By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Negara Hukum Indonesia Bukan Negara Undang-Undang
Marhaenist.id dan Segelas Kopi: Pengabdian Tanpa Batas
DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di Kantor Pusat Panin Bank, Soroti Dugaan Perampasan Hak Debitur
Nusantara dan Krisis Peradaban Modern
DPC GMNI Jember Soroti Keretakan Internal DPD GMNI Jawa Timur dalam Polemik Misi Dagang Pemprov Jatim

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Internasionale

AS-Rusia dan Metamorfosis Perang Dingin

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 7 Maret 2025 | 14:37 WIB
Bagikan
Waktu Baca 9 Menit
Foto: Helem Tempur dengan gambar bendera AS dan China (Sumber foto: Media Indonesia)/MARHAENIST.
Bagikan

“Sejarah mencatat, Perang Dingin AS vs Uni Soviet dulu dimenangkan oleh AS. Kini, Perang Dingin itu bermetamorfosis dalam bentuk persaingan AS vs Tiongkok. Siapa yang bakal jadi pemenang, masih belum jelas. Namun, satu hal yang sudah jelas: rapproachement AS-Rusia di Riyadh ialah bagian dari upaya AS untuk memenangi persaingan itu. Sejarah yang akan mencatat”

Marhaenist.id – Suka tidak suka, apa pun yang dilakukan oleh AS dalam politik internasional selalu menarik perhatian dunia. Itu jugayang terjadi ketika Menlu AS Marco Rubio bertemu dengan Menlu Rusia SergeyLavrov di Riyadh, Saudi Arabia, 18 Februari lalu. Dimediasi oleh Pangeran Mohammad bin Salman, putra mahkota Kerajaan Saudi Arabia, pertemuan itu diniatkan untuk menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung tiga tahun.

Yang membetot perhatian dunia sejatinya bukanlah inisiatif Pangeran Salman untuk perdamaian Rusia-Ukraina itu sendiri. Namun, lebih pada fakta, bahwa pertemuan awal menuju perdamaian itu tidak dihadiri oleh Ukraina, pihak yang sedang bertikai dengan Rusia. Justru karena ketidakhadiran Ukraina, inisiatif Pangeran Salman itu memantik ramifikasi permasalahan yang tidak sederhana terhadap konflik Rusia-Ukraina.

Dunia mencatat, inilah pertemuan pertama antara kedua menlu setelah Presiden Donald Trump dilantik sebagai Presiden AS. Lantas, bagaimana memaknai pendekatan kembali antara AS dan Rusia dalam konteks konflik Rusia-Ukraina? Setidaknya ada dua alas pijak dalam memetakan lansekap konflik itu, yaitu geopolitik Eropa dan rivalitas AS-Tiongkok di panggung politik dunia.

Pertama, dipindai dari geopolitik Eropa, manuver AS yang tetiba membahas perdamaian Rusia-Ukraina tanpa melibatkan Ukraina jelas membuat Uni Eropa (UE) kawasan yang paling terimbas perang Rusia-Ukraina–kurang berkenan. Bisa dimaklumi karena dalam perspektif geopolitik Eropa, UE sangat berkepentingan agar Ukraina masuk dalam orbit kepentingan politik dan keamanan Eropa.

Itu untuk mengatakan bahwa UE ingin Ukraina bisa menjadi anggota NATO, untuk kemudian menjadi anggota UE. Namun, justru keanggotaan Ukraina di NATO itulah yang menjadi pemicu Rusia menginvasi Ukraina dan menduduki lima negara bagian Ukraina Timur
dekat perbatasan Rusia-Ukraina. Setidaknya begitulah pretext yang digunakan Rusia untuk menjustifikasi tindakannya yang melanggar kedaulatan Ukraina.

Baca Juga:   Genosida Bangsa Palestina Terus Berlanjut, PM Israel: Ini Baru Permulaan, Kami akan terus Gempur Gaza Tanpa Ampun

Sejak perang meletus pada Februari 2022, persepsi publik mengatakan UE solid mendukung Ukraina menahan gempuran Rusia. Namun, nyatanya UE tidak kompak-kompak amat. Beberapa anggotanya tidak sepenuh hati mendukung kebijakan UE membantu Ukraina bertahan dari serangan Rusia. Hongaria dan Slovakia, misalnya, seperti gamang untuk mendukung penuh kebijakan UE membantu Ukraina.

Bisa dimengerti karena jika perang terbuka berlangsung lama, kedua negara itu yang paling terdampak sebab secara geografis mereka berbatasan langsung dengan Ukraina. Selain dua negara itu, beberapa anggota UE, terutama Jerman dan Italia, masih sangat tergantung pada suplai gas dari Rusia.

Sebelum perang, ketergantungan kedua negara itu pada gas Rusia berkisar antara 40%-50% dari kebutuhan domestik mereka. Meski setelah perang hampir semua anggota UE menurunkan impor gasnya dari Rusia, tetap saja beberapa anggota UE, terutama negara bekas sosialis-komunis, membutuhkan gas dari Rusia. Ketergantungan pada gas Rusia dan posisi geografis beberapa negara UE menjadi faktor penting dalam soliditas sikap UE terhadap perang Rusia-Ukraina.

Tidak solidnya posisi UE terhadap perang Rusia-Ukraina tentu diintip AS dengan saksama. Faktor itu pula yang menjadi basis kalkulasi AS untuk mengadakan rapproachement kepada Rusia di Riyadh. Ukraina mampu bertahan hingga hari ini tak lain karena dukungan tiga pihak: AS, UE, dan NATO.

Dari trio kekuatan penyangga Ukraina itu, AS ialah pemain utamanya. Bisa dipahami bahwa perubahan posisi AS yang mendekat ke Rusia akan mengubah imbangan geopolitik di Eropa. Pendekatan AS ke Rusia itu jelas memperlemah posisi Ukraina. Namun, justru itu yang diinginkan AS sebab dengan melemahnya dukungan untuk Ukraina akibat berubahnya sikap AS yang berpihak ke Rusia, perang Rusia-Ukraina bisa lebih cepat berakhir. Itu menjadi pertanyaan: mengapa AS ingin perang Rusia-Ukraina segera diselesaikan? Pertanyaan tersebut membawa pada pokok bahasan kedua tulisan ini.

Kedua, bagaimana implikasi pendekatan AS-Rusia terhadap rivalitas AS-Tiongkok dipanggung politik dunia? Seorang pengamat Tiongkok dan Eropa Timur, Reid Standish, dalam artikelnya di RFE (Radio Free Europe) mengatakan AS memprioritaskan kebijakan
‘membendung Tiongkok’ dalam politik luar negerinya. Kawasan Eropa dan Timur Tengah tidak akan menjadi prioritas lagi. Itu dilakukan karena AS ingin fokus di kawasan Asia-Pasifik untuk menghadang Tiongkok.

Baca Juga:   Kemenangan Rakyat dan Ganja di Thailand

Upaya AS dan sekutunya untuk membendung Tiongkok di Asia-Pasifik sangat kasatmata. Untuk tidak menyebut semuanya, pembentukan aliansi AUKUS, pembukaan kantor penghubung NATO di Tokyo dan kerja sama militer trilateral AS-Jepang-Filipina dinilai banyak pengamat sebagai bagian dari strategi geopolitik AS untuk menahan gerak laju pengaruh Tiongkok di Asia-Pasifik, utamanya di Laut China Selatan
dan Selat Taiwan. Apabila AS berhasil merangkul Rusia dan mengendurkan dukungannya kepada UE dan NATO, perang Rusia-Ukraina bisa cepat selesai. Selesainya perang Rusia-Ukraina memungkinkan AS fokus menghadapi Tiongkok di Asia-Pasifik.

Media internasional mewartakan, seusai pertemuan Menlu AS dan Menlu Rusia di Riyadh, kedua pemimpin sepakat membentuk tim teknis untuk membicarakan modalitas perdamaian Rusia-Ukraina. Pertemuan kedua menlu akan dilanjutkan pada tingkat lebih tinggi: pertemuan Trump dan Putin. Rencana pertemuan Trump-Putin mengungkit memori kolektif dunia tentang kunjungan Presiden Nixon ke Beijing 1972. Saat itu dunia masih dihantui Perang Dingin antara blok Liberal-Kapitalis dibawah AS dan blok Sosialis-Komunis di bawah Uni Soviet. Tiongkok secara ideologis lebih dekat ke blok Uni Soviet.

Kunjungan Nixon ke Beijing saat itu telah mengubah peta persaingan antara blok kapitalis dan blok komunis. Dalam suasana Perang Dingin saat itu, AS tentu berkepentingan untuk menjauhkan Tiongkok dari Uni Soviet. Benar saja, setelah kunjungan Nixon yang bersejarah itu, Tiongkok menjadi dekat dengan AS, memberi tambahan leverage politik bagi AS dalam berhadapan dengan Uni Soviet.

Suasana Perang Dingin AS vs Uni Soviet kini seolah menjelma kembali dalam bentuk lain: bermetamorfosis dalam bentuk persaingan antara AS vs Tiongkok. Meski tak sekeras Perang Dingin AS-Uni Soviet dulu, nuansa persaingan AS-Tiongkok sudah mewujud dalam berbagai bidang. Dalam geostrategi membendung Tiongkok, AS mengajak sekutunya di Asia-Pasifik (Australia dan Jepang) untuk membentuk aliansi dan kerja sama militer. Di bidang perdagangan, kedua negara terlibat saling ancam perang dagang.

Baca Juga:   Rakyat Venezuela dan Revolusi Bolivarian

Dalam kerja sama minilateral, Tiongkok melalui BRICS berupaya mengurangi penggunaan dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Ketika dunia dilanda pandemi pada 2019, persaingan kedua kekuatan dunia itu juga mengemuka. Kedua negara saling tuduh tentang asal muasal virus covid-19 yang mematikan itu. Bahkan, Tiongkok melalui media internasional mengumumkan pada dunia bahwa mereka sukses mengalahkan virus celaka itu hanya dalam waktu tiga bulan.

Tak hanya itu. Ketika banyak negara gamang memerangi virus, Tiongkok justru membanggakan sistem politik partai tunggalnya yang berbasis sosialisme-ekonomi terbuka (sering dirujuk dengan terma socialist state-capitalism): Tiongkok berhasil mengalahkan covid-19 dengan cara yang padu, kuat, efektif, dan efisien. Narasi itu seolah ingin memperhadapkan sistem politik partai tunggal yang diklaim efektif dan efisien dengan demokrasi liberal-kapitalis Barat yang dinilai lamban, gaduh, dan panik dalam pengambilan keputusan.

Pada titik itu, terlihat rivalitas AS vs Tiongkok tidak hanya di bidang politik, ekonomi, dan militer. Lebih serius dari itu, rivalitas AS vs Tiongkok juga merambah ke persaingan ideologis. Persis seperti terjadi pada saat Perang Dingin AS vs Uni Soviet dulu. Sangat dimaklumi bahwa tujuan akhir dari persaingan dua kekuatan ialah memenangkan pertarungan itu.

Sejarah mencatat, Perang Dingin AS vs Uni Soviet dulu dimenangkan oleh AS. Kini, Perang Dingin itu bermetamorfosis dalam bentuk persaingan AS vs Tiongkok. Siapa yang bakal jadi pemenang, masih belum jelas. Namun, satu hal yang sudah jelas: rapproachement AS-Rusia di Riyadh ialah bagian dari upaya AS untuk memenangi persaingan itu. Sejarah yang akan mencatat.***


Penulis: Darmansjah Djumala, Dosen Hubungan Internasional FISIP Unpad, Duta Besar RI untuk Austria dan PBB di Wina periode 2017-2021, Alumni GMNI.

Disclaimerl: Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan di Media Indonesia.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M. S. (Foto: Sang)/MARHAENIST.
Negara Hukum Indonesia Bukan Negara Undang-Undang
Jumat, 8 Mei 2026 | 20:07 WIB
Marhaenist.id dan Segelas Kopi: Pengabdian Tanpa Batas
Jumat, 8 Mei 2026 | 16:29 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Aksi di Kantor Pusat Panin Bank, Soroti Dugaan Perampasan Hak Debitur
Jumat, 8 Mei 2026 | 14:42 WIB
Nusantara dan Krisis Peradaban Modern
Jumat, 8 Mei 2026 | 14:39 WIB
Skuad DPD GMNI Jawa Timur (Foto: Mochammad Faizin)/MARHAENIST.
DPC GMNI Jember Soroti Keretakan Internal DPD GMNI Jawa Timur dalam Polemik Misi Dagang Pemprov Jatim
Jumat, 8 Mei 2026 | 01:23 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Sambut Pemimpin Baru, GMNI PPU Lakukan Evaluasi sebagai Kado Disektor Krusial

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Dalam rangka menyambutnya Bupati dan Wakil Bupati,…

Ironi di Kawasan HTI RAPP: GMNI Temukan Sekolah Beralas Pasir dan Lansia Terabaikan Fasilitas Kesehatan di Kampar Kiri

Marhaenist.id, Kampar — Akses jalan yang memprihatinkan dan fasilitas pendidikan yang jauh…

Jadi Pembicara Diskusi yang Digelar PA GMNI Jakarta Raya, Soni Sumarsono: Kota Global Harus Punya Ideologi Keadilan Sosial

Marhaenist.id, Jakarta - Penjabat Gubernur DKI Jakarta periode 2016–2017, Soni Sumarsono, menegaskan…

Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 Mengubah Sistem Pemilu Kita

Marhaenist.id - Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 telah mengubah sistem pemilu kita dengan memisahkan…

Masoud Pezeshkian Seorang Reformis Iran Jadi Pengganti Ebrahim Raisi

Marhaenist.id - Kementerian Dalam Negeri Iran mengumumkan pada Sabtu (06/07/2024) bahwa kandidat…

DPD GMNI Sulbar Kecam Keras Insiden Rantis Brimob Lindas Pengemudi Ojol

Marhaenist.id, Mamuju - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Diduga Tak Terima Ditanyakan Soal Komitmen Persatuan, Imanuel Cahyadi Bawah Lari Palu Sidang Saat Kongres hingga Berakhir Ricuh

Marhaenist.id, Bandung — Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ke XXII versi…

Mahfud MD: 62 Persen Kepala Daerah Terlibat Korupsi

Marhaenist.id, Jakarta- Mantan Menkopolhukam Mahfud MD mengharapkan, Pilkada Serentak 2024 dapat melahirkan…

Hendak Sampaikan Aspirasi Ke Wapres, Seorang Aktifis Mahasiswa di Kendari Babak Belur Dibogem Aparat Keamanan

Marhaenist.id, Kendari - Rimon Fatrah Negara atau yang akrab dipanggil Rifat, seorang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?