
Marhaenist.id – Energi Idul fitri masih menyisakan getaran spiritual dalam momentum Halal Bihalal DPP Pengurus Alumni GMNI kali ini. Silaturahmi dan halal bihalal bukanlah sekadar ritual tahunan untuk membasuh dahaga sosial, melainkan momentum kebaruan dan sebuah ruang perjumpaan tradisi diskursif (discursive tradition) yang mempertemukan memori kolektif masa lalu dengan dialektika masa depan.
Pertemuan antara Prof. Arif Hidayat dan Prof. Niam telah memantik sebuah diskursus yang jauh lebih mendalam dan eksistensial; sebuah tamparan intelektual atas kelesuan bangsa yang dirangkum dalam alegori provokatif mengenai Ibu Pertiwi yang menopause.
Pilihan metafora ini tidak berdiri di atas prasangka gender, melainkan sebuah analisis sosiopolitik yang tajam mengenai titik nadir produktivitas kebangsaan, di mana rahim kekuasaan tak lagi mampu melahirkan kebijakan yang emansipatoris dan ovarium pemikiran mulai mengering dari gagasan-gagasan besar bagi kemaslahatan rakyat.
Ibu Pertiwi yang menopause adalah potret sebuah bangsa yang tengah kehilangan vitalitas peradabannya. Dalam kacamata tradisi diskursif, sebuah bangsa akan luruh ketika diskursus publiknya tidak lagi mampu merumuskan makna-makna baru yang relevan dengan keadilan.
Ketika etika publik mulai mengeriput akibat penetrasi kepentingan transaksional dan wajah demokrasi kusam oleh narsisme kekuasaan, maka bangsa ini sebenarnya sedang bergerak menuju musim gugur peradaban.
Prof. Arif Hidayat secara lugas membedah bahwa gejala menopause kebangsaan ini ditandai dengan hilangnya kemampuan regeneratif dalam memproduksi keadilan. Kita menyaksikan sebuah paradoks di mana struktur formal kenegaraan tetap berdiri tegak secara legal namun kehilangan ruh moralitas di dalamnya.
Dalam kondisi ini, kedaulatan bukan lagi menjadi milik rakyat yang berdaulat, melainkan menjadi komoditas di tangan para pemburu rente politik yang telah memandulkan fungsi-fungsi luhur negara.
Menjawab krisis eksistensial tersebut, Prof. Niam menawarkan sebuah sintesa yang menjadi urat nadi pergerakan kaum Nasionalis Religius: manunggalnya spirit Mujahid Mufakir dan Mufakir Mujahid. Ini adalah diksi mutakhir dan pengakuan tokoh agama kredibel terhadap tradisi diskursif yang progresif—sebuah antitesis terhadap dualisme yang selama ini membelah energi bangsa antara mereka yang hanya pandai beretorika tanpa aksi, dan mereka yang bertindak reaktif tanpa landasan pemikiran yang jernih.
Seorang Mufakir yang Mujahid adalah pemikir yang memiliki keberanian untuk turun ke gelanggang, memastikan setiap teori kebangsaan yang disusunnya tidak hanya menghuni rak perpustakaan, melainkan menjadi senjata bagi mereka yang terpinggirkan.
Sebaliknya, seorang Mujahid yang Mufakir adalah pejuang yang gerakannya senantiasa dipandu oleh kedalaman kontemplasi dan kejernihan filosofis, sehingga setiap langkah perjuangannya tidak tergelincir menjadi anarkisme yang hampa makna.
Dialog peradaban ini semakin menemukan resonansinya ketika kita meresapi bait-bait Mars Alumni GMNI. Pesan tentang kesetiaan dan pengabdian tanpa batas kepada nusa bangsa adalah suplemen penguat agar simpul inklusivitas antara kaum nasionalis dan religius tidak rapuh oleh narasi polarisasi.
Dalam rahim sejarah Indonesia, nasionalisme dan religiositas adalah diskursus yang menyatu (interwoven discourse); mereka tidak pernah menjadi dua kutub yang saling meniadakan, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan; laksana napas dan detak jantung yang menghidupkan raga bangsa.
Inilah yang disebut sebagai Nasionalisme Religius yang inklusif; sebuah kesadaran bahwa mencintai tanah air adalah manifestasi dari keimanan, dan menjalankan nilai-nilai ketuhanan adalah fondasi utama bagi kemanusiaan yang adil dan beradab.
Ketika kedua entitas ini bersinergi melalui poros Alumni GMNI yang tetap setia pada garis perjuangan, maka upaya untuk melakukan rejuvenasi atas Ibu Pertiwi menjadi sebuah keniscayaan sejarah yang tak terelakkan.
Kita tidak boleh membiarkan Ibu Pertiwi benar-benar masuk ke dalam liang lahat menopause peradaban.
Halal Bihalal ini harus dimaknai sebagai upacara kesuburan intelektual melalui penyuntikan hormon-hormon gagasan yang progresif ke dalam tubuh bangsa. Rejuvenasi ini menuntut keberanian untuk melakukan dekonstruksi atas praktik politik yang dekaden dan membangun kembali narasi kebangsaan yang berakar pada kedaulatan rakyat yang hakiki.
Setiap alumni dan kader harus bertransformasi menjadi sel-sel baru yang segar—menjadi sosok-sosok yang “berbakti dan mengabdi” sebagaimana amanat mars kita—yang mampu memicu kontraksi keadilan sosial agar bayi-bayi kesejahteraan dapat lahir kembali dari rahim hukum serta kebijakan nasional kita.
Pada akhirnya, manifesto ini adalah sebuah panggilan tugas bagi seluruh elemen bangsa untuk berhenti menjadi penonton atas kerentaan moralitas publik. Kita berdiri di persimpangan jalan: membiarkan Ibu Pertiwi layu dalam kesunyian menopause, atau menjadi Mujahid Mufakir yang menghidupkan kembali nyala api perlawanan intelektual dan perjuangan fisik demi martabat bangsa.
Melalui dialektika yang dibangun oleh Prof. Arif Hidayat dan Prof. Niam, kita diingatkan bahwa Indonesia tidak membutuhkan pahlawan karbitan, melainkan para Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang yang sanggup berdiri tegak di tengah badai pragmatisme demi menjaga agar rahim pertiwi tetap subur, tetap hangat, dan tetap melahirkan keajaiban bagi masa depan umat manusia.
Inilah ikrar kita, inilah jalan pedang intelektual kita.
Merdeka!
Penulis: Firman Tendry Masengi, DPD PA GMNI DKI Jakarta.