
Marhaenist.id, Jakarta – Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis (PERISAI) menyelenggarakan konferensi pers dalam rangka menyikapi momentum Kampanye Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh pada 1 Mei 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Kantor Sekretariatan GMNI Jakarta Selatan, Jl. Pancoran Buntu II, pukul 13.00 WIB pada Kamis (30/4/2026).
Mengusung tema “MayDay Bukan Pesta!”, konferensi pers ini menegaskan bahwa peringatan Hari Buruh Internasional harus tetap berada dalam semangat perlawanan rakyat, bukan sekadar seremoni atau perayaan tanpa makna.
Aliansi PERISAI menilai pentingnya keterlibatan aktif rakyat dalam menjaga tradisi perjuangan melawan imperialisme, feodalisme, dan fasisme yang dinilai masih berlangsung di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Aliansi PERISAI, Saiful Wathoni (Sekretaris Jenderal PP AGRA) dan Deodatus Sunda, S.E. (Ketua Umum GMNI DKI Jakarta Raya), dengan dipandu oleh L. Muhammad Rizaldy (Ketua Umum PP FMN).
Dalam konferensi tersebut, Saiful Wathoni menegaskan bahwa May Day tidak dapat dirayakan dengan suasana kegembiraan di tengah kondisi rakyat yang masih menghadapi berbagai kesulitan.
“Tidak boleh naif! Tidak mungkin rakyat merayakan MayDay dengan kegembiraan palsu tanpa perlawanan di tengah situasi Indonesia yang masih belum mampu menyejahterakan rakyatnya sendiri,” tegas Saiful.
Senada dengan itu, Deodatus Sunda menyoroti kondisi pemerintahan yang dinilai belum mampu memberikan solusi konkret bagi rakyat, meskipun telah beberapa kali melakukan perombakan kabinet.
“Sudah lima kali reshuffle, pemerintah masih belum melahirkan solusi untuk rakyat. Tak ubahnya rezim menyadari bahwa yang melakukan makar adalah dirinya sendiri—makar terhadap pembukaan UUD 1945 dan konstitusi itu sendiri,” ujarnya.
Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi PERISAI juga mengumumkan rencana aksi yang akan dilaksanakan pada 1 Mei hingga 21 Mei 2026 di depan Kantor DPR/MPR RI, Jakarta, mulai pukul 13.00 WIB.
Selain itu, aksi massa terkoordinasi juga akan digelar secara nasional di 18 titik di berbagai daerah di Indonesia, serta satu titik aksi di Hong Kong.
Aliansi PERISAI menegaskan bahwa rangkaian aksi ini merupakan bentuk konsolidasi kekuatan rakyat dalam memperjuangkan hak-hak buruh dan seluruh lapisan masyarakat, serta sebagai upaya menjaga semangat perjuangan May Day sebagai momentum perlawanan, bukan sekadar perayaan.***
Penulis; Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.