By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 25 Maret 2026 | 09:44 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap (Desain Foto: AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist id -:Indonesia kerap dibanggakan sebagai salah satu negara dengan keragaman budaya terbesar di dunia. Lebih dari 1.000 suku bangsa dan ribuan bahasa hidup di bentangan Nusantara. Namun di balik narasi kebanggaan tersebut, tersimpan realitas yang jarang disorot secara jujur: sebagian suku-suku terasing justru tengah bergerak menuju ambang kepunahan, bukan karena faktor alam, melainkan akibat arah pembangunan yang eksploitatif dan tidak berimbang.

Proses ini berlangsung perlahan, sistematis, dan kerap tersamarkan oleh jargon kemajuan. Alih fungsi hutan, ekspansi industri ekstraktif, serta pembangunan infrastruktur skala besar telah mempersempit, bahkan dalam banyak kasus menghilangkan, ruang hidup masyarakat adat. Ketika ruang hidup menyusut, yang tergerus bukan hanya akses ekonomi, tetapi juga sistem pengetahuan, struktur sosial, hingga identitas kultural yang diwariskan lintas generasi.

Data dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara menunjukkan bahwa jutaan hektare wilayah adat hingga kini belum memperoleh pengakuan hukum yang memadai. Sementara Badan Pusat Statistik secara konsisten menempatkan masyarakat adat dalam kelompok paling rentan secara sosial-ekonomi. Fakta ini menegaskan satu hal mendasar: pembangunan tidak pernah netral. Ia selalu menghasilkan pemenang dan pihak yang dikorbankan.

Di tingkat lapangan, tekanan tersebut nyata dan terukur. Komunitas seperti Suku Anak Dalam di Sumatra menghadapi ekspansi perkebunan yang menggerus hutan tempat mereka bergantung. Di Kalimantan, berbagai komunitas Dayak mengalami tekanan serupa akibat penetrasi industri kehutanan dan tambang. Dalam konteks ini, kehilangan hutan bukan sekadar kehilangan ruang fisik, melainkan runtuhnya keseluruhan ekosistem budaya.

Ironisnya, di panggung global, Indonesia justru menampilkan citra keberhasilan pelestarian budaya melalui Bali. Tradisi yang terjaga di tengah modernitas menjadi etalase diplomasi budaya. Namun keberhasilan tersebut sekaligus menyingkap ketimpangan: Bali menjadi pengecualian yang dipromosikan, sementara banyak wilayah lain mengalami erosi budaya tanpa perlindungan yang setara. Indonesia, dalam arti tertentu, sedang membangun “etalase budaya” tanpa memperkuat fondasi kebudayaannya sendiri.

Baca Juga:   Menag Adakan Natal Bersama: Simbol Kecil, Dampak Besar — Asal Jangan Sekadar Panggung Saja

Akar persoalan ini terletak pada paradigma pembangunan yang masih bertumpu pada pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama. Dalam kerangka tersebut, budaya direduksi menjadi komoditas, sementara masyarakat adat diposisikan sebagai objek yang harus menyesuaikan diri dengan agenda pembangunan. Padahal, jika ditarik ke perspektif historis, kekuatan Nusantara justru lahir dari kemampuan mengelola keberagaman sebagai sumber daya strategis.

Pada era Kejayaan Sriwijaya hingga Kejayaan Majapahit, budaya bukan sekadar identitas simbolik, melainkan instrumen geopolitik: memperkuat legitimasi, menjaga stabilitas, dan membangun jejaring kekuasaan lintas wilayah. Mengabaikan budaya dalam pembangunan hari ini berarti melemahkan salah satu pilar utama kekuatan bangsa.

Modernisasi memang tidak terelakkan. Infrastruktur, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi adalah kebutuhan nyata. Namun modernisasi yang tercerabut dari akar budaya hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh, tumbuh cepat, tetapi miskin daya tahan dan arah.

Dalam perspektif Pancasila, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan serius antara nilai dan praktik. Prinsip kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud dalam kebijakan pembangunan, terutama dalam perlindungan masyarakat adat. Ketika kelompok paling rentan terus terpinggirkan, yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan sosial, tetapi juga legitimasi moral negara.

Implikasi dari situasi ini melampaui persoalan sosial semata. Hilangnya masyarakat adat berarti hilangnya pengetahuan ekologis yang telah teruji selama ratusan tahun, meningkatnya kerentanan terhadap krisis lingkungan, serta melemahnya identitas kolektif bangsa. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menggerus ketahanan nasional dan memperlemah posisi Indonesia dalam percaturan global, terutama dalam konteks diplomasi budaya dan kekuatan lunak (soft power).

Karena itu, langkah korektif tidak bisa lagi bersifat parsial. Negara harus secara tegas mengakui dan melindungi wilayah adat, menghentikan ekspansi yang merusak ruang hidup, serta memastikan keterlibatan masyarakat adat sebagai subjek dalam setiap proses pengambilan kebijakan. Lebih dari itu, pembangunan perlu diredefinisi, tidak hanya berbasis pertumbuhan, tetapi juga berbasis keberlanjutan budaya.

Baca Juga:   Brave Pink, Hero Green, dan SEAbling

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar isu kebijakan, melainkan penentuan arah peradaban.

Apakah Indonesia akan terus mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan jati dirinya? Ataukah mampu merumuskan model pembangunan yang maju tanpa tercerabut dari akar budaya?

Jika kepunahan suku-suku terasing terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya komunitas kecil di pelosok negeri. Yang hilang adalah cara kita memahami dunia, menjaga keseimbangan dengan alam, dan pada akhirnya, memahami diri kita sebagai bangsa.

Sebab sebuah bangsa tidak runtuh hanya ketika wilayahnya hilang, tetapi ketika identitasnya perlahan menghilang, tanpa disadari, tanpa dilawan, dan tanpa pernah benar-benar diakui sebagai kehilangan.***


Penulis: Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Selasa, 21 April 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi Gambar tentang "Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan" karya Noufal Hanif (Desain AI)/MARHAENIST.
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Selasa, 21 April 2026 | 20:10 WIB
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Selasa, 21 April 2026 | 10:25 WIB
Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Kampus Kelola Tambang, GMNI Jatim: Ancam Tujuan Utama Pendidikan

Marhenist.id, Surabaya - Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI)…

Inspirasi Juang Makmurkan Marhaen Indonesia: Terapkan Pajak Harta Bukan Naikkan PPN

Marhaenist.id - Salah satu tujuan utama diterapkan pajak oleh negara adalah untuk keadilan.…

Alumni GMNI Pemalang Hadiri Acara Ziarah Makam Bung Karno Dengan Khidmat

Marhaenist - Puluhan alumni dan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten…

Gelar Aksi Peringati Hari Sumpah Pemuda, DPK GMNI FISIP UHO Ajak Pemuda Teguhkan Nilai Kebangsaan dalam Sumpah Pemuda 1928

Marhaenist.id, Kendari -  Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Dewan Pimpinan…

Tanamkan Nilai Marhaenisme pada Peserta Baru, GMNI Touna Sukses Gelar PPAB Ke 7

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Soroti Kasus Korupsi Pembebasan Lahan Pasar, GMNI Mamasa Desak Kejati Sulbar Segera Tetapkan Tersangkanya

Marhaenist.id, Mamasa - Terkait dengan kasus korupsi pembebasan lahan Pasar Mamasa, pihak…

Ahmad Yandi Khadafi: Hakim Tak Boleh Jadi Alat Kekuasaan: Wujudkan Asas Keadilan, Bebaskan Hasto!

Tangerang, Marhaenist.id - Proses hukum terhadap Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, kini…

Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis

Marhaenist.id - Viralnya pengadaan sejumlah barang dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)…

GMNI Jakarta Selatan

GMNI Jaksel Desak Transparansi: Bareskrim Harus Buka Hasil Pemeriksaan Dugaan Korupsi Direksi PT ATPI ke Publik

Marhaenist, Jakarta - Korupsi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?