By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Memahami Pesoalan Gugatan Imanuel terhadap Keabsahan GMNI Arjuna dengan Nomor Perkara Hukum: 115/Pdt.G/2025/Jkt Pst

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Jumat, 11 Juli 2025 | 21:01 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Arjuna Putra Aldino dan Imanuel Chayadi/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Amar putusan Pengadilan yang mengabulkan petitum Imanuel itu tidak melihat secara Kontekstual dan hanya membaca Tekstual yang dituliskan dalam laporan gugatan sehingga memberikan jastifikasi yang subyektif (Tidak berkeadilan) bahwa Arjuna/Dendy telah melakukan perbuatan melawan hukum tanpa mengetahui ‘penyebabnya apa?’

Memahami Kontekstual dan Tekstual dalam Masalah Ini

Dalam gugatan masalah ini tidak diterangkan persoalan Kontekstualnya, dalam artian harus menemukan jawaban atas persolan ‘Apa yang menjadi penyebab Arjuna-Dendy melakukan hal yang dianggap tidak sesuai dengan AD/ART GMNI Tahun 2017/2019 di Hotel Amaris?’ Sementara secara Tekstual hanya berbicara bahwa mereka melakukan hal yang dianggap yang tidak sesuai dengan AD/ART GMNI dan tidak berbicara tentang ‘Penyebabnya apa?’.

Dalam proses hukum, antara penyebab (Kontekstual) dan apa yang ia lakukan hingga dianggap melanggar AD/ART GMNI (Tekstual) harus menjadi satu kesatuan untuk menentukan amar putusan agar tidak memberikan penilaian yang subyektif atau berpihak sehingga amar putusan itu berkeadilan dengan mempelajari penyebab petitum itu diajukan dalam gugatan.

Ada hal yang harus dipahami dalam Petitum Hukum tersebut, tentang penyebab ‘Mengapa prosesi kongres yang dilakukan Arjuna-Dendy di Hotel Amaris dianggap tidak sesuai dengan AD/ART GMNI? Hal-hal tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Dilokasi pelaksanaan Kongres, yakni di Cristian Centre ditumpangi dengan aksi premanisme, sehingga banyak orang yang dipersekusi dan orang-orang itu adalah para pendukung Arjuna-Dendy yang tidak diberikan hak bicara untuk mengemukakan pendapat dihadapan forum kongres.

2. Karena keadaan di Cristian Centre tidak memungkinkan untuk dilangsungkan Kongres, maka Roy dan Teddy sebagai Penanggung Jawab penuh atas kongres, memindahkan lokasi kongres secara diam-diam. Mengapa diam-diam? Itu karena mereka mendapatkan ancaman untuk dipersekusi, bahkan Teddy sebagai Sekjend mendapat jambakkan (Rambutnya ditarik) oleh Imanuel Chayadi dan ada beberapa orang disampingnya yang ingin memukul tetapi ditahan oleh seorang wanita berhijab (Videonya Viral dijagad maya).

Baca Juga:   Hari Ke 8 Kawal Aksi Masyarakat Talaga Raya atas PT AMI, GMNI Baubau Minta Agar Perundingan Bisa Melahirkan Solusi

3. Saat perpindahan arena Kongres ke Hotel Amaris, ancaman masih terus menghantui dan demi keselamatan para peserta Kongres maka kongres dipercepat untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang bisa mencederai peserta.

4. Kesepakatan pelaksanaan Kongres di Hotel Amaris hanya memilih Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPP GMNI dan segalah sesuatunya yang tidak dibahas di Kongres sesuai AD/ART GMNI akan dibahas Lokakarya Nasional (Loknas) GMNI. Red: Prosesi pelaksanaan Loknas GMNI sama halnya dengan pelaksanaan kongres GMNI yang didalamnya membahas mengenai draf materi kongres yang tidak sempat dibahas di Kongres Ambon di Hotel Amaris dengan alasan keamanan (Kerena adanya ancaman yang begitu masif).

5. Yang harus dipahami jika dalam keadaan darurat atau organiasi dalam genting, maka Ketua dan Sekretaris dapat mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk menyelamatkan organisasi (Bahasa ART GMNI, Pasal 9 RAPAT DEWAN PIMPINAN PUSAT Pasal 6 yang berbunyi: ‘Dalam hal menyangkut keselamatan/eksistensi organisasi dan atau kepentingan organisasi yang mendesak, keputusan diambil melalui hak prerogatif Ketua Umum’).

6. Jika Petitum Hukum yang telah menjadi amar putusan pengadilan tidak melihat penyebab, maka amar putusan yang telah diputuskan, tidaklah berkeadilan dan terkesan subyektif.

Dalam persidangannya, tidak mendengar keterangan atau sanggahan dari para tergugat sebagai Pledoi agar bisa menjadi pembanding dalam menentukan amar putusan sehingga tidak melihat secara sepihak dalam menentukan amar putusan tersebut.

Gugatan yang Catat Secara Hukum

Gugatan Imanuel dikabulkan saat masa berlaku SK Kemenkumhannya telah berakhir yakni 3 tahun sejak kepemimpinan di 2019 sampai 2023. Ini merupakan hal yang cacat secara hukum.

Inilah penjelasannya:

1. Status Hukum SK Kemenkumham terhadap Arjuna-Dendy masuk dalam status Quo untuk tidak bisa lagi digugat karena telah lewat 90 hari sejak tanggal diterbitkannya.

Baca Juga:   Songsong Pilkada Serentak 2024, DPC GMNI Kendal Adakan Seminar Kebangsaan

~ Ini mengartikan bahwa SK tersebut bersifat ingkra dan berlaku sampai akhir masa jabatannya dan tidak berlaku surut karena telah diberikan masa tenggang selama 90 hari untuk menggugat tak ada satupun gugatan yang dilayangkan.

2. (Cacat Hukum 1) Gugatan Imanuel meskipun dikabulkan oleh PN Jakarta Pusat adalah putusan yang cacat secara hukum mengingat gugatan SK dalam stasus quo untuk tidak bisa lagi digugat atau diganggu gugat. (Coba Pahami Catatan Pada Point 1).

~ Harusnya Imanuel melayangkan gugatan sebelum 90 hari setelah SK itu diterbitkan sebagai masa tenggang untuk menggugat.

3. (Cacat Hukum 2) Gugatan Imanuel tidak memiliki kekuatan hukum untuk diberlakukan karena tidak memiliki arti. Itu karena Imanuel menggugat Arjuna-Dendy yang masa kepemimpinannya sudah kadarluwarsa dan atau menggugat keabsahan SK Kemenkumham yang sudah tidak berlaku.

~ SK yang sudah tidak berlaku atau sudah kadarluwarsa dan atau sudah mati, sudah tidak memiliki arti untuk digugat. Ini sama halnya menggugat orang mati atau meninggal dunia (Yang nyata-nyata diketahuinya telah meninggal dunia) agar dipenjara, sementara ia sudah tak bernyawa dan tinggal tulang belulang.

4. (Cacat Hukum 3) Pihak Penggugat yakni Imanuel sebagai DPP GMNI tertanggal 18 Februari 2025 adalah Pihak yang tak lagi sah sebagai DPP GMNI secara hukum organisasi karena masa jabatanya telah berakhir dan kadarluarsa sejak Desember 2023 lalu.

~ Penggugat yang tak lagi sah berdasarkan hukum AD/ART GMNI, menggugat keabsahan Tergugat yang sudah berakhir masa keabsahannya sejak Desember 2023 berdasarkan SK Kemkumham. (Mau heran tapi Inilah ….?).

~ Sama-sama sudah tidak sah: Imanuel yang sudah tidak sah sebagai DPP GMNI, menggugat Arjuna yang juga sudah tidak sah lagi menjadi DPP GMNI yang sah.

Baca Juga:   GMNI Penajam Paser Utara Nilai Pilkada DPRD Langgar Putusan MK dan Legalkan Politik Dagang Sapi

5. Batasan waktu Kepemimpinan dalam SK itu adalah 3 tahun dan setelah itu harus mendapatkan SK baru melalui perubahan kepemimpinan baru yang dipilih melalui forum Kongres sebagai turunan yang telah mendapatkan SK Kemenkumham sebelumnya.

~ Ini mengartikan bahwa yang sah selanjutnya adalah turunan dari yang ber-SK Kemenkumhan.

6. Perubahan SK bisa saja terjadi ditengah jalan kepemimpinan Arjuna-Dendy terkecuali telah KLB di Kubu Arjuna-Dendy dan dianggap sah sesuai dengan AD/ART GMNI yang dihadiri oleh 50 + 1 dari jumlah DPD dan DPC yang ada se-Indonesia.

Mengapa Gugatan itu dikabulkan, Meski Cacat Secara Hukum?

Meskipun perkara gugatan Imanuel di PN Jakarta Pusat adalah Perkara gugatan yang cacat hukum yang petitumnya tetap saja dikabulkan dan menjadi keputusan hukum.

Meskipun demikian, putusan itu dicurigai ada campur tangan orang dalam didalamnya. Jika benar demikian, maka ini justru sangat mencoreng wajah hukum di Indonesia dibawah kepemimpinan Prabowo-Gibran.***


Penulis: Irwan Jaya, S.H,. Kader GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 17:01 WIB
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Rabu, 20 Mei 2026 | 15:32 WIB
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
Rabu, 20 Mei 2026 | 01:23 WIB
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Selasa, 19 Mei 2026 | 18:30 WIB
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Supremasi Hukum: Jangan Jadikan Hukum Positif Indonesia Sebagai Instrumen Politik Praktis

Marhaenist.id - Mengutip dari halaman website resmi Mahkamah Konstitusi Indonesia menjelaskan bahwa…

Marhaenisme & Pengentasan Kemiskinan: Momentum Hari Raya Idul Fitri

Marhaenist - Hari raya Idul fitri 1445H telah berlalu, menjadi momentum bagi…

Materialisme Dialektis dan Historis

Marhaenist.id - Materialisme dialektis adalah pandangan dunia partai Marxis-Leninis. Disebut materialisme dialektis karena…

Arief Hidayat: Hakim Konstitusi Harus Bertransformasi Menjadi Negarawan, Bukan Lagi Politisi

Marhaenist.id, Jakarta — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Arief Hidayat, menegaskan bahwa…

Nyanyian dan Sumpah Tanpa Jiwa

Marhaenist.id - Ada yang sunyi di tengah gegap gempita peringatan Sumpah Pemuda.…

Hukum sebagai Instrumen Penindasan oleh Rezim Kuasa: Studi Kasus Putusan Pidana Tom Lembong

Marhaenist.id - Beredar info tersiar di media massa, Mantan Menteri Perdagangan 2015–2016,…

Pancasila: Antara Retorika dan Realita

Marhaenist.id - Bulan Juni, bulan penuh makna dalam lanskap sejarah Indonesia. Pada bulan…

Sekelompok suporter membawa seorang korban pria di stadion Kanjuruhan, Malang selama huru-hara keributan terjadi. AFP/Getty Images

127 Orang Tewas Dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang

Marhaenist - Sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi yang terjadi…

Prancis Hadapi Ketidak Jelasan Masa Depan, Usai Koalisi Kiri Menang

Marhaenist - Sebuah koalisi dari kubu sayap kiri Prancis meraih jumlah kursi…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?