By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
(Bagian Pertama) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Panas yang Menetap, Negara yang Tertinggal: Kita Tak Bisa Melawan Alam, Tapi Masih Bisa Menyiasatinya
Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional
Aktivis Mahasiswa Sebut Konten Amien Rais Sebagai Ad Hominem Bukan Kritik
Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Panas yang Menetap, Negara yang Tertinggal: Kita Tak Bisa Melawan Alam, Tapi Masih Bisa Menyiasatinya

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:56 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi Gambar tentang "Panas yang Menetap, Negara yang Tertinggal: Kita Tak Bisa Melawan Alam, Tapi Masih Bisa Menyiasatinya" (Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Siang hari belakangan terasa lebih panjang. Udara seperti enggan bergerak. Nafas menjadi lebih berat, dan keringat bukan lagi sekadar tanda lelah, melainkan isyarat bahwa tubuh sedang beradaptasi dengan kondisi yang kian berubah.

Di Jakarta, Tangerang, dan kawasan penyangga lainnya, suhu udara yang menyentuh kisaran 32 derajat Celsius kini terasa lebih menekan dibanding sebelumnya. Fenomena ini tidak terlepas dari kombinasi faktor global dan lokal, termasuk kecenderungan peningkatan suhu bumi serta efek urban heat island akibat dominasi beton dan minimnya ruang terbuka hijau.

Di tengah kondisi tersebut, realitas di lapangan menunjukkan dampak yang semakin nyata. Di salah satu permukiman di Tangerang, seorang warga terpaksa membuka pintu kulkas untuk mendapatkan sedikit kesejukan ketika perangkat pendingin di rumahnya tidak lagi berfungsi optimal. Peristiwa ini mungkin tampak sederhana, tetapi mencerminkan tekanan yang mulai dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Secara global, tren pemanasan terus menguat hingga periode 2025–2026. Data layanan pemantauan iklim Copernicus Climate Change Service menunjukkan bahwa tahun 2023 dan 2024 mencatatkan rekor suhu global tertinggi dalam sejarah pengamatan modern. Anomali suhu rata-rata global berada di kisaran sekitar 1,4 hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mengonfirmasi adanya kecenderungan peningkatan suhu permukaan di wilayah Indonesia, seiring dengan pengaruh variabilitas iklim global dan pemanasan jangka panjang. Kondisi ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi proyeksi jangka panjang, melainkan realitas yang sedang berlangsung dan semakin nyata dampaknya.

Dalam konteks perkotaan, kenaikan suhu tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga kesehatan, konsumsi energi, dan produktivitas. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia menjadi yang paling terdampak. Malam hari yang seharusnya menjadi waktu pemulihan justru sering kali tidak lagi memberikan kesejukan yang memadai.

Baca Juga:   Pilkada Kota Yogyakarta Sungguh Istimewa

Situasi ini juga tidak dapat dilepaskan dari pola pembangunan yang selama ini dijalankan. Berkurangnya tutupan hutan, ekspansi kawasan terbangun yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan, serta ketergantungan pada energi berbasis fosil menjadi faktor yang memperparah kondisi.

Dalam hal ini, peran negara menjadi sangat penting. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bersama pemerintah daerah diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek regulasi, tetapi juga pada implementasi yang konsisten dan terukur. Pengendalian tata ruang, perlindungan kawasan hijau, serta percepatan transisi energi merupakan langkah yang semakin mendesak untuk dilakukan.

Di sisi lain, dampak perubahan iklim juga menunjukkan dimensi ketimpangan. Masyarakat di permukiman padat, petani kecil, dan nelayan pesisir menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan, meskipun kontribusi mereka terhadap kerusakan lingkungan relatif kecil.

Apabila tren ini terus berlanjut, berbagai risiko dapat meningkat, mulai dari keterbatasan air bersih, gangguan produksi pangan, hingga ancaman terhadap wilayah pesisir akibat kenaikan muka laut. Kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan sosial yang lebih luas.

Di tengah berbagai tantangan ini, diperlukan kesadaran bersama bahwa manusia tidak berada di luar sistem alam, melainkan menjadi bagian darinya. Upaya adaptasi dan mitigasi perlu dilakukan secara simultan, baik melalui kebijakan publik maupun perubahan perilaku sehari-hari.

Kita mungkin tidak dapat menghentikan sepenuhnya perubahan yang sedang terjadi. Namun, kita masih memiliki ruang untuk meresponsnya secara bijak, dengan memperkuat daya tahan, mengurangi tekanan terhadap lingkungan, dan menjaga keseimbangan yang tersisa.

Pada akhirnya, relasi manusia dengan alam akan menentukan arah ke depan. Sebab, ketika keseimbangan itu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh kehidupan manusia itu sendiri.***

Baca Juga:   Nominasi OCCRP dan Beban Berat Presiden Prabowo

Penulis: Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

(Bagian Pertama) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Sabtu, 2 Mei 2026 | 12:10 WIB
Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional
Jumat, 1 Mei 2026 | 23:12 WIB
Aktivis Mahasiswa Sebut Konten Amien Rais Sebagai Ad Hominem Bukan Kritik
Jumat, 1 Mei 2026 | 21:38 WIB
Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun
Jumat, 1 Mei 2026 | 10:29 WIB
Tamansiswa: Membangun Pedagogi Indonesia
Kamis, 30 April 2026 | 21:47 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Jelang Pilkada 2024, KIPP Wakatobi Ingatkan KPU dan Bawaslu Jaga Netralistas

Marhaenist.id, Wakatobi - Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten Wakatobi meminta penyelenggara…

Picuh Kemarahan Rakyat hingga Lahirnya Gerakan Bubarkan DPR, Inilah Deretan Anggota DPR RI yang Dianggap Kontroversial!

Marhaenist.id - Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) belakangan…

DPC PA GMNI Kab Klaten Adakan Vaksinasi Booster Untuk Karyawan dan Buruh

Marhaenist - Dewan Pengurus Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC PA…

Eskalasi Perang Israel-Amerika versus Iran Meningkat, Akankah Perang Dunia Ketiga Terjadi?

Marhaenist.id - Konflik antara Israel dan Iran telah memasuki fase paling berbahaya…

Konflik Politik di Buton Selatan Memanas: Bupati dan Wakilnya Saling Lapor, GMNI Kritik Ketidakdewasaan Kepemimpinan Daerah

Marhaenist.id, Buton Selatan -Ketegangan politis semakin tajam di Kabupaten Buton Selatan (Busel)…

Komedi tanpa Nurani: Pandji Pragiwaksono dan Luka Kolektif Masyarakat Toraja

Marhaenist.id - Belakangan ini panggung komedian menjadi sorotan publik yang dinilai telah…

Presiden Joko Widodo saat membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). ANTARA/Arif Firmansyah

Jokowi: Sebanyak 19,9 Juta Orang Telah Terima BLT BBM

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan sekitar 19,9 juta orang atau…

AS-Rusia dan Metamorfosis Perang Dingin

"Sejarah mencatat, Perang Dingin AS vs Uni Soviet dulu dimenangkan oleh AS.…

​Hukum yang Meleleh, DPD GMNI Jakarta & Institut Marhaenisme 27 Desak Reformasi TNI dan Peradilan Umum dalam Kasus Andri Yunus

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DKI…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?