By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
IndonesianaMarhaen

Diduga Kuat Dikriminalisasi, Inilah Kejanggalan Kasus Hukum Ibu Guru Supriyani!

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 1 November 2024 | 13:59 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Ibu Guru Supriyani, S.Pd yang sedang menjalani proses hukum di PN Andoolo Konsel-Sultra/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kasus dugaan kriminalisasi seorang guru honorer di Kecamatan Baito sontak mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat Indonesia. Kendati demikian, sampai saat ini belum mendapatkan titik terang dalam penyelesaian kasusnya.

Supriyani, guru honorer di SDN 4 Baito, Desa Wonua Raya, Kecamatan Baito, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), ditahan polisi. Supriyani ditangkap gegara dituduh dengan dugaan menganiaya siswa berinisial D (6 thn), anak Aipda Wibowo Hasyim, personel Polsek Baito.

Supriyani dilaporkan ke Polsek Baito Konsel pada Kamis (25/4/2024) lalu. Ia dilaporkan atas dugaan kekerasan terhadap siswanya berinisial D. Supriyani pun dijadwalkan menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Andoolo, pada Kamis (24/10/2024).

Saat ini banyak dari elemen masyarakat bahkan Para Pejabat yang ada di Indonesia sampai DPR RI menaru empati terhadap kasus Supriyani termasuk Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Dugaan kriminalisasi atau adanya rekayasa kasus terhadap Supriyani mencuat karena dianggap janggal dalam penetapannya sebagai tersangka, hingga ia harus melewati proses persidangan di PN Andoolo.

Inilah rangkuman kejanggalan Kasus Hukum Ibu Guru Supriyani hingga penetapannya tersangka oleh Penyidik Polsek Baito Konsel:

1. Keterangan Korban yang berumur 6 Tahun saat ditanya oleh Ibunya terhadap luka yang dideritanya berubah-ubah.

– Pertama keterangan Korban mengatakan jatuh disawah.
– Setelah mengalami tekanan, ia mengatakan dipukul Guru Supriyani.

2. Dua alat bukti yang tidak kuat.

– Sapu ijuk yang diduga digunakan untuk menganiaya korban.

Sapu ijuk yang dihadirkan sebagai alat bukti dipertanyakan. Pasalnya, alat bukti itu dibawah langsung oleh perlapor ke Polsek Baito yang entah dari mana. (Katanya sih, diambil dari TKP).

Mestinya alat bukti itu harus steril dari siapapun sebelum diambil sampel sidik jarinya untuk membuktikan tangan siapa yang terakhir memegang sapu ijuk itu dan harus pula diambil langsung oleh pihak kepolisian dari olah TKP.

Baca Juga:   Di Tengah Gelombang Demo dan Kondisi Bangsa yang Tidak Baik-Baik Saja, Panja RUU PPRT DPR Tetap BeKerja

– Bukti foto luka dan hasil visum.

Jika diperhatikan foto luka dari korban, banyak yang berpendapat bahwa lukanya tidak singkron dengan gagang sapu ijuk yang lurus dan mulus sementara lukanya tidak beraturan, termasuk pendapat Susno Duadji (Mantan Kabareskim Polri).

3. Keterangan Ibu Guru Supriyani dan guru lainnya tidak didengarkan dan digubris.

Keterangan Ibu Supriyani mengatakan bahwa ia bukanlah guru kelas dari Korban karena ia adalah guru kelas 1B sedangkan korban adalah murid kelas 1A dengan guru yang berbeda, jadi mana mungkin ia bertemu dengan korban apalagi menganiaya-nya.

Guru kelas yang mengajari korban di kelas 1A memberikan kesaksian bahwa tidak penganiayan yang dilakukan oleh Guru Supriyani seperti yang dituduhkan dalam berkas laporan di Polsek Baito termasuk waktu dan tempatnya.

4. Ibu Guru Supriyani diduga dipaksa untuk memberikan pengakuan demi kelengkapan berkas penetapanya sebagai tersangka.

Ibu Guru Supriyani memberikan keterangan bahwa dirinya dipaksa mengakui atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Ini berawal ia diminta untuk melakukan permohonan maaf dengan harus mengakui bahwa ia telah melakukan penganiayaan dengan dalih agar kasus ini tidak berlanjut, tetapi pada kenyataannya kasus ini malah tetap berproses sampai ke Pengadilan.

Alasan dari Pelapor melanjutkan kasus ini dikarena permohonan maaf yang dilakukan oleh Ibu Guru Supriyani tidak iklas kepada keluarga pelapor sehingga memperkarakanya lebih lanjut.

5. Terkesan mencari uang karena tersiar kabar ada Permintaan uang damai sebesar 50 juta.

Untuk pembahasan ini, siapa yang sebenarnya meminta uang damai 50 juta, sampai sekarang belum ada kejelasan. Dari pihak korban atau pelapor menyatakan tidak pernah meminta uang damai apalagi dengan besaran 50 juta.

Baca Juga:   Aceh, Helsinki, dan Konstelasi Kekuasaan Baru: Dari Perlawanan ke Koalisi Elit

Untuk hal ini, masih didalami oleh pihak kepolisian yang sampai saat ini belum ada kejelasan.

Ini menimbulkan tanda tanya, apakah benar ada permintaan uang damai sebesar itu atau tidak? Ataukah mereka (oknum-okmun yang terlibat dalam urusan perdamaian selain pihak korban) adalah dalang hingga tersebutlah uang damai sebesar 50 juta?

6. Tujuh orang saksi yang dihadirkan di PN tidak kuat dan tidak diperbolehkan dalam hukum karena masih dibawah umur (Sekitar umur 6 tahunan).

Tujuh orang saksi yang dihadirkan dalam perkara Ibu Supriyani adalah anak dibawah umur, yakni seumuran dengan korban yang jugs teman sekelasnya. Umur mereka sekitar 6 tahunan dan ini tidak diperbolehkan dalam Hukum Positif di Indonesia.

Dari tujuh orang saksi, 5 orang mengatakan tidak ada penganiayan dan 2 saksi lainnya mengatakan ada penganiayaan yang dilakukan oleh Ibu Guru Supriyani. Justru, kesaksian 2 orang tersebut diyatakan sebagai sumber kebenaran, sementara kesaksian 5 lainnya digugurkan sebagai sumber kebenaran.

Itupun, kesaksian dari 2 orang saksi dibawah umur itu, berbeda-beda dan ada yang menyatakan bahwa saat Ibu Supriyani melakukan penganiayan disaksikan oleh seluruh murid yang ada dikelas dan juga disaksikan oleh Ibu Guru kelas 1A, sementara keterangan Ibu Guru kelas 1A menyatakan tidak penganiayaan atau melihat penyaniayaan tersebut.

7. Eksepsi atau Keberatan dari Ibu Guru Supriyani di Tolak Hakim PN Andoolo.

Eksepsi untuk memberikan hak kepada Ibu Guru Supriyani melalui pengacaranya untuk mengajukan keberatan terhadap keabsahan dakwaan ditolak oleh Hakim PN Andoolo.

Ini menandakan adanya kecurigaan besar dan kuat atas adanya dugaan kriminalisasi terhadap Ibu Guru Supriyani karena Eksepsi keberatan yang didalamnya sanggahan atau pembelaan terhadap kasusnya tidak diterima oleh Hakim.*

Baca Juga:   Surat Megawati ke Iran Jadi Perhatian Internasional, Pesannya Dinilai Mewakili Suara Moral Indonesia

Itulah rangkuman kejanggalan kasus hukum Ibu Guru Supriyani yang lagi viral se-Indonesia yang dihimpun oleh Redaksi Marhaenist.id yang juga merupakan warga Kota Kendari yang masih berbatasan dan masih satu wilayah provinsi dengan Kabupaten Konsel di Sultra.***


Penulis: La Ode Mustawwadhaar, Redaksi Marhaenist.id, Sarjana Hukum asal Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Desak KPK Periksa Bobby Nasution dan Kahiyang Atas Dugaan IUP ‘Blok Medan’

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan,…

Prihatin dengan Kondisi Bangsa, AMARAH Touna Gelar Aksi Tutut Pencopatan Kapolri

Marhaenist.id, Touna - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tojo Una-Una (Touna) melakukan aksi…

GMNI Jaktim Tanyakan Kemana Pemangkasan Alokasi Dana Pendidikan dan Tuntut Percepatan Pengesahan RUU PRT

Marhaenist.id, Jakarta - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur Jaktim mengkritik…

Paradox Prabowo: Gengsi Global & Tragedi di Tapal Batas

Marhaenist.id - Hukum, dalam praktik kenegaraan kita, kerap direduksi menjadi properti dekoratif…

Hadapi Acaman Karena RTH, GMNI Jaktim Advokasi Pedagang UMKM di Kawasan Industri Pulogadung

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Soroti Debat Pilkada Bantaeng di Makassar: Bikin Malu, Ricuh di Kampung Orang

Marhaenist.id, Makassar - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Sosok Perempuan Inspiratif Susi Pudjiastuti

Marhaenist.id – Susi Pudjiastuti lahir pada 15 Januari 1965 di Pangandaran, Jawa…

Peringati Dies Natalis yang ke 70 Tahun, GMNI Kendari Berbagi Takjil dan Serahkan Bantuan Sosial ke Panti Asuhan

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Nyatakan RSU Sylvani Salah Satu Rumah Sakit Terbaik di Kota Binjai

Marhaenist.id, Binjai - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?