By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati
Jelang Konfercab GMNI Purwokerto 2026, Eks Ketua DPK GMNI Humaniora UMP Tekankan Tiga Pilar Regenerasi
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
IndonesianaInsight

Aceh, Helsinki, dan Konstelasi Kekuasaan Baru: Dari Perlawanan ke Koalisi Elit

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Rabu, 16 Juli 2025 | 14:21 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto : Pabrik karet remah milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo akhirnya resmi beroperasi di Aceh/MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id – Dua dekade setelah Perjanjian Damai Helsinki 2005, relasi antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Aceh mengalami transformasi signifikan. Perjanjian yang mengakhiri konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI ini memang berhasil meredam senjata, namun tidak serta-merta menghapus ketegangan struktural yang lebih dalam: relasi kuasa antara pusat dan daerah, antara elite nasional dan lokal, antara kepentingan politik dan ekonomi.

Daftar Konten
Dari Medan Tempur ke Meja BisnisTiga Pulau, Sumber Daya, dan Kedaulatan WilayahApakah Ini Koalisi Damai atau Oligarki Baru?Penutup: Jalan Damai Belum Usai

Kini, konstelasi politik memasuki babak baru. Keterpilihan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI, dan kemenangan Muzakir Manaf (Mualem)—mantan Panglima GAM—sebagai Gubernur Aceh, menandai babak baru dalam rekonsiliasi elit pascakonflik. Dalam konteks ini, pertemuan antara Muzakir Manaf dan Hasyim Djojohadikusumo, adik Prabowo sekaligus pengusaha nasional, bukanlah sekadar silaturahmi biasa. Ia adalah simbol politik: bahwa mantan pihak yang dulu bertikai, kini tengah menyusun ulang posisi dalam lanskap kekuasaan baru.

Dari Medan Tempur ke Meja Bisnis

Muzakir Manaf bukan hanya simbol politik lokal. Ia adalah representasi dari jaringan mantan kombatan GAM yang kini masuk ke dalam sistem negara. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU No. 11 Tahun 2006), para eks kombatan diberi ruang untuk mengelola daerah melalui partai politik lokal dan jabatan eksekutif. Integrasi politik ini dianggap sebagai buah dari keberhasilan Helsinki. Namun, integrasi itu juga membuka ruang baru: pergeseran perlawanan menjadi negosiasi, dari medan tempur ke meja bisnis dan politik.

Hasyim Djojohadikusumo, yang memiliki investasi di sektor perkebunan dan industri di Aceh, memainkan peran sebagai penghubung antara pusat kekuasaan politik nasional dan potensi ekonomi daerah. Maka, hubungan keduanya tidak semata politis, tapi juga ekonomi—dan inilah medan baru relasi antara NKRI dan Aceh hari ini.

Baca Juga:   Breaking News: Yurike Sanger, Istri Ke 7 Bung Karno Dikabarkan Meninggal Dunia

Tiga Pulau, Sumber Daya, dan Kedaulatan Wilayah

Ketegangan kembali muncul saat Muzakir menolak ajakan pertemuan dengan Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, terkait isu tiga pulau kaya gas yang sempat diwacanakan akan dialihkan ke Sumatera Utara. Dalam situasi ini, sikap Muzakir bukan sekadar manuver administratif, melainkan ekspresi kuat dari sikap historis Aceh terhadap kedaulatan wilayah dan sumber daya alamnya.

Bagi banyak kalangan di Aceh, pengalaman masa lalu—dari eksploitasi PT Arun hingga ketidakadilan distribusi hasil SDA—membentuk memori kolektif yang sensitif terhadap segala bentuk intervensi luar. Penolakan Muzakir menjadi peringatan bahwa, meskipun Aceh telah menjadi bagian utuh dari NKRI, semangat kemandirian tetap hidup. Keputusan Kementerian Dalam Negeri yang akhirnya menetapkan tiga pulau tersebut tetap milik Aceh memperlihatkan bahwa pemerintah pusat masih harus berjalan hati-hati dalam menangani sensitivitas regional.

Apakah Ini Koalisi Damai atau Oligarki Baru?

Pertemuan elite mantan kombatan dan elite nasional pascamiliter memang bisa dibaca sebagai keberhasilan integrasi dan rekonsiliasi. Namun, pada sisi lain, ini juga membuka ruang baru bagi terbentuknya oligarki baru: kolaborasi antara mantan aktor kekerasan dan aktor ekonomi-politik nasional dalam menguasai sumber daya strategis.

Di titik ini, publik Aceh dan Indonesia harus bertanya: Apakah transformasi dari konflik menuju damai ini berakhir pada kemakmuran rakyat, atau justru hanya berpindah tangan dari satu bentuk dominasi ke bentuk dominasi lain? Apakah elite baru ini mampu mengartikulasikan kepentingan rakyat Aceh secara adil, atau sekadar memperkuat jaringan kekuasaan ekonomi-politik di balik jubah damai?

Penutup: Jalan Damai Belum Usai

Helsinki bukanlah akhir, ia adalah awal dari proses panjang perundingan damai yang sesungguhnya—yakni pembangunan kesejahteraan, keadilan, dan penghormatan terhadap kekhususan daerah. Perkawinan kekuasaan antara pusat dan daerah harus dikawal ketat, agar tidak berubah menjadi kooptasi pusat terhadap daerah, atau kooptasi elite terhadap rakyat.

Baca Juga:   Rp 1.000,7 Triliun untuk Papua, Rakyatnya Tetap Miskin

Muzakir Manaf dan Prabowo Subianto hari ini tidak lagi berada di sisi berseberangan. Namun, sejarah tetap mencatat bahwa hubungan keduanya lahir dari luka panjang bangsa ini. Luka itu hanya benar-benar sembuh jika rekonsiliasi tidak berhenti pada elite, melainkan menjelma menjadi kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyat Aceh sendiri.***


Penulis: Eko Zaiwan, Alumni GMNII Malang Raya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati
Minggu, 19 April 2026 | 19:29 WIB
Jelang Konfercab GMNI Purwokerto 2026, Eks Ketua DPK GMNI Humaniora UMP Tekankan Tiga Pilar Regenerasi
Sabtu, 18 April 2026 | 17:53 WIB
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Wabup Ngawi Anto Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PA GMNI Ngawi

Marhaenist - Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko terpilih sebagai Ketua Persatuan…

Bung Tomo, Sang Orator Si Pembakar Semangat Perjuangan Melawan Penjajah

Marhaenist.id - Sutomo atau dikenal dengan panggilan Bung Tomo tercatat sebagai pahlawan…

Mananwir Paul Finsen Mayor dan Dislokasi Geopolitik Nusantara di Papua

Marhaenist.id, Jakarta — Senator Papua sekaligus pemimpin adat, Mananwir Paul Finsen Mayor,…

Pembukaan Konferda V PA GMNI Jakarta Raya Dijadwalkan Sabtu (13/12/2025), Inilah Ketentuan Panitia Bagi Peserta yang akan Hadir

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Persoalkan Flayer Bawaslu, GMNI Ternate Anggap Statement Oknum yang Mengatasnamakan GMNI Malut Kekanak-Kanakan

Marhaenist.id, Ternate - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Umumkan Badan Pekerja Kongres, Mimpi GMNI untuk Gelar Kongres yang Ke 22 akan Segera Terwujud

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera melaksanakan sidang Kongres…

GMNI Surabaya Dukung Polri Tetap Berada di Bawah Presiden

Marhaenist.id, Surabaya - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Tegaskan RUU Daerah Kepulauan Merupakan Keharusan Sejarah

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pemerintah dan Praktik Manipulasi dalam Proyek Strategis Nasional pada Pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK 2)

Marhaenist.id - Di perairan Kabupaten Tangerang, Banten, ditemukan pagar laut sepanjang 30,16…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?