By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban
Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi
Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean
GMNI DKI Jakarta Gelar Diskusi: Dasa Sila Bandung sebagai Kompas Indonesia di Tengah Ancaman Perang AS-Iran
DPC GMNI Jakarta Timur Desak Pembatasan Masa Jabatan Legislatif Maksimal Empat Periode

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 26 April 2026 | 10:26 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Energi ​Idul fitri masih menyisakan getaran spiritual dalam momentum Halal Bihalal DPP Pengurus Alumni GMNI kali ini. Silaturahmi dan halal bihalal bukanlah sekadar ritual tahunan untuk membasuh dahaga sosial, melainkan momentum kebaruan dan sebuah ruang perjumpaan tradisi diskursif (discursive tradition) yang mempertemukan memori kolektif masa lalu dengan dialektika masa depan.

​Pertemuan antara Prof. Arif Hidayat dan Prof. Niam telah memantik sebuah diskursus yang jauh lebih mendalam dan eksistensial; sebuah tamparan intelektual atas kelesuan bangsa yang dirangkum dalam alegori provokatif mengenai Ibu Pertiwi yang menopause.

Pilihan metafora ini tidak berdiri di atas prasangka gender, melainkan sebuah analisis sosiopolitik yang tajam mengenai titik nadir produktivitas kebangsaan, di mana rahim kekuasaan tak lagi mampu melahirkan kebijakan yang emansipatoris dan ovarium pemikiran mulai mengering dari gagasan-gagasan besar bagi kemaslahatan rakyat.

​Ibu Pertiwi yang menopause adalah potret sebuah bangsa yang tengah kehilangan vitalitas peradabannya. Dalam kacamata tradisi diskursif, sebuah bangsa akan luruh ketika diskursus publiknya tidak lagi mampu merumuskan makna-makna baru yang relevan dengan keadilan.

Ketika etika publik mulai mengeriput akibat penetrasi kepentingan transaksional dan wajah demokrasi kusam oleh narsisme kekuasaan, maka bangsa ini sebenarnya sedang bergerak menuju musim gugur peradaban.

​Prof. Arif Hidayat secara lugas membedah bahwa gejala menopause kebangsaan ini ditandai dengan hilangnya kemampuan regeneratif dalam memproduksi keadilan. Kita menyaksikan sebuah paradoks di mana struktur formal kenegaraan tetap berdiri tegak secara legal namun kehilangan ruh moralitas di dalamnya.

Dalam kondisi ini, kedaulatan bukan lagi menjadi milik rakyat yang berdaulat, melainkan menjadi komoditas di tangan para pemburu rente politik yang telah memandulkan fungsi-fungsi luhur negara.

Baca Juga:   IMIP, Investasi, dan Kehancuran

​Menjawab krisis eksistensial tersebut, Prof. Niam menawarkan sebuah sintesa yang menjadi urat nadi pergerakan kaum Nasionalis Religius: manunggalnya spirit Mujahid Mufakir dan Mufakir Mujahid. Ini adalah diksi mutakhir dan pengakuan tokoh agama kredibel terhadap tradisi diskursif yang progresif—sebuah antitesis terhadap dualisme yang selama ini membelah energi bangsa antara mereka yang hanya pandai beretorika tanpa aksi, dan mereka yang bertindak reaktif tanpa landasan pemikiran yang jernih.

​Seorang Mufakir yang Mujahid adalah pemikir yang memiliki keberanian untuk turun ke gelanggang, memastikan setiap teori kebangsaan yang disusunnya tidak hanya menghuni rak perpustakaan, melainkan menjadi senjata bagi mereka yang terpinggirkan.

Sebaliknya, seorang Mujahid yang Mufakir adalah pejuang yang gerakannya senantiasa dipandu oleh kedalaman kontemplasi dan kejernihan filosofis, sehingga setiap langkah perjuangannya tidak tergelincir menjadi anarkisme yang hampa makna.

​Dialog peradaban ini semakin menemukan resonansinya ketika kita meresapi bait-bait Mars Alumni GMNI. Pesan tentang kesetiaan dan pengabdian tanpa batas kepada nusa bangsa adalah suplemen penguat agar simpul inklusivitas antara kaum nasionalis dan religius tidak rapuh oleh narasi polarisasi.

​Dalam rahim sejarah Indonesia, nasionalisme dan religiositas adalah diskursus yang menyatu (interwoven discourse); mereka tidak pernah menjadi dua kutub yang saling meniadakan, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan; laksana napas dan detak jantung yang menghidupkan raga bangsa.

Inilah yang disebut sebagai Nasionalisme Religius yang inklusif; sebuah kesadaran bahwa mencintai tanah air adalah manifestasi dari keimanan, dan menjalankan nilai-nilai ketuhanan adalah fondasi utama bagi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ketika kedua entitas ini bersinergi melalui poros Alumni GMNI yang tetap setia pada garis perjuangan, maka upaya untuk melakukan rejuvenasi atas Ibu Pertiwi menjadi sebuah keniscayaan sejarah yang tak terelakkan.

Baca Juga:   Revisi UU Minerba, Apakah Solusi atau Musibah?

​Kita tidak boleh membiarkan Ibu Pertiwi benar-benar masuk ke dalam liang lahat menopause peradaban.

Halal Bihalal ini harus dimaknai sebagai upacara kesuburan intelektual melalui penyuntikan hormon-hormon gagasan yang progresif ke dalam tubuh bangsa. Rejuvenasi ini menuntut keberanian untuk melakukan dekonstruksi atas praktik politik yang dekaden dan membangun kembali narasi kebangsaan yang berakar pada kedaulatan rakyat yang hakiki.

​Setiap alumni dan kader harus bertransformasi menjadi sel-sel baru yang segar—menjadi sosok-sosok yang “berbakti dan mengabdi” sebagaimana amanat mars kita—yang mampu memicu kontraksi keadilan sosial agar bayi-bayi kesejahteraan dapat lahir kembali dari rahim hukum serta kebijakan nasional kita.

​Pada akhirnya, manifesto ini adalah sebuah panggilan tugas bagi seluruh elemen bangsa untuk berhenti menjadi penonton atas kerentaan moralitas publik. Kita berdiri di persimpangan jalan: membiarkan Ibu Pertiwi layu dalam kesunyian menopause, atau menjadi Mujahid Mufakir yang menghidupkan kembali nyala api perlawanan intelektual dan perjuangan fisik demi martabat bangsa.

​Melalui dialektika yang dibangun oleh Prof. Arif Hidayat dan Prof. Niam, kita diingatkan bahwa Indonesia tidak membutuhkan pahlawan karbitan, melainkan para Pejuang Pemikir dan Pemikir Pejuang yang sanggup berdiri tegak di tengah badai pragmatisme demi menjaga agar rahim pertiwi tetap subur, tetap hangat, dan tetap melahirkan keajaiban bagi masa depan umat manusia.

​Inilah ikrar kita, inilah jalan pedang intelektual kita.

​Merdeka!


​Penulis: Firman Tendry Masengi, DPD PA GMNI DKI Jakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban
Minggu, 26 April 2026 | 10:35 WIB
Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean
Sabtu, 25 April 2026 | 15:38 WIB
GMNI DKI Jakarta Gelar Diskusi: Dasa Sila Bandung sebagai Kompas Indonesia di Tengah Ancaman Perang AS-Iran
Sabtu, 25 April 2026 | 13:45 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Desak Pembatasan Masa Jabatan Legislatif Maksimal Empat Periode
Sabtu, 25 April 2026 | 10:36 WIB
GMNI Laporkan Dugaan Korupsi Pengadaan Private Jet KPU Senilai Rp90 Miliar ke Kejagung
Jumat, 24 April 2026 | 09:51 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Refleksi Hari Lahir Bapak Proklamator: Pemuda Harus Meneladani Ajaran Bung Karno

Marhaenist.id - Bangsa Indonesia kembali diingatkan oleh sejarah bahwa tanggal 06 Juni…

Peringati Dies Natalis Ke 70, DPK GMNI STAI YPIQ Baubau Gelar Diskusi Publik dalam Menyambut PILKADA Serentak 2024

Marhaenist.id, Baubau - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Analis Politik & Militer Universitas Nasional: Mayor Teddy Dipaksakan Jadi Letkol

Marhaenist.id, Jakarta - Kenaikan pangkat Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dari…

Ziarahi ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur Bunga: Batu Hitam Pantai Selatan dan Nagasari Lampung (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 5)

Marhaenist.id, Blitar - Saat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan…

Pidato Bung Karno Tentang Isi Supersemar

Marhaenist.id - Dalam pidatonyo pada 17 Agustus 1966, Sukarno mengecam pihak yang telah…

Intoleransi Meningkat, GMNI: Masyarakat Harus Hati-hati Pilih Pemimpin di 2024

Marhaenist - Intoleransi masih menjadi persoalan yang krusial dalam hubungan kemasyarakatan di…

Resensi Ekologi Marx – John Belammy Foster

Marhaenist.id - Pendahuluan: Fenomena degradasi ruang hidup berupa kerusakan lingkungan menuntut kerangka…

Dunia Berubah Total dalam Lima Tahun

Marhaenist.id - Pada 27 Maret 2025, sebuah artikel dari CNBC Indonesia menarik…

Menolak Gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto adalah Kewajiban Ideologis bagi Marhaenis

Marhaenist.id - Wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto yang beberapa waktu…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?