
Marhaenist.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) lahir dan mendeklarasikan eksistensinya sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan yang setia pada jalan perjuangan rakyat dengan mendasarkan diri pada Marhaenisme ajaran Bung Karno.
Dari nama Bung Karno, terlihat jelas bahwa GMNI yang berpijak pada pokok-pokok pemikirannya tidak terlepas dari sosok seorang pemikir dengan tekad perjuangan yang kokoh.
Membicarakan tentang GMNI tidak bisa dipisahkan dari Marhaenisme, Pancasila, dan visi keberpihakannya pada rakyat kecil yang menjadi pondasi penting perjuangan GMNI. Antara Marhaenisme dan Pancasila, GMNI tidak mungkin melupakan nama besar Bung Karno. Bukan hanya karena Bung Karno sebagai penggagas Marhaenisme dan Pancasila, melainkan sekaligus sebagai tokoh penting dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Bung Karno: Pejuang dan Pemikir
Mempelajari GMNI, belum lengkap kalau belum memahami bahwa Bung Karno sebagai tokoh yang menyemai ideologi Marhaenisme—asas perjuangan GMNI—adalah seorang pembelajar.
“Seluruh waktuku habis untuk membaca. Sementara yang lain bermain-main, aku belajar. Aku mengejar ilmu pengetahuan di luar yang diberikan di sekolah,” ungkap Bung Karno dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang ditulis oleh Chindy Adams.
Jika ditelisik lebih jauh, sejak kecil Bung Karno telah dididik dengan ketat oleh ayahnya yang juga berprofesi sebagai seorang guru. Setelah lulus sekolah dasar, Bung Karno melanjutkan studi ke sekolah menengah (HBS) dan tinggal bersama Ketua Sarekat Islam H.O.S. Cokroaminoto. Dari sini, Bung Karno banyak belajar politik dan bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan.
Tahun 1921, Bung Karno lulus dari HBS dan melanjutkan kuliah di Bandung. Awalnya, Bung Karno berencana lanjut kuliah ke Belanda, tetapi tidak diizinkan ibunya. Di Bandung, Bung Karno bergumul dengan suasana yang mencekam, penderitaan, dan kemelaratan rakyat Indonesia menjadi basis refleksi bagi pemikiran dan pergerakan Bung Karno. Di sinilah Bung Karno kemudian bertemu dengan petani Marhaen yang menjadi cikal bakal lahirnya ideologi Marhaenisme.
Pada tahun 1926, Bung Karno tampil sebagai pemikir muda lewat tulisannya: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Setelah itu, secara berturut-turut karyanya dapat ditemukan mulai dari pidato pembelaannya di hadapan pengadilan Landraad Bandung yang berjudul Indonesia Menggugat (1930); Mencapai Indonesia Merdeka (1933); kumpulan tulisan dan pidato yang dihimpun dalam buku DBR jilid I dan II; Sarinah (1947)—hingga Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia (1945).
Sejak mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927, Bung Karno secara terang-terangan menentang kolonial Belanda dan menyatakan Indonesia harus merdeka. Karena tekad perjuangan untuk merdeka dan aktivitas PNI yang berani, membuat Bung Karno harus masuk daftar hitam incaran pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno kemudian harus keluar masuk penjara tahun 1929—1931, dibuang ke Pulau Ende Flores tahun 1933—1938, dan dipindahkan ke Bengkulu tahun 1938—1942.
Menjelang hari-hari terakhirnya, Bung Karno berpesan agar kelak ketika ia meninggal, tempat peristirahatannya yang terakhir dibuat sederhana, namun dekat dengan kehidupan rakyat kecil, dengan bertuliskan sederhana: “Di sinilah beristirahat Bung Karno, penyambung lidah rakyat Indonesia”—walaupun kemudian tidak diwujudkan oleh Presiden Suharto. Hingga akhir hidupnya, seluruh energi dan pikiran Bung Karno didedikasikan untuk rakyat Indonesia dan kemanusiaan.
GMNI sebagai pewaris setia api cita-cita dan pemikiran Bung Karno sangat tepat menerjemahkan sosok Bung Karno dalam moto perjuangan GMNI, yaitu sebagai pejuang pemikir-pemikir pejuang.
“Jikalau aku, misalnya, diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsa.” – Bung Karno
Mewarisi Api Pejuang Pemikir Bung Karno
Sejak tinggal bersama H.O.S. Cokroaminoto, Bung Karno telah menjadikan buku sahabatnya. Di penjara Banceuy, semua petugas penjara yang orang Indonesia selalu memudahkan keinginan Bung Karno dengan mengirimkan berita dan buku yang diminta olehnya. Di penjara Sukamiskin, walaupun tidak diizinkan membaca buku-buku politik, Bung Karno berkesempatan untuk mendalami agama Islam.
Ketika dibuang ke Flores, buku menjadi harta yang dibawa Bung Karno dan istrinya, Inggit Garnasih. Kehidupan Bung Karno selalu ditemani dengan buku-buku. Tidak bisa disangkal lagi bahwa dibalik sumbangan pemikirannya yang produktif, Bung Karno adalah seorang pembaca yang haus.
Sebagai organisasi yang mewarisi ruh pejuang pemikir Bung Karno, setiap kader GMNI secara konsekuen harus menyadari bahwa untuk menjadi pejuang dan pemikir yang solid tidak mungkin dapat menghindar tanggung jawab intelektual yang paling mendasar, yakni membaca, berdiskusi, dan berjuang.
Dengan tradisi intelektual yang konsisten, kader akan terlatih memberdayakan kemampuan intelektualnya, mempunyai ketajaman analisis, memiliki kepekaan terhadap realitas sosial, serta mampu menjadi pejuang progresif. Moto pejuang pemikir-pemikir pejuang adalah identitas yang harus internalisasi dan tercermin dalam diri setiap kader. Sebagai pejuang, kader harus memiliki kesadaran berjuang, keberpihakan ideologis yang nyata, serta keberanian dalam bersikap.
Sebagai pemikir, setiap kader harus sadar akan statusnya sebagai mahasiswa yang wajib menjaga tradisi intelektual secara individual serta mampu berperan aktif dalam menciptakan ruang dan suasana belajar dalam organisasi agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan tumbuh dan berkembang.
Jika GMNI kehilangan tradisi sebagai organisasi pejuang pemikir, ruang organisasi akan kehilangan ruh ideologisnya. Organisasi kaderisasi akan berubah menjadi rekreasi belaka dan GMNI akan kehilangan nilainya sebagai organisasi yang mewarisi semangat pembelajar dan jiwa pejuang progresif revolusioner Bung Karno.
Kaderisasi dan Ideologisasi
Menjadi kader GMNI memikul tanggung jawab yang tidak mudah. Setiap kader dituntut konsisten mengembangkan pemikirannya melalui proses kaderisasi formal GMNI maupun secara pribadi—mampu merawat tradisi intelektual sebagai tanggung jawab ideologis organisasi.
Makna kader dalam GMNI bukan sekedar status formal organisasi, dengan pernah mengikuti PPAB, KTD, serta jenjang kaderisasi lainnya yang hanya cukup dibuktikan dengan sertifikat. Pengertian kader dalam GMNI menitikberatkan pada aspek substansial, yaitu seseorang yang memiliki kapasitas keilmuan, loyalitas pada organisasi, dan konsistensi dalam memegang teguh cita-cita perjuangan.
Dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang cepat dan penuh dengan gangguan, kader dituntut memiliki kemampuan adaptasi yang kuat.
Tidak jarang terjadi, ekspektasi awal kader yang instan ketika masuk GMNI seringkali runtuh berhadapan dengan realitas sulitnya bertahan dalam fokus merawat tradisi intelektual; tradisi pejuang pemikir yang menantang. Tidak sedikit kader yang kehilangan arah dan terpaksa memilih berhenti berorganisasi atau hanya sekedar terlibat dalam kegiatan-kegiatan seremonial organisasi.
Melemahnya tradisi intelektual—membaca, berdiskusi, dan berjuang—dalam organisasi juga berpengaruh pada dinamika dan budaya organisasi secara keseluruhan yang membuat organisasi kehilangan esensinya sebagai kekuatan intelektual pendobrak perubahan.
Kader yang tidak memiliki pondasi Intekektual mumpuni akan kehilangan daya kritis dan pada saat yang sama organisasi akan kehilangan daya gugatnya.
Pada titik ini, iman perjuangan GMNI menjadi lemah dan mudah digoda kekuasaan. Kader tidak lagi mengimani ajaran ideologis organisasi sehingga lahir kader apatis, pragmatis oportunis yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan organisasi.
Di titik ini, GMNI dituntut kritis, kreatif, dan inovatif dalam membaca dan menemukan kembali format kaderisasi yang tepat. Maka dari itu, reformulasi kaderisasi menjadi penting untuk menyusun kembali sistem pengkaderan yang solutif dan adaptif agar setiap kader dapat digembleng secara tepat dan mempu bertahan menjadi pejuang pemikir yang konsisten dan mandiri.
Proses kaderisasi harus diterjemahkan sebagai proses ideologisasi. GMNI sebagai organisasi yang mewarisi semangat perjuangan dan pemikiran Bung Karno secara ideologis ditantang untuk mampu melahirkan “Bung Karno-Bung Karno baru” dari rahim kaderisasi GMNI.
Meneguhkan Identitas Pejuang Pemikir
Konsep pejuang pemikir harus di pandang sebagai tanggung jawab identitas yang melekat dalam diri setiap kader. Membangun identitas pejuang pemikir berarti meneguhkan prinsip serta nilai dasar ideologis organisasi. Dimulai dari langkah kebiasaan sederhana: membaca, berdiskusi—berpihak pada keadilan, menggugat sistem dan struktur kekuasaan yang menindas.
Dengan membangun kebiasaan berbasis kesadaran identitas, kader akan mengidentifikasi diri menjadi sosok pejuang dan pemikir sesuai ajaran ideologis organisasi. Dengan membaca, berdiskusi, dan berjuang secara konsisten, kader mencerminkan identitasnya sebagai pejuang dan pemikir.
Mustahil kader memandang diri sebagai pemikir, tetapi alergi membaca buku, malas berdiskusi. Kader harus mempunyai bukti untuk identitasnya, kebiasaannya harus mencerminkan identitasnya sebagai pejuang dan pemikir.
Proses perubahan dan pembentukan identitas pejuang pemikir memang tidak terjadi dalam sekejap mata. Tidak lahir dari dorongan motivasi sesaat, melainkan dari komitmen dan konsistensi jangka panjang. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, tahun demi tahun, kebiasaan demi kebiasaan.
Komitmen membangun budaya organisasi yang progresif dimungkinkan jika setiap kader mampu menghayati secara mendalam asas dan doktrin perjuangan GMNI serta ruh pejuang pemikir yang menjadi identitas kader dan organisasi. Sehingga moto pejuang pemikir-pemikir pejuang tidak sekedar tampil semata-mata sebatas slogan organisasi, tetapi sebagai identitas kualitas intelektual yang melekat dan tercermin pada diri setiap kader.
Moto pejuang pemikir-pemikir pejuang GMNI merupakan manifestasi dari sosok Bung Karno sebagai pejuang dan pemikir. Maka setiap kader GMNI mestilah insaf maha insaf bahwa sebagai pewaris cita-cita luhur bangsa harus mampu menjadi pejuang dan pemikir yang siap sedia mengabdi untuk rakyat, bangsa dan kemanusiaan.
Merdeka!
Penulis: Erik Risaldi Sibu, Ketua DPC GMNI Halmahera Utara.