By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

GMNI Dibelah-Belah, Tanggungjawab!!!

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 30 Juli 2025 | 19:34 WIB
Bagikan
Waktu Baca 10 Menit
Foto: Jansen Henry Kurniawan, Kader GMNI Jakarta/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Perpecahan dalam tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menurut saya bukanlah sesuatu yang sehat lagi. Sebab dinamika tajam yang terjadi bukan lagi perbedaan mengenai cara pandang objektif terhadap perspektif ideologi juga prinsip-prinsip organisasi tetapi lebih kepada subjektivitas dalam mempertahankan kuasa di GMNI.

Kongres GMNI XXI di Kota Ambon, Provinsi Maluku yang melahirkan dualisme kepengurusan nyatanya semakin menciptakan polarisasi didalam tubuh organisasi yang sebenarnya telah menghasilkan banyak tokoh-tokoh marhaenis.

Bukannya malah menyelesaikan masalah dualisme tetapi yang diciptakan justru semakin menciptakan saling adu kekuatan yang semakin melebar sehingga menyebabkan hari ini banyak oknum-oknum di GMNI yang meninggalkan tugas-tugas organisasi yang seharusnya.

Baru saja Dewan Pimpinan Pusat GMNI kubu Immanuel Cahyadi menyelenggarakan Kongres XXII di Kota Bandung, Jawa Barat. Namun hasil kongres ini malah justru menciptakan pembelahan yang semakin lebih parah lagi.

Adanya dua versi yang berbeda dari kongres ini dalam hal pucuk pimpinan tertinggi yang terpilih yaitu versi pertama Sujahri Somar sebagai ketua umum dan Amir Mahfud sebagai sekretaris jenderal. Sedangkan versi kedua yaitu Muhammad Risyad Fahlefi sebagai ketua umum dan Patra Dewa sebagai sekretaris jenderal menunjukkan bahwasanya Immanuel Cahyadi yang merupakan salah satu pelaku utama dualisme GMNI selain Arjuna Putra Aldino tidak mampu dalam merajut persatuan. Jangankan merajut persatuan dengan kubu Arjuna Putra Aldino, didalam kubunya sendiri pun ia tidak mampu merawat persatuan.

Bukan hanya dalam kubu Immanuel Cahyadi saja masalah terjadi, bahkan Arjuna Putra Aldino hanya terkesan melakukan retorika persatuan semata tanpa kita melihat realisasi konkritnya. Terkesan seperti acuh tidak acuh terhadap GMNI, sehingga akibat kedua kubu yang semakin tidak terkendali lagi, lahirlah poros ketiga yang bagi saya merupakan non-blok yang dala arti tidak mengakui keduanya sebab sudah lelah terhadap dinamika yang tidak sehat ini.

Berikut ini saya akan coba merumuskan beberapa poin yang menurut pengetahuan saya yang terbatas apabila dilakukan bisa mengatasi persoalan post power syndrome yang menyebabkan GMNI terpecah-pecah ini.

1. Alumni GMNI cukup berkontribusi, bukan mengkooptasi gerakan yang menciptakan pembelahan

Harus diakui, alumni adalah penyangga penting juga roh dalam hidupnya suatu organisasi tetapi alumni yang terlalu intervensi dalam segala hal yang berkaitan dengan organisasi akan menyebabkan hilangnya independensi murni setiap anggota maupun kader aktif dalam memutuskan langkah-langkah organisasi. Bahkan konflik antar alumni yang dibawa kedalam tubuh organisasi pun bisa menciptakan perpecahan dalam tubuh organisasi yang bisa menyebabkan polarisasi antar setiap anggota dan kader aktif. Itulah yang dialami GMNI hari ini.

Baca Juga:   Teror Bukan Bantahan: Ketika Kritik Dibalas Intimidasi dan New Orde Baru Muncul 

Alumni-alumni murni mencintai organisasi yang pernah membesarkan namanya pasti akan mendukung regenerasinya agar dikemudian hari bisa semakin lebih baik juga mewujudkan matchvorming dan matchwending seperti ajaran Bung Karno. Bukan malah menjadikan anggota dan kader aktif ibarat bebek yang jalan berbondong-bondong sebagai alat pemuas birahi politiknya, bahkan sebagai alat untuk konflik terhadap lawan politiknya bahkan bargaining untuk keberlangsungan politiknya.

Perpecahan didalam tubuh GMNI hari ini pun tidak lepas dari peran alumni baik alumni yang masih post power syndrome, alumni yang menjadikan GMNI sebagai alat oportunis politiknya maupun alumni yang berkonflik dengan alumni yang lain.

2. Memulai persatuan yang sejatinya persatuan dari tingkatan basis DPK, DPC, dan DPD

Mengapa sampai hari ini belum adanya persatuan yang sejatinya persatuan dalam tubuh GMNI? Jangankan didalam tubuh DPP, dibeberapa DPK, DPC,dan DPD saja masih terjadi dualisme bahkan ada yang tigalisme akibat berbagai faktor. Padahal DPK, DPC dan DPD yang merupakan akar rumput dari organisasi ini adalah nyawa dari GMNI. Beberapa faktor yang menurut saya menyebabkan hal tersebut terjadi akibat dari ketidakpuasan terhadap posisi, konflik historis,faksionalisasi yang nyata didalam tingkatan basis, bahkan ilfiltrasi dari DPP yang mengakomodir perpecahan melalui SK. Contoh sederhana saja semisal ada pihak yang tidak puas kemudian membuat DPK,DPC, DPD tandingan sehingga terjadi dualism atau bahkan tigalisme.

Bagaimana kita mengharapkan persatuan yang sejatinya persatuan, kalau ditingkat basis kita masih terpecah-pecah, Dan kembali lagi saya katakan, penyakit tersebut ada diego. Bahkan saya pernah menulis artikel “Selama Ego Masih Menggebu, Bicara Persatuan Hanya Omong Kosong”. Artinya menurunkan ego adalah syarat mutlak untuk menciptakan persatuan dan itu harus dimulai dalam tingkatan basis agar kita mampu untuk menghentak persatuan secara nasional.

Baca Juga:   Momentum IWD 2024: Inspire Inclusion sebagai Spirit Keberpihakan Perempuan

3. Potong Generasi DPP GMNI 2019 agar penyehatan organisasi ini bisa terjadi

Dualisme perpecahan dalam Kongres GMNI XXI Ambon 2019 tidak terlepas dari peran Arjuna Putra Aldino beserta kubunya maupun Immanuel Cahyadi beserta kubunya. Sudah hampir sekitar enam tahun mereka menikmati menari diatas perpecahan organisasi dan saatnya mereka mengakhiri segala perpecahan yang telah mereka wariskan. Apabila mereka punya rasa bersalah dan sikap bertanggungjawab ingin memperbaiki keadaan dengan tidak lagi cawe-cawe dalam organisasi ini kecuali urat malu sudah putus. Justru menyerahkan kepada basis untuk mengambil sikap dalam rangka penyelamatan organisasi.

Kepada anggota dan kader aktif GMNI melalui DPK,DPC,DPD untuk berani mengambil sikap organisasi dan tidak lagi mau dikooptasi oleh aktor utama pelaku perpecahan sebab gerakan ini bukan hanya milik mereka yang dipusat tetapi milik setiap anggota dan kader aktif dari organisasi. Sebab yakinlah selama pewaris perpecahan masih merasa bertahta disinggasana GMNI, maka selama itu juga kita akan jauh dari yang katanya persatuan yang sejatinya persatuan. Jangan sampai kita terus-terusan menjadi alat pemuas ego mereka dalam berdinamika yang tidak sehat.

4. Menyelenggaran Kongres Persatuan yang disepakati oleh semua pihak dan bersepakat sportif terhadap apapun hasilnya

Dalam obrolan sesama kader selalu kita membahas mengenai kongres persatuan, tetapi yang menjadi pertanyaan kenapa hal tersebut tidak terealisasi. Bahkan hanya satu kubu menyelenggarakan kongres sepihak yang kemudian mengklaim persatuan padahal tidak. Mengapa Kongres Persatuan belum terjadi sampai saat ini? Menurut saya akibat rasa ego memenangkan kontestasi politik masih tinggi, namun tidak berjiwa kesatria untuk menerima hasilnya secara dewasa. Contoh sederhana apa yang dilakukan oleh Muhammad Risyad Fahlefi melalui Badan Pekerja Kongres pada Kongres XXII Bandung kemarin adalah bukti bahwa masih banyak elite GMNI yang bermental kanak-kanak dengan tidak dewasa menerima potensi akan kekalahan padahal kalah menang adalah soal biasa dalam perebutan pucuk pimpinan tertinggi organisasi mahasiswa sekelas GMNI.

Membangun prinsip siap menang dan siap kalah adalah hal fundamental yang harus dimiliki oleh setiap anggota juga kader GMNI. Supaya Kongres Persatuan tidak hanya omong kosong, menurut saya semua kubu tanpa terkecuali harus mau menurunkan egonya dan terlibat dalam menyepakati Kongres Persatuan agar Kongres Persatuan tidak hanya omon-omon belaka namun yang terpenting dalam jalannya kongres harus memiliki jiwa sportivitas yang tinggi, jangan hanya ingin menang tetapi tidak mau menerima kekalahan. Tunjukkanlah bahwa setiap anggota dan kader GMNI memiliki kedewasaan dalam berpolitik.

Baca Juga:   Manifesto Politik Konsolidasi Nasional GMNI 2025 di Blitar

5. Kembali kepada prinsip-prinsip ideologi dan tugas GMNI

Perpecahan yang GMNI alami hari ini menyebabkan banyak kita yang lupa akan panggilan tugas organisasi ini yang sebenarnya. Perebutan kekuasaan hanya seremonial belaka dalam suatu organisasi tetapi yang paling penting adalah bagaimana organisasi ini mampu untuk menjawab setiap tantangannya terutama menambah energi bagi kaum marhaen seperti cita-cita GMNI itu sendiri yang ingin mewujudkan sosialisme di Indonesia. Meskipun tidak sedikit juga anggota dan kader GMNI yang masih setia kepada prinsip-prinsip ideologi GMNI yaitu Marhaenisme dan tugas GMNI untuk terus mempertahankan ajaran Bung Karno dalam menjawab tantangan hari ini maupun kedepannya.

Tetapi perpecahan yang terjadi hari ini, sedikit banyaknya pasti akan mempengaruhi produktivitas anggota maupun kader aktif dalam menjalankan kewajiban-kewajiban organisasi yang seharusnya, sebab diberbagai media sosial GMNI maupun digrub-grub whastapp justru diskursus-diskursus yang terjadi saling adu siapa yang paling benar juga salah tetapi bukan lagi membahas bagaimana organisasi ini dalam menjalankan panggilan sejarahnya seperti yang seharusnya. Sudah saatnya bagi seluruh kader dan anggota aktif GMNI terutama dikalangan elite untuk kembali kepada nilai-nilai GMNI yang seharusnya terutama sebagai organisasi kader yang gandung akan persatuan.

Akhir kata tulisan ini bukan tendensius terhadap siapa-siapa, tetapi objektivitas sebagai seorang kader dalam melihat realita organisasi hari ini. Uni Soviet dan Yugoslavia adalah dua negara besar yang dulunya besar dan digdaya tetapi tinggal nama akibat tidak mampu merawat persatuan dan terjadi perpecahan yang menyebabkan negara tersebut bubar. Jangan sampai fusi tiga organisasi yang kemudian melebur jadi satu harus bubar akibat kita sebagai anggota maupun kader aktif penerus organisasi terutama elitenya gagal dalam mengelola konflik juga menjahit benang persatuan antar kubu.

Merdeka…!!!
Jaya..!!!
Menang…!!!


Penulis: Jansen Henry Kurniawan, Kader Bawah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atas Jakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Kooperasi sebagai Kekuatan Politik

Marhaenist.id - Saul D. Alinsky, mentor pengorganisir komunitas hebat ini mengatakan bahwa…

Marhaenisme Tidak Pernah Mati

Marhaenist.id - Marhaenisme merupakan sebuah ideologi yang dikembangkan oleh Bung Karno pada…

Dua Tujuh Juli, Peristiwa Besar Yang Dikerdilkan

27 Juli menjadi semakin kerdil, lewat begitu saja dan seakan tak bermakna.…

Gelar Diskusi Bersama Para Pakar, GMNI Jaksel Bahas Otoritarianisme Legal: Antara Hukum dan Kekuasaan

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Guntur Soekarnoputra dalam peluncuran buku Catatan Merah Dari Putera Bung Karno Jilid 3, 19 Oktober 2022. MARHAENIST

Ganjar Nyatakan Siap Maju Capres, Guntur Soekarnoputra: Sah-Sah Saja

Marhaenist - Putra pertama Presiden Soekarno, yang juga merupakan Ketua Dewan Ideologi…

PKPA Beasiswa PA GMNI – PERADI Utama Resmi Dibuka, Prof. Hardi Fardiansyah Tekankan Integritas Advokat

Marhaenist.id - Program Beasiswa Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) hasil kerja sama…

DPD PA GMNI Jakarta Raya Bakal Gelar Diskusi Publik Edisi Khusus Pra-Konferda V

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Genosida Bangsa Palestina Terus Berlanjut, PM Israel: Ini Baru Permulaan, Kami akan terus Gempur Gaza Tanpa Ampun

Marhaenist.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Negara Pendudukan Israel Benjamin Netanyahu menegaskan…

Selat Hormuz Bergejolak, Bayu Sasongko: Momentum Nusantara Bangkit

Marhaenist.id, Jakarta — Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?