pertukaran.

Kepemilikan pribadi pada akhirnya menciptakan monopoli ruang hidup. Akses terhadap alam sebagai medium eksistensial tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan, melainkan oleh kemampuan membeli. Konsekuensinya bukan hanya memperdalam ketimpangan sosial antara kelas pemilik dan non-pemilik, tetapi juga mempercepat laju eksploitasi ekologis.

Dengan demikian, kepemilikan pribadi tidak sekadar relasi hukum, melainkan mekanisme yang menstrukturkan cara manusia berhubungan dengan alam. Logika ini mendorong kapital untuk terus menguras produktivitas alam, dan ketika sumber daya habis atau rusak, kapital akan berpindah ke ruang baru untuk dieksploitasi.

Relasi Antagonistik Metabolisme

Marx mengembangkan konsep metabolic rift untuk menjelaskan keretakan dalam hubungan timbal balik manusia dengan alam. Dalam masyarakat pra-industri, metabolisme antara manusia dan alam berlangsung relatif seimbang: apa yang diambil dari alam dikembalikan dalam bentuk siklus regeneratif.

Namun kapitalisme memutus siklus ini. Produksi industri skala besar dan urbanisasi menciptakan pemisahan struktural antara kota dan desa. Desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentah yang diekstraksi habis-habisan, sementara kota menjadi pusat akumulasi kapital sekaligus penghasil polusi. Limbah yang lahir dari industri perkotaan tidak lagi kembali ke desa sebagai nutrisi regeneratif, melainkan menumpuk sebagai beban ekologis.

Baca Juga:   Pancasila Perlu Diperdalam Oleh Masyarakat

Keretakan metabolisme ini memperlihatkan bahwa kapitalisme bukan hanya sistem ekonomi, melainkan juga sebuah cara hidup yang secara inheren merusak keseimbangan ekologis. Reformasi teknologis tidak cukup untuk memulihkannya, sebab kerusakan ini berakar pada logika akumulasi kapital itu sendiri.

Ground Rent Theory

Dalam kerangka Marx, tanah sebagai syarat dasar produksi ditransformasikan kapitalisme menjadi komoditas yang menghasilkan nilai sewa. Ground rent memperlihatkan kontradiksi ganda: di satu sisi menciptakan insentif untuk mengintensifkan eksploitasi tanah, di sisi lain membatasi akses masyarakat terhadap ruang hidup.

Hanya pemilik modal yang berhak menentukan bagaimana tanah digunakan, sementara masyarakat luas terasing dari medium hidupnya sendiri. Konsekuensinya adalah eksploitasi berlebihan: tanah dipaksa untuk terus berproduksi melampaui kapasitas regeneratifnya.

Dalam jangka panjang, mekanisme ini menghasilkan degradasi ekosistem, penurunan kesuburan tanah, serta ketergantungan pada input buatan seperti pupuk kimia, pestisida, dan rekayasa genetis.

Legitimasi Filsafat Antroposentris

Seluruh logika pembangunan kapitalis berakar pada filsafat antroposentris yang berakar dari Cartesianisme. Paradigma ini menempatkan manusia sebagai pusat universal, sementara alam direduksi menjadi objek eksternal yang dapat dieksploitasi secara bebas.

Pandangan ini memberi legitimasi etis bagi eksploitasi alam: pembangunan dipandang sebagai kemajuan, sementara pengurasan sumber daya dianggap sebagai konsekuensi wajar dari superioritas manusia atas alam. Namun, filsafat ini sekaligus menutupi kenyataan bahwa kelangsungan hidup manusia sepenuhnya ditentukan oleh keseimbangan ekologis.

Dengan demikian, antroposentrisme bukan hanya persoalan metafisik atau etis, melainkan fondasi ideologis yang menopang cara kapitalisme membangun dan menguasai ruang hidup.

Penutup

Melalui pisau analisis materialisme historis dan dialektis, jelas terlihat bahwa degradasi lingkungan bukanlah “kesalahan teknis” yang dapat diperbaiki dengan inovasi semata, melainkan konsekuensi inheren dari logika produksi kapitalis.

Baca Juga:   Picuh Kemarahan Rakyat hingga Lahirnya Gerakan Bubarkan DPR, Inilah Deretan Anggota DPR RI yang Dianggap Kontroversial!

Alienasi, kepemilikan pribadi, keretakan metabolisme, logika sewa tanah, dan filsafat antroposentris bekerja bersama-sama membentuk kerangka destruktif yang mereproduksi krisis ekologis.

Karena itu, strategi penyelamatan lingkungan yang hanya mengandalkan reformasi teknologis atau kampanye moral akan selalu bersifat parsial dan tidak memadai. Jalan keluar yang lebih mendasar adalah transformasi relasi produksi itu sendiri, menuju suatu sistem yang memungkinkan terbangunnya kembali relasi resiprokal antara manusia dan alam—sebuah metabolisme baru yang berkelanjutan.***


Ekologi Marx – John Belammy, Diresensi oleh: Daniel Russell, Alumni GMNI Bandung.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:13 WIB
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08 WIB
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
Kamis, 15 Januari 2026 | 09:03 WIB
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:27 WIB
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat
Rabu, 14 Januari 2026 | 22:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Foto: PPAB GMNI UNTAD Palu/MARHAENIST.

PPAB Perdana GMNI FEB UNTAD: Warisi Api, Bukan Abunya!

Marhaenist.id, Palu - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI: Revisi UU Pilkada Inkonstitusional

MARHAENIST - Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino menilai revisi UU…

DPC GMNI Majene Dorong Kongres Persatuan Bukan Persatean

Marhaenist.id, Majene - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Wabup Ngawi Anto Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PA GMNI Ngawi

Marhaenist - Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko terpilih sebagai Ketua Persatuan…

PERADI Utama–PA GMNI Gelar Technical Meeting PKPA Beasiswa Batch I

Marhaenist.id - Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Beasiswa…

Ganjar; Ahok Menambah Kekuatan Kita, Semakin Optimis!

Marhaenist.id, Jakarta - Capres 2024 nomor urut 3 Ganjar Pranowo mengapresiasi mundurnya…

DPC GMNI Kota Binjai Apresiasi Kinerja Kapolres dalam Penanganan Arus Lalu Lintas Mudik dan Pengamanan Idul Fitri 1445 H

Marhaenist.id, Binjai - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Mao Zedong, Beberapa Masalah Mengenai Metode Memimpin

Marhaenist.id - Mao Zedong adalah mantan pemimpin Republik Rakyat China atau disingkat RRC.…

Agenda Aksi New Delhi tentang Masa Depan Koperasi: Menciptakan Kemakmuran untuk Semua

A. Mukadimah Kami, para peserta Konferensi Koperasi Global ICA 2024 yang meluncurkan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?