By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Gelar Seri Diskusi Publik Edisi V, PA GMNI Jakarta Raya Tekankan Front Marhaenis Ambil Peran untuk Berdaulat, Berdikari, Berbudaya
Program PKPA Beasiswa Peradi Utama Berlanjut, 140 Kader Ikuti Pertemuan Keempat dengan Materi Tata Acara Pengadilan Pidana
Front Marhaenis Ditengah Kekacauan Politik, Hukum, dan Ekonomi Indonesia Hari Ini
Republik Jenderal Multitasking
DPC PA GMNI Humbahas Ajak Kampus di Sumut Gerakkan Mahasiswa sebagai Relawan Pemulihan Psikologis Anak Korban Bencana

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Bulan Bung Karno: Ini Bukan tentang Persatuan, Tapi tentang Siapa yang Punya Kepentingan!

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 25 Juni 2025 | 23:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd Ketua DPC PA GMNI Touna/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Bulan Juni selalu menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan ini, kita memperingati kelahiran salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yaitu Soekarno, atau yang lebih akrab kita sebut Bung Karno. Lahir pada 6 Juni 1901, Bung Karno bukan hanya seorang proklamator, tetapi juga seorang pemimpin yang berjuang untuk kemerdekaan dan persatuan bangsa. Namun, di balik semua itu, terdapat sebuah realitas yang sering kali terabaikan, bahwa persatuan yang dibangun Bung Karno tidak selalu mulus, melainkan juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan sosial yang ada pada waktu itu.

Dalam konteks sejarah, bulan Juni tidak hanya sekadar memperingati kelahiran Bung Karno, tetapi juga menjadi momen refleksi tentang bagaimana kepentingan Ego Pribadi sering kali menjadi penghalang bagi persatuan yang sejati. Misalnya, pada tahun 1945, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, Bung Karno dan Mohammad Hatta berjuang untuk mempersatukan berbagai elemen bangsa yang berbeda latar belakang etnis, agama, dan ideologi.

Namun, dalam prosesnya, mereka harus menghadapi berbagai kepentingan yang saling bertentangan. Seperti yang dicatat oleh Ricklefs (2012), “Pemerintahan awal Indonesia dipenuhi dengan konflik internal yang mencerminkan perbedaan kepentingan di antara para pemimpin dan kelompok-kelompok masyarakat.”

Salah satu contoh nyata dari bentrokan kepentingan ini adalah ketika Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, yang membubarkan Konstitusi RIS 1949 dan mengembalikan kepada UUD 1945. Keputusan ini diambil dalam konteks ketidakpuasan terhadap sistem politik yang ada, dimana berbagai partai politik saling berkonflik dan tidak mampu membentuk pemerintahan yang stabil. Dalam hal ini, Bung Karno berusaha untuk menyatukan semua elemen bangsa di bawah satu payung.

Baca Juga:   Polemik Tapera: Masalah atau Solusi?

Statistik menunjukkan bahwa pada periode awal kemerdekaan, Indonesia mengalami banyak gejolak politik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 1950-an, Indonesia memiliki lebih dari 20 partai politik yang beroperasi secara bersamaan. Keberagaman ini menciptakan tantangan tersendiri bagi Bung Karno dalam membangun persatuan.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa kepentingan politik sering kali menghalangi tercapainya tujuan bersama. Sebagaimana dinyatakan oleh historian John Roosa (2006), “Bung Karno berusaha untuk menciptakan konsensus, tetapi pada akhirnya, banyak kepentingan yang bertentangan membuat persatuan sulit dicapai.”

Lebih jauh lagi, bulan Juni juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi perjuangan Bung Karno. Pada masa itu, Indonesia adalah negara yang baru merdeka dengan berbagai tantangan, mulai dari pembangunan ekonomi hingga pendidikan.

Bung Karno menyadari bahwa untuk mencapai persatuan, ia harus melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk kaum buruh, petani, dan intelektual. Misalnya, dalam salah satu pidatonya, Bung Karno pernah menekankan pentingnya Persatuan dalam pembangunan Bangsa dan Negara (Sukarno, 1965).

Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa meskipun Bung Karno berusaha untuk membangun persatuan, kepentingan ekonomi dan politik sering kali mendominasi agenda-agenda yang ada. Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa pada tahun 1960, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 8,5%, yang mencerminkan bahwa banyak orang yang merasa tidak terwakili dalam proses pembangunan. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya menciptakan tantangan bagi persatuan yang ingin dibangun oleh Bung Karno.

Bulan Juni, dengan segala maknanya, seharusnya menjadi momen untuk merenungkan kembali nilai-nilai Marhaenisme yang diajarkan oleh Bung Karno. Namun dalam banyak kasus, kepentingan individu atau kelompok sering kali mengalahkan kepentingan bersama. Ini adalah pelajaran penting yang harus kita ambil, terutama di tengah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Sebagai penutup, bulan Juni seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang bisa diambil begitu saja. Ia memerlukan usaha, pengorbanan, dan pemahaman yang mendalam tentang kepentingan bersama.

Baca Juga:   Quo Vadis Hari Anak Nasional 2024: Telaah Kritis

Bung Karno, dengan segala keberhasilannya, juga menunjukkan bahwa tidak ada persatuan yang sempurna tanpa pengakuan terhadap kepentingan yang berbeda. Dalam konteks ini, kita harus terus berjuang untuk mencapai persatuan yang sejati di mana setiap suara dan kepentingan dihargai dan diperhatikan.

Merdeka !!!***


Penulis: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd
Ketua DPC PA GMNI Touna.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Gelar Seri Diskusi Publik Edisi V, PA GMNI Jakarta Raya Tekankan Front Marhaenis Ambil Peran untuk Berdaulat, Berdikari, Berbudaya
Sabtu, 6 Desember 2025 | 23:40 WIB
Program PKPA Beasiswa Peradi Utama Berlanjut, 140 Kader Ikuti Pertemuan Keempat dengan Materi Tata Acara Pengadilan Pidana
Sabtu, 6 Desember 2025 | 23:04 WIB
Front Marhaenis Ditengah Kekacauan Politik, Hukum, dan Ekonomi Indonesia Hari Ini
Sabtu, 6 Desember 2025 | 22:30 WIB
Republik Jenderal Multitasking
Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:46 WIB
DPC PA GMNI Humbahas Ajak Kampus di Sumut Gerakkan Mahasiswa sebagai Relawan Pemulihan Psikologis Anak Korban Bencana
Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:24 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Putusan MK Mulai Jegal Klan Jokowi

MARHAENIST - Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menetapkan minimal syarat usia calon di…

Momentum IWD 2024: Inspire Inclusion sebagai Spirit Keberpihakan Perempuan

Marhaenist.id, Surabaya - Hari Perempuan Intenasional atau dalam bahasa umum yang dikenal oleh…

Kawan 98 dan Jaga Suara Ajak Warga Waspadai Adanya Politik Uang di Pilkada Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta - Persaingan antar pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur…

Mengenang Sejarah Hari Buruh: Tantangan dan Peluang Perjuangan di Era Digital

Marhaenist.id - Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai…

Tantangan dan Potensi Peternakan Berkelanjutan di Masa Depan

Marhaenist.id - Pada tahun 2050, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai sembilan miliar jiwa.…

Tantang DPRD Sultra, GMNI Kendari: Makan Gratis atau Masa Depan Pendidikan?

Marhaenist.id, Kendari – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Jaktim Tanyakan Kemana Pemangkasan Alokasi Dana Pendidikan dan Tuntut Percepatan Pengesahan RUU PRT

Marhaenist.id, Jakarta - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur Jaktim mengkritik…

Gelar Aksi Kemanusiaan, GMNI Touna Serakan Bantuan untuk Korban Gempa Poso

Marhaenist.id, Touna - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tojo Una-Una (Touna) menyerahkan…

Marhaenisme Tidak Pernah Mati

Marhaenist.id - Marhaenisme merupakan sebuah ideologi yang dikembangkan oleh Bung Karno pada…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?