By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPD PA GMNI Sultra Ucapkan Selamat HUT ke-62 Harmoni Sultra, Dukung ASR Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban
Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi
Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean
GMNI DKI Jakarta Gelar Diskusi: Dasa Sila Bandung sebagai Kompas Indonesia di Tengah Ancaman Perang AS-Iran

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 26 April 2026 | 10:35 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Gambar "Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban" (Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dunia hari ini tidak kekurangan kemajuan, yang langka justru makna. Ketika teknologi melesat dan ekonomi tumbuh, manusia modern justru makin akrab dengan kecemasan, keterasingan, dan rapuhnya kepercayaan sosial. Ini bukan sekadar krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis peradaban.

Selama ini, konflik global kerap dibaca sebagai benturan identitas, sebagaimana diprediksi Samuel P. Huntington. Namun realitas mutakhir menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks: bukan sekadar benturan, melainkan guncangan peradaban, perubahan cepat yang menggoyahkan struktur sosial, psikologis, sekaligus makna hidup manusia.

Pandangan ini menguat jika kita membaca kritik Edward Said yang menolak dikotomi peradaban secara kaku. Dunia tidak pernah benar-benar terbelah; ia justru saling berkelindan. Masalahnya, percepatan global hari ini melampaui kemampuan manusia untuk memaknainya.

Di titik inilah analisis Alvin Toffler menjadi relevan: setiap lompatan peradaban selalu menghadirkan disrupsi. Namun yang terjadi kini bukan hanya disrupsi struktur, melainkan juga disrupsi makna. Teknologi mempercepat kehidupan, tetapi tidak otomatis memberi arah.

Bahkan optimisme “akhir sejarah” ala Francis Fukuyama pun menghadapi paradoksnya sendiri. Ketika kebutuhan material relatif terpenuhi, manusia justru dihadapkan pada kekosongan eksistensial. Kita terkoneksi, tetapi tidak terhubung; kita tahu banyak, tetapi tidak memahami.

Di tengah situasi ini, spiritualitas menemukan relevansinya kembali, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai kebutuhan peradaban. Bukan soal ritual semata, melainkan kesadaran akan makna, etika, dan keterhubungan manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Namun, spiritualitas tidak cukup berhenti pada ranah personal. Ia harus naik kelas menjadi kerangka kolektif, bahkan geopolitik.

Di sinilah Indonesia memiliki peluang yang jarang disadari. Dalam perspektif geopolitik budaya Nusantara, kekuatan tidak semata diukur dari militer atau ekonomi, melainkan dari kemampuan merawat keberagaman sebagai sumber harmoni. Nusantara sejak awal adalah ruang temu, bukan ruang benturan.

Baca Juga:   Merantau Keluar Negeri, Antara Peluang Emas dan Dilema Bangsa

Dalam kerangka ini, Indonesia berpotensi menjadi poros etika peradaban, menawarkan alternatif atas dunia yang kian terpolarisasi: dari dominasi menuju resonansi, dari hegemoni menuju harmoni.

Tetapi potensi itu tidak otomatis menjadi realitas. Ia menuntut konsistensi etika dalam kehidupan publik. Tanpa integritas, spiritualitas hanya akan menjadi slogan. Tanpa keteladanan, ia kehilangan daya ubah.

Guncangan peradaban yang kita hadapi hari ini tidak harus berujung pada keruntuhan. Ia bisa menjadi titik balik, jika manusia mampu menata ulang keseimbangan antara kemajuan material dan kedalaman spiritual.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena kekurangan teknologi, melainkan karena kehilangan arah. Dan arah itu, sekali lagi, tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari makna.***


Penulis: Bayu Sasongko, Alumni GMNI, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPD PA GMNI Sultra Ucapkan Selamat HUT ke-62 Harmoni Sultra, Dukung ASR Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Minggu, 26 April 2026 | 12:27 WIB
Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi
Minggu, 26 April 2026 | 10:26 WIB
Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean
Sabtu, 25 April 2026 | 15:38 WIB
GMNI DKI Jakarta Gelar Diskusi: Dasa Sila Bandung sebagai Kompas Indonesia di Tengah Ancaman Perang AS-Iran
Sabtu, 25 April 2026 | 13:45 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Desak Pembatasan Masa Jabatan Legislatif Maksimal Empat Periode
Sabtu, 25 April 2026 | 10:36 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Surat Selamat Tinggal Che Guevara Kepada Fidel Castro Tahun 1965

Marhaenist - Jalanan ini masih panjang dan penuh dengan kesulitan serta kontradiksi.…

Pencabutan Izin 28 Perusahaan Perusak Lingkungan, DPC PA GMNI Humbahas Ingatkan PT TPL Jangan Tekan Negara

Marhaenist.id, Doloksanggul — Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mencabut Izin Pemanfaatan Hutan…

Resensi Ekologi Marx – John Belammy Foster

Marhaenist.id - Pendahuluan: Fenomena degradasi ruang hidup berupa kerusakan lingkungan menuntut kerangka…

Seperti Apa Konsep Pemikiran Karl Marx, Ayo Pelajari dengan Download Buku-Buku-nya Secara Gratis Hanya Disini!

Marhaenist.id - Marx mempunyai gagasan besar sosialismenya untuk mengubah dunia pada masa…

Mengapa PDI Perjuangan Memecat Joko Widodo?

Marhaenist.id, Jakarta - PDI Perjuangan resmi memecat pemecatan Joko Widodo (Jokowi), Gibran…

Siap Proses Laporan Selama 1×24 Jam, Erman Katili Instruksikan Semua Jajaran Bawaslu Kota Gorontalo Sigap di Masa Tenang

Marhaenist.id, Gorontalo Kota - Memasuki masa tenang Pilkada Kota Gorontalo, Bawaslu Kota…

Beri Sambutan Dalam Pembukaan Konferda V PA GMNI Jakarta Raya, Pramono Anung Soroti Tingginya Ketimpangan Sosial di Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta — Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa salah satu persoalan…

Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial

Marhaenist id - Di tengah derasnya arus perubahan sosial, politik, dan kultural…

Pancasila di Persimpangan Algoritma

Marhaenist.id - Arus informasi saat ini tidak lagi mengalir secara netral. Ia…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?