By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean
GMNI DKI Jakarta Gelar Diskusi: Dasa Sila Bandung sebagai Kompas Indonesia di Tengah Ancaman Perang AS-Iran
DPC GMNI Jakarta Timur Desak Pembatasan Masa Jabatan Legislatif Maksimal Empat Periode
GMNI Laporkan Dugaan Korupsi Pengadaan Private Jet KPU Senilai Rp90 Miliar ke Kejagung
Klimaks Penghianatan Marhaenis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

GMNI DKI Jakarta Gelar Diskusi: Dasa Sila Bandung sebagai Kompas Indonesia di Tengah Ancaman Perang AS-Iran

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 25 April 2026 | 13:45 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Bertepatan dengan peringatan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika, DPD GMNI Jakarta gelar forum diskusi publik di Kedai Tempo, Jakarta Timur, mengkaji relevansi Dasa Sila Bandung di tengah eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian mengancam stabilitas dunia (Foto Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta Timur — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DKI Jakarta menyelenggarakan Forum Diskusi Publik bertema “Relevansi Dasa Sila Bandung di Tengah Ancaman Keberlanjutan Perang AS vs Iran”, pada Rabu (22/4/2026).

Bertempat di Kedai Tempo, Jakarta Timur, forum ini dihadiri oleh beragam kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, aktivis gerakan sosial, praktisi hukum dan hubungan internasional, hingga jurnalis dan masyarakat umum.

Penyelenggaraan forum ini dipilih bertepatan dengan momentum peringatan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika 1955 yang merupakan sebuah momen bersejarah ketika bangsa-bangsa Asia dan Afrika bersatu mendeklarasikan sepuluh prinsip perdamaian dan kemanusiaan yang dikenal sebagai Dasa Sila Bandung.

Tujuh puluh satu tahun kemudian, dunia kembali dihadapkan pada ancaman konflik berskala besar: ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memantik perang dunia terbuka dengan dampak geopolitik yang masif bagi seluruh kawasan dunia, termasuk Indonesia

Forum menghadirkan dua narasumber dengan keahlian saling melengkapi: Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D. (ekonomi politik global dan neo-imperialisme) serta Tjahyadi Budiman (geopolitik dan ketahanan ekonomi nasional).

Dalam pemaparannya, Airlangga Pribadi Kusman menekankan bahwa konflik AS-Iran tidak bisa dibaca secara dangkal sebagai persoalan nuklir semata. apa yang menjadi akar persoalan, jauh lebih struktural: sejak Presiden Nixon memutus hubungan dolar dengan emas pada 1970-an, fondasi hegemoni AS tidak lagi bertumpu pada produksi, melainkan pada dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Iran, yang membangun jaringan transaksi ekonomi intensif bersama China dan Rusia, menjadi ancaman nyata bagi pondasi finansial yang dibangun sejak lama tersebut.

“Mengapa AS menghantam Iran saat ini? Karena imperialisme AS mulai tumbang, sehingga ia menunjukkan keseramannya,” papar Airlangga.

Baca Juga:   Pesan dari Timur, GMNI Manado: Kami serukan Kongres Persatuan!

Ia juga mencontohkan pola serupa yang sebelumnya terjadi pada Irak dan Venezuela, ketika kedua negara tersebut berupaya membangun kemandirian ekonomi di luar dominasi Amerika Serikat.

Dalam kerangka ini ia membaca serangan AS terhadap Iran bukan sebagai bentuk dari kekuatan yang sedang berjaya, melainkan sebagai kekuatan yang sedang panik menghadapi erosi hegemoninya.

Sementara itu, Tjahyadi Budiman menyoroti Iran sebagai contoh konkret bangsa yang mampu bertahan melalui prinsip kemandirian nasional pasca Revolusi 1979.

Menurutnya, Iran berhasil memperkuat ketahanan negara melalui tiga pilar utama yang sejalan dengan konsep Trisakti Soekarno: berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Alih-alih bergantung pada impor persenjataan, Iran justru mempelajari teknologi yang dimiliki dan memproduksinya sendiri. Embargo ekonomi yang diberikan justru mendorong Iran untuk memutus ketergantungan terhadap kapitalisme internasional.

Selain itu, soliditas nasional Iran juga terbentuk karena adanya persatuan antara elite politik dan rakyat, yang didasarkan pada cinta tanah air serta sistem kepemimpinan yang meritokratis.

Kedua narasumber sepakat bahwa Konferensi Asia-Afrika 1955 harus dibaca bukan sebagai artefak sejarah semata, melainkan sebagai strategi visioner dalam menghadapi imperialisme modern. Soekarno telah menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak akan tercapai tanpa terbebas dari kemiskinan, ketergantungan ekonomi, dan dominasi kekuatan asing.

Pemateri sedang memaparkan materinya (Foto ist)/MARHAENIST.

Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Bung Dendy Se, menegaskan bahwa Dasa Sila Bandung masih sangat relevan sebagai pedoman diplomasi Indonesia di tengah ancaman konflik global, khususnya meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu perang terbuka berskala besar.

“Dasa Sila Bandung bukan warisan museum. Ia adalah panduan hidup bangsa-bangsa yang menolak dijadikan bidak dalam permainan kekuatan besar. Di tengah ancaman perang AS-Iran yang nyata, Indonesia harus tegas berdiri di atas prinsip penyelesaian sengketa secara damai, non-intervensi, dan solidaritas antarbangsa — bukan terseret ke dalam orbit kepentingan salah satu pihak yang bertikai,” tegas Bung Dendy.

Baca Juga:   GMNI Sampaikan Seruan Matinya Demokrasi di Makam Bung Karno Blitar

Bung Dendy juga menambahkan bahwa posisi Indonesia tidak bisa ambigu di tengah eskalasi konflik global.

“Ketika dunia mendorong kita untuk memilih kubu, justru di situlah Dasa Sila Bandung paling relevan sebagai pengingat bahwa Indonesia memiliki identitas bangsa dan tradisi diplomatik tersendiri yang tidak bisa digadaikan demi kepentingan sesaat, atau bahkan kepentingan segelintir orang,” ujarnya.

Forum ditutup dengan kesimpulan bersama yang mencakup: desakan agar pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dan independen dalam merespons eskalasi konflik AS-Iran berdasarkan prinsip Dasa Sila Bandung; penolakan terhadap segala bentuk tekanan untuk memihak salah satu kekuatan besar; serta seruan untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia-Afrika sebagai platform perjuangan negara dunia ketiga.

Antusiasme peserta yang hadir dari berbagai latar belakang menjadi penanda bahwa kesadaran publik terhadap dinamika geopolitik global dan konsistensi identitas diplomatik Indonesia semakin menguat, khususnya di kalangan generasi muda dan masyarakat sipil.****

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean
Sabtu, 25 April 2026 | 15:38 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Desak Pembatasan Masa Jabatan Legislatif Maksimal Empat Periode
Sabtu, 25 April 2026 | 10:36 WIB
GMNI Laporkan Dugaan Korupsi Pengadaan Private Jet KPU Senilai Rp90 Miliar ke Kejagung
Jumat, 24 April 2026 | 09:51 WIB
Klimaks Penghianatan Marhaenis
Jumat, 24 April 2026 | 09:16 WIB
Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS di SD Nusa Bangsa Mamasa, GMNI Desak Dinas Pendidikan Bertanggung Jawab
Kamis, 23 April 2026 | 21:41 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Desak Jokowi Mundur, Alumni Unas Bergerak: Demokrasi di Jurang Kematian

Marhaenist - Alumni Universitas Nasional (Unas) yang menamakan diri ‘Alumni Unas Bergerak’ membuat…

Indonesia Menggugat: GMNI Jakarta Timur Desak Pencopotan Menteri HAM

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Presiden Berkampanye dan Memihak Karena Elektabilitas Prabowo-Gibran Mandek

Marhaenist.id, Jakarta - Pengamat politik Ray Rangkuti mengomentari pernyataan Presiden Joko Widodo…

DPC GMNI Jakarta Timur Audiensi dengan BAWASLU Jakarta Timur Bahas Penguatan Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPD GMNI Sulbar Minta Kejati Usut Tuntas Dugaan Korupsi di Perusda Milik Pemprov

Marhaenist.id, Mamuju - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Barat (Sulbar) memanggil mantan Gubernur…

Refleksi Hari Lahir Bapak Proklamator: Pemuda Harus Meneladani Ajaran Bung Karno

Marhaenist.id - Bangsa Indonesia kembali diingatkan oleh sejarah bahwa tanggal 06 Juni…

Mahasiswa Perlu Sederhanakan Istilah Bahasa Agar Mudah Dipahami Masyarakat

Marhaenist.id - Kadangkala mahasiswa organisasi gerakan menggunakan bahasa akademis yang sulit dipahami…

Tolak Kriminalisasi Aktivis, GMNI Jaktim: Lawan Teror dan Impunitas!

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Marhaenist

Relawan: Ganjar Harus Jadi Presiden RI

Marhaenist - Menuju Pilpres 2024, kelompok relawan pendukung Ganjar Pranowo yang tergabung…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?