By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pertumbuhan Ekonomi Yang Menyisakan Luka Sosial dan Ekologis

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Sabtu, 11 Oktober 2025 | 08:38 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Para pekerja kantoran berjalan pulang di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. FILE/IST. Photo
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah hiruk-pikuk angka pertumbuhan ekonomi, Indonesia kembali dihadapkan pada paradoks lama: ekonomi tumbuh di atas luka sosial dan kerusakan alam. Pemerintah pusat bangga dengan stabilitas makro, namun di baliknya, hutan menyusut, udara kotor, dan desa-desa kehilangan sumber air bersih akibat ekspansi tambang dan perkebunan besar. Bagi mazhab sosialis, pertumbuhan semacam ini bukanlah kemajuan, melainkan gejala penyakit struktural.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa serapan anggaran di tingkat pusat dan daerah masih rendah, rata-rata hanya sekitar 60 persen. Artinya, bukan uang yang kurang, melainkan program yang tidak berpihak kepada rakyat. Anggaran besar mengendap di rekening negara, sementara petani, nelayan, dan pekerja kecil terus bergulat dengan harga yang tak menentu dan akses publik yang minim. Birokrasi kita, seperti kata rakyat dengan getir, “ombes, kerja sedikit, gaji milyaran.”

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Dalam pandangan sosialis, ini menunjukkan adanya kelas birokrasi dan elite ekonomi yang telah menjauh dari fungsi sosial negara. Mereka menikmati hasil struktur kapitalistik tanpa benar-benar memproduksi nilai untuk masyarakat. Negara yang seharusnya menjadi alat rakyat berubah menjadi pelayan kepentingan modal dan kenyamanan birokrat.

Mazhab sosialis menolak pandangan sempit bahwa ekonomi hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB. Pertumbuhan yang menghancurkan lingkungan, menyingkirkan petani, dan memperkaya segelintir orang tidak bisa disebut kemajuan. Sebaliknya, ekonomi harus dinilai dari sejauh mana ia mampu menciptakan keadilan sosial dan ekologis: kesejahteraan yang merata, kerja yang manusiawi, dan harmoni dengan alam.

Kerusakan alam yang kini merajalela, dari krisis air hingga kebakaran hutan adalah bukti bahwa pertumbuhan yang berorientasi laba telah kehilangan arah moralnya. Alam dieksploitasi habis-habisan demi statistik ekonomi, sementara rakyat yang bergantung pada tanah dan air justru menanggung akibatnya. Sosialisme mengingatkan bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan produksi kehidupan, bukan objek eksploitasi.

Baca Juga:   17 Agustus 1945: Salah Kaprah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia menjadi HUT RI

Karena itu, solusi sejati bukan sekadar menaikkan anggaran atau mengganti menteri, tetapi mengubah orientasi pembangunan: dari profit ke kebutuhan rakyat, dari pertumbuhan ke keberlanjutan. Rakyat harus dilibatkan dalam perencanaan dan pengawasan anggaran, sementara negara harus menegakkan fungsi sosialnya, menjamin pendidikan, pangan dan lingkungan yang layak untuk semua.

Pertumbuhan sejati bukanlah ketika angka naik, tetapi ketika manusia dan alam sama-sama tumbuh dalam keadilan.


Penulis: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Foto: Warga Kebon Sayur yang di Tangkap Paksa oleh Aparat (Bapak Juned)/MARHAENIST.

Penangkapan Paksa Warga Kebon Sayur dan Upaya Intimidasi dari aparat Kepolisian

Marhaenist, Jakarta – Pada hari Rabu (13/08/2025) telah terjadi penangkapan paksa oleh…

Guntur Soekarnoputra dalam peluncuran buku Catatan Merah Dari Putera Bung Karno Jilid 3, 19 Oktober 2022. MARHAENIST

Catatan Merah dari Putera Bung Karno, Ini Kata Ganjar Pranowo dan Mahfud MD

Marhaenist - Putra pertama Presiden Soekarno, yang juga merupakan Ketua Dewan Ideologi…

Ganjar: Jaga Perdamaian, Gunakan Hak Pilih Tanpa Takut Ditekan

Marhaenist.id, Klaten - Lapangan Merdeka di Delangu Klaten mendadak ramai, Rabu (07/02/2023)…

SLHS Terbit Meski IPAL MBG tidak Memenuhi Standar, GMNI Bantaeng Pertanyakan Proses Verifikasi

Marhaenist.id, Jeneponto - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Agenda Aksi New Delhi tentang Masa Depan Koperasi: Menciptakan Kemakmuran untuk Semua

A. Mukadimah Kami, para peserta Konferensi Koperasi Global ICA 2024 yang meluncurkan…

Ironi di Kawasan HTI RAPP: GMNI Temukan Sekolah Beralas Pasir dan Lansia Terabaikan Fasilitas Kesehatan di Kampar Kiri

Marhaenist.id, Kampar — Akses jalan yang memprihatinkan dan fasilitas pendidikan yang jauh…

DPK GMNI UNM Siap Jadi Patron Persatuan GMNI di Kota Makassar

Marhaenist.id, Makassar - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Sulbar Soroti Pembangunan Kantor KDMP Tanpa Papan Proyek, Desak Kejari dan DPRD Jalankan Tupoksi

Marhaenist.id, Mamasa — Pembangunan kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah…

Cetak Kader Progresif dan Revolusioner, DPK GMNI FISIP UHO Kendari Gelar PPAB

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?