By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati
Jelang Konfercab GMNI Purwokerto 2026, Eks Ketua DPK GMNI Humaniora UMP Tekankan Tiga Pilar Regenerasi
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Historical

Memoar Khrushchev: Bagaimana Awal Mula Persahabatan Indonesia Dengan Uni Soviet?

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Jumat, 26 Januari 2024 | 16:28 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Nikita Khrushchev dan Presiden Sukarno. FILE
Bagikan

Marhaenist – Ditengah Perang Dingin, Indonesia muncul sebagai “Macan Asia”. Karisma Presiden Sukarno mengalihkan perhatian dunia pada sebuah negara kepulauan yang belum lama merdeka. Bagaimana presiden pertama Indonesia berhasil merebut hati Uni Soviet? Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev menceritakan kesannya terhadap Indonesia dan Sukarno dalam memoarnya.

Daftar Konten
Sukarno Mengesankan KhrushchevGelora Bung Karno

Pada mulanya, Uni Soviet tak mengenal Indonesia, tulis Khrushchev mengawali memoarnya mengenai Indonesia. Di bawah kepemimpinan Stalin, Uni Soviet sama sekali tak punya ketertarikan terhadap Indonesia. Selama bertahun-tahun berhubungan dengan Stalin, ia tak pernah sekalipun berbicara tentang Indonesia atau menunjukkan apa yang ia ketahui mengenai negara itu.

Pertama kali pemerintah Soviet mulai membicarakan Indonesia di tingkat Komite Pusat (Partai Komunis Uni Soviet) adalah pada 1955, ketika penandatanganan Dasasila Bandung (sepuluh poin hasil pertemuan Konferensi Asia-Afrika). Peristiwa itu betul-betul menarik seluruh perhatian dunia. Sejak itu, nama presiden Indonesia, Sukarno, mulai sering muncul di surat-surat kabar Soviet.

Secara perlahan, Indonesia mulai menarik perhatian Uni Soviet. Hubungan diplomatik antara kedua negara terjalin saat Stalin masih berkuasa. Menurut Khrushchev, Indonesia layak mendapat perhatian Soviet karena negara itu adalah negara yang sangat besar, indah, makmur, multietnis, dan terdiri dari ribuan pulau dengan populasi (kala itu) mencapai lebih dari seratus juta jiwa.

Sukarno Mengesankan Khrushchev

Pada 1956, tak lama setelah Kongres Partai Komunis Uni Soviet yang ke-20, Presiden Sukarno berkunjung ke Uni Soviet. Presiden Indonesia disambut dengan penuh hormat sebagaimana mestinya, tulis Khrushchev. “Dia memberi kami kesan sebagai orang yang terdidik dan cerdas. Padahal, tingkat pendidikan dan kecerdasan tak selalu sejalan. Saya telah bertemu banyak orang berpendidikan, tapi sangat tidak cerdas, dan sebaliknya, orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan, tetapi di sisi lain berotak encer. Sukarno memiliki keduanya. Ia berpendidikan dan juga cerdas.”

Baca Juga:   Refleksi 17 Agustus 1945: Menuju Kemerdekaan RI, Mengenang Peristiwa Rengasdengklok

Kunjungan Sukarno ternyata betul-betul meninggalkan kesan mendalam. Uni Soviet langsung menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Khrushchev bahkan mengakui bahwa ia sangat menyukai sosok Sukarno. Selama berada di Uni Soviet, Sukarno menggarisbawahi prinsip-prinsip kebijakannya yang menekankan pada netralitas dan tak berpihak pada blok militer mana pun.

“Begitulah awalnya kami menjalin hubungan dengan Indonesia. Pelan-pelan, Indonesia semakin dekat dengan kami dan bahkan memerlukan bantuan ekonomi,” kata Khrushchev. Pada awal 1960, Sukarno mengundang delegasi pemerintah Uni Soviet untuk berkunjung ke Indonesia. Khrushchev mengaku sangat senang dan karena itu langsung menerima undangan tersebut.

“Delegasi kami terdiri dari beberapa anggota Komite Pusat Partai Komunis Uni Soviet. Saya dipercaya untuk memimpin rombongan itu. Saya ditemani oleh Menlu Gromyko dan sejumlah orang lainnya. Kami terbang ke Indonesia dengan menggunakan pesawat Il-18,” kenang Khrushchev.

Begitu mendarat, delegasi Uni Soviet langsung disambut dengan upacara penyambutan yang luar biasa. Orang-orang bahkan berbondong-bondong memadati jalan-jalan. “Mereka menyambut kami dengan begitu hangat, dan itu langsung memperkuat kesan kami terhadap Indonesia. Indonesia adalah negara yang sangat indah. Orang-orangnya pun sangat ramah. Sementara, kehangatan iklim tropis betul-betul mengejutkan kami.”

Gelora Bung Karno

Sebelum ke Indonesia, pemerintah Uni Soviet telah menyepakati sejumlah kerja sama dengan Indonesia. Soviet, misalnya, sepakat membantu penyediaan sejumlah peralatan dan memberikan pinjaman untuk penambangan timah dan barang tambang berharga lainnya. Sukarno bahkan meminta supaya Uni Soviet membantu pembangunan stadion di Jakarta. Stadion itu, sebagaimana yang dikatakan Sukarno, diharapkan dapat menampung ribuan orang. Stadion itulah yang kemudian dikenal sebagai Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Akhirnya, sejumlah pakar Soviet yang berpengalaman mengerjakan proyek semacam itu membangun stadion untuk Indonesia. Sukarno bahkan mengundang Khrushchev untuk mengunjungi lokasi pembangunan. Saat itulah, Khrushchev sadar bahwa Sukarno ingin dirinya terlihat sebagai sosok sentral dalam pembangunan ini, seolah-olah dialah pencetus utamanya.

Baca Juga:   Kudeta Merangkak Soeharto, Upaya Jahat Terhadap Sang Proklamator

“Bersama saya, ia melakukan semacam aksi simbolis tenaga kerja. Kami menarik tali yang menghidupkan mesin pemancang tiang. Semua ini hanyalah aksi teatrikal, tapi memang begitulah dia (Sukarno),” kata Khrushchev mengenang. Dalam memoarnya, Khrushchev bercerita bahwa ketika presiden Indonesia meminta bantuan Uni Soviet untuk membangun stadion megah di Jakarta yang menghabiskan banyak uang, ia mengaku terkejut dan berterus terang pada Sukarno bahwa itu bukanlah langkah yang bijaksana.

“Indonesia (saat itu) masih merupakan negara terbelakang. Aneka industri baru mulai dibangun. Negara itu hidup dengan mengandalkan sumber daya alamnya dan mengekspor barang-barang mentah. Meski begitu, hal pertama yang mereka inginkan adalah stadion! Untuk apa?” ujar Khrushchev.

“Untuk menggelar orasi publik,” jawab Sukarno singkat.

Jawaban itu ternyata tak memuaskan Khrushchev. Dalam memoarnya, sang pemimpin Soviet bahkan mengakui bahwa ia memandang sikap presiden Indonesia itu secara negatif. Menurutnya, dari berbagai pemimpin negara yang ia kenal, Sukarno betul-betul berbeda. Ia setuju bahwa seorang pemimpin negara sesekali perlu menggelar orasi publik. Namun, Khrushchev melihat bahwa sikap Sukarno itu justru menunjukkan kelemahannya.

“Dia memang senang berada di tengah-tengah rakyat. Dia terlihat seolah-olah selalu membutuhkan penonton dan karena itulah dia membutuhkan sebuah panggung besar — sebuah stadion, yang akhirnya kami bangun,” kenang sang pemimpin Soviet.

Meski begitu, saat kunjungan pertama Sukarno ke Uni Soviet, ia memang sempat berpidato di Stadion Luzhniki, Moskow. Kabarnya, ia begitu terkesan dengan stadion tersebut sehingga memutuskan bahwa ibu kota Indonesia pun memerlukan kompleks olahraga sejenis. Tak heran, stadion yang belum lama ini menjadi saksi kehebatan timnas sepak bola Prancis pada Piala Dunia beberapa waktu lalu menjadi inspirasi untuk membangun Stadion Gelora Bung Karno.

Baca Juga:   Inggit Garnasih Pahlawan Nasional yang Tak Kunjung Diakui dan Telupakan

Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno mulai dikerjakan pada 8 Februari 1960. Dua tahun kemudian, pada 24 Agustus 1962, stadion itu resmi dibuka sebagai kelengkapan sarana dan prasarana Asian Games 1962 yang diadakan di Jakarta. Untuk membangun stadion megah itu, Uni Soviet memberikan kredit lunak sebesar 12,5 juta dolar AS kepada Indonesia.

Kenangan Khrushchev terhadap Sukarno dan Indonesia tak selesai sampai sini.

_______

 

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati
Minggu, 19 April 2026 | 19:29 WIB
Jelang Konfercab GMNI Purwokerto 2026, Eks Ketua DPK GMNI Humaniora UMP Tekankan Tiga Pilar Regenerasi
Sabtu, 18 April 2026 | 17:53 WIB
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Tegaskan RUU Daerah Kepulauan Merupakan Keharusan Sejarah

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

DPD GMNI DKI Jakarta Bakal Gelar Konferda I Tahun 2026, Dorong Transformasi Menuju Jakarta Kota Global

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tebar Kebaikan di Bulan Ramadhan, GMNI dan Dirintelkam Polda Riau Kolaborasi Berbagi Paket Sembako ke Panti Asuhan

Marhaenist.id, Pekanbaru - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar FGD, DPC GMNI Kendari Ajak Kaum Milenial Cerdas Dalam Bermedia Sosial

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Semaoen, Sang Pendiri Partai Komunis di Indonesia

Marhaenist.id - Dialah Semaoen pendiri Partai Komunis Indonesia atau PKI. Semaun adalah…

Alfamart dan Indomaret Sudah Monopolistik dan Predatorik

Marhaenist.id - Masifnya pertumbuhan jaringan minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret saat…

Ramai Soal Begal Konstitusi, Garuda Biru Bergema di Medsos

MARHAENIST - Serempak warganet beramai-ramai membagikan gambar burung garuda berwarna biru disertai…

DPC PA GMNI Pontianak Launching Pojok Pemikiran Bung Karno di Perpusda Provinsi Kalbar

Marhaenist.id, Pontianak - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Sikapi Dugaan Pembunuhan Tahanan oleh Oknum Kepolisian, GMNI Polman Minta Pelaku di Hukum Sebarat-Beratnya

Marhaenist.id, Polman - Seorang tahanan laki-laki berinisial R, warga Dusun Tatamu, Desa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?