By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional
Aktivis Mahasiswa Sebut Konten Amien Rais Sebagai Ad Hominem Bukan Kritik
Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun
Tamansiswa: Membangun Pedagogi Indonesia
Negeri Kaya, Buruh Sengsara: Saat Negara Menjadi Pelayan Modal

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 1 Mei 2026 | 23:12 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Mohammad Sodiq Fauzi, Ketua DPP GMNI Bdang Pendidikan (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bidang Pendidikan dibawah kepemimpinan Sujarhi-Amir memberi sorotan tajam terhadap sistem pendidikan nasional yang dinilai masih menghadapi persoalan serius.

Mohammad Sodiq Fauzi, Ketua DPP GMNI Bdang Pendidikan menyatakan bahwa di tengah klaim keberhasilan serta alokasi APBN yang meningkat setiap tahunnya, masih tersisa pertanyaan mendasar soal hak fundamental tersebut yang kenyataanya masih sulit diakses oleh jutaan anak bangsa.

“Angka anak tidak sekolah (ATS) masih berada pada kisaran 3,7 hingga 4 juta anak, atau sekitar 7-8% dari total populasi usia sekolah. Ketimpangan akses pendidikan masih terasa tajam antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal,” tulis Sodiq dalam pernyataan resminya.

Ia memaparkan, alokasi anggaran pendidikan yang sebelumnya di tahun 2025 sebesar Rp724,3 triliun, kini meningkat menjadi sekitar Rp757,8 triliun. Namun, ia menyayangkan sekitar 50 dari anggaran tersebut digunakan untuk belanja pegawai sebagai gaji dan tunjangan yang tidak meningkatkan kualitas pendidikan secara langsung.

Disisi lain, ia menyebut kebutuhan mendesak seperti peningkatan kompetensi guru, pemerataan fasilitas pendidikan, penguatan pendidikan nonformal, serta inovasi pembelajaran malah tidak mendapatkan prioritas yg memadai.

“Kondisi ini diperparah oleh lemahnya tata kelola, tumpang tindih kebijakan antara pusat dan daerah, serta minimnya integrasi antara jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Akibatnya, sistem pendidikan nasional kita berjalan tidak sebagai satu kesatuan yang utuh, melainkan sebagai fragmen kebijakan yg saling terpisah dan sering kali tidak efektif” kata dia.

Ia menegaskan, gagalnya pemerintah dalam menyediakan pendidikan berkualitas bagi seluruh anak bangsa merupakan sinyal keras gagalnya sistem pengelolaan pendidikan nasional.

Besaran alokasi anggaran untuk sektor pendidikan disebutnya sudah menjadi amanat konstitusi bagi negara sesuai yang diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Baca Juga:   Pemerintah Godok RUU Disinformasi dan Propaganda Asing, DPP GMNI: Ancaman Serius Terhadap Demokrasi

“Negara bahkan mengikat dirinya melalui amanat konstitusi untuk mengalokasikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran nasional demi menjamin terselenggaranya pendidikan yg adil dan bermutu,” ucap Sodiq.

Alokasi 20% APBN untuk pendidikan adalah fondasi penting. Namun bukan solusi tunggal, menurut Sodiq reformasi pendidikan hanya bisa dicapai jika besarnya anggaran diikuti oleh sistem pengelolaan yang adil dan berintegritas.

Demi mencapai pendidikan Indonesia yang adil dan bermutu, ia menjelaskan bahwa kini negara harus melakukan reformasi sistem melalui RUU Sisdiknas untuk memaksimalkan 20 % APBN Pendidikan.

“Alokasi 20% APBN untuk pendidikan itu fondasi, tetapi tanpa reformasi sistem melalui RUU Sisdiknas, komitmen tersebut berisiko tidak efektif. RUU Sisdiknas bukan sekedar perubahan regulasi, ia adalah koreksi terhadap kegagalan struktural dalam pengelolaan pendidikan nasional, yang bakal memperpanjang inefisiensi,” katanya.

Lebih lanjut, Sodiq menegaskan bahwa dalam studi global seperti Programme for International Student Assessment (PISA), capaian literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata negara anggota OECD, yang menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi oleh pendidikan Indonesia bukan hanya akses, tetapi juga kualitas.

Menurutnya, problem yang sekarang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia adalah bentuk kegagalan dalam memberikan pendidikan yang inklusif dan adaptif terhadap realitas sosial masyarakat.

Selain itu, Sodiq menyampaikan kini di berbagai daerah terpencil seperti Papua dan Nusa Tenggara, masih ditemukan sekolah dengan kondisi bangunan rusak berat, kekurangan guru, bahkan kegiatan belajar mengajar yang tidak berlangsung secara rutin.

“Kasus siswa yang harus berjalan berkilo-kilometer melewati medan berbahaya demi mencapai sekolah masih terus terjadi, menunjukkan bahwa akses dasar saja belum terpenuhi,” ungkapnya.

Selanjutnya, Sodiq menyoroti program bantuan pendidikan seperti BOS dan berbagai subsidi yang sering kali tidak tepat sasaran atau terhambat oleh birokrasi, sehingga manfaatnya tidak dirasakan secara optimal oleh siswa yang membutuhkan.

Baca Juga:   Marhaenisme di Persimpangan: Antara Etika Organisasi dan Ambisi Kekuasaan

Lebih lanjut, di sejumlah daerah Sodiq berkata bahwa praktik penyalahgunaan anggaran pendidikan dan proyek infrastruktur sekolah yang mangkrak atau tidak sesuai spesifikasi juga masih terdapat.

“Di tengah kondisi tersebut, negara tetap berpegang pada narasi bahwa alokasi 20% anggaran pendidikan telah terpenuhi. Namun kami menegaskan bahwa pemenuhan angka bukanlah jaminan keadilan. Ketika sebagian besar anggaran habis untuk belanja rutin, tanpa transformasi signifikan pada kualitas pendidikan, maka yang terjadi adalah stagnasi yg dibungkus dalam retorika keberhasilan,” jelasnya.

Pada akhirnya, Sodiq menyatakan pendidikan adalah cermin dari keberanian sebuah bangsa untuk jujur terhadap dirinya sendiri.

“Selama jutaan anak Indonesia masih berada di luar sistem pendidikan, selama kualitas pembelajaran masih tertinggal, dan selama anggaran besar belum menghasilkan perubahan nyata, maka kita harus berani mengatakan, sistem ini belum berhasil. Dan selama itu pula, perjuangan untuk menghadirkan pendidikan yang adil dan bermartabat tidak boleh berhenti,” ujar Sodiq.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Aktivis Mahasiswa Sebut Konten Amien Rais Sebagai Ad Hominem Bukan Kritik
Jumat, 1 Mei 2026 | 21:38 WIB
Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun
Jumat, 1 Mei 2026 | 10:29 WIB
Tamansiswa: Membangun Pedagogi Indonesia
Kamis, 30 April 2026 | 21:47 WIB
Negeri Kaya, Buruh Sengsara: Saat Negara Menjadi Pelayan Modal
Kamis, 30 April 2026 | 19:07 WIB
Aliansi PERISAI Tegaskan “MayDay Bukan Pesta”, Serukan Aksi Nasional di Berbagai Daerah
Kamis, 30 April 2026 | 18:56 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Kooperasi dan Hegemoni Kapitalisme

Marhaenist.id - Sadar atau tidak, sistem kapitalisme hari ini telah menghegemoni manusia…

Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas

Marhaenist.id, Pasaman Timur — Peristiwa kekerasan yang memilukan menimpa seorang nenek renta…

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto. FILE/PDI Perjuangan

Hasto Sebut Banyak Manuver PSI Yang Merugikan PDI Perjuangan

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, meski sesama…

DPC GMNI Pasaman Kecam Keras Tindakan Represif Oknum Kepolisian Labuhan Batu

Marhaenist.id, Pasaman — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka

Marhaenist.id - Indonesia bagiku bukan sekadar tanah kelahiran. Indonesia adalah anugerah tuhan…

Gelar FDG, DPD PA GMNI Jakarta Raya Dorong Pemprov Lakukan Reforma Agraria Perkotaan

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Relawan Mas Pram dan Bang Doel Gelar Nobar di 50 Titik Lokasi Bareng Warga Jakarta

MARHAENIST - Perjuangan Timnas Indonesia untuk meraih kesempatan pertama berlaga di World…

Telah Lahirkan Tokoh-Tokoh Nasional, Siapa Sajakah Mereka yang Pernah Berorganisasi di GMNI?

Marhaenis.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau yang sering disebut GMNI merupakan…

‘Tak Tahu Berterima Kasih’, Perkataan Dedy Pada Seorang Anak Kecil Seperti Maling Teriak Maling dan Hanya Melukai Hati

Marhaenist.id - Dedi Cozbuzzer (DC) adalah contoh nyata bagaimana prilaku manusia yang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?