
Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur melalui Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kerakyatan dan UMKM, Bima Sadiropa Sijabat, menyoroti tekanan besar yang sedang dialami nilai tukar rupiah akibat penguatan dolar Amerika Serikat serta menguatnya sejumlah mata uang regional, termasuk ringgit Malaysia.
Menurut Bima, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pasar keuangan nasional, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan sektor ekonomi kerakyatan.
“Situasi pelemahan rupiah hari ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan Bank Indonesia. Ketika dolar AS terus menguat dan mata uang regional seperti ringgit Malaysia ikut mengalami penguatan, maka posisi rupiah semakin tertekan. Dampaknya bukan hanya dirasakan investor, tetapi langsung menyentuh rakyat kecil, pelaku UMKM, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok,” ujar Bima, Jumat (22/5/2026).
Berdasarkan perkembangan pasar keuangan pada perdagangan 21 Mei 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.652 hingga Rp17.738 per dolar AS. Dalam beberapa hari terakhir, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.706 per dolar AS dan menjadi salah satu titik pelemahan terdalam sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Sementara itu, nilai tukar ringgit Malaysia tercatat berada di kisaran Rp4.388 hingga Rp4.618 per 1 ringgit Malaysia. Penguatan ringgit tersebut dinilai menunjukkan adanya tekanan regional terhadap mata uang Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan signifikan. Pada pembukaan perdagangan 21 Mei 2026, IHSG tercatat melemah hingga 1,82 persen ke level 6.203 dan sempat bergerak turun lebih dalam ke area 6.181. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah turut memengaruhi sentimen investor di pasar saham nasional.
Bima menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, tingginya suku bunga Amerika Serikat, meningkatnya tensi geopolitik dunia, serta perpindahan modal investor ke aset berbasis dolar menjadi faktor utama penguatan dolar AS secara global.
Sementara dari sisi domestik, tingginya kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan keluarnya arus modal asing membuat rupiah semakin rentan mengalami tekanan.
“Ketika investor global lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS, maka negara berkembang seperti Indonesia akan menghadapi tekanan besar terhadap nilai tukarnya. Ini yang sedang terjadi hari ini,” jelasnya.
Meski demikian, Bima menilai Bank Indonesia sejauh ini telah menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai amanat undang-undang dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, mengendalikan inflasi, serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Langkah Bank Indonesia melalui kenaikan suku bunga acuan, intervensi pasar valuta asing, penguatan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga menjaga cadangan devisa dinilai sebagai kebijakan yang tepat untuk menahan tekanan terhadap rupiah.
Namun, menurutnya, stabilitas rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia semata. Pemerintah pusat juga harus memperkuat sektor riil dan ekonomi domestik agar Indonesia tidak terlalu bergantung terhadap faktor eksternal.
GMNI Jakarta Timur mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, antara lain:
- Memperkuat produksi dan industri nasional agar ketergantungan impor berkurang;
- Menjaga devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri;
- Memperkuat sektor UMKM sebagai penopang utama ekonomi nasional;
- Mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat;
- Meningkatkan kepercayaan investor melalui kepastian hukum dan stabilitas politik nasional; serta
- Memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal antarnegara guna mengurangi dominasi dolar AS.
Bima juga mengingatkan bahwa apabila dolar AS terus mengalami kenaikan dan rupiah semakin melemah, maka dampaknya akan sangat luas terhadap masyarakat Indonesia. Harga barang impor akan meningkat, biaya produksi industri naik, harga BBM berpotensi terdorong, utang luar negeri pemerintah dan swasta membengkak, serta inflasi dapat semakin tinggi.
“Yang paling terdampak tentu masyarakat kecil dan pelaku UMKM. Ketika bahan baku naik, ongkos produksi naik, tetapi daya beli masyarakat melemah, maka ekonomi rakyat akan mengalami tekanan berlapis. Ini yang harus diantisipasi sejak sekarang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kondisi pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan penurunan IHSG menunjukkan adanya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. Oleh sebab itu, pemerintah diminta segera mengambil langkah strategis dan terukur agar kepercayaan pasar tetap terjaga.
“Indonesia harus memperkuat fondasi ekonominya sendiri. Ketahanan pangan, energi, industri nasional, dan penguatan UMKM harus menjadi prioritas utama agar ekonomi nasional tidak mudah terguncang hanya karena tekanan mata uang asing. Negara tidak boleh hanya fokus menjaga angka pertumbuhan, tetapi juga harus memastikan rakyat tetap mampu bertahan di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu,” tutup Bima Sadiropa Sijabat.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar