By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Selat Hormuz Bergejolak, Bayu Sasongko: Momentum Nusantara Bangkit

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 7 Maret 2026 | 14:56 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Ilustrasi AI (Foto: Sang)/MARHARNIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta — Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah membuat dunia kembali menaruh perhatian pada Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di planet ini.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut dilalui hampir seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap konflik di kawasan itu selalu berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global.

Namun di balik ancaman krisis energi global, sebagian pengamat melihat adanya peluang strategis bagi kawasan lain untuk tampil sebagai penyeimbang baru dalam tatanan dunia.

Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, menilai bahwa setiap krisis global dalam sejarah justru sering menjadi titik lahirnya pusat stabilitas baru.

“Sejarah geopolitik selalu bergerak seperti gelombang. Ketika satu kawasan dunia diliputi ketegangan, kawasan lain akan muncul sebagai penyangga stabilitas. Hari ini kita melihat momentum itu perlahan mengarah ke Nusantara,” kata Bayu, Sabtu (7/3/2026).

Menurutnya, gejolak di Selat Hormuz memperlihatkan betapa rapuhnya ketergantungan dunia terhadap satu jalur energi strategis.

“Selat Hormuz adalah pintu energi dunia. Ketika pintu itu terguncang, seluruh sistem ekonomi global ikut bergetar,” ujarnya.

Bayu menjelaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah tidak bisa dipisahkan dari perubahan besar dalam struktur kekuatan global. Dunia yang selama beberapa dekade berada dalam bayang-bayang dominasi tunggal kini mulai bergerak menuju tatanan multipolar.

Konflik Rusia–Ukraina di Eropa Timur, rivalitas Amerika Serikat dan China di Indo-Pasifik, hingga ketegangan yang terus terjadi di Timur Tengah menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi geopolitik yang besar.

Dalam fase perubahan seperti ini, kata Bayu, jalur energi dan jalur perdagangan selalu menjadi titik paling menentukan.

“Ketika jalur energi global mengalami gangguan, dunia akan mencari kawasan yang mampu menjamin stabilitas perdagangan internasional,” jelasnya.

Baca Juga:   DPC PA GMNI Humbahas Ajak Kampus di Sumut Gerakkan Mahasiswa sebagai Relawan Pemulihan Psikologis Anak Korban Bencana

Dalam konteks tersebut, Nusantara memiliki posisi yang sangat strategis.

Indonesia berada di persimpangan dua samudra besar, Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta menjadi penghubung alami antara Asia Timur, Asia Selatan, dan kawasan Pasifik.

“Jika Selat Hormuz adalah pintu energi dunia, maka jalur laut Nusantara adalah nadi peredaran ekonomi global,” ujar Bayu.

Ia menambahkan bahwa jalur seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok merupakan salah satu arteri utama perdagangan dunia.

Bayu mengingatkan bahwa posisi strategis Nusantara bukanlah fenomena baru dalam sejarah. Berabad-abad sebelum konsep globalisasi dikenal, kepulauan ini telah menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan internasional.

Kekuatan maritim seperti Sriwijaya dan Majapahit pernah mengelola jalur perdagangan yang menghubungkan Asia Timur, India, Timur Tengah hingga Afrika.

Namun kekuatan tersebut tidak hanya bertumpu pada armada laut.

“Sejarah Nusantara menunjukkan bahwa kekuatan maritim sejati selalu berdiri di atas fondasi pangan, perdagangan, dan stabilitas sosial,” kata Bayu.

Sriwijaya menjaga stabilitas jalur perdagangan laut, sementara Majapahit membangun jaringan pelabuhan yang ditopang oleh kekuatan produksi pangan di daratan.

Menurut Bayu, pelajaran sejarah tersebut menjadi sangat relevan bagi Indonesia di tengah krisis global saat ini.

Bayu menilai bahwa salah satu isu geopolitik paling menentukan di masa depan adalah kedaulatan pangan.

Gangguan energi global dapat meningkatkan biaya produksi pertanian, sementara konflik geopolitik dapat memicu pembatasan ekspor pangan oleh negara produsen.

“Dalam situasi krisis global, negara yang bergantung pada impor pangan akan sangat rentan terhadap tekanan ekonomi dan sosial,” jelasnya.

Padahal, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan pangan dunia karena didukung oleh kondisi geografis tropis, keanekaragaman hayati, serta wilayah laut yang luas.

Baca Juga:   Pendidikan Sebagai Hak Dasar, Ganjar Pranowo Bersama PDI Perjuangan Dampingi Anak Korban Banjir Di Aceh

Namun potensi tersebut, kata Bayu, harus dikelola dengan visi geopolitik yang jelas.

“Pembangunan lumbung pangan nasional, modernisasi pertanian, serta penguatan ekonomi maritim harus dilihat sebagai bagian dari strategi geopolitik Indonesia,” ujarnya.

Bayu menilai bahwa kondisi global saat ini justru membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam tatanan dunia.

Menurutnya, penguatan sektor pangan, pembangunan infrastruktur maritim, serta transformasi energi nasional merupakan langkah strategis untuk menyiapkan Indonesia menghadapi perubahan geopolitik global.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan dunia. Kita memiliki semua prasyarat untuk menjadi salah satu pilar stabilitas di kawasan Indo-Pasifik,” kata Bayu.

Dalam perspektif Budaya Geopolitik Nusantara, lanjutnya, kekuatan negara tidak hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sumber kehidupan.

Bayu menilai bahwa gejolak yang terjadi di berbagai kawasan dunia, termasuk Timur Tengah, merupakan tanda bahwa peta kekuatan global sedang bergerak menuju fase baru.

Dalam perubahan tersebut, Nusantara memiliki peluang historis untuk memainkan peran yang lebih besar.

“Dengan jalur laut strategis, sumber daya alam yang melimpah, serta tradisi peradaban maritim yang panjang, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk tampil sebagai kekuatan penting dalam tatanan dunia baru,” ujarnya.

Ia pun menilai bahwa jika momentum ini dikelola dengan visi yang tepat, Indonesia berpeluang memasuki fase kebangkitan baru.

“Dari Selat Hormuz hingga jalur laut Nusantara, dunia sedang menyaksikan perubahan besar. Ini bukan sekadar krisis global, tetapi juga momentum sejarah. Jika kita mampu membacanya dengan tepat, kita sedang memasuki sebuah era baru: Abad Nusantara,” kata Bayu.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

DPC GMNI Kendari Desak Pemprov Sultra Hentikan Pembangunan Kopdes Merah Putih di Desa Polindu yang Berdiri Diatas Tanah Warga

Marhaenist.id, Kendari – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota…

Papua Bukan Tanah Kosong!

Marhaenist.id - Sebagai Sekretaris Kaderisasi DPC GMNI Kota Sorong! Menurut bapak menteri…

Pahlawan Soeharto dan Negara Amnesia

Marhaenist.id - "Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa." Ungkapan…

Konversi Kompor Gas ke Listrik Tidak Berlaku Tahun Ini

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, program konversi kompor LPG 3kg…

Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z

Marhaenist.id - Setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April kerap diidentikkan dengan…

Mahasiswa Salatiga Bergerak, Kawal Putusan Mahkamah Konstitusi

Marhaenist.id, Salatiga - Berbagai unsur gerakan mahasiswa di Kota Salatiga, yang tergabung…

Perempuan dan Kesejahteraan Buruh Era Rezim Jokowi

Marhaenist - hampir secara keseluruhan masyarakat internasional, mengetahui bahwa 1 mei merupakan…

Foto: Stevani Evarista dan Salwa Azhari Riefhantza Putri (Mahasiswi STIH IBLAM) Bersama Dosen Pendamping Prof. Dr. Gunawan Nacrahwi S.H,M.H. MARHAENIST

Mahasiswi STIH IBLAM Angkat Isu HAM dan Demokrasi dalam Lomba Esai GALAKSI 2025

Marhaenist.id, Jakarta, - Dua mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) IBLAM, Stevani…

Pengesahan RUU KUHAP Dinilai Mengancam Demokrasi: DPR Dituding Abaikan Gelombang Kritik Publik

Marhaenist.id, Jakarta - Pengesahan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?