By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Talkshow Kartini Hari Ini, GERAK Jakarta: Perempuan Bisa Memimpin, Ruang Publik Harus Aman
Persatuan GMNI se-Indonesia: Belajar dari Konferda Persatuan GMNI Sulbar
Masyarakat Loloda Utara Keluhkan Tarif Angkutan Naik, GMNI Halut Ingatkan Pemda Jangan Diam
GMNI Bukan Milikmu: Kritik Sunyi dari Kader Akar Rumput
Kelas Menengah Diperas Biaya Hidup: Stabilitas yang Menipu

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 22 Januari 2026 | 19:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Oleh: Bayu Sasongko, Alumni GMNI, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id  – Penarikan Amerika Serikat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bukan sekadar keputusan administratif, melainkan sinyal perubahan besar dalam tata kelola kesehatan global. Struktur yang selama ini relatif stabil kini memasuki fase transisi: cair, belum mapan, dan semakin dipengaruhi rivalitas geopolitik antarnegara.

Dalam situasi tersebut, WHO mendorong berbagai agenda reformasi, mulai dari amandemen International Health Regulations (IHR), perundingan Pandemic Agreement, hingga penguatan isu kesehatan mental, ketahanan sistem kesehatan, dan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan publik.

Namun, perubahan kebijakan semata tidak cukup. Tantangan terbesar justru terletak pada absennya kepemimpinan global yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional, pasar, dan kemanusiaan bersama.

Di tengah fragmentasi ini, dunia tidak membutuhkan hegemon baru yang sekadar menggantikan dominasi lama dengan aktor berbeda. Yang dibutuhkan justru jalan tengah, kekuatan penyeimbang yang berangkat dari nilai, pengalaman historis, dan kemampuan membangun konsensus lintas kepentingan.

Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki peluang strategis.

Sebagai bangsa pascakolonial, Indonesia membawa memori historis tentang ketimpangan global yang tidak hanya bersifat ekonomi dan politik, tetapi juga kesehatan. Di titik inilah Marhaenisme, sebagai gagasan sosial-politik yang dirumuskan Soekarno, menemukan relevansinya kembali.

Marhaenisme tidak melihat persoalan semata sebagai pertarungan ideologi, melainkan sebagai soal struktur ketimpangan yang konkret, di mana rakyat kecil menjadi pihak paling rentan ketika negara dan pasar gagal hadir secara adil.

Dalam perspektif Marhaenisme, kesehatan bukan komoditas, melainkan hak sosial. Negara tidak boleh sekadar menjadi regulator pasif, tetapi harus berperan aktif melindungi mereka yang paling terdampak oleh ketidakadilan struktural. Prinsip ini sejalan dengan tantangan kesehatan global hari ini, ketika akses layanan, vaksin, dan teknologi medis masih sangat ditentukan oleh posisi negara dalam hierarki global.

Baca Juga:   Motor Triliunan MBG vs Keringat Marhaen: Negara Lupa Amanat Bung Karno?

Ideologi Pancasila kemudian menjadi artikulasi konstitusional dari semangat Marhaenisme tersebut, menempatkan kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai fondasi kebijakan. Dalam tata kelola kesehatan global yang kian dipolitisasi, pendekatan ini menawarkan sudut pandang alternatif: kesehatan sebagai urusan peradaban, bukan sekadar instrumen geopolitik atau pasar.

Arah kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kemandirian nasional, stabilitas kawasan, dan diplomasi aktif yang tidak konfrontatif membuka ruang bagi penguatan diplomasi kesehatan Indonesia.

Dalam kerangka ini, Marhaenisme tidak hadir sebagai slogan ideologis, melainkan sebagai etika kebijakan, bahwa keberpihakan pada kepentingan rakyat harus tetap menjadi orientasi, baik di dalam negeri maupun dalam forum global.

Indonesia tidak memosisikan diri sebagai pengganti atau penantang negara mana pun. Ambisi semacam itu justru berisiko mereproduksi pola dominasi lama. Yang lebih relevan adalah menempatkan diri sebagai penjaga keseimbangan peradaban kesehatan global, mendorong tata kelola WHO yang lebih inklusif, memperjuangkan akses kesehatan yang adil, serta memastikan bahwa negara-negara berkembang tidak kembali menjadi objek dalam arsitektur kesehatan dunia.

Pengalaman Indonesia dalam memperluas jaminan kesehatan nasional, memperkuat kapasitas sektor kesehatan dalam negeri, serta keterlibatan aktif dalam forum-forum regional dan global memberikan fondasi praktis bagi peran tersebut. Diplomasi kesehatan, dalam pengertian ini, bukan soal klaim kepemimpinan, melainkan konsistensi keberpihakan.

Dalam tradisi Nusantara, kesehatan tidak dipahami semata sebagai urusan medis, melainkan sebagai bagian dari keseimbangan hidup antara manusia, alam, dan sesama. Nilai harmoni inilah yang menjadi kekuatan kultural Indonesia dalam membaca krisis kesehatan global yang kian sarat kepentingan dan rivalitas.

Ketika dunia terjebak dalam logika dominasi dan persaingan, jalan tengah yang berakar pada kebudayaan Nusantara dan semangat Marhaenisme menawarkan perspektif lain: merawat keseimbangan sebagai fondasi peradaban. Dalam konteks ini, diplomasi kesehatan Indonesia bukan sekadar instrumen kebijakan luar negeri, melainkan kontribusi nilai bagi tata dunia yang lebih manusiawi.***

Baca Juga:   Anak yang Diracuni dan Tubuh yang Ditertibkan

Penulis: Bayu Sasongko, Alumni GMNI, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Talkshow Kartini Hari Ini, GERAK Jakarta: Perempuan Bisa Memimpin, Ruang Publik Harus Aman
Selasa, 28 April 2026 | 14:52 WIB
Momentum Konferda Persatuan GMNI Sulbar, nampak dua Ketua DPD GMNI Sulbar demisioner bersama dengan Ketua dan Sekretaris terpilih sambil memegang bendera (Dok. GMNI Sulbar)/MARHAENIST.
Persatuan GMNI se-Indonesia: Belajar dari Konferda Persatuan GMNI Sulbar
Senin, 27 April 2026 | 22:22 WIB
Masyarakat Loloda Utara Keluhkan Tarif Angkutan Naik, GMNI Halut Ingatkan Pemda Jangan Diam
Senin, 27 April 2026 | 18:09 WIB
GMNI Bukan Milikmu: Kritik Sunyi dari Kader Akar Rumput
Senin, 27 April 2026 | 09:36 WIB
Kelas Menengah Diperas Biaya Hidup: Stabilitas yang Menipu
Minggu, 26 April 2026 | 17:00 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Kemerdekaan Yang Tidak Pasti: Potret Kekerasan Perempuan Tak Kunjung Usai

MARHAENIST - Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 adalah momentum yang ditunggu oleh…

Bahagianya Pengungsi Banjir Demak Bisa Bukber Bareng Ganjar

Marhaenist.id, Demak - Banjir bandang yang melanda warga Demak dan sekitarnya menjadi…

DPC GMNI Jakarta Timur Minta Penanganan Dugaan Pembunuhan Pelajar Maluku Tenggara Transparan dan Berkeadilan

Marhaenist.id, Jakarta Timur  – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Revolusi Energi: Bongkar Mafia BBM, Tindak Tegas Pengkhianat Rakyat!

Marhaenist.id -Ditengah penderitaan rakyat akibat melonjaknya biaya hidup, mafia energi terus menghisap…

Pilkada Riau Berlangsung Sukses, GMNI Apresiasi KPU Riau

Marhaenist.id, Pekan Baru - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal

Marhaenist.id, Jakarta - Interupsi Senator Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor, dalam…

Rencana Pembangunan Pasar Rakyat di Tanah Milik Jenol oleh PJ Bupati Mamasa, GMNI Soroti Anggaran Pembebasan Lahannya

Marhaenist.id, Mamasa - Dengan adanya pernyataan Pj. Bupati Mamasa yang akan segera…

Jelang Tahun Baru 2026, Redaksi Marhaenist.id Sampaikan Harapan dan Komitmen Pemberitaan untuk Marhaen Indonesia

Marhaenist.id, Kendari - Jelang pergantian tahun menuju 2026, Pemimpin Redaksi Marhaenist.id, La…

DPP GMNI Dorong Hilirisasi Adil dan Berkelanjutan untuk Bangsa

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?