By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Refleksi Perjuangan R.A Kartini: Emansipasi Perempuan dalam Ruang Ketenagakerjaan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 21 April 2025 | 15:39 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Azzan Farizi, Wakabid Politik dan Jaringan GMNI Balikpapan/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Emansipasi perempuan bukan lagi wacana baru, tetapi realitas yang masih setengah jalan. Di tengah modernitas dan kemajuan teknologi, ruang kerja di Indonesia masih menjadi cermin ketimpangan gender yang akut. Perempuan bekerja tidak hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk membuktikan bahwa mereka layak mendapat tempat yang setara. Namun, jalan yang mereka tempuh tak pernah mulus—dibentengi oleh dinding patriarki dan dililit rantai feodalisme sosial.

R.A. Kartini adalah simbol awal perlawanan terhadap sistem yang membatasi ruang gerak perempuan. Ia menulis dengan gelisah tentang ketimpangan pendidikan dan peran sosial perempuan. Jika hari ini Kartini bisa melihat bagaimana perempuan menghadapi diskriminasi upah, pelecehan seksual di kantor, hingga beban kerja ganda, barangkali ia akan menulis dengan nada yang jauh lebih murka.

Teori feminisme liberal menekankan kesetaraan akses dan hak yang sama dalam struktur hukum dan lembaga kerja. Namun kenyataannya, menurut data BPS 2023, rata-rata upah perempuan Indonesia masih lebih rendah 22% dibandingkan laki-laki, bahkan untuk posisi dan tanggung jawab yang setara. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi soal nilai sosial yang ditempelkan secara tidak adil pada tubuh perempuan.

Sistem patriarki merasuk dalam mekanisme kerja sehari-hari: perempuan dianggap lebih cocok di posisi pendukung, bukan pengambil keputusan. Feminisme radikal menyebut bahwa patriarki bukan hanya soal laki-laki mendominasi, tetapi struktur sosial yang sengaja dirancang untuk mempertahankan dominasi itu. Kita melihat ini di perusahaan besar, di mana direksi dan eksekutif perempuan bisa dihitung dengan jari.

Dalam konteks budaya kerja yang feodal, loyalitas sering diukur dari kesediaan lembur, ikut budaya kerja maskulin, dan bahkan meredam suara ketika terjadi ketidakadilan. Bagi banyak perempuan, bersuara berarti dianggap tidak “adaptif” atau “emosional”. Sementara itu, pelecehan seksual di tempat kerja sering diabaikan, atau malah disalahkan pada pakaian dan sikap korban.

Baca Juga:   Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG

Feminisme interseksional, yang digagas Kimberlé Crenshaw, memberi kita kacamata bahwa ketidakadilan makin kompleks ketika perempuan juga berasal dari kelas bawah, suku minoritas, atau memiliki disabilitas. Buruh perempuan di pabrik-pabrik garmen, misalnya, menghadapi tekanan kerja berlebih, jam lembur yang tidak dibayar, hingga ruang laktasi yang tak layak—semuanya adalah bentuk ketidakadilan sistemik yang invisibel di mata kebijakan.

Mengkritik ketimpangan ini bukan berarti melawan laki-laki, tetapi melawan sistem yang memelihara ketidakadilan. Sayangnya, ketika perempuan mulai naik ke posisi strategis, mereka kerap disambut dengan keraguan: “Apa dia cukup tegas?”, “Apakah bisa membagi waktu dengan keluarga?” Pertanyaan ini tidak pernah ditujukan pada laki-laki.

Partisipasi perempuan dalam serikat pekerja atau lembaga pengambilan keputusan juga masih rendah. Banyak yang didorong untuk diam, takut dipecat, atau bahkan dinormalisasi oleh sesama pekerja. Kita hidup dalam ruang sosial yang terus mengajarkan perempuan untuk “tahu diri”, “tidak banyak menuntut”, dan “mengutamakan keluarga” meski ia tengah menanggung beban kerja setara atau lebih.

Refleksi perjuangan Kartini harusnya tidak berhenti di sekolah-sekolah dan lomba berkebaya. Ia harus masuk ke ruang HRD, ke dalam draft kebijakan ketenagakerjaan, ke dalam sistem pengaduan yang berpihak pada korban. Kita membutuhkan transformasi struktural, bukan hanya simbolis.

Sudah saatnya kita menagih keberpihakan negara. UU Cipta Kerja yang disebut-sebut berpihak pada buruh, ternyata dalam banyak kasus justru memperparah kerentanan perempuan—jam kerja fleksibel yang tak diatur jelas, hak cuti yang dilucuti, dan status kerja kontrak yang diperpanjang tanpa kepastian.

Kita perlu kebijakan afirmatif dan sistem pengawasan yang adil gender. Bukan karena perempuan “lemah”, tetapi karena sistem selama ini memang tak setara. Kebijakan berbasis gender bukanlah privilese, melainkan koreksi atas ketimpangan historis yang dibentuk oleh feodalisme sosial dan patriarki.

Baca Juga:   Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik

Kartini tidak hanya bicara tentang perempuan sekolah, ia bicara tentang martabat manusia. Dan martabat tidak bisa dicapai dalam ruang kerja yang membungkam, mengerdilkan, dan memeras perempuan secara sistemik. Kita butuh lebih dari sekadar tokoh simbolik—kita butuh Kartini yang hidup dalam regulasi, di meja rapat, dan di ruang produksi.

Mewujudkan emansipasi perempuan dalam dunia kerja bukan tugas perempuan semata. Ini adalah tanggung jawab bersama. Dan ketika ketidakadilan diabaikan, maka semua pihaklah yang gagal, bukan hanya perempuan yang kalah.***


Penulis: Azzan Farizi, Wakabid Politik dan Jaringan GMNI Balikpapan.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
Senin, 11 Mei 2026 | 17:58 WIB
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Senin, 11 Mei 2026 | 17:16 WIB
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Senin, 11 Mei 2026 | 12:16 WIB
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Minggu, 10 Mei 2026 | 19:33 WIB
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

DPP GMNI Soroti Reklamasi dan Transparansi Pajak PT GKP di Konawe Kepulauan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPD GMNI Sulbar Soroti Program Makanan Bergizi Gratis Pemerintah

Marhaenist.id, Mamuju - Pemerintah pusat gencar melakukan efisiensi anggaran untuk mendukung program…

PA GMNI Touna Tantang Kepala-Kepala Dinas yang Baru di Lantik Prioritaskan Kepentingan Kaum Marhaen

Marhaenist.id, Touna - Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) memasuki babak baru dengan adanya…

Bahagianya Pengungsi Banjir Demak Bisa Bukber Bareng Ganjar

Marhaenist.id, Demak - Banjir bandang yang melanda warga Demak dan sekitarnya menjadi…

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu

Tiktoker Sebut Megawati Janda, GMNI: Itu Kekerasan Simbolik Terhadap Perempuan

Marhaenist - Video TikToker asal Lampung Bima Yudho Saputro kembali viral. Kali…

Pj Bupati Jombang Ingatkan Pesan Bung Karno Pada Pekerja Saat Hari Buruh Internasional

Marhaenist.id, Jombang - Peringatan Hari Buruh Internasional di Kabupaten Jombang dilakukan oleh…

Persatuan Alumni GMNI dan GMNI Touna Gelar Donor Darah dalam Rangka Bulan Bung Karno

Marhaenist.id, Touna : Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dugaan Perzinahan Seret Oknum Polisi di Halut, GMNI Minta Kapolres Lakukan Evaluasi dan Pembinaan

Marhaenisdt.id, Halmahera Utara – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

DPP GMNI Desak Presiden dan DPR Segera Sahkan RUU PPRT, 22 Tahun Tanpa Kepastian Hukum

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?