Marhaenist.id – Di tengah negeri yang tenggelam dalam lumpur korupsi, oligarki ekonomi, pembusukan hukum, dan kepengecutan moral politik, nama Marhaen terus diteriakkan. GMNI terus berbaris, membawa panji merah, memekikkan yel-yel revolusioner, mengutip Bung Karno pada setiap forum, diskusi, dan perayaan Dies Natalis. Namun satu ironi yang tak terhindarkan berdiri seperti tugu batu: Marhaen dan GMNI tak pernah benar-benar menang.
Mereka berteriak revolusi, tetapi menjadi penonton paling setia pada drama pengkhianatan terhadap rakyat. Mereka mengutuk neoliberalisme, tetapi antri menunggu beasiswa, proyek, jabatan staf ahli, dan upacara foto bersama pejabat. Mereka menyerukan berdiri di pihak rakyat kecil, tetapi mabuk panggung politik dan lupa kepada kaum Marhaen yang menjadi nama dari ideologi itu sendiri. Mereka memuja Bung Karno, tapi lupa ajaran paling keras Sang Proklamator:
“Jangan jadi tukang pidato di atas penderitaan rakyat. Jadi pelaksana revolusi, bukan penghafal teori.”
Kekalahan Yang Diulang: GMNI Dalam Cermin Sejarah
Sejak dilahirkan tahun 1954, GMNI dimaksudkan sebagai kawah candradimuka ideologis untuk membentuk kader-kader pejuang Marhaenisme: berpihak pada kaum kecil, menjadi motor revolusi sosial, berdiri melawan feodalisme, kolonialisme baru, dan kapitalisme yang merampok martabat manusia. Namun perjalanan sejarah menunjukkan pola kekalahan yang stagnan dan memalukan:
Dibajak kepentingan kekuasaan elektoral.
Pecah menjadi faksi-faksi kecil tanpa visi.
Menjadi penonton politik, bukan pelaku perubahan.
Mengganti kerja ideologis dengan kontes jabatan organisasi dan foto resmi dengan pejabat negara.
Mereka tak pernah kalah karena lawan terlalu kuat—mereka kalah karena hati mereka terlalu kecil, dan keberanian mereka terlalu tipis.
Satire Pahit Bung Karno Jika Ia Menyaksikan GMNI Hari Ini
Seandainya Bung Karno hidup hari ini, ia mungkin akan menepuk meja dan berkata:
“Hei kalian yang mengaku Marhaenis tapi hidup sebagai birokrat kampus! Di mana tangan kalian ketika sawah dirampas? Di mana kaki kalian ketika rakyat dipukul? Di mana suara kalian ketika hukum dijadikan dagangan?”
Ia mungkin akan menyindir keras, bahwa GMNI hari ini tidak lebih dari teater romantik ideologi: pandai mengutip teks Di Bawah Bendera Revolusi, tetapi gagap menghadapi realitas material rakyat yang miskin, tergusur, dan ditindas.
Mereka mengidolakan Marhaen sebagai simbol, tetapi tidak pernah turun ke desa melihat siapa Marhaen itu.
GMNI dan Marhaenisme Hari Ini
Sementara itu, Indonesia hari ini berubah menjadi republik oligarki:
Tanah rakyat disulap menjadi konsesi tambang oleh segelintir keluarga kaya.
Hukum menjadi alat pemukul bagi kritikus dan penjahat justru tertawa di istana.
Partai politik menjelma bazaar licit yang menjual ideologi demi kursi.
Demokrasi berubah menjadi panggung komoditas.
Dan di tengah tragedi nasional ini, GMNI kehilangan fungsi historisnya—senjata ideologis Marhaenisme tergeletak berkarat di gudang museum.
Manifesto Strategis Gerakan Marhaenis Baru
Kini saatnya menyatakan dengan brutal dan tanpa basa-basi: GMNI harus dibongkar, diretas, dan dibangun ulang sebagai gerakan ideologis kelas, bukan ornamen politik kampus.
Lima Garis Strategis Kebangkitan Gerakan Marhaenis
Kesatu. Rebut kembali garis ideologi: hentikan romantisme teks; bangun teori praksis dan pendidikan politik kelas.
Kedua. Turun ke rakyat, bukan podium: jadikan desa, pabrik, kampung nelayan, buruh, tani, dan pengangguran sebagai sekolah perjuangan.
Ketiga. Perang total terhadap oligarki: lawan kepemilikan tunggal atas tanah, tambang, dan alat produksi.
Keempat. Bangun front politik alternatif: persatukan gerakan kiri, mahasiswa progresif, dan kekuatan rakyat tertindas.
Kelima. Hidup sederhana, berdisiplin, militan: berhenti menjadi aktivis pencari fasilitas.
Seruan Kebangkitan
Indonesia tidak membutuhkan kader yang pandai berfoto, pandai berpidato, dan pandai memberi slogan. Indonesia membutuhkan tangan yang berani berlumpur keringat dan darah demi rakyat.
Jika GMNI tidak bangkit menjadi kekuatan ideologis yang memimpin perjuangan kelas Marhaen, maka sejarah akan menguburnya sebagai organisasi museum—mati tanpa dimakamkan.
“Jadilah api yang membakar ketidakadilan, bukan lilin kecil yang meleleh untuk menerangi wajah sendiri.” — Bung Karno.
Maka bangkitlah—atau enyah dari panggung sejarah!
Hidup Marhaenis!
Hidup Revolusi!
Hidup Rakyat!
(Sebuah Kritik Reflektif Ideologis atas kekalahan yang diulang-ulang).***
Penulis: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI.