By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

GMNI Bukan Milikmu: Kritik Sunyi dari Kader Akar Rumput

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 27 April 2026 | 09:36 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Jeje Zaenudin bersama bersama Bung dan Sarinah DPK GMNI UBPK (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dalam dinamika organisasi kader seperti GMNI, ada satu penyakit lama yang terus berulang dengan wajah yang berbeda: merasa memiliki organisasi. Perasaan ini sering tumbuh diam-diam pada mereka yang telah lama ber-GMNI, yang pernah berkeringat di jalanan, yang merasa telah memberi banyak, lalu tanpa sadar mulai mengklaim bahwa organisasi ini berdiri karena dirinya. Padahal, sejarah selalu menunjukkan sebaliknya: tidak ada organisasi yang hidup karena satu orang.

GMNI tidak lahir dari ego individu, melainkan dari semangat kolektif. Ia tumbuh dari kerja sunyi banyak tangan yang tidak terlihat, dari kader-kader yang tidak pernah tampil di depan tetapi selalu hadir ketika dibutuhkan. Dari mereka yang menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan pikiran tanpa menuntut pengakuan. Organisasi ini bergerak karena ada kepercayaan, karena ada gotong royong ideologis, bukan karena satu figur yang merasa paling berjasa.

Ketika seseorang mulai merasa bahwa GMNI adalah “miliknya”, di situlah awal
kemunduran nilai dimulai. Ia lupa bahwa setiap langkahnya pernah ditopang oleh orang lain. Ia lupa berterima kasih. Ia lupa bahwa setiap posisi yang ia capai bukan hasil perjuangan tunggal, tetapi hasil dari ruang yang dibuka oleh banyak orang sebelumnya.

Lebih ironis lagi, ketika ia sudah berada di titik tertentu, justru ia menutup ruang itu bagi yang lain. Ia menjadi lupa diri, lupa asal, bahkan lupa siapa saja yang pernah berdiri di belakangnya.

Sikap seperti ini tidak hanya merusak secara moral, tetapi juga menciptakan konflik internal yang tidak sehat. Dan seperti biasa, yang paling dirugikan bukanlah mereka yang berada di atas. Yang menjadi korban adalah kader-kader di bawah, mereka yang masih tulus, yang masih bersemangat ber-GMNI di jalan lurus tanpa embel-embel kepentingan.

Baca Juga:   Paradoks Demokrasi Hilangnya Makna Mensen (Rakyat) Dalam Demokrasi Indonesia

Mereka yang datang dengan idealisme, tetapi justru disuguhi konflik, ego, dan perebutan pengaruh yang jauh dari nilai perjuangan. Padahal, organisasi kader seharusnya menjadi ruang pembelajaran, bukan arena dominasi. Menjadi pemimpin di dalamnya bukan berarti menjadi pemilik, apalagi bos. Pemimpin organisasi adalah pelayan gerakan, penjaga nilai, dan pengarah arah perjuangan. Ia tidak berdiri di atas kader lain, tetapi berjalan bersama mereka.

Jika kembali pada ajaran Soekarno, tidak pernah ada ruang untuk kesombongan dalam kepemimpinan. Bung Karno mengajarkan tentang kolektivitas, tentang gotong royong, tentang perjuangan yang berpihak kepada rakyat. Ia tidak membangun kultus individu, melainkan membangun kesadaran bersama. Ia tidak mengajarkan kader untuk jumawa, tetapi untuk tetap membumi, bahkan ketika berada di puncak.

Karena itu, menjadi kader yang lama bukanlah alasan untuk merasa paling memiliki. Justru semakin lama seseorang berada dalam organisasi, semakin besar tanggung jawabnya untuk merawat nilai, bukan menguasai ruang.

Semakin tinggi posisinya, semakin rendah hatinya seharusnya. Pada akhirnya, GMNI akan tetap hidup, dengan atau tanpa satu individu. Ia akan terus bergerak selama masih ada kader yang percaya pada nilai perjuangan, yang setia pada garis ideologi, dan yang tidak menjadikan organisasi sebagai alat kepentingan pribadi.

Semoga siapa pun yang hari ini ber-GMNI, di posisi apa pun, tetap mampu menjaga kerendahan hati. Tidak merasa paling berjasa, tidak merasa paling berhak, tidak lupa berterima kasih, dan tidak lupa bahwa di setiap langkahnya, selalu ada banyak tanganyang pernah mendorongnya ke depan.***


Penulis: Jeje Zaenudin, Ketua DPK GMNI UBPK.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Marhaenisme dalam RUU Perampasan Aset: Sutrisno Tegaskan Praduga Tak Bersalah

Marhaenist.id, Jakarta — Setelah lebih dari satu dekade tertunda, Rancangan Undang-Undang (RUU)…

Lagi Viral Filem Dirty Vote, Inilah Sinopsis atau Ringkasan Ceritanya

Marhaenist.id - Film dokumenter eksplanatory "Dirty Vote" yang dirilis pada 11 Februari…

Mengenal Perjalanan Politik Ir. Soekarno

Marhaenist.id - Berbicara soal biografi Ir.Soekarno tidak lengkap rasanya jika tidak membahas…

Asa untuk Sumatera

Marhaenist.id - Di balik hiruk-pikuk pembangunan nasional, Pulau Sumatera kembali menuntut perhatian…

Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban

Marhaenist.id - Dunia hari ini tidak kekurangan kemajuan, yang langka justru makna.…

Pingin Nonton “Pesta Babi” Full Movie, Yuk Klik Link dan Reviewnya Disini

Catatan Penting Keamanan Digital: Mengingat film ini melibatkan sensitivitas politik dan beberapa…

RBPR Deklarasikan Dukungan Untuk Pramono Anung-Rano Karno

MARHAENIST -  Pranowo Anung dan Rano Karno turut menghadiri acara deklarasi Rumah…

Anggaran MBG Mencair

Marhaenist.id - Di negeri ini, ada satu hukum alam yang tak tertulis…

YRJI Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Dorong Konsolidasi Nasional untuk Jaga Momentum

Marhaenist.id, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I yang mencapai 5,61…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?