By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Bulan Bung Karno: Ini Bukan tentang Persatuan, Tapi tentang Siapa yang Punya Kepentingan!

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 25 Juni 2025 | 23:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd Ketua DPC PA GMNI Touna/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Bulan Juni selalu menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan ini, kita memperingati kelahiran salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yaitu Soekarno, atau yang lebih akrab kita sebut Bung Karno. Lahir pada 6 Juni 1901, Bung Karno bukan hanya seorang proklamator, tetapi juga seorang pemimpin yang berjuang untuk kemerdekaan dan persatuan bangsa. Namun, di balik semua itu, terdapat sebuah realitas yang sering kali terabaikan, bahwa persatuan yang dibangun Bung Karno tidak selalu mulus, melainkan juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan sosial yang ada pada waktu itu.

Dalam konteks sejarah, bulan Juni tidak hanya sekadar memperingati kelahiran Bung Karno, tetapi juga menjadi momen refleksi tentang bagaimana kepentingan Ego Pribadi sering kali menjadi penghalang bagi persatuan yang sejati. Misalnya, pada tahun 1945, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, Bung Karno dan Mohammad Hatta berjuang untuk mempersatukan berbagai elemen bangsa yang berbeda latar belakang etnis, agama, dan ideologi.

Namun, dalam prosesnya, mereka harus menghadapi berbagai kepentingan yang saling bertentangan. Seperti yang dicatat oleh Ricklefs (2012), “Pemerintahan awal Indonesia dipenuhi dengan konflik internal yang mencerminkan perbedaan kepentingan di antara para pemimpin dan kelompok-kelompok masyarakat.”

Salah satu contoh nyata dari bentrokan kepentingan ini adalah ketika Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, yang membubarkan Konstitusi RIS 1949 dan mengembalikan kepada UUD 1945. Keputusan ini diambil dalam konteks ketidakpuasan terhadap sistem politik yang ada, dimana berbagai partai politik saling berkonflik dan tidak mampu membentuk pemerintahan yang stabil. Dalam hal ini, Bung Karno berusaha untuk menyatukan semua elemen bangsa di bawah satu payung.

Baca Juga:   Orde Baru Tak Pernah Pergi...

Statistik menunjukkan bahwa pada periode awal kemerdekaan, Indonesia mengalami banyak gejolak politik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 1950-an, Indonesia memiliki lebih dari 20 partai politik yang beroperasi secara bersamaan. Keberagaman ini menciptakan tantangan tersendiri bagi Bung Karno dalam membangun persatuan.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa kepentingan politik sering kali menghalangi tercapainya tujuan bersama. Sebagaimana dinyatakan oleh historian John Roosa (2006), “Bung Karno berusaha untuk menciptakan konsensus, tetapi pada akhirnya, banyak kepentingan yang bertentangan membuat persatuan sulit dicapai.”

Lebih jauh lagi, bulan Juni juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi perjuangan Bung Karno. Pada masa itu, Indonesia adalah negara yang baru merdeka dengan berbagai tantangan, mulai dari pembangunan ekonomi hingga pendidikan.

Bung Karno menyadari bahwa untuk mencapai persatuan, ia harus melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk kaum buruh, petani, dan intelektual. Misalnya, dalam salah satu pidatonya, Bung Karno pernah menekankan pentingnya Persatuan dalam pembangunan Bangsa dan Negara (Sukarno, 1965).

Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa meskipun Bung Karno berusaha untuk membangun persatuan, kepentingan ekonomi dan politik sering kali mendominasi agenda-agenda yang ada. Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa pada tahun 1960, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 8,5%, yang mencerminkan bahwa banyak orang yang merasa tidak terwakili dalam proses pembangunan. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya menciptakan tantangan bagi persatuan yang ingin dibangun oleh Bung Karno.

Bulan Juni, dengan segala maknanya, seharusnya menjadi momen untuk merenungkan kembali nilai-nilai Marhaenisme yang diajarkan oleh Bung Karno. Namun dalam banyak kasus, kepentingan individu atau kelompok sering kali mengalahkan kepentingan bersama. Ini adalah pelajaran penting yang harus kita ambil, terutama di tengah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Sebagai penutup, bulan Juni seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang bisa diambil begitu saja. Ia memerlukan usaha, pengorbanan, dan pemahaman yang mendalam tentang kepentingan bersama.

Baca Juga:   Reformasi Disabotase: Ketika TNI dan Polri Ingin Berkuasa Lagi

Bung Karno, dengan segala keberhasilannya, juga menunjukkan bahwa tidak ada persatuan yang sempurna tanpa pengakuan terhadap kepentingan yang berbeda. Dalam konteks ini, kita harus terus berjuang untuk mencapai persatuan yang sejati di mana setiap suara dan kepentingan dihargai dan diperhatikan.

Merdeka !!!***


Penulis: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd
Ketua DPC PA GMNI Touna.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Jaga Demokrasi, Ribuan Alumni Perguruan Tinggi se-Jawa Barat Deklarasi Dukung Ganjar

Marhaenist.id, Jakarta - Ribuan alumni perguruan tinggi se-Jawa Barat mendeklarasikan diri untuk…

Kisruh Koperasi dan MRT Bikin Iklim Usaha Buruk,  Ketua PB Jakarta Apresiasi Kebijakan Pramono Anung

Marhaenist.id, Jakarta - Kisruh  antara Koperasi pedagang  dengan manajemen Plasa 2 Blok…

DPC GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Korupsi di DJP: Pajak Rakyat Tidak Aman

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Taufiq Kiemas dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

MARHAENIST - Palembang, siang hari yang terik, 19 Agustus 1960. Remaja yang…

GMNI Berduka, Senior GMNI Antasari Azhar Telah Berpulang Kepada Sang Khalik

Marhaenist.id, Tangsel - Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode…

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbicara dalam acara sampingan Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di Nusa Dua, Bali, Indonesia, 14 Juli 2022. Made Nagi/Pool via REUTERS

Sri Mulyani Libatkan Bank Dunia ke Agenda Prioritas Indonesia di G20

Marhaenist - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengajak Bank Dunia untuk terlibat…

Ketua GMNI Jatim Ajak Masyarakat Kawal Pemilu 2024

  Marhaenist.id, Surabaya - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional…

Inilah Alasan Soekarno tidak Menginginkan Masjid Istiqlal Dibangun dengan Kayu

Marhaenist.id - Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali muncul pada tahun 1944,…

Jokowi Kecam Israel Atas Pembunuhan Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecam keras pembunuhan pemimpin Hamas Ismail…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?