By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Guncangan Ontologis Bangsa dan Krisis Kepercayaan pada Negara Hukum
Berangkat dari Keterusiran Kaum Marhaen, Disitulah Jiwa Sang Pejuang Benar-Benar Diuji
Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelHistorical

Antara Tan Malaka, Komunis, dan Islam

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 27 Januari 2025 | 20:39 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Tan Malaka, Tokoh Pergerakan Kemerdekaan Indonesia/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dibandingkan dengan tokoh-tokoh bangsa yang telah mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, nama Tan Malaka memang kalah populer di mata masyarakat. Namun bagi yang mengikuti sejarah ideologi revolusioner, Tan Malaka adalah nama yang terlalu penting untuk dilupakan. Tan Malaka merupakan tokoh yang pertama menulis gagasan berdirinya Republik Indonesia, mendahului Bung Hatta maupun Bung Karno, melalui bukunya yang berjudul “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925.

Perjuangan politik Tan Malaka lebih diwarnai pembangkangan terhadap penguasa. Kehidupannya bahkan lebih dikenal dari penjara ke penjara. Ketika jaman kolonialisme Belanda, ia harus mendekam di penjara. Ketika Jepang berkuasa, ia dipenjara. Bahkan ketika Indonesia merdeka pun, ia dipenjara. Ia selalu menjadi pembangkang penguasa. Perjuangannya tidak diakhiri dengan suatu jabatan publik. Bahkan ketika mati pun, Tan Malaka harus menjadi nama yang terpenjara.

Banyak di antara kita yang mempertanyakan, benarkah Tan Malaka seorang komunis? Jika ditinjau dari latar belakang keluarganya, sebenarnya ia dilahirkan dari keluarga yang sangat agamis. Dan pengetahuannya tentang Islam cukup luas dan dalam. Dalam sejarahnya kemudian, Tan Malaka memang terlibat dalam pendirian Partai Komunis Indonesia. Tan Malaka juga merupakan tokoh Indonesia yang sangat dikenal di komunitas komunisme internasional (Komintern). Bahkan dalam kongres Komintern bulan November 1922 di Moskow, Tan Malaka didaulat untuk berpidato sebagai wakil dari Indonesia. Selanjutnya ia ditunjuk sebagai wakil Komintern untuk wilayah Asia Tenggara.

Namun perjalanan intelektualnya yang pernah membawanya berguru pada HOS Tjokroaminoto sebagai pemimpin Sarekat Islam, ikut mewarnai pemikirannya sebagai seorang Marxist yang berwarna Islam. Di antara banyak penganut Marxist atau komunis yang cenderung memusuhi agama, Tan Malaka memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama, khususnya Islam. Ia tidak melihat agama sebagai candu masyarakat, sebagaimana diucapkan oleh Karl Marx. Sebaliknya, Tan Malaka acapkali menunjukkan bahwa komunisme dapat berjalan beriringan dengan Islam. Bahkan ia mengatakan bahwa gerakan komunisme tidak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tidak bekerja sama dengan Pan Islamisme. Akibatnya, karena pandangan ini, ia berseberangan dengan banyak tokoh komunis, termasuk dengan tokoh komunis di Indonesia.

Baca Juga:   Aristoteles: Kegagalan adalah Pelajaran, Tetapi Menyerah adalah Kekalahan Sejati

Menurut sejarahwan Anhar Gonggong, Tan Malaka adalah tokoh yang dekat dengan Tjokroaminoto. Tan Malaka memiliki keyakinan yang sama bahwa Islam adalah potensi besar untuk membawa kaum bumiputra menuju kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan pembentukan SI “merah” oleh Tan Malaka, karena ia tidak ingin Islam dipertentangkan dengan komunisme. Karena pemikirannya ini, dan juga ketidaksepahamannya untuk melakukan revolusi PKI tahun 1926 menyebabkannya harus didepak dari PKI.***


Diadaptasi dari Buku “Tokoh-tokoh Dunia yang Besar Setelah Dipenjara” karangan Radis Bastian & Balqis Khayyirah.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Guncangan Ontologis Bangsa dan Krisis Kepercayaan pada Negara Hukum
Kamis, 14 Mei 2026 | 21:29 WIB
Berangkat dari Keterusiran Kaum Marhaen, Disitulah Jiwa Sang Pejuang Benar-Benar Diuji
Kamis, 14 Mei 2026 | 11:06 WIB
Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
Rabu, 13 Mei 2026 | 15:49 WIB
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
Rabu, 13 Mei 2026 | 14:23 WIB
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Megawati Pertanyakan Kasus Penyiraman Air Keras Andrei Yunus: Mengapa Masuk Pengadilan Militer?

Marhaenist.id, Jakarta - Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI…

Program PKPA Beasiswa Peradi Utama Berlanjut, 140 Kader Ikuti Pertemuan Keempat dengan Materi Tata Acara Pengadilan Pidana

Marhaenist.id, Jakarta — Program PKPA Beasiswa PKPA Peradi Utama bagi 2.000 kader…

GMNI Universitas Jakarta dan Alumni Kuatkan Semangat Perjuangan di Bulan Ramadhan

Marhaenist.id, Jakarta - Buka bersama yang digelar oleh lintas komisariat GMNI FISIP, Teknik,…

GMNI Tidak Harus Anti Kepada Seseorang Yang Mau Berbuat Baik dan Mau Bersama GMNI

Marhaenist.id - Saya menambahkan beberapa hal dari tulisan "GMNI WAJIB TOLAK KADER…

Bawaslu: Pengawas Pemilu atau Mitos Demokrasi?

Marhaenist.id-Seperti halnya urban legend yang sering terdengar kuat di permukaan tetapi sulit…

Komitmen Pemerintah Jaga Netralitas ASN Saat Pemilu dan Pilkada

Marhaenist - Penandatanganan keputusan bersama netralitas pegawai aparatus sipil negara (ASN) menunjukkan…

Iran Ajukan Proposal Kontroversial di Islamabad, Pengamat: Tatanan Maritim Dunia Sedang Didefinisikan Ulang

Marhaenist.id, Jakarta – Proposal 10 poin yang diajukan Iran kepada Amerika Serikat dalam…

Sarinah dan Ruang yang Masih Kita Cari

Marhaenist.id - Setiap 8 Maret dunia memperingati International Women’s Day. Di banyak…

Marhaenisme Dipersoalkan, Bayu Sasongko: Masalah Kita Bukan Ideologi, Tapi Cara Membaca Diri Sendiri

Marhaenist.id, Bandung — Perdebatan mengenai Marhaenisme sebagai ideologi asli Indonesia kembali mengemuka.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?