By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Hitam Putihnya Hukum, Penganiayayan Siswa 14 Tahun Tantangan Untuk Penegak Hukum
Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Tual, Anak 14 Tahun Meninggal Dunia
Indonesia Menggugat: GMNI Jakarta Timur Desak Pencopotan Menteri HAM
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pancasila, Ramai Dibicarakan Sepi Diterapkan!

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Rabu, 1 Juni 2022 | 08:11 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Presiden Soekarno pada saat perumusan Pancasila 1 Juni 1945. FILE
Bagikan

Marhaenist – Setiap menjelang dan pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni,  di seluruh penjuru tanah air Pancasila ramai dibahas, dibicarakan, dan diseminarkan. Badan yang mengurusi pernak pernik seputar masalah Pancasila pun, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), extra dibentuk atas nama negara. Selanjutnya, Pancasila pun dengan perwajahan kosmetika yang indah, ditampilkan di atas panggung kehidupan berbangsa dan bernegara  lewat berbagai perhelatan seremonial yang begitu marak memukau.

Pendek kata, menjelang 1 Juni dan di hari H perayaan kelahiran Pancasila ini,  ia disanjung, dipuja, dan menjadi primadona dan tema sentral setiap pembicaraan maupun pidato para pemimpin lewat sejumlah retorika politik seputar Pancasila. Tapi ada satu hal yang mengagumkan, seluruh perhelatan  selalu saja berakhir dengan hasil yang konsisten, sama!  Yakni; dikurungnya Pancasila di dalam sangkar emas sebagai hiasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat disakralkan.

Saking suksesnya pensakralan Pancasila yang dikurung rapih dalam sebuah sangkar emas poitik kekuasaan, Pancasila pun menjadi tak tersentuh dan terjamah. Apalagi tumbuh hidup dan berkembang dalam kehidupan rakyat sehari-hari. Kewajiban yang ditekankan oleh para pemimpin kepada rakyatnya hanyalah menghafal dan lancar melafal Pancasila secara tekstual. Oleh karenanya dalam kerangka kontekstual, kehidupan keseharian kita sebagai bangsa berjalan dalam banyak hal tak sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh setiap sila dari kelima sila sebagai pandangan hidup kita sebagai bangsa.

Salah satu penyebab utama mungkin karena hingga hari ini belum ada cara yang ditawarkan oleh para pemimpin kita; bagaimana cara menumbuh kembangkan Pancasila di atas tanah yang sepenuhnya disuburkan oleh Liberalisme, Individualisme, dan Kapitalisme. Menumbuh kembangkan Pancasila dalam kenyataan yang paradoksal ini, sama saja seperti memaksa rakyat untuk mempercayai bahwa di atas gurun pasir sangat bisa di sana ditumbuh-kembangkan pohon-pohon pisang yang subur. Jawaban pastinya tentu: impossible alias sing mboten-mboten mawon.

Baca Juga:   Sudah Sejahterakah Buruh Hari Ini? Telaah Kritis Melalui Perspektif Marxis

Dalam kaitan ini, agar kita sebagai bangsa tidak terperosok jauh ke dalam kehidupan yang dipenuhi oleh kaum munafikun, Pancasila dalam Praktek sebagaimana yang diajarkan dan diamantkan oleh para pendiri Republik, perlu dijabarlkan operasionalisasinya dalam kehidupan nyata rakyat sehari-hari. Pertama yang harus dilakukan, para pemimpin harus siap hadir sebagai kelompok manusia panutan dan percontohan. Mereka perlu dan swajib tampil di barisan paling depan. Para pemimpin yang di sakunya tidak selalu menyimpan kalkulator politik dan ekonomi yang orientasinya melulu soal untung rugi politik-ekonomi (saya, kelompok kami, untung apa..dapet apa?). Selanjutnya, hadirkan pemimpin yang jauh dari feodalisme maupun gaya populis yang pada dasarnya melulu hanya untuk memenangkan pencitraan.

Kecenderungan seremonial dalam pemasyarakatan Pancasila niscaya berujung pada formalisme semata, Apalagi jika diserahkan penuh kepada pendekatan formal birokratis, yang melulu dilakukan oleh para birokrat hanya sekadar untuk memenuhi dalih penyerapan anggaran oleh masing-masing instansi. Kecenderungan seremonial dan formalisme ini pada ujungnya hanya melahirkan keterjebakan menuju Pancasila Sloganistik.

Ketiadaan Panutan dalam tokoh masyarakat yang mampu menggambarkan sosok Pancasilais yang mendekati idealisme bangsa dan negara, membuat Implementasi Pancasila seakan kehilangan leitstar (bintang penunjuk). Ketiadaan panutan ini pula yang menciptakan kebingungan dan disorientasi dalam pemahaman Pancasila. Apalagi kemudian Pancasila dimaknai seakan hanya milik kelompok masyarakat tertentu, partai tertentu, keluarga tertentu.

Klaim kepemilikan atas Pancasila ini kian ruwet, karena pada saat yang bersamaan terasakan ada upaya proxy yang sejak rezim Orde Baru berupaya membenturkan dan saling meniadakan dalam tafsir menafsir Pancasila. Proxy itu pula yang melahirkan seolah ada 3 tafsir utama Pancasila. Yaitu pertama versi 1 Juni 1945, yang berbeda dengan versi 22 Juni 1945, Kedua versi inipun dianggap tidak murni bahkan dinyatakan bertentangan dengan versi 18 Agustus 1945. Padahal secara time line ketiganya muncul secara dialektis, berurutan dan saling melengkapi satu sama lain, sesuai genealogi asal muasal perumusan Pancasila,

Baca Juga:   Api Perjuangan Marhaenisme: Merayakan 70 Tahun GMNI dalam Mempertahankan Kesejahteraan Kaum Marhaen

Lebih cilaka lagi dinamik simbol kekuatan aspiratif politik, seolah 1 Juni itu hanya Pancasilanya Sukarnois, 22 Juni juga hanya Pancasilanya Islamis, 18 Agustus seolah mutlak Pancasilanya Soehartois alias Orbais. Padahal Pidato Sukarno 1 Juni 1945, Perumusan 22 Juni 1945 oleh Panitia 9 yang dipimpin Sukarno, dan Perumusan final 18 Agustus 1945 dalam Pembukaan UUD 1945 harus dibaca dalam satu tarikan nafas yang sama.

Tarikan nafas yang mampu menjernihkan pemahaman filosofis atas Pancasila, agar jangan ditilik dari perspektif kepentingan politis sesaat yang bisa berujung kepada disorientasi. Sebagaimana disorientasi yang direkayasa oleh sejarahwan militer Orde Baru dengan menciptakan hoax bahwa ada dua orang lagi penggali Pancasila yang berpidato di BPUPK sebelum Sukarno. Yaitu Soepomo dan Mohamad Yamin. Dengan maksud bisa menggusur posisi pidato 1 Juni 1945 Sukarno.

Hoax politik sejarah ini, ternyata cukup efektif. De-sukarnoisme  berjalan mulus dan rakyat bangsa Indonesia sampai saat ini terus berkutat dalam polemik dan debat soal pancasila di berbagai seminar dan perhelatan akademis. Pancasila dalam wacana, Pancasila dalam berbagai perdebatan, pancasila dalam hiruk pikuk perayaan seremonial, marak menggelora. Terus berlanjut walau miskin substansi karena tanpa perwujudan nyata dalam kehidupan sehari-hari perilaku manusia Indonesia.

Para pemimpinnya riang ber-Pancasila ria, dan rakyatnya pun larut dalam keseolah-olahan telah menjalankan kehidupan di atas relnya Pancasila (1 Juni) sebagai pandangan hidup bangsa. Yang berWestern ria merasa sudah berPancasila, begitu pun yang sedang mabuk berArab ria. Berjalan tanpa beban perasaan bersalah berada di jalur dan pemahaman dan penjiwaan yang salah! Karena dituntun oleh situasi dan kondisi yang memang serba salah. Sebuah hasil akhir ketika bangunan Pancasila hari ini, fondasinya nyata-nyata salah dan teramat salah: Liberalisme, Individualisme, dan Kapitalisme.

Baca Juga:   Perempuan dan Kesejahteraan Buruh Era Rezim Jokowi

Masih mau terus berlanjut dan dilanjutkan? Sebaiknya berhentilah mempermainkan Pancasila! Sudah saatnya masa berwacana dan berseremoni ria seputar Pancasial disudahi. Sebagai gantinya Pancasila dalam praktek bukakan pintu lebar-lebar agar hadir nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari. Ini lah salah satu cara menyudahi pembodohan, pemiskinan, dan ‘pandemi’ korupsi yang dimotori pejabat bermental korup dengan dukungan para Oligarki!


Erros Djarot Budayawan, Ketua Umum Gerakan Bhinneka Nasionalis (GBN), Anggota Dewan Kehormatan DPP Persatuan Alumni GMNI

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Hitam Putihnya Hukum, Penganiayayan Siswa 14 Tahun Tantangan Untuk Penegak Hukum
Senin, 23 Februari 2026 | 03:46 WIB
Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Tual, Anak 14 Tahun Meninggal Dunia
Senin, 23 Februari 2026 | 03:35 WIB
Indonesia Menggugat: GMNI Jakarta Timur Desak Pencopotan Menteri HAM
Senin, 23 Februari 2026 | 03:24 WIB
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Marhaenist

GMNI dan Dunia Aktivisme Ganjar Pranowo

Marhaenist - Ganjar Pranowo lahir pada masa ketika Indonesia sedang merayakan peringatan…

Hadiri Kampanye Akbar di GBK, Atikoh dan Alam Curi Perhatian Ratusan Ribu Pendukung Ganjar-Mahfud

Marhaenist.id, Jakarta - Siti Atikoh Suprianti dan Zinedine Alam turut hadir mendampingi…

Kembalikan Kedaulatan Aggraria di Desa Pamboborang

Marhsenist.id - Kedaulatan agraria adalah suatu kondisi di mana suatu negara, khususnya…

Pancasila dan Materialisme Historis: Perspektif Filsafat Ilmu

Marhaenist.id - Pancasila adalah dasar falsafah negara, pandangan hidup bangsa dan norma dasar…

Sikapi Unras Kawal Putusan MK Atas UU PKPU Diberbagai Daerah, Komnas HAM Desak Aparat Tidak Gunakan Kekerasan

Marhaenist.id, Jakarta- Komnas HAM mencermati bahwa gelombang aksi Unjuk Rasa (Unras) yang terjadi…

Ketum PA GMNI: Transisi Demokrasi Tak Boleh Set Back ke Era Sebelum Reformasi

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Kawal Putusan MK, GMNI Airlangga Inisiasi Gerakan Demonstrasi Respons Kemelut RUU Pilkada

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau GMNI Airlangga bersiap melakukan aksi…

Prof. Arief Hidayat Purnabakti dari Mahkamah Konstitusi, Tutup 13 Tahun Pengabdian

Marhaenist.id, Jakarta – Prof. Dr. Arief Hidayat,S.H., M.S resmi mengakhiri masa jabatannya…

Pertamina Perkuat Sinergi Dengan GMNI dan Cipayung Plus di Proyek RDMP Balikpapan

MARHAENIST - Pertamina melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balikpapan dan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?