
Marhaenist.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sebagai organisasi kader pejuang-pemikir pejuang memiliki sejarah panjang dalam menjaga nilai persatuan, ideologi, dan keberpihakan terhadap rakyat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dinamika internal organisasi di berbagai daerah kerap diwarnai oleh perpecahan, dualisme kepemimpinan, hingga tarik-menarik kepentingan yang justru menjauhkan GMNI dari cita-cita besarnya sebagai rumah perjuangan kaum marhaenis.
Di tengah situasi tersebut, Konferensi Daerah (Konferda) Persatuan GMNI Sulawesi Barat (Sulbar) menjadi contoh penting bagaimana semangat persatuan dapat diwujudkan secara nyata. Konferda ini bukan hanya sekadar agenda organisasi, melainkan momentum rekonsiliasi, konsolidasi, dan peneguhan kembali bahwa GMNI harus berdiri di atas kepentingan kader, bukan kepentingan kelompok tertentu.
Salah satu pelajaran paling berharga dari Konferda Persatuan GMNI Sulbar adalah keberanian untuk menempatkan organisasi pada jalurnya yang benar. Di Sulbar, para alumni dan senior tidak lagi masuk mengurusi GMNI secara langsung. Mereka memilih untuk memberi ruang kepada kader aktif menjalankan roda organisasi secara mandiri dan bertanggung jawab.
GMNI Sulbar secara tegas meminta para alumni dan senior agar fokus di ruang pengabdian masing-masing baik di pemerintahan, dunia akademik, profesi, maupun ruang sosial kemasyarakatan tanpa melakukan intervensi terhadap dinamika internal organisasi. Sikap ini menjadi langkah dewasa yang patut diapresiasi, karena organisasi kader harus dipimpin oleh kader, dibesarkan oleh kader, dan dipertanggungjawabkan oleh kader.
Keputusan untuk membatasi intervensi eksternal tersebut terbukti membawa dampak positif. Konferda Persatuan GMNI Sulbar berjalan lancar, kondusif, dan penuh semangat kebersamaan. Tidak ada dominasi kepentingan pribadi maupun kelompok senior tertentu yang berusaha mengendalikan arah organisasi. Yang hadir adalah semangat kolektif untuk menyatukan kembali GMNI sebagai alat perjuangan ideologis.
Fenomena ini patut menjadi refleksi bagi GMNI di seluruh Indonesia. Tidak sedikit persoalan organisasi justru muncul karena terlalu besarnya campur tangan pihak di luar struktur aktif organisasi. Ketika alumni atau senior terlalu dalam mengendalikan proses kaderisasi dan kepemimpinan, maka independensi organisasi menjadi terganggu. Kader muda kehilangan ruang belajar, kehilangan keberanian mengambil keputusan, bahkan kehilangan kemandirian politik organisasi.
Padahal, tugas utama alumni seharusnya adalah menjadi penopang moral, pemberi nasihat ketika dibutuhkan, serta membuka ruang-ruang strategis bagi kader muda untuk berkembang bukan menjadi pengendali utama organisasi. Organisasi mahasiswa harus tetap menjadi laboratorium kepemimpinan yang sehat, bukan arena reproduksi kekuasaan kelompok tertentu.
Konferda Persatuan GMNI Sulbar mengajarkan bahwa persatuan tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kesadaran kolektif untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas ego personal. Persatuan juga membutuhkan keberanian untuk membangun batas yang sehat antara kader aktif dan alumni, antara ruang perjuangan mahasiswa dan ruang pengabdian senior.
Jika semangat ini dapat ditiru oleh seluruh DPD dan DPC GMNI se-Indonesia, maka bukan tidak mungkin GMNI akan kembali menjadi kekuatan ideologis yang solid, progresif, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman. Persatuan bukan sekadar slogan, tetapi keputusan politik organisasi yang harus diperjuangkan bersama.
GMNI harus kembali pada jati dirinya: organisasi kader, organisasi perjuangan, dan organisasi yang berdiri tegak tanpa intervensi kepentingan sempit. Dari Sulbar, kita belajar bahwa persatuan itu mungkin, asal semua pihak mau menahan ego dan mengutamakan masa depan organisasi.***
Catatan Redaksi, Ditulis Oleh La Ode Mustawwadhaar.