By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Gelar Seri Diskusi Publik Edisi V, PA GMNI Jakarta Raya Tekankan Front Marhaenis Ambil Peran untuk Berdaulat, Berdikari, Berbudaya
Program PKPA Beasiswa Peradi Utama Berlanjut, 140 Kader Ikuti Pertemuan Keempat dengan Materi Tata Acara Pengadilan Pidana
Front Marhaenis Ditengah Kekacauan Politik, Hukum, dan Ekonomi Indonesia Hari Ini
Republik Jenderal Multitasking
DPC PA GMNI Humbahas Ajak Kampus di Sumut Gerakkan Mahasiswa sebagai Relawan Pemulihan Psikologis Anak Korban Bencana

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
IndonesianaInsight

Aceh, Helsinki, dan Konstelasi Kekuasaan Baru: Dari Perlawanan ke Koalisi Elit

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Rabu, 16 Juli 2025 | 14:21 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto : Pabrik karet remah milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo akhirnya resmi beroperasi di Aceh/MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id – Dua dekade setelah Perjanjian Damai Helsinki 2005, relasi antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Aceh mengalami transformasi signifikan. Perjanjian yang mengakhiri konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI ini memang berhasil meredam senjata, namun tidak serta-merta menghapus ketegangan struktural yang lebih dalam: relasi kuasa antara pusat dan daerah, antara elite nasional dan lokal, antara kepentingan politik dan ekonomi.

Daftar Konten
Dari Medan Tempur ke Meja BisnisTiga Pulau, Sumber Daya, dan Kedaulatan WilayahApakah Ini Koalisi Damai atau Oligarki Baru?Penutup: Jalan Damai Belum Usai

Kini, konstelasi politik memasuki babak baru. Keterpilihan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI, dan kemenangan Muzakir Manaf (Mualem)—mantan Panglima GAM—sebagai Gubernur Aceh, menandai babak baru dalam rekonsiliasi elit pascakonflik. Dalam konteks ini, pertemuan antara Muzakir Manaf dan Hasyim Djojohadikusumo, adik Prabowo sekaligus pengusaha nasional, bukanlah sekadar silaturahmi biasa. Ia adalah simbol politik: bahwa mantan pihak yang dulu bertikai, kini tengah menyusun ulang posisi dalam lanskap kekuasaan baru.

Dari Medan Tempur ke Meja Bisnis

Muzakir Manaf bukan hanya simbol politik lokal. Ia adalah representasi dari jaringan mantan kombatan GAM yang kini masuk ke dalam sistem negara. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU No. 11 Tahun 2006), para eks kombatan diberi ruang untuk mengelola daerah melalui partai politik lokal dan jabatan eksekutif. Integrasi politik ini dianggap sebagai buah dari keberhasilan Helsinki. Namun, integrasi itu juga membuka ruang baru: pergeseran perlawanan menjadi negosiasi, dari medan tempur ke meja bisnis dan politik.

Hasyim Djojohadikusumo, yang memiliki investasi di sektor perkebunan dan industri di Aceh, memainkan peran sebagai penghubung antara pusat kekuasaan politik nasional dan potensi ekonomi daerah. Maka, hubungan keduanya tidak semata politis, tapi juga ekonomi—dan inilah medan baru relasi antara NKRI dan Aceh hari ini.

Baca Juga:   Sikapi Situasi Politik Nasional, Raden Hernawan Tuntut Pemakzulan Gibran dan Copot Kapolri

Tiga Pulau, Sumber Daya, dan Kedaulatan Wilayah

Ketegangan kembali muncul saat Muzakir menolak ajakan pertemuan dengan Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, terkait isu tiga pulau kaya gas yang sempat diwacanakan akan dialihkan ke Sumatera Utara. Dalam situasi ini, sikap Muzakir bukan sekadar manuver administratif, melainkan ekspresi kuat dari sikap historis Aceh terhadap kedaulatan wilayah dan sumber daya alamnya.

Bagi banyak kalangan di Aceh, pengalaman masa lalu—dari eksploitasi PT Arun hingga ketidakadilan distribusi hasil SDA—membentuk memori kolektif yang sensitif terhadap segala bentuk intervensi luar. Penolakan Muzakir menjadi peringatan bahwa, meskipun Aceh telah menjadi bagian utuh dari NKRI, semangat kemandirian tetap hidup. Keputusan Kementerian Dalam Negeri yang akhirnya menetapkan tiga pulau tersebut tetap milik Aceh memperlihatkan bahwa pemerintah pusat masih harus berjalan hati-hati dalam menangani sensitivitas regional.

Apakah Ini Koalisi Damai atau Oligarki Baru?

Pertemuan elite mantan kombatan dan elite nasional pascamiliter memang bisa dibaca sebagai keberhasilan integrasi dan rekonsiliasi. Namun, pada sisi lain, ini juga membuka ruang baru bagi terbentuknya oligarki baru: kolaborasi antara mantan aktor kekerasan dan aktor ekonomi-politik nasional dalam menguasai sumber daya strategis.

Di titik ini, publik Aceh dan Indonesia harus bertanya: Apakah transformasi dari konflik menuju damai ini berakhir pada kemakmuran rakyat, atau justru hanya berpindah tangan dari satu bentuk dominasi ke bentuk dominasi lain? Apakah elite baru ini mampu mengartikulasikan kepentingan rakyat Aceh secara adil, atau sekadar memperkuat jaringan kekuasaan ekonomi-politik di balik jubah damai?

Penutup: Jalan Damai Belum Usai

Helsinki bukanlah akhir, ia adalah awal dari proses panjang perundingan damai yang sesungguhnya—yakni pembangunan kesejahteraan, keadilan, dan penghormatan terhadap kekhususan daerah. Perkawinan kekuasaan antara pusat dan daerah harus dikawal ketat, agar tidak berubah menjadi kooptasi pusat terhadap daerah, atau kooptasi elite terhadap rakyat.

Baca Juga:   Tidak Cukup Minta Maaf: Tuntut Tindakan Nyata untuk Kematian Pengemudi Ojol

Muzakir Manaf dan Prabowo Subianto hari ini tidak lagi berada di sisi berseberangan. Namun, sejarah tetap mencatat bahwa hubungan keduanya lahir dari luka panjang bangsa ini. Luka itu hanya benar-benar sembuh jika rekonsiliasi tidak berhenti pada elite, melainkan menjelma menjadi kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyat Aceh sendiri.***


Penulis: Eko Zaiwan, Alumni GMNII Malang Raya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Gelar Seri Diskusi Publik Edisi V, PA GMNI Jakarta Raya Tekankan Front Marhaenis Ambil Peran untuk Berdaulat, Berdikari, Berbudaya
Sabtu, 6 Desember 2025 | 23:40 WIB
Program PKPA Beasiswa Peradi Utama Berlanjut, 140 Kader Ikuti Pertemuan Keempat dengan Materi Tata Acara Pengadilan Pidana
Sabtu, 6 Desember 2025 | 23:04 WIB
Front Marhaenis Ditengah Kekacauan Politik, Hukum, dan Ekonomi Indonesia Hari Ini
Sabtu, 6 Desember 2025 | 22:30 WIB
Republik Jenderal Multitasking
Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:46 WIB
DPC PA GMNI Humbahas Ajak Kampus di Sumut Gerakkan Mahasiswa sebagai Relawan Pemulihan Psikologis Anak Korban Bencana
Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:24 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Sambut Bulan Suci Ramadhan GMNI Touna Bersih-Bersih Mesjid Nurul Hidayah Labiabae

Marhaenist.id, Touna - Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Gerakan Mahasiswa Nasional…

Ahok: Mas Ganjar Paling Pantas Jadi Presiden, Layak Diperjuangkan

Marhaenist.id, Jakarta - Basuki Tjahaja Purnama yang baru saja mundur dari Komisaris…

PA GMNI Jakarta Raya Desak Pemprov DKI Koreksi Arah Pembangunan Ekonomi Ibukota yang Dikuasai Kapitalisme Global

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional…

Sarinah dan Cita-Cita Kesetaraan: Perempuan dalam Bingkai Nasionalisme

Marhaenist id - Hari Perempuan Internasional yang setiap tahunnya diperingati tanggal 8…

Impian Reformasi Polri dalam Hiruk Pikuk Hut Bhayangkara

Marhaenist.id - Dikutip dari buku Sejarah Perkembangan Kepolisian Indonesia, terdapat perbedaan tugas…

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan kaos bertuliskan nama “Jokowi” kepada Presiden RI, usai pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/10/2022). Setkab/Rahmat

Presiden FIFA Minta Persiapan Piala Dunia U-20 Ditangani Secara Profesional

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama FIFA memastikan Piala Dunia U-20…

Gelar Kunjungan Kasih, GMNI Nias Selatan Berbagi di Panti Asuhan Mercy Indonesia

Marhaenist.id, Nisel - Dewan Pengurus Komisariat (DPK), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Komandan Pacul Masuk dalam Bursa Menteri Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Marhaenist.id - Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul atau sering disebut Komandan Pacul…

Pidato Bung Karno Tentang Isi Supersemar

Marhaenist.id - Dalam pidatonyo pada 17 Agustus 1966, Sukarno mengecam pihak yang telah…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?