By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
OpiniStudy Marhaenisme

Menuju Kematian Marhaenisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 30 April 2026 | 01:41 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Bagikan

Marhaenist.id – Gema Soekarno yang dahulu mampu mengguncang fondasi imperialisme kini tereduksi menjadi gema hampa—sekadar ornamen retoris dalam panggung politik yang miskin keberanian.

Marhaenisme, yang lahir dari pergulatan konkret rakyat kecil di tanah Bandung, kini berdiri di tepi jurang kematian—bukan oleh serangan musuh ideologis, melainkan oleh pengkhianatan sistematis dari para pengusungny
a sendiri.

Sosok Sang Proklamator dipuja secara seremonial, namun ajarannya dikubur hidup-hidup dalam ritual simbolik yang dangkal. Biografi dihafal, tetapi gagasan dikhianati. Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi yang dahulu menjadi pisau analisis terhadap penindasan kini tumpul, kehilangan daya dobraknya.

Marhaenisme direduksi menjadi identitas kosong—atribut, slogan, dan estetika—tanpa isi, tanpa arah, tanpa keberanian.

Secara epistemologis, Marhaenisme bukanlah dogma mati, melainkan metode berpikir—materialisme dialektika historis yang diindonesiakan untuk membaca kontradiksi sosial secara konkret.

Dalam Soekarno: The Struggle for Indonesian Independence, terlihat jelas bahwa konstruksi pemikiran Soekarno lahir dari ketegangan antara realitas kolonial, pergulatan intelektual global, dan keberpihakan radikal kepada kaum tertindas. Namun hari ini, metode itu dibekukan menjadi doktrin.

Marhaenisme tidak lagi berfungsi sebagai alat analisis, melainkan sebagai mantra legitimasi. Ia berhenti menggugat dan mulai membenarkan. Pada titik ini, kematian ideologi bukanlah metafora—melainkan fakta historis yang sedang berlangsung.

Kematian ini menemukan bentuk paling vulgar dalam praktik organisasi. Doktrin *samen bundelling van alle revolutionaire krachten in de natie*—yang menuntut konsolidasi total kekuatan progresif—justru dibalik menjadi fragmentasi permanen.

Dalam Jalan Kepengasingan: Indonesia 1927–1934, fase pengasingan menunjukkan bagaimana tekanan eksternal justru melahirkan konsistensi ideologis dan disiplin perjuangan. Kontras dengan itu, organisasi hari ini runtuh bukan karena represi, tetapi karena banalitas internal: perebutan posisi, duplikasi struktur, dan inflasi kepemimpinan tanpa basis sosial.

Baca Juga:   Megaphone Diplomacy, Upaya Penggalangan Sokongan Publik Penyelenggara Pemilu

Energi politik dihabiskan untuk konflik administratif, bukan pertarungan ideologis. Ini bukan sekadar kemunduran—ini adalah degenerasi.

Krisis kaderisasi mempercepat proses pembusukan tersebut. Generasi baru tidak lahir dari tradisi intelektual yang keras, melainkan dari kultur instan yang memproduksi loyalitas tanpa kesadaran.

Dalam Nationalism and Revolution in Indonesia, nasionalisme Indonesia tumbuh sebagai kesadaran politik yang terorganisir dan berakar pada pengalaman material rakyat. Hari ini, fondasi itu runtuh. Kader tidak lagi memahami kontradiksi kelas, tidak memiliki perangkat analisis, dan tidak memiliki keberanian mengambil posisi dalam konflik sosial.

Mereka hadir sebagai simbol, bukan sebagai subjek sejarah. Tanpa kapasitas teoritik dan keberpihakan praksis,

Marhaenisme kehilangan fungsi _avant-garde-nya_ dan tereduksi menjadi massa tanpa arah.

Dalam konteks kekinian, kegagalan ini menjadi semakin telanjang ketika berhadapan dengan bentuk baru kapitalisme. Ekonomi platform, finansialisasi, dan konsentrasi kekayaan berbasis teknologi menciptakan bentuk eksploitasi yang lebih halus namun lebih dalam.

Relasi kerja menjadi cair, perlindungan sosial melemah, dan ketergantungan struktural semakin menguat. Namun Marhaenisme gagal membaca transformasi ini. Ia masih berbicara dengan bahasa lama untuk menjelaskan realitas baru.

Dalam The Accumulation of Capital, ekspansi kapital dijelaskan sebagai proses tanpa akhir yang terus mencari ruang akumulasi baru—dan hari ini ruang itu adalah data, algoritma, dan ketergantungan digital. Ketika Marhaenisme gagal mengintervensi ruang ini, ia secara de facto menyerahkan medan perjuangan kepada kapitalisme mutakhir.

Secara sosiologis, kegagalan tersebut melahirkan alienasi yang akut. Dalam Imagined Communities, ditegaskan bahwa kesadaran kolektif hanya dapat bertahan melalui reproduksi imajinasi politik yang hidup. Marhaenisme hari ini gagal melakukan reproduksi itu. Ia tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat sebagai kesadaran kritis, melainkan sebagai retorika musiman dalam kontestasi elektoral.

Baca Juga:   GMNI Kiamat?

Relasi dengan rakyat bersifat transaksional, bukan transformasional. Bantuan menggantikan pembebasan, dan populisme menggantikan pendidikan politik. Dalam kondisi ini, kehilangan kepercayaan rakyat bukanlah kemungkinan—melainkan keniscayaan.

Dalam perspektif ekonomi-politik, pengkhianatan paling mendasar terlihat pada runtuhnya prinsip Berdikari. Kemandirian ekonomi yang dahulu menjadi syarat mutlak kemerdekaan kini digantikan oleh integrasi pasif dalam sistem global yang eksploitatif. Ketergantungan pada investasi asing, liberalisasi sektor strategis, dan subordinasi terhadap logika pasar menjadi praktik yang diterima tanpa resistensi.

Para pengusung Marhaenisme tidak lagi berdiri sebagai oposisi terhadap struktur ini, melainkan menjadi bagian darinya. Ini bukan sekadar inkonsistensi—ini adalah kolaborasi diam-diam dengan sistem yang mereka klaim lawan.

Tragedi terbesar Marhaenisme bukanlah kekalahan, melainkan kehilangan relevansi. Ia tidak dihancurkan, tetapi ditinggalkan. Ia tidak diserang, tetapi dilupakan.

Yang tersisa hanyalah kerangka simbolik tanpa daya transformasi. The Wretched of the Earth, revolusi ditegaskan sebagai proses radikal yang menuntut keterlibatan total—bukan sekadar afiliasi identitas.

Marhaenisme hari ini gagal memenuhi tuntutan itu. Ia tidak lagi menjadi praksis, melainkan posisi.

Namun sejarah tidak pernah sepenuhnya tertutup. Kemungkinan selalu ada—tetapi hanya bagi mereka yang berani memutus kontinuitas kebusukan. Marhaenisme hanya dapat hidup kembali jika ia direbut kembali sebagai metode: alat analisis, alat organisasi, dan alat perjuangan. Ia menuntut kader yang mampu membaca kontradiksi baru, membangun basis sosial yang nyata, dan mengambil posisi dalam konflik struktural tanpa kompromi.

Jika itu tidak terjadi, maka kesimpulannya sederhana dan brutal: Marhaenisme tidak layak diselamatkan. Ia lebih jujur mati sebagai sejarah daripada hidup sebagai kemunafikan.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advokat, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

AS-Rusia dan Metamorfosis Perang Dingin

"Sejarah mencatat, Perang Dingin AS vs Uni Soviet dulu dimenangkan oleh AS.…

Tantang Keberpihakan Pram Doel Ke Seniman, Pelukis Kota Tua Kirim Undangan Ke Markas Timses Jl Cemara 19

Marhaenist.id, Jakarta - Perhelatan Pemilu acapkali ramai dengan banyak acara yang bertujuan…

Konferda GMNI Sumut Dinilai Kehilangan Arah Ideologis: Kader Soroti Intervensi Senior dan Mandeknya Sidang

Marhaenist.id, Medan- Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Utara…

GMNI dan Seolah-Olah Berkuasa

Marhaenist.id - GMNI dari tahun 1953 sampai 2024 kini, telah melahirkan sejumlah…

Surat Megawati ke Iran Jadi Perhatian Internasional, Pesannya Dinilai Mewakili Suara Moral Indonesia

Marhaenist.id, Jakarta — Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati…

Mengapa Bung Karno Melepas Seluruh Kenegaraaan di Makam Rasullulah?

Marhaenist.id - Pada tahun 1955, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menunaikan…

Guntur Soekarnoputra dalam peluncuran buku Catatan Merah Dari Putera Bung Karno Jilid 3, 19 Oktober 2022. MARHAENIST

Catatan Merah dari Putera Bung Karno, Ini Kata Ganjar Pranowo dan Mahfud MD

Marhaenist - Putra pertama Presiden Soekarno, yang juga merupakan Ketua Dewan Ideologi…

Soroti Aksi Pencemaran Limbah Hasil Pengeboran RIG GWDC milik PT PHSS, GMNI Balikpapan Desak Kepolisian Bebaskan Nelayan

Marhaenist.id, Balikpapan - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Balikpapan menggelar konsolidasi internal…

Dipecat Akibat Asusila, Ketua KPU Justru Senang dan Riang Gembira

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Hasyim Asy’ari berterima kasih…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?