
Marhaenist.id – Menjelang peringatan May Day 2026, sebagai Ketua DPK GMNI Universitas Buana Perjuangan Karawang, saya menyerukan kepada seluruh kader GMNI, khususnya kader GMNI UBP Karawang, untuk tidak bersikap pasif. Momentum ini harus disambut dengan keterlibatan nyata. May Day bukan sekadar diperingati, tetapi harus dihidupkan melalui aksi. Karena itu, saya mengajak seluruh kader untuk turun ke jalan, bergabung bersamavkaum proletar, dan melebur dalam barisan perjuangan rakyat.
May Day atau Hari Buruh Internasional bukan sekadar tanggal merah. Ia adalah ingatan kolektif tentang darah, perlawanan, dan kesadaran kelas. Setiap 1 Mei, dunia tidak sedang merayakan hari libur, melainkan memperingati sejarah panjang perjuangan kaum buruh melawan eksploitasi sistematis yang lahir dari watak kapitalisme.
Momentum ini berakar dari peristiwa Haymarket di Chicago tahun 1886, simbol bahwa perubahan tidak pernah lahir dari diam, tetapi dari perlawanan. Sebagai marhaenis, May Day tidak boleh dipahami secara sempit hanya milik buruh pabrik. Ia adalah milik seluruh rakyat tertindas: buruh, petani, dan kaum miskin kota yang hidup dalam tekanan struktur ekonomi yang tidak adil. May Day adalah panggilan ideologis untuk membela mereka yang dimarjinalkan.
Dalam konteks global, May Day adalah alat konsolidasi kelas pekerja untuk melawan kapitalisme, imperialisme, dan ketimpangan yang terus direproduksi. Ini bukan sekadar tuntutan normatif seperti upah atau jam kerja, tetapi perjuangan untuk menentukan arah sejarah.
Realitas di Indonesia hari ini menunjukkan bahwa semangat itu masih relevan, bahkan semakin mendesak. Fleksibilitas kerja dijadikan dalih untuk melemahkan perlindungan buruh, outsourcing menjadi wajah baru eksploitasi, dan kesejahteraan terus menjadi janji yang ditunda. Dalam kondisi seperti ini, May Day harus kembali menjadi alat tekanan politik, bukan sekadar seremoni tahunan.
Saya melihat ada kecenderungan May Day kehilangan tajinya. Ia mulai dijinakkan menjadi perayaan formal, bahkan dalam beberapa kasus dirayakan bersama kekuatan yang justru melanggengkan sistem yang menindas buruh. Ini adalah kemunduran kesadaran. May Day seharusnya identik dengan aksi massa, dengan keberanian turun ke jalan, dengan keberpihakan yang tegas kepada kaum proletar. Sebagai Ketua DPK GMNI UBP Karawang, saya menegaskan kembali bahwa May Day harus dikembalikan ke ruhnya sebagai gerakan. Bukan sekadar peringatan, tetapi perlawanan. Bukan sekadar simbol, tetapi strategi.
Karawang sebagai salah satu kota industri tidak boleh hanya menjadi ruang produksi, tetapi harus menjadi ruang perlawanan. Buruh tidak boleh terus-menerus diposisikan sebagai objek, mereka harus menjadi subjek yang menentukan arah perubahan. Dan di
titik ini, GMNI tidak boleh absen.
Kader GMNI harus hadir sebagai kekuatan ideologis dan organisatoris. Kita tidak cukup hanya memahami teori marhaenisme, tetapi harus menerjemahkannya dalam tindakan nyata. May Day adalah momentum konkret untuk itu.
Jika kita memilih diam, maka kita sedang membiarkan sejarah berjalan tanpa
keberpihakan. Tetapi jika kita turun ke jalan, bersatu dengan kaum proletar, maka kita sedang mengambil peran dalam menentukan arah masa depan. May Day bukan tentang masa lalu. Ia adalah tentang sikap hari ini. Dan sikap itu harus jelas: melawan ketidakadilan, bersama rakyat tertindas.***
Penulis: Jeje Zaenudin, Ketua DPK GMNI Universitas Buana Perjuangan Karawang.