By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Refleksi Hari Lahir Bapak Proklamator: Pemuda Harus Meneladani Ajaran Bung Karno

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 5 Juni 2025 | 18:59 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Bagikan

Marhaenist.id – Bangsa Indonesia kembali diingatkan oleh sejarah bahwa tanggal 06 Juni merupakan hari lahir seseorang yang menjadi tokoh penting dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak lain ialah Bung Karno, lahir di Surabaya dari seorang ayah dan ibu yang memiliki latar berbeda. Ayah Bung Karno merupakan penganut kejawen tulen sedangkan ibu berdarah Bali.

Namun, latar berbeda itu yang justru mencetak kepribadian Bung Karno menjadi seorang pluralis dan terbuka terhadap perbedaan-perbedaan. Menjadi berbeda dari kebanyakan, kelahiran Bung Karno tepat pada saat fajar menyingsing diikuti peristiwa alam berupa meletusnya Gunung Kelud yang melengkapi keyakinan masyarakat jawa.

Ada satu keyakinan yang berkembang dalam tradisi masyarakat Jawa yaitu ketika bayi lahir pada saat fajar menyingsing dan di saat pergantian abad menandakan bayi tersebut takdirnya sudah ditentukan dan kelak akan menjadi orang yang besar.

Tidak hanya sekadar mistifikasi, Bung Karno dalam mengarungi perjalanan hidup penuh dengan perjuangan sehingga keyakinan terhadap seorang bayi yang kelak akan menjadi orang besar dan memberikan keteladanan dapat terwujud. Fase remaja Bung Karno dipenuhi dengan dunia belajar dan buku.

Bung Karno merupakan seorang pembelajar yang disiplin, memiliki gairah terhadap ilmu pengetahuan yang tinggi, hingga H. O. S Cokroaminoto seorang gurunya kagum terhadap Bung Karno.

Dari buku-buku, Bung Karno mengenali ide dari Thomas Jefferson. Seorang berdarah Amerika yang menggagas _Declaration of Independence_ pada tahun 1776 tentang deklarasi kemerdekaan Amerika dari Kolonialisme Inggris. Gagasan Jefferson sedikit banyak mengilhami pemikiran Bung Karno yang selanjutnya dipraktekkan untuk memperjuangkan dan memerdekakan Indonesia.

Meskipun selanjutnya ada kritikan tajam dari Bung Karno bahwa gagasan Jefferson tersebut dipakai untuk melegitimasi modus operandi kapitalisme Amerika yang menekankan ideologi liberalisme dalam praktek politik dan ekonomi Amerika.

Baca Juga:   Kelompok Anarko, Dalang Dibalik Kerusuhan Agustus 2025 di Indonesia?

Di tengah pergolakan multi-ideologi yang menyemai dalam arena pertarungan politik sebagai upaya saling ingin menancapkan pengaruh dari masing-masing kelompok, Bung Karno tetap teguh membawa Indonesia di bawah ideologi nasionalisme.

Alasan yang dipakai Bung Karno cukup rasional. Indonesia ditakdirkan menjadi negara yang beragam, multi-agama, suku, budaya, dan bahasa. Bagi Bung Karno dari sekian ideologi yang ada hanya nasionalisme yang mampu mengakomodasi keberagaman yang dimiliki Indonesia tersebut.

Irisan-irisan perjalanan hidup Bung Karno dapat dimaknai sebagai warisan untuk generasi muda terus meneladaninya agar seluruh pemikiran, ide, dan cita-cita Bung Karno tidak pernah lekang.

Bung Karno cukup lengkap menjadi representasi patronase para pemuda dalam menempatkan kiblat pemikiran dan cita-citanya. Sorot Bung Hendra, tantangan bangsa hari ini salah satunya ialah krisis identitas yang mendalangi hilangnya kesadaran berbangsa bagi para pemuda.

Salah satu faktor krisis identitas ditandai oleh terbukanya arus informasi yang dijembatani oleh transformasi digital. Moral bangsa ditantang untuk menghadapi perubahan zaman.

Alih-alih transformasi digital menawarkan efisiensi untuk mempermudah suatu pekerjaan, tapi di sisi lain pemuda cenderung dapat tergiring oleh opini dan narasi yang tidak sehat sehingga rentan membentuk menjadi pribadi pesimis, kesejahteraan psikologi yang terganggu hingga berdampak pada mudahnya depresi dan merasa terisolasi dan mudah pantang menyerah. Mentalitas yang seperti ini kontras dengan mentalitas para pendiri bangsa, khususnya Bung Karno.

Sebagai pemuda, tanggal 06 Juni tidak boleh berhenti hanya dimaknai sebagai hari kelahiran Bung Karno saja. Tanggal 06 Juni merupakan peristiwa penting di mana lahir seorang anak bernama Bung Karno yang telah memberikan keteladanan bagi para pemuda untuk menjadi agen penggerak bangsa dan menentukan arah bangsa. Pemuda tidak boleh terkontaminasi oleh semangat yang bersebrangan dengan cita-cita bangsa.

Baca Juga:   Kooperasi sebagai Kekuatan Politik

Semangat nasionalisme Indonesia serta penjelmaannya menjadi identitas bangsa harus mempelopori seluruh perilaku dan tindakan daripada para pemuda. Semangat untuk merefleksikan hari kelahiran Bung Karno dimaksudkan untuk menavigasi arah pemikiran dan tindakan para pemuda agar tidak keluar dari cita-cita yang telah digagas oleh Bung Karno.***


Penulis: Hendro Prayogi, Ketua DPD GMNI Jatim.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Rabu, 17 Desember 2025 | 00:13 WIB
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:06 WIB
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:18 WIB
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:16 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Mengenal Aliran-Aliran Filsafat!

Marhaenist.id - Ada satu teman bertanya yang telah lama mengusik dalam pikirannya.…

Agama Pembebasan: Melawan Kesalehan yang Membunuh Kemanusiaan

Marhaenist.id - Di tengah gegap gempita kesalehan yang dipajang seperti etalase perhiasan,…

Menkeu: Rp 6,2 Triliun Telah Disalurkan Untuk Realisasi BLT BBM

Marhaenist - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, realisasi bantuan langsung tunai…

GMNI Berduka, Senior GMNI Antasari Azhar Telah Berpulang Kepada Sang Khalik

Marhaenist.id, Tangsel - Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode…

Persatuan Alumni GMNI dan GMNI Bukan ‘Sayap’ Partai Politik

Marhaenist - Seperti diketahui GmnI terlahir pada tanggal 23 Maret 1954 di…

GMNI Jombang Sesalkan Tindakan Tidak Etis Tenaga Kesehatan RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung: Desak Evaluasi dan Investigasi Menyeluruh

Marhaenist.id, Jombang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Mengenal Perjalanan Politik Ir. Soekarno

Marhaenist.id - Berbicara soal biografi Ir.Soekarno tidak lengkap rasanya jika tidak membahas…

Surat Untuk Pemimpin Negeri: Akses Jalan Inamosol SBB Butuh Perhatian Negara

Marhaenist.id - Jalan mempunyai peran penting terutama menyangkut perwujudan perkembangan antar wilayah…

Gelar Halal Bi Halal, PA GMNI Perkuat Kesalehan dan Solidaritas Sosial untuk Indonesia Raya

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?