By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Menuju Kematian Marhaenisme
Turut Berbelasungkawa atas Tragedi Kereta di Bekasi Timur, Marhaenist.id Dorong Evaluasi Menyeluruh Sistem Keselamatan Perkeretaapian
Malaka Strait: Kebangkitan Ekonomi Indonesia
Talkshow Kartini Hari Ini, GERAK Jakarta: Perempuan Bisa Memimpin, Ruang Publik Harus Aman
Persatuan GMNI se-Indonesia: Belajar dari Konferda Persatuan GMNI Sulbar

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
OpiniStudy Marhaenisme

Menuju Kematian Marhaenisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 30 April 2026 | 01:41 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Bagikan

Marhaenist.id – Gema Soekarno yang dahulu mampu mengguncang fondasi imperialisme kini tereduksi menjadi gema hampa—sekadar ornamen retoris dalam panggung politik yang miskin keberanian.

Marhaenisme, yang lahir dari pergulatan konkret rakyat kecil di tanah Bandung, kini berdiri di tepi jurang kematian—bukan oleh serangan musuh ideologis, melainkan oleh pengkhianatan sistematis dari para pengusungny
a sendiri.

Sosok Sang Proklamator dipuja secara seremonial, namun ajarannya dikubur hidup-hidup dalam ritual simbolik yang dangkal. Biografi dihafal, tetapi gagasan dikhianati. Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi yang dahulu menjadi pisau analisis terhadap penindasan kini tumpul, kehilangan daya dobraknya.

Marhaenisme direduksi menjadi identitas kosong—atribut, slogan, dan estetika—tanpa isi, tanpa arah, tanpa keberanian.

Secara epistemologis, Marhaenisme bukanlah dogma mati, melainkan metode berpikir—materialisme dialektika historis yang diindonesiakan untuk membaca kontradiksi sosial secara konkret.

Dalam Soekarno: The Struggle for Indonesian Independence, terlihat jelas bahwa konstruksi pemikiran Soekarno lahir dari ketegangan antara realitas kolonial, pergulatan intelektual global, dan keberpihakan radikal kepada kaum tertindas. Namun hari ini, metode itu dibekukan menjadi doktrin.

Marhaenisme tidak lagi berfungsi sebagai alat analisis, melainkan sebagai mantra legitimasi. Ia berhenti menggugat dan mulai membenarkan. Pada titik ini, kematian ideologi bukanlah metafora—melainkan fakta historis yang sedang berlangsung.

Kematian ini menemukan bentuk paling vulgar dalam praktik organisasi. Doktrin *samen bundelling van alle revolutionaire krachten in de natie*—yang menuntut konsolidasi total kekuatan progresif—justru dibalik menjadi fragmentasi permanen.

Dalam Jalan Kepengasingan: Indonesia 1927–1934, fase pengasingan menunjukkan bagaimana tekanan eksternal justru melahirkan konsistensi ideologis dan disiplin perjuangan. Kontras dengan itu, organisasi hari ini runtuh bukan karena represi, tetapi karena banalitas internal: perebutan posisi, duplikasi struktur, dan inflasi kepemimpinan tanpa basis sosial.

Baca Juga:   KUHP Baru Dinilai Jadi “Napas Lega” bagi Tersangka Pembunuhan Jembatan Wari Halmahera Utara

Energi politik dihabiskan untuk konflik administratif, bukan pertarungan ideologis. Ini bukan sekadar kemunduran—ini adalah degenerasi.

Krisis kaderisasi mempercepat proses pembusukan tersebut. Generasi baru tidak lahir dari tradisi intelektual yang keras, melainkan dari kultur instan yang memproduksi loyalitas tanpa kesadaran.

Dalam Nationalism and Revolution in Indonesia, nasionalisme Indonesia tumbuh sebagai kesadaran politik yang terorganisir dan berakar pada pengalaman material rakyat. Hari ini, fondasi itu runtuh. Kader tidak lagi memahami kontradiksi kelas, tidak memiliki perangkat analisis, dan tidak memiliki keberanian mengambil posisi dalam konflik sosial.

Mereka hadir sebagai simbol, bukan sebagai subjek sejarah. Tanpa kapasitas teoritik dan keberpihakan praksis,

Marhaenisme kehilangan fungsi _avant-garde-nya_ dan tereduksi menjadi massa tanpa arah.

Dalam konteks kekinian, kegagalan ini menjadi semakin telanjang ketika berhadapan dengan bentuk baru kapitalisme. Ekonomi platform, finansialisasi, dan konsentrasi kekayaan berbasis teknologi menciptakan bentuk eksploitasi yang lebih halus namun lebih dalam.

Relasi kerja menjadi cair, perlindungan sosial melemah, dan ketergantungan struktural semakin menguat. Namun Marhaenisme gagal membaca transformasi ini. Ia masih berbicara dengan bahasa lama untuk menjelaskan realitas baru.

Dalam The Accumulation of Capital, ekspansi kapital dijelaskan sebagai proses tanpa akhir yang terus mencari ruang akumulasi baru—dan hari ini ruang itu adalah data, algoritma, dan ketergantungan digital. Ketika Marhaenisme gagal mengintervensi ruang ini, ia secara de facto menyerahkan medan perjuangan kepada kapitalisme mutakhir.

Secara sosiologis, kegagalan tersebut melahirkan alienasi yang akut. Dalam Imagined Communities, ditegaskan bahwa kesadaran kolektif hanya dapat bertahan melalui reproduksi imajinasi politik yang hidup. Marhaenisme hari ini gagal melakukan reproduksi itu. Ia tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat sebagai kesadaran kritis, melainkan sebagai retorika musiman dalam kontestasi elektoral.

Baca Juga:   Pejuang Pemikir: Identitas Kita

Relasi dengan rakyat bersifat transaksional, bukan transformasional. Bantuan menggantikan pembebasan, dan populisme menggantikan pendidikan politik. Dalam kondisi ini, kehilangan kepercayaan rakyat bukanlah kemungkinan—melainkan keniscayaan.

Dalam perspektif ekonomi-politik, pengkhianatan paling mendasar terlihat pada runtuhnya prinsip Berdikari. Kemandirian ekonomi yang dahulu menjadi syarat mutlak kemerdekaan kini digantikan oleh integrasi pasif dalam sistem global yang eksploitatif. Ketergantungan pada investasi asing, liberalisasi sektor strategis, dan subordinasi terhadap logika pasar menjadi praktik yang diterima tanpa resistensi.

Para pengusung Marhaenisme tidak lagi berdiri sebagai oposisi terhadap struktur ini, melainkan menjadi bagian darinya. Ini bukan sekadar inkonsistensi—ini adalah kolaborasi diam-diam dengan sistem yang mereka klaim lawan.

Tragedi terbesar Marhaenisme bukanlah kekalahan, melainkan kehilangan relevansi. Ia tidak dihancurkan, tetapi ditinggalkan. Ia tidak diserang, tetapi dilupakan.

Yang tersisa hanyalah kerangka simbolik tanpa daya transformasi. The Wretched of the Earth, revolusi ditegaskan sebagai proses radikal yang menuntut keterlibatan total—bukan sekadar afiliasi identitas.

Marhaenisme hari ini gagal memenuhi tuntutan itu. Ia tidak lagi menjadi praksis, melainkan posisi.

Namun sejarah tidak pernah sepenuhnya tertutup. Kemungkinan selalu ada—tetapi hanya bagi mereka yang berani memutus kontinuitas kebusukan. Marhaenisme hanya dapat hidup kembali jika ia direbut kembali sebagai metode: alat analisis, alat organisasi, dan alat perjuangan. Ia menuntut kader yang mampu membaca kontradiksi baru, membangun basis sosial yang nyata, dan mengambil posisi dalam konflik struktural tanpa kompromi.

Jika itu tidak terjadi, maka kesimpulannya sederhana dan brutal: Marhaenisme tidak layak diselamatkan. Ia lebih jujur mati sebagai sejarah daripada hidup sebagai kemunafikan.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advokat, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Turut Berbelasungkawa atas Tragedi Kereta di Bekasi Timur, Marhaenist.id Dorong Evaluasi Menyeluruh Sistem Keselamatan Perkeretaapian
Kamis, 30 April 2026 | 01:00 WIB
Malaka Strait: Kebangkitan Ekonomi Indonesia
Rabu, 29 April 2026 | 21:09 WIB
Talkshow Kartini Hari Ini, GERAK Jakarta: Perempuan Bisa Memimpin, Ruang Publik Harus Aman
Selasa, 28 April 2026 | 14:52 WIB
Momentum Konferda Persatuan GMNI Sulbar, nampak dua Ketua DPD GMNI Sulbar demisioner bersama dengan Ketua dan Sekretaris terpilih sambil memegang bendera (Dok. GMNI Sulbar)/MARHAENIST.
Persatuan GMNI se-Indonesia: Belajar dari Konferda Persatuan GMNI Sulbar
Senin, 27 April 2026 | 22:22 WIB
Masyarakat Loloda Utara Keluhkan Tarif Angkutan Naik, GMNI Halut Ingatkan Pemda Jangan Diam
Senin, 27 April 2026 | 18:09 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Republik Jenderal Multitasking

Marhaenist.id - Tuhan tampaknya menciptakan spesies baru manusia: Di Wakanda  manusia berseragam…

Resensi Buku: Antara Marhaenisme dan Marxisme

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Marhaenisme merupakan salah satu pemikiran penting dalam sejarah perjuangan…

Bangun Karakter Mahasiswa Berasaskan Marhaenisme, GMNI Pekalongan Adakan PPAB

Marhaenist - Jajaran pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Pekalongan mengadakan…

Pasangan Hasto-Wawan Temui Warga Masyarakat Penerima PIP

MARHAENIST - Pasangan calon walikota dan wakil walikota Yogyakarta yang diusung oleh…

PERADI Utama–PA GMNI Gelar Technical Meeting PKPA Beasiswa Batch I

Marhaenist.id - Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Beasiswa…

Politik Inklusif Ganjar Pranowo

Perhelatan kontestasi politik melalui Pemilihan Umum 2024 semakin dekat dan berjalan dinamis.…

Bahas Otonomi Daerah, Mahfud MD Akan Isi FGD di Agenda 45

Marhaenist.id, Jakarta- Mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud…

Ekonomi Rakyat dan Pasar Modal, Bayu Sasongko: Tafsir Marhaenisme Atas IHSG

Marhaenist.id, Semarang – Pengamat Budaya Ekonomi Geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, menilai gejolak…

Sekelompok suporter membawa seorang korban pria di stadion Kanjuruhan, Malang selama huru-hara keributan terjadi. AFP/Getty Images

127 Orang Tewas Dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang

Marhaenist - Sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi yang terjadi…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?