By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Megawati Institute: Temuan KPF adalah Alarm Demokrasi. Pemerintah Perlu Segera Melakukan Investigasi Independen dan Terbuka

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNIOpini

GMNI, Marhaen, dan Kebangkitan yang tak Kunjung Datang

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 7 Desember 2025 | 14:27 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Aktivis 98/Alumni GMNI (Sumber: Radar Aktual)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah negeri yang tenggelam dalam lumpur korupsi, oligarki ekonomi, pembusukan hukum, dan kepengecutan moral politik, nama Marhaen terus diteriakkan. GMNI terus berbaris, membawa panji merah, memekikkan yel-yel revolusioner, mengutip Bung Karno pada setiap forum, diskusi, dan perayaan Dies Natalis. Namun satu ironi yang tak terhindarkan berdiri seperti tugu batu: Marhaen dan GMNI tak pernah benar-benar menang.

Mereka berteriak revolusi, tetapi menjadi penonton paling setia pada drama pengkhianatan terhadap rakyat. Mereka mengutuk neoliberalisme, tetapi antri menunggu beasiswa, proyek, jabatan staf ahli, dan upacara foto bersama pejabat. Mereka menyerukan berdiri di pihak rakyat kecil, tetapi mabuk panggung politik dan lupa kepada kaum Marhaen yang menjadi nama dari ideologi itu sendiri. Mereka memuja Bung Karno, tapi lupa ajaran paling keras Sang Proklamator:

“Jangan jadi tukang pidato di atas penderitaan rakyat. Jadi pelaksana revolusi, bukan penghafal teori.”

Kekalahan Yang Diulang: GMNI Dalam Cermin Sejarah

Sejak dilahirkan tahun 1954, GMNI dimaksudkan sebagai kawah candradimuka ideologis untuk membentuk kader-kader pejuang Marhaenisme: berpihak pada kaum kecil, menjadi motor revolusi sosial, berdiri melawan feodalisme, kolonialisme baru, dan kapitalisme yang merampok martabat manusia. Namun perjalanan sejarah menunjukkan pola kekalahan yang stagnan dan memalukan:

Dibajak kepentingan kekuasaan elektoral.

Pecah menjadi faksi-faksi kecil tanpa visi.

Menjadi penonton politik, bukan pelaku perubahan.

Mengganti kerja ideologis dengan kontes jabatan organisasi dan foto resmi dengan pejabat negara.

Mereka tak pernah kalah karena lawan terlalu kuat—mereka kalah karena hati mereka terlalu kecil, dan keberanian mereka terlalu tipis.

Satire Pahit Bung Karno Jika Ia Menyaksikan GMNI Hari Ini

Seandainya Bung Karno hidup hari ini, ia mungkin akan menepuk meja dan berkata:

Baca Juga:   Fadli Zon dan Sikap Anti Kritik

“Hei kalian yang mengaku Marhaenis tapi hidup sebagai birokrat kampus! Di mana tangan kalian ketika sawah dirampas? Di mana kaki kalian ketika rakyat dipukul? Di mana suara kalian ketika hukum dijadikan dagangan?”

Ia mungkin akan menyindir keras, bahwa GMNI hari ini tidak lebih dari teater romantik ideologi: pandai mengutip teks Di Bawah Bendera Revolusi, tetapi gagap menghadapi realitas material rakyat yang miskin, tergusur, dan ditindas.

Mereka mengidolakan Marhaen sebagai simbol, tetapi tidak pernah turun ke desa melihat siapa Marhaen itu.

GMNI dan Marhaenisme Hari Ini

Sementara itu, Indonesia hari ini berubah menjadi republik oligarki:

Tanah rakyat disulap menjadi konsesi tambang oleh segelintir keluarga kaya.

Hukum menjadi alat pemukul bagi kritikus dan penjahat justru tertawa di istana.

Partai politik menjelma bazaar licit yang menjual ideologi demi kursi.

Demokrasi berubah menjadi panggung komoditas.

Dan di tengah tragedi nasional ini, GMNI kehilangan fungsi historisnya—senjata ideologis Marhaenisme tergeletak berkarat di gudang museum.

Manifesto Strategis Gerakan Marhaenis Baru

Kini saatnya menyatakan dengan brutal dan tanpa basa-basi: GMNI harus dibongkar, diretas, dan dibangun ulang sebagai gerakan ideologis kelas, bukan ornamen politik kampus.

Lima Garis Strategis Kebangkitan Gerakan Marhaenis

Kesatu. Rebut kembali garis ideologi: hentikan romantisme teks; bangun teori praksis dan pendidikan politik kelas.

Kedua. Turun ke rakyat, bukan podium: jadikan desa, pabrik, kampung nelayan, buruh, tani, dan pengangguran sebagai sekolah perjuangan.

Ketiga. Perang total terhadap oligarki: lawan kepemilikan tunggal atas tanah, tambang, dan alat produksi.

Keempat. Bangun front politik alternatif: persatukan gerakan kiri, mahasiswa progresif, dan kekuatan rakyat tertindas.

Kelima. Hidup sederhana, berdisiplin, militan: berhenti menjadi aktivis pencari fasilitas.

Baca Juga:   Pentingnya Keterwakilan Unsur Mahasiswa Didalam Satgas PPKS Unpam

Seruan Kebangkitan

Indonesia tidak membutuhkan kader yang pandai berfoto, pandai berpidato, dan pandai memberi slogan. Indonesia membutuhkan tangan yang berani berlumpur keringat dan darah demi rakyat.

Jika GMNI tidak bangkit menjadi kekuatan ideologis yang memimpin perjuangan kelas Marhaen, maka sejarah akan menguburnya sebagai organisasi museum—mati tanpa dimakamkan.

“Jadilah api yang membakar ketidakadilan, bukan lilin kecil yang meleleh untuk menerangi wajah sendiri.” — Bung Karno.

Maka bangkitlah—atau enyah dari panggung sejarah!

Hidup Marhaenis!
Hidup Revolusi!
Hidup Rakyat!

(Sebuah Kritik Reflektif Ideologis atas kekalahan yang diulang-ulang).***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB
Megawati Institute: Temuan KPF adalah Alarm Demokrasi. Pemerintah Perlu Segera Melakukan Investigasi Independen dan Terbuka
Jumat, 20 Februari 2026 | 13:15 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI

Marhaenist.id - Lanjutan dari postingan sebelumnya dengan judul Cara Melakuan Registrasi Data…

Mengawal Pemilihan Kepala Daerah Dengan Keterbukaan Informasi Publik

  Marhaenist.id - Hak untuk memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dalam…

Marhaenisme, Marhaen dan Kita

Marhaenist.id - Banyak fenomena ganjil yang terjadi diantara kita. Terutama tentang Marhaenisme.…

Lebaran di Tengah Cobaan: Menggali Makna Tahan Menderita dari Pesan Bung Karno

Marhaenist.id - Lebaran tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita mungkin…

Akar Desa Indonesia Sayangkan Debat Cawapres Jadi Panggung Sindiran dan Minim Solusi Permasalahan Desa

Marhaenist.id, Jakarta - Debat kandidat calon wakil presiden yang kedua menjadi ujian kelayakan bagi…

Konferda PA GMNI Sumbar Digelar di Bukittinggi, Ini Alasannya

Marhaenist - Konferensi daerah (Konferda) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Soekarno Dalam Berbagai Kurun Perjalanan Waktu

Marhaenist - Ir. Soekarno adalah orang pertama yang mencetuskan konsep Pancasila sebagai…

Rekonstruksi Amanat Marhaen, GMNI Menggugat Para Pimpinan MBD

Marhaenist.id - Momentum pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di…

Mahasiswa Salatiga Bergerak, Kawal Putusan Mahkamah Konstitusi

Marhaenist.id, Salatiga - Berbagai unsur gerakan mahasiswa di Kota Salatiga, yang tergabung…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?