Belajar MarhaenismeGMNI

Marhaenisme: Suatu Tanya Jawab Sederhana


Marhaenist.id -Tanya jawab sederhana berikut ini penulis buat atas dasar inisiatif penulis sendiri guna menyingkirkan pemahaman keliru kaum marhaenis saat ini yang hanya mempelajari ajaran Marhaenisme dari asal usul penamaan Marhaenisme saja tanpa hendak mengenali aspek teoritisnya lebih lanjut.

Adapun mengenai sumber jawaban dalam tanya jawab ini penulis peroleh langsung dari beberapa literatur mengenai Bung Karno yang penulis miliki, terakhir penulis berharap semoga dengan kehadiran tanya jawab sederhana ini kawan-kawan marhaenis sekalian dapat memahami garis-garis besar ajaran marhaenisme dan tidak hanya sekedar mengerti asal usul istilah marhaen saja.

==========

1) Apa itu Marhaenisme?

“Bagi saya Azas Marhaenisme adalah Azas yang paling cocok untuk Gerakan Rakyat Indonesia” Rumusannya adalah:
a. Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.
b. Marhaenisme cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum marhaen pada umumnya.
c. Marhaenisme adalah, dus azas dan cara perjuangan “tegelijk” menuju kepada hilangnya Kapitalisme, Imperialisme dan Kolonialisme.

(Pidato Bung Karno didepan Konferensi Besar GMNI, Kaliurang 1959 “HILANGKAN STERILITEIT DALAM GERAKAN MAHASISWA”)

2) Adakah nama lain dari Marhaenisme? Apabila ada, maka apakah nama lain dari Marhaenisme?

“Marhaenisme, yaitu sosio nasionalisme dan sosio demokrasi”

(Dibawah Bendera Revolusi; Marhaen dan Proletar (1933) Hal 253)

“Marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia. Marhaenisme ini bahasa asingnya “is het in indonesië toegepaste marxisme”.

(Tjamkan Pantja Sila hal 149-150 atau Filsafat Pancasila menurut Bung Karno hal 253)

3) Apakah sosio nasionalisme dan sosio demokrasi itu?

“Dua perkataan ini adalah perkataan bikinan, kami punya bikinan. Sebagaimana perkataan Marhaen adalah tempo hari kami “bikinkan” buat menyebutkan kaum yang melarat-sengsara, maka perkataan sosio-nasionalisme sosio-demokrasi adalah pula perkataan bikinan untuk menyebutkan kita punya nasionalisme dan kita punya demokrasi.

Sosio adalah terambil daripada perkataan yang berarti: masyarakat, pergaulan hidup, hirup kumbuh, siahwee.

Sosio nasionalisme adalah dus : nasionalisme masyarakat, dan sosio demokrasi adalah demokrasi masyarakat.

Tetapi apakah nasionalisme masyarakat dan demokrasi masyarakat itu?

Nasionalisme Masyarakat adalah nasionalisme yang timbulnya tidak karena “rasa” sahaja, tidak karena “gevoel” sahaja, tidak karena “lyriek” sahaja, tetapi ialah karena keadaan-keadaan yang nyata didalam masyarakat. Nasionalisme masyarakat, sosio nasionalisme, bukanlah nasionalisme “ngelamun”, bukanlah nasionalisme “kemenyan”, bukanlah nasionalisme “melayang”, tetapi ialah nasionalisme yang dengan dua-dua kakinya berdiri didalam masyarakat.

Memang, maksudnya sosio nasionalisme ialah memperbaiki keadaan-keadaan didalam masyarakat itu, sehingga keadaan yang kini pincang itu menjadi keadaan yang sempurna, tidak ada kaum yang tertindas, tidak ada kaum yang celaka, tidak ada kaum yang papa sengsara.

Oleh karenanya, maka sosio nasionalisme adalah nasionalisme marhaen, dan menolak tiap tindak borjuisme yang menjadi sebabnya kepincangan masyarakat itu. jadi: sosio nasionalisme adalah nasionalisme politik dan ekonomi, suatu nasionalisme yang bermaksud mencari keberesan politik dan keberesan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki.

Dan demokrasi masyarakat? demokrasi masyarakat, sosio demokrasi adalah timbul karena sosio nasionalisme. sosio demokrasi adalah pula demokrasi yang berdiri dengan dua-dua kakinya didalam masyarakat. sosio demokrasi tidak ingin mengabdi kepentingan sesuatu gundukan kecil sahaja, tetapi kepentingan masyarakat. Sosio demokrasi bukanlah demokrasi à la Amerika, à la Inggris, à la Nederland, à la Jerman dll, tetapi adalah demokrasi sejati yang mencari keberesan politik dan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. Sosio Demokrasi adalah demokrasi politik dan Demokrasi Ekonomi”.

(Dibawah Bendera Revolusi; Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi (1932) Hal 171)

4) Jika marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan di Indonesia maka apakah marxisme itu?

“Marxisme adalah satu “denkmethode”, satu cara pemikiran. tjara pemikiran untuk mengerti perkembangan bagaimana perdjoangan harus didjalankan, agar supaja bisa tertjapai masjarakat jang adil.

Ada orang jang dengan gampang berkata: 0, marxisme itu adalah materialisme. Marxisme adalah historis materialisme. Selalu. dilupakan perkataan “historis”. Marxisme adalah dus anti Tuhan. Mana kitab marxisme jang berkata bahwa marxisme itu anti Tuhan?.

Marxisme adalah historis materialisme. Materialisme itu adalah matjam-matjam, ada jang anti Tuhan, tetapi bukan historis materialisme. Jang anti Tuhan itu materialisme lain, jaitu misalnja materialisme-nja Feuerbach, filosofis materialisme, wijsgerig materialisme. Itu jang mengatakan bahwa segala pikiran, dus djuga alam gaib jang bernama Tuhan itu, bahwa itu adalah ,,incretie”, adalah perasaan daripada materie.

Baca Juga:   UKT Semakin Mahal dan Menuai Kritrik, Inilah Respon DPP GMNI

Feuerbach pernah berkata: Tidak ada pikiran kalau tidak ada fosfor. Pikiran itu adalah hasil daripada otak bekerdja. Otak ltu terdiri sebagian daripada fosfor; kalau tidak ada dus fosfor disini, tidak ada pikiran. Maka Feuerbach berkata : Tidak ada pikiran sonder (tanpa) fosfor.

Maka benar perkataan ini dari sudut filosofi materialisme, wijsgerig materialisme Tetapi marxisme bukan wijsgerig materialisme.

Nah, historis materialisme itu apa ? ltu adalah satu tjara pengertian, bahwa sedjarah itu telah membuktikan, bahwa alam-alam pikiran jang berdjalan didalam masjarakat itu adalah terbawa oleh bentuk daripada economische verhoudingen, productie wijze didalam masjarakat. Itu adalah Historis Materialisme djadi bukan wijsgerig materialisme.

(Tjamkan Pantja sila, Hal 151 atau Filsafat Pancasila menurut Bung Karno hal 255-256)

5) Apa yg diperjuangkan Marhaenisme sesungguhnya?

“Bahwa Marhaenisme, yaitu gabungan orang-orang kecil dan melarat di Indonesia ini, tidak perduli dia adalah buruh, tidak peduli dia adalah tani, tidak peduli di adalah partai PKI atau Serikat Rakyat, tidak peduli dia adalah partai PNI, tidak peduli dia orang PBI tidak perduli dari golongan apapun, bahwa teori Marhaenisme itu adalah teori perjuangan. Perjuangan untuk menghancur leburkan imperialisme Belanda di Indonesia, perjuangan untuk menghantam nekolim, perjuangan, Saudara-saudara, bukan sekedar political theory.

Nah ini, jangan lupa, saudara-saudara, maka saya menghendaki kepada saudara-saudara sekalian dewasa ini, jangan lupa bahwa Marhenisme itu masih tetap teori perjuangan, guiding star di dalam perjuangan. Karena itu saya tidak puas, kalau Saudara-saudara itu cuma, hai kaum Marhenisme bisa menulis tentang Marhaenisme, tetapi saya berkata, lah Mbok Saudara-saudara sampai jambul-wanenbicara tentang Marhenisme, kalau saudara tidak berjuang, saudara bukan Marhenis sejati. Apa lagi dalam taraf perjuangan kita sekarang ini, Saudara-saudara; taraf perjuangan kita sekarang ini adalah tentu taraf perjuangan, bukan taraf duduk tengkuk-tengkuk bukan taraf teori-teorian saja, bukan taraf falsafah saja sambil ngelamun, tidak. Taraf Revolusi sekarang malahan adalah taraf perjuangan. Teori kita sekarang ini harus kita terapkan di dalam perjuangan.

Dulu kita telah mengadakan perjuangan physical revolution, 45-50 dulu kita mengadakan perjuangan-perjuangan investement, kemudian kita mengadakan perjuangan Trikora, sekarang kita mengadakan, menjalankan perjuangan, sekarang kita mengadakan, menjalankan perjuangan Dwikora – sebagai tadi dikatakan oleh saudara Surahman – perjuangan menghantam neo-kolonialisme “Malaysia”. Ya, berjuang kita sekarang ini, Saudara-sudara di dalam perjuangan sehebat-hebatnya, satu perjuangan hidup mati, Saudara-saudara, dan perjuangan untuk menyelenggarakan Sosialisme, perjuangan untuk mendirikan Sosialisme.

Berulang-ulang saya katakan bahwa Sosialisme tidak jatuh dari langit, kita diam saja, lantas Sosialisme datang. Tidak Saudara-saudara, Sosialisme harus diperjuangkan, harus dibina, saya berkata, sosialisme tidak datang dari langit seperti embun di waktu malam. Saya ulangi lagi buat kesekian ratus kalinya, meskipun Marx berkata : Sosialisme ataupun Masyarakat Sosialisme adalah “eine historische notwendigkeit”, —historische notwendigkeitartinya satu hal yang historis, secara sejarah, notwendig artinya tidak boleh tidak mesti datang, tidak boleh tidak mesti terjadi; historische notwendigkeit, Sosialis tidak boleh tidak mesti datang —, itu tidak berarti bahwa Sosialisme itu datangnya tanpa perjuangan. Sosialisme harus di perjuangkan, sosilaisme harus di bina, dengan keringat dengan segala usaha, dengan segala penderitaan. Sosialisme harus didirikan, harus dibina, Sosialisme harus diperjuangkan.

(Pidato Bung Karno dihadapan Front Marhaenis; Marhaenisme adalah teori perjuangan (1965))

6) Bagaimanakah semestinya seorang Marhaenis memposisikan ajaran Marhaenisme dalam praktek?

Dalam hal ini, Marhaenisme hendaknya diposisikan sebagai Azas yang mana Bung Karno mendefinisikan Azas sebagai “dasar atau “pegangan” kita, yang walau sampai lebur kiamat” terus menentukan “sikap” kita, terus menentukan “duduknya nyawa kita”. Azas tidak boleh kita lepaskan, tidak boleh kita buang, walaupun kita sudah mencapai indonesia merdeka, bahkan malahan sesudah tercapainya indonesia merdeka itu harus menjadi dasar caranya kita menyusun kita punya masyarakat. Sebab justru sesudah Indonesia merdeka itu timbullah pertanyaan: bagaimanakah kita menyusun kita punya pergaulan hidup? dengan azas atau cara bagaimanakah kita menyusun kita punya pergaulan hidup? cara monarki? cara republik? cara kapitalistis? cara sama rasa sama rata? semua pertanyaan-pertanyaan ini dari sekarang sudahlah harus terjawab didalam azas kita. Dan bagi kita Marhaen Indonesia, azas kita ialah kebangsaan, dan ke-marhaen-an,—Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi”.

Baca Juga:   Menjawab Klaim ke PDIP, GMNI Tegas Mengatakan Bahwa Ia adalah Organisasi Independen

(Dibawah Bendera Revolusi; Azas, Azas perjuangan, Taktik (1933) Hal 249)

7) Siapakah tenaga penggerak Revolusi dalam ajaran Marhaenisme?

“Sebagaimana sudah sering ditekan-tekankan oleh Presiden Soekarno. kaum buruh dan kaum tani, baik karena vitalnya maupun karena sangat banjak jumlahnya, harus menjadi kekuatan pokok dalam Revolusi dan harus mendjadi Soko-guru masjarakat adil dan makmur di Indonesia.”
(Bahan-bahan pokok indoktrinasi (1964) Hal 86)

Adapun kaum buruh dan kaum tani itu merupakan bagian dari kaum marhaen yang mana sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno bahwa:

“Yang saya namakan Kaum Marhaen itu adalah : Setiap Rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat, yang dimelaratkan oleh Sistem Kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme.

Kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur Pertama: Unsur Kaum Proletar (Buruh)
Kedua : Unsur kaum tani melarat Indonesia
Ketiga : Kaum Melarat Indonesia yang lain-lain.”

(Pidato Bung Karno didepan Konferensi Besar GMNI, Kaliurang 1959 “HILANGKAN STERILITEIT DALAM GERAKAN MAHASISWA”)

Namun didalam memperjuangkan Marhaenisme demi kemenangan rakyat Marhaen itu diperlukan pula peranan-peranan para kaum marhaenis!

“Dan Siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis ??

kaum Marhaenis adalah “setiap pejuang dan setiap patriot bangsa”:
– Yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu dan –

– Yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan Sistem kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme, dan

-Yang bersama-sama dengan massa marhaen membangun negara dan masyarakat yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.

Pokoknya ialah, bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme yang saya jelaskan tadi.

Cam-kan benar-benar !! Setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen.”

(Pidato Bung Karno didepan Konferensi Besar GMNI, Kaliurang 1959 “HILANGKAN STERILITEIT DALAM GERAKAN MAHASISWA”)

8) Apakah Marhaenisme menolak perjuangan kelas (Class struggle/Klassenstrijd) Kaum Proletar melawan Kapitalis (Borjuasi)?

Dalam hal ini perlulah kita menelaah Opini sang bapak marhaenisme dari beberapa tulisan beliau antara lain :

“Klassenstrijd? adakah dus saya kini mengutamakan klassenstrijd? saya belum mengutamakan klassenstrijd antara bangsa Indonesia dengan bangsa Indonesia, walaupun tiap-tiap nafsu kemodalan dikalangan bangsa sendiri sudah saya musuhi. Saya seorang nasionalis, yang selamanya buat mencapai Indonesia Merdeka memusatkan perjuangah kita didalam perjuangan nasional. Saya selamanya menganjurkan, supaya semua tenaga nasional yang bisa dipakai menghantam musuh untuk mendatangkan kemerdekaan-nasional itu, haruslah dihantamkan pula. “De sociale tegenstellingen wordeb in onvrije landen in nationale vormen uitgevochten”, “Pertentangan sosial dinegeri-negeri yang tak merdeka diperjuangkan secara nasional”, begitulah juga Henriette Roland Holst berkata. Tetapi kemerdekaan-nasional hanyalah suatu jembatan, suatu syarat, suatu strijdmoment. Dibelakang Indonesia Merdeka itu kita kaum marhaen masih harus mendirikan kita punya gedung keselamatan, bebas dari tiap-tiap macam kapitalisme.”

(Dibawah Bendera Revolusi; Mencapai Indonesia Merdeka (1933) Hal 289)

Disamping kutipan opini diatas ada pula beberapa kutipan dari sebuah tulisan beliau yang berjudul KAPITALISME BANGSA SENDIRI (1932) antara lain sebagai berikut:

“Didalam salah satu rapat umum saya pernah berkata, bahwa kita bukan sahaja harus menentang kapitalisme asing, tetapi harus juga menentang kapitalisme bangsa sendiri.”

==========

“Didalam karangan saya yang lampau saya katakan, bahwa kita harus anti segala kapitalisme, walaupun kapitalisme bangsa sendiri. Tetapi disitu saya janjikan pula untuk menerangkan, bahwa kita didalam perjuangan kita mengejar Indonesia Merdeka itu tidak mengutamakan perjuangan kelas, tetapi harus mengutamakan perjuangan nasional.”

==========

“Itulah sebabnya, maka perjuangan kita untuk mengejar Indonesia merdeka,—jikalau kita ingin lekas mendapat hasil—, haruslah pertama-tama mengutamakan perjuangan nasional, yakni pertama-tama mengutamakan perjuangan nasional. Kita anti segala kapitalisme, kita anti kapitalisme bangsa sendiri, —tetapi kita untuk mencapai Indonesia merdeka, yakni untuk mengalahkan imperialisme bangsa asing, harus mengutamakan perjuangan kebangsaan.

mengutamakan perjuangan kebangsaan, itu TIDAK berarti bahwa kita tidak harus melawan ketamaan atau kapitalisme bangsa sendiri. Sebaliknya ! Kita harus mendidik rakyat juga benci kepada kapitalisme bangsa sendiri, dan dimana ada kapitalisme bangsa sendiri, kita harus melawan kapitalisme bangsa sendiri itu juga! tetapi MENGUTAMAKAN perjuangan nasional, —itu adalah berarti, bahwa pusarnya, titik beratnya, aksennya kita punya perjuangan haruslah terletak didalam perjuangan nasional. Pusarnya kita punya perjuangan sekarang haruslah didalam memerangi imperialisme asing itu dengan segala tenaga kita nasional, dengan segala tenaga-kebangsaan, yang hidup didalam sesuatu bangsa yang tak merdeka dan yang ingin merdeka! pusarnya kita punya perjuangan sekarang haruslah didalam dynamisering, —yakni membangkitkan menjadi aksi dan perbuatan—, daripada rasa-kebangsaan alias nationaal bewustzijn kita, —national bewustzijn yang hidup didalam hati-sanubari tiap-tiap rakyat sadar yang tak merdeka.

Baca Juga:   Peringati Dies Natalis Ke 70, DPK GMNI STAI YPIQ Baubau Gelar Diskusi Publik dalam Menyambut PILKADA Serentak 2024

Jadi, siapa yang mengira, bahwa kita punya nasionalisme adalah nasionalisme yang suka “main mata” dengan borjuisme, ia adalah salah sama sekali. Kita hanyalah menjatuhkan pusar, titik berat aksennya kita punya perjuangan didalam perjuangan nasional. Borjuisme harus kita TOLAK, Kapitalisme harus kita LAWAN, —oleh karena itulah maka kita punya nasionalisme marhaenistis. Sebab, hanya kaum marhaen sendirilah yang menurut dialektik satu-satunya golongan yang sungguh-sungguh ber-antithese dengan borjuisme dan kapitalisme itu, dan yang dus bisa sungguh-sungguh menentang dan mengalahkan borjuisme dan kapitalisme itu. Hanya kaum marhaen sendirilah yang menurut riwayat bisa menjalankan “pekerjaan riwayat” alias “historische taak”, menghilangkan segala borjuisme dan kapitalisme dinegeri kita adanya!.”

(Dibawah Bendera Revolusi; Kapitalisme Bangsa Sendiri (1932) Hal 181)

Dari beberapa kutipan diatas tentunya dapat kita simpulkan bahwa klassenstrijd/class struggle/perjuangan kelas tidaklah ditolak dan ditentang didalam ajaran Marhaenisme yang pernah mendapat julukan sebagai Marxisme yang diselenggarakan, dilaksanakan dan dicocokkan dengan kondisi bangsa Indonesia hal ini dikarenakan teori perjuangan kelas adalah intisari dari ajaran Marxisme yang sangat menginspirasi sang bapak Marhaenisme.

9) Adakah keterkaitan antara Marhaenisme dan Pancasila?

Mengenai hal ini penulis belum menemukan referensi literatur yang tepat, akan tetapi sepertinya dapat kita simpulkan sendiri dari statement sang Bapak Marhaenisme dalam pidato beliau pada 1 juni 1945 yang menyiratkan bahwa Marhaenisme juga menjiwai gagasan Pancasila yang beliau gali.

“Atau barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras, sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia adalah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan perikemanusiaan; saya peras menjadi satu. Itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi barat, tapi politiek economische democratie, yaitu politieke democratic dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan Socio-Democratie

Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain”.

(Pidato Ir.Sukarno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945)

10) Bagaimana cara mempraktekkan/mengamalkan Marhaenisme sebagaimana yang diajarkan oleh sang bapak Marhaenisme?

“Dan berdasarkan hasil pemikiran serta praktek perjuangan saya itu, saya mencetuskan ajaran Marhaenisme pada tahun 1927, 36 tahun yang lalu; suatu ajaran yang mengandung ilmu perjuangan revolusioner untuk menggalang persatuan Kaum Marhaen, dan yang saya rumuskan pada waktu itu sebagai sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.

Dalam hal ini memang sayang sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Marxisme. Malahan ajarannya Karl Marx tentang historis-materialisme saya gemari dan saya setujui sepenuhnya, dan saya gunakan, ya… saya toepassen, saya terapkan pada situasi masyarakat Indonesia. Dan sebagai hasil dari penggunaan toepassing atau penerapan historis materialisme Karl Marx di masyarakat Indonesia dengan ia punya kondisi sendiri, dengan ia punya situasi sendiri, dengan ia punya sejarah sendiri, dengan ia punya kebudayaan sendiri, dan sebagainya lagi, maka saya datang kepada ajaran marhaenisme.

Maka dari itu saya selalu menganjur-anjurkan kepada seluruh Front Marhaenis, bahwa untuk dapat memahami Marhaenisme ajaran saya itu, kita minimal, paling sedikit, harus menguasai dua pengetahuan:

Pertama: Pengetahuan tentang situasi dan kondisi Indonesia, dan
Kedua : Pengetahuan tentang Marxisme.

Siapa yang secara minimal tidak menguasai dua hal itu tak akan dapat memahami Marhaenisme ajaran saya”.

(Amanat Bung Karno Kepada Front Marhaenis pada tanggal 4 Juli 1963)


Dikumpulkan dari berbagai sumber Pidato dan Buku-Buku Bung Karno. Artikel ini pernah terbit di www.gmnisultra.or.id.

Bagaimana Reaksi Anda?

Lainnya Dari Marhaenist

close