By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Adi Maliano Satu-Satunya dalam Catatan Sejarah Kader GMNI Kendari yang Menjabat sebagai Ketua KNPI Kendari
DPP GMNI Desak Pemerintah Segera Benahi Ketimpangan Infrastruktur dan Akses Pendidikan di Daerah 3T
Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
InsightOpini

Relevansi Ajaran Bung Karno Ditengah Distrosi Ideologi dan Perang Proxi

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 15 Juli 2025 | 19:10 WIB
Bagikan
Waktu Baca 10 Menit
Penulis: Putu Ayu Suniadewi, Pengurus Media Televisi Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia dan Pembelajar Ajaran Bung Karno (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Bulan bung karno sudah berlalu namun bukan berarti ingatan akan jejak langkah perjuangan dan pemikiran Bung karno padam begitu saja, kecuali jika kita merayakan bulan itu sebatas seremonial belakang yang dampaknya adalah pengerdilan terhadap makna sejarah , ideologis, nilai-nilai perjuangan, serta kepemimpinan Bung Karno yang akan memudar begitu saja tergantikan oleh rutinitas kosong tanpa refleksi kritis.

Hal ini sudah tentu berisiko memisahkan generasi sekarang dan yang akan datang dari pemahaman autentik tentang relevansi Pancasila sebagai living ideology serta ajaran bung Karno secara keseluruhan yang mengubah warisan monumental menjadi sekadar simbol tanpa jiwa, dan bahkan berpotensi mengaburkan esensi perjuangan dan cita-cita pembangunan nasional yang diusung Sang Proklamator, sehingga momentum untuk memperkuat identitas dan kesadaran kebangsaan pun terlewatkan.

Oleh karena itu kita perlu memiliki semangat yang romantik yang sebenarnya tertuang dalam pidato Bung karno berjudul Tahun “Vivere Pericoloso” yang disampaikan pada ulang tahun proklamasi kemerdekaan, 17 agustus 1965 di Jakarta, yang Bung Karno sandingkan bersama Dinamik dan Dialektik, menurut Bung Karno sendiri romantik itu diartikan sebagai:

“Oerkracht (sumber abadi) dari kekuatan perjuangan, oerkracht dari ketahanan Perjuangan, oerkracht dari kekuatan idiil, oerkracht dari kekuatan batin! Oerkracht yang memberikan kecintaan kepada semua kepahlawanan, oerkracht yang membangkitkan kepercayaan kepada diri sendiri, oerkracht yang memberikan pengertian kepada perlunya dinamikanya dan dialektikanya Revolusi” (Tahun Vivere pericoloso, Dibawah Bendera revolusi Jilid 2, Halaman 371)

Artinya romansa ala Bung Karno merupakan romansa yang selaras dengan romansa yang dikatakan beberapa intelektual kelas dunia seperti Erich Fromm dalam The Art of Loving (1956, hlm. 46) yang menyatakan romansa merupakan keterhubungan seseorang dengan dunia secara keseluruhan,Filsuf Martin Buber dalam I and Thou (1923) yang menyatakan romansa sebagai upaya untuk terus- menerus menyatukan perbedaan untuk tujuan yang lebih besar, atau Bell Hook yang ditafsirkan oleh Biana, H.T. (2021) yang menyatakan romansa atau romantik sebagai tindakan untuk melawan struktur dan sistem yang dominan dan menindas.

Oleh karena itu bulan Bung karno selayaknya, tidak hanya diperingati atau dikenang secara seremonial tetapi harus menjadi katalis untuk terus menjaga api pemikiran dan tindakan Bung Karno yang selaras itu , sebagaimana nasehat dari nasehat dari Bung Hatta dalam artikelnya berjudul Boeah Pemikiran Politik di Koran Persatoean Indonesia milik PNI pada tanggal 1 Februari 1929 yang menuliskan:

Baca Juga:   Selama Ego Masih Menggebu, Bicara Persatuan di Tubuh GMNI Hanyalah Omong Kosong - Refleksi Perjalanan GMNI

Tidak tjoekoep, kalau ra’jat bertepoek tangan dengan rioeh, kalau misalnja Ir. Soekarno berbitjara, tidak tjoekoep manakala rakjat mendjadi Soekarnoist sadja. Jang perloe jaitoe, soepaja dalam hati tiap-tiap lid P. N. I hidoep seorang Soekarno. Pendeknja tidak tjoekoep kalau hanja satoe sadja Soekarno. melainkan beriboe-riboe, kemoedian berdjoeta-djoeta ( Boeah pemikiran politik, Muhammad Hatta, 1929).

Apalagi ditengah situasi dan kondisi dunia yang semakin memberi kita berbagai macam ancaman dan tantangan yang kemudian berdampak pada kehidupan bangsa secara multidimensional, seperti salah satu contohnya adalah penyimpangan Trisakti yang pernah diterangkan oleh Drs.Djarot Saiful Hidayat, M.S, Ketua Umum Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ideologi dan Kaderisasi dalam tayangan Ngaji Marhaenisme DBR vol 1 Bagian 2 Bab 7 tentang pidato “Sekali Lagi Tentang Sosio – Nasionalisme Dan Sosio –Demokrasi” di channel NCB pada tanggal 11 Sep 2022 yang membagi tantangan trisakti kedalam tiga bidang yaitu Bidang Politik dimana demokrasi liberal dengan perilaku politik yang ego-sentrisme semakin menguat ; Bidang ekonomi dimana sektor ekonomi masih dikuasai pihak asing ; dan Bidang kebudayaan dimana individualisme , Nihilisime, dan sinisme semakin dinormalisasi.

Namun untuk membatasi pembahasan terkait kompleksitas dari ancaman dan tantangan khususnya terhadap pemikiran Bung Karno dan Pancasila itu sendiri, penulis hanya memfokuskan pada persoalan ancaman dan tantangan yang yang kita rasakan yaitu distorsi ideologis dan perang proxy.

Tentang Distorsi Ideologis dan Cara Mengatasinya

Yang dimaksud Distorsi ideologis, dari sudut pandang filsafat, merujuk pada proses sistematis di mana suatu ideologi, baik sebagai sistem keyakinan, nilai, dan representasi yang dominan kemudian dimanipulasi atau berfungsi untuk menyamarkan relasi kuasa yang timpang, menaturalisasikan ketidakadilan sosial, dan menghambat pemahaman kritis atas realitas material dengan cara menampilkan kepentingan partikular (biasanya kelompok penguasa atau elite) sebagai kepentingan universal atau kebenaran objektif yang tak terbantahkan.

Distorsi ideologis berkerja melalui mekanisme hegemoni budaya (Gramsci), pembentukan kesadaran palsu (Marx), atau rasionalisasi instrumental (Mazhab Frankfurt), di mana wacana, praktik sosial, dan institusi direproduksi sedemikian rupa sehingga kontradiksi sosial, eksploitasi, dan dominasi terselubung di balik narasi yang tampak netral, wajar, atau bahkan “demi kebaikan bersama,” sehingga melumpuhkan kapasitas subjek untuk mengenali dan mengubah struktur penindasan yang ada.

Baca Juga:   Impian Reformasi Polri dalam Hiruk Pikuk Hut Bhayangkara

Untuk persoalan yang pertama tentang distori ideologis, menjadi penting kita bahas dari dua tujuan, yang pertama menyangkut tujuan dari pemurnian ideologi itu sendiri dari gerombolan-gerombolan liar yang diistilahkan Bung Karno dengan sebutan “zogenaamd “berideologi” yang terdiri dari orang-orang yang fikirannya sudah liar dan kacau sama sekali” dalam pidatonya berjudul “Jadilah alat sejarah” pada ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 agustus 1953, di Jakarta, menurut Bung karno ciri khas dari gerombolan ini, adalah :

Mereka menjadi orang-orang yang fikirannya sudah keblinger sama sekali, – mereka tidak berdiri lagi di atas sesuatu daratan yang pantas dinamakan daratan idiil. Mereka menjadilah,orang-orang yang mengira bahwa pengacauan yang mereka lakukan itu adalah pengabdian kepada rakyat. Penggedoran-penggedoran harta benda rakyat miskin dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat. Pembakaran-pembakaran rumah rakyat yang mereka lakukan, dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat. Penganiayaan dan pembunuhan kejam terhadap rakyat yang tidak berdosa, dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat. Penggulingan-penggulingan kereta api yang berisi penumpang-penumpang rakyat perempuan, kanak-kanak dilihatnya sebagai pengabdian kepada rakyat. Nyata mereka telah tidak dapat membedakan lagi antara cita-cita yang tinggi dan nafsu yang rendah. Tidak dapat membedakan lagi antara baik dan jahat (Kutipan Pidato jadilan alat sejarah, DBR Vol 1, Halaman 133).

Dalam perspektif ajaran Bung Karno, distorsi ideologis dapat diatasi melalui tiga pendekatan inti diantara melalui (1) Pendidikan politik kerakyatan yang massif dan kritis untuk membongkar hegemoni asing/kapitalis serta menumbuhkan “kesadaran sosial” (sociale bewustwording) bahwa rakyat (Marhaen) harus menjadi subjek sejarah yang mandiri; (2) Implementasi Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin sebagai alat perjuangan untuk menegakkan kedaulatan politik-ekonomi, memutus rantai eksploitasi, serta mewujudkan keadilan sosial (“sosio-nasionalisme” dan “sosio-demokrasi”) sehingga Pancasila tidak direduksi jadi slogan kosong, namun disini perlu ditegaskan jika Demokrasi Terpimpin bukan dimaksudkan sebagai otoritarianisme, melainkan sebagai demokrasi yang dikonsolidasikan secara revolusioner untuk mencegah distorsi liberal-kapitalistik; dan (3) Konsisten menjadikan Pancasila sebagai alat revolusi (Pancasila Aktual dan Revolusioner) yang mendinamisir perjuangan melawan imperialisme, kolonialisme, dan kapitalisme, dengan menekankan kembali esensi anti-penindasannya agar tidak didistorsi menjadi alat legitimasi status quo atau kekuasaan elitis untuk yang ketiga ini menjadi penting dilakukan agar tidak terjebak pada apa yang di istilahkan Benedict Anderson (2016) dalam “Bung Karno and the Fossilization of Soekarno’s Thought” yang mendeskripsikan pemikiran Bung Karno yang seharusnya dinamis, revolusioner, dan kontekstual, justru mengalami “pembatuan” atau fosilisasi sehingga seolah-olah tidak menjadi relevan lagi bahkan tidak dimengerti lagi esensinya namun berpotensi untuk digugat, disalahtafsirkan, dan dihilangkan oleh penetrasi ideologi multinasional .

Baca Juga:   Marhaenisme Tanpa Rakyat: Ketika Gerakan Sosial Terjebak dalam Simbolisme

Tentang Perang Proxy dan Cara Mengatasinya

Yang dimaksud perang proxy merupakan konflik dimana negara-negara kuat menghindari konfrontasi langsung dengan menggunakan pihak ketig, baik entitas negara maupun entitas non-negara—sebagai pelaksana kepentingan geopolitik mereka. Yang mensponsori biasanya menyediakan senjata, dana, pelatihan, dan dukungan intelijen, sementara aktor dari proxy (menjadi ujung tombak operasi di lapangan. Simbiosis ini memungkinkan negara sponsor memproyeksikan pengaruh dengan minim risiko politik dan militer, sekaligus mempertahankan plausible deniability (kemampuan menyangkal keterlibatan) jika operasi gagal. Contohnya, Rusia menggunakan PMC Wagner di Afrika dan Suriah untuk mengamankan sumber daya dan pengaruh tanpa mengerahkan tentara resmi, sementara Iran memanfaatkan Houthi di Yaman untuk melemahkan rival regionalnya.

Penggunaan proksi ini mirip dengan yang istilah Bung Karno dalam Pidatonya Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung! yang disampaikan pada ulang tahun Proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 agustus 1947, di Jogjakarta yang termuat dalam DBR jilid 2 sebagai politik yang “verdeel en beheers! Negara- negara-boneka kecil hendak didirikannya, kaki-tangan-kaki tangannya telah tersedia laksana serigala menunggu daging”.

Cara untuk mengatasi yang pertama harus memahami bagaimana modus operandi dari perang proxy melalui politik, melalui ekonomi, sosial budaya, termasuk hukum; Yang kedua adalah dengan menguatkan kepribadian nasional yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa diatas kepentingan golongan sembari menghidupkan semangat gotong royong atau Holopis kuntul baris! Sebagai semangat revolusi. Semangat seluruh rakyat bergerak bersama, satu tekad, satu irama, satu tujuan!” Kata bung karno ; dan yang ketiga harus ada kaloborasi aktif antara rakyat dan kaum terpelajar melalui sinergi revolusioner berbasis trisakti.***


Penulis: Putu Ayu Suniadewi, Pengurus Media Televisi Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia dan Pembelajar Ajaran Bung Karno.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Adi Maliano Satu-Satunya dalam Catatan Sejarah Kader GMNI Kendari yang Menjabat sebagai Ketua KNPI Kendari
Senin, 13 April 2026 | 12:29 WIB
DPP GMNI Desak Pemerintah Segera Benahi Ketimpangan Infrastruktur dan Akses Pendidikan di Daerah 3T
Minggu, 12 April 2026 | 23:11 WIB
Foto: Fauzan Luthsa, Analis Geopolitik Eurasia Strategi Institute (Dokpri)/MARHAENIST.
Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum
Minggu, 12 April 2026 | 16:52 WIB
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Memahami KLB GMNI Medan dan Manuvernya di Politik Dualisme GMNI Tahun 2020

Marhaenist.id - Ditahun 2016, GMNI dirundung perpecahan karena adanya Kongres Luar Biasa…

Ciptakan Regenerasi Kader Marhaenis, GMNI Makassar Gelar PPAB Akbar

Marhaenist.id, Makassar - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Satresnarkoba Polres Binjai di Bawah Komando AKP Ismail Pane: Garda Terdepan Lindungi Generasi Muda dari Narkoba

Marhaenist.id, Binjai — Upaya pemberantasan dan pencegahan peredaran narkoba di Kota Binjai…

Ekonomi Perhatian dan Krisis Kesadaran: Algoritma, Kekuasaan, dan Arsitektur Kendali Pikiran

Marhaenist.id - Kita hidup dalam masa ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling berharga…

GMNI Jakarta Timur Soroti Carut-Marut Program MBG, Desak Evaluasi Total Pemerintah

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

GMNI Jaksel Mendesak Kapolri Listyo Sigit untuk Bebaskan 6 Aktivis yang Ditangkap di Balikpapan Tanpa Syarat

Marhaenist, Jakarta – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Jakarta Selatan (GMNI Jaksel) menuntut…

Meski Cuaca Panas, Ratusan Ribu Massa Tetap Semangat Hadiri Kampanye Akbar Ganjar-Mahfud di GBK

Marhaenist.id, Jakarta - Ratusan ribu warga mulai penuhi Stadion Gelora Bung Karno…

Relawan Mas Pram dan Bang Doel Gelar Nobar di 50 Titik Lokasi Bareng Warga Jakarta

MARHAENIST - Perjuangan Timnas Indonesia untuk meraih kesempatan pertama berlaga di World…

Refleksi Tiga Tahun DPC GMNI Tojo Una-una: Bergerak dari Desa untuk Mewujudkan Indonesia Emas

Marhaenist.id, Tojo Una-una — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?