Marhaenist.id, Jakarta – Buka bersama yang digelar oleh lintas komisariat GMNI FISIP, Teknik, FIA dan Hukum Universitas Jakarta (UNIJA) bersama para alumni kali ini diadakan di Sekretariat DPP PA GMNI, Cikini 69, Menteng, Jakarta Pusat, (24/03/2025) sekaligus untuk memperingati Dies Natalis GMNI ke 71, acara dengan tagline Saka Merah Putih, dijadikan sebagai moment silaturahmi dengan semangat perjuangan antara kader aktif dan lintas alumni UNIJA tahun ini mengarah kepada keprihatinan akan situasi dan kondisi kebangsaan yang sedang berada dititik nadir seperti saat ini.
Tradisi berbuka puasa di bulan Ramadhan bukan hanya menjadi momen untuk mempererat silaturahmi antar kader dan alumni, tetapi juga untuk meneguhkan rasa persatuan dan meningkatkan semangat nasionalisme juga sebagai bulan muhasabah dalam gerakan.
Buka bersama juga turut dihadiri oleh perwakilan dari DPP GMNI, DPC GMNI Jakarta Timur, DPD GMNI Jakarta dan DPP PA GMNI juga DPD PA GMNI Jakarta juga membahas refleksi kebangsaan. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi DPP PA GMNI, Ugik Kurniadi yang juga merupakan alumni GMNI UNIJA dan juga mantan Sekjen PA GMNI menyampaikan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai organisasi, kebangsaan dan nasionalisme di tengah kondisi Indonesia yang sedang tidak menentu.
“Melalui penguatan organisasi dan mentaati nilai-nilai marhaenisme yang menjadi dasar perjuangan, menjadi kewajiban bagi setiap kader maupun alumni untuk lebih aktif berpartisipasi dalam mengawal jalannya demokrasi, kader harus bisa menjadi guidens bagi masyarakat yang masih belum aware dengan kondisi perubahan ekonomi, sosial, budaya dan politik, ” kata Ugik.
Selain itu, dalam acara yang dihadiri oleh lintas komisariat, berbagai alumni turut mengingatkan akan pentingnya gotong royong dalam membangun bangsa melaui perjuangan yang konkrit, baik membangun jaringan disegala sektor dan memanfaatkan resources untuk mendukung perjuangan. Kader dari berbagai komisariat pun turut menyampaikan pesan-pesan tentang konsolidasi untuk saling menguatkan jalan perjuangan, bagaimana kekuatan harus disatukan untuk memperjuangan rakyat yang terkena dampak dari fluktuasi politik dan kebijakan pemerintah saat ini yang hanya banyak menguntungkan kelompok, golongan maupun cirle penguasa dan oligarki.

Selama acara buka bersama, para peserta juga berkesempatan berdiskusi mengenai berbagai isu kebangsaan, seperti perlunya memperkuat pendidikan karakter dan kebangsaan di kalangan generasi muda, serta pentingnya menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) melalui semangat persatuan yang berbasis pada Marhaenisme, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
“Setiap individu marhaenis memiliki kewajiban peran dalam membangun bangsa, baik melalui dunia pergerakan, pendidikan, pekerjaan, maupun dalam menjaga lingkungan dan budaya,” ungkap Muhammad Agil, yang merupakan kader GMNI UNIJA juga Ketua DPC GMNI Jakarta Timur.
Buka bersama ini menegaskan bahwa dalam setiap dinamika maupun dialektika antara kader, persatuan dan kesatuan gerakan adalah hal yang paling utama. Momen berbuka yang penuh kehangatan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh kader GMNI untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, keberagaman, menjaga kerukunan, serta bersama-sama membangun Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.
“Melalui silaturahmi ini, diharapkan semua kader semakin sadar akan pentingnya perjuangan, memelihara nilai-nilai marhaenisme, kebangsaan dan ikut serta aktif dalam membangun negara dengan semangat yang positif dan memberikan solusi-solusi yang konstruktif dan berkemajuan,” kata Ario Sanjaya yang juga Ketua DPD PA GMNI Jakarta.
“Semoga semangat marhaenisme ini terus menguat, bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang tahun, demi Indonesia yang lebih baik, agar Indonesia keluar dari kegelapan, demi rakyat yang semakin tertindas oleh pemerintahnya sendiri, kita harus terus bergerak kedepan memperjuangkan hak-hak mereka,” tegas Firman Tendry, alumni GMNI UNIJA yang juga merupakan lawyer dan mantan aktivis 98.
Banyak gerakan marhaenis mengalami kesulitan di lapangan, seringkali bertemu dengan penindasan dari pemerintah, ketidaksepakatan dalam strategi maupun politik, serta kekuatan eksternal yang mencoba mempertahankan status quo maupun banyaknya pihak oportunis dan para penikmat politik praktis yang tidak berpihak pada mereka yang tertindas.
“Kader marhaenis selalu berada di garis depan dalam memperjuangkan kebebasan berpendapat dan demokrasi. Mereka terlibat dalam aksi-aksi protes untuk menuntut transparansi pemerintah, kebebasan berekspresi, dan penguatan institusi demokrasi dan mengembalikan lagi konstitusi yang sudah diacak-acak. Misalnya, gerakan mahasiswa yang terjadi saat ini, yaitu menetang UU TNI, yang menuntut pembaharuan politik atau penurunan kekuasaan yang dianggap otoriter, GMNI harus ikut berperan aktif mengawal dan berjuang untuk itu semua,” tegas Koeshondo W. Widjojo.
Acara buka bersama ini diharapkan dapat menjadi langkah positif dalam mempererat hubungan antar kader, meningkatkan semangat perjuangan, dan memperkuat semangat kebangsaan di tengah-tengah iklim politik yang sedang memanas hari ini.***
Penulis: Redaksi/Editor: Redaksi.