By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Benarkah Soekarno Komunis?
Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO
Herwyn J. H. Malonda Resmi Menjabat sebagai Anggota DKPP RI Ex Officio Bawaslu RI
DPD GMNI DKI Jakarta Bakal Gelar Konferda I Tahun 2026, Dorong Transformasi Menuju Jakarta Kota Global
Proyek Pembangunan Daerah dan Kewenangan Eksekutif Tanpa Persetujuan DPRD

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Merantau Keluar Negeri, Antara Peluang Emas dan Dilema Bangsa

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Senin, 19 Mei 2025 | 01:01 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ramai tagar #KaburAjaDulu sebagai bentuk kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah. DOK/IST/JP.
Bagikan

Marhaenist.id – Kondisi ekonomi Indonesia butuh waktu untuk kembali membaik. Tiap saat kita mendengar keluhan sulitnya mencari penghidupan. Mereka yang bekerja pun selalu dibayangi kekhawatiran kemungkinan kehilangan penghidupan setiap saat.

Tak heran di dunia maya orang muda mengungkapkannya lewat tagar #KaburAjaDulu.

Kendati sudah mulai surut tapi kita tetap yakin banyak orang terpengaruh, buktinya makin banyak sebaran konten medsos yg mengajak WNI cari kerja di negara-negara lain di seluruh dunia.

“Kita mesti bersikap kritis penting agar tidak nekad berangkat lalu kena masalah dan atau kecewa sampai tujuan”.

Meninggalkan tanah air untuk bekerja dan tinggal diluar negeri kini menjadi pilihan yang makin populer di kalangan anak muda Indonesia. Di mata sebagian, langkah ini dipandang sebagai keputusan oportunistik. Namun sesungguhnya, bagi banyak orang, ini adalah pilihan rasional demi masa depan yang lebih baik, bukan karena kurangnya nasionalisme.

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Merantau adalah peluang emas bagi siapa pun yang ingin memperbaiki taraf hidup dan mengembangkan kapasitas diri. Negara-negara maju menawarkan kompensasi yang jauh lebih tinggi di sektor-sektor strategis seperti teknologi, kesehatan, dan teknik. Tak hanya itu, sistem kerja yang profesional, transparan, dan meritokratis menjadi magnet kuat bagi para pekerja terdidik dari negara berkembang.

Bekerja di luar negeri menumbuhkan etos kerja, disiplin, dan tanggung jawab. Perantau belajar hidup mandiri, menghadapi tekanan, dan beradaptasi dengan budaya baru. Mereka juga mendapat akses ke teknologi mutakhir dan jaringan profesional global, yang memperluas wawasan serta memperkaya keterampilan. Singkatnya, merantau sering kali menjadi “sekolah kehidupan” yang tak tersedia di dalam negeri.

Namun, di balik cerita-cerita sukses itu, tidak sedikit yang pulang dalam keadaan hancur. Ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa persiapan matang, kendala bahasa dan budaya, biaya hidup yang tinggi, tekanan mental, hingga eksploitasi di tempat kerja menjadi sisi gelap dari pengalaman merantau. Ada yang kehilangan tabungan, bahkan kesehatan mental. Realita ini kerap tersembunyi di balik narasi glamor para perantau yang berhasil.

Baca Juga:   Ganjar dan Politik Rasional

Yang lebih mencemaskan adalah dampaknya bagi bangsa. Ketika generasi terbaik Indonesia memilih tinggal dan berkarya secara permanen di luar negeri, negara kehilangan aset paling berharga, manusia unggul. Ini adalah wajah nyata dari brain drain. Akibatnya, sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, teknologi, dan riset kekurangan tenaga ahli. Proses inovasi tersendat. Ketimpangan antara pusat dan daerah makin lebar. Daya saing nasional melemah di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sayangnya, Indonesia belum mampu membendung gelombang ini. Upah yang tak kompetitif, birokrasi lambat, minimnya dukungan pada riset, serta lemahnya sistem meritokrasi membuat banyak profesional muda merasa tak dihargai di negeri sendiri. Mereka pergi bukan karena benci, tapi karena tak menemukan ruang untuk berkembang.

Tentu kita tak bisa dan tak boleh menghalangi orang merantau. Itu adalah hak individu. Tapi yang penting adalah menciptakan ekosistem yang membuat mereka ingin kembali. Negara harus membuka ruang partisipasi nyata, menciptakan iklim kerja yang adil dan kompetitif, serta memberi ruang bagi reverse brain drain. Mereka yang telah belajar dan bekerja di luar negeri semestinya bisa pulang membawa pulang ilmu, jaringan, dan pengalaman untuk membangun negeri.

Karena sejatinya, nasionalisme bukan soal tinggal di tanah air sepanjang hidup, tetapi soal keberanian untuk kembali, dan memberi.


Penulis : Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM. Penulis tinggal di Berlin, Jerman.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Benarkah Soekarno Komunis?
Jumat, 23 Januari 2026 | 01:44 WIB
Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO
Kamis, 22 Januari 2026 | 19:43 WIB
Herwyn J. H. Malonda Resmi Menjabat sebagai Anggota DKPP RI Ex Officio Bawaslu RI
Kamis, 22 Januari 2026 | 16:35 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Bakal Gelar Konferda I Tahun 2026, Dorong Transformasi Menuju Jakarta Kota Global
Kamis, 22 Januari 2026 | 14:52 WIB
Proyek Pembangunan Daerah dan Kewenangan Eksekutif Tanpa Persetujuan DPRD
Kamis, 22 Januari 2026 | 10:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Rasio Manusia vs Rasio Algoritma: Negara Kafka dalam Rezim Algoritmik

Marhaenist.id - Kita sedang hidup dalam sebuah zaman yang dapat disebut sebagai…

Picuh Kemarahan Rakyat hingga Lahirnya Gerakan Bubarkan DPR, Inilah Deretan Anggota DPR RI yang Dianggap Kontroversial!

Marhaenist.id - Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) belakangan…

Geopolitik Marhaenisme di Laut Nusantara, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara: Kedaulatan untuk Rakyat Maritim

Marhaenist.id, Blitar - Kecaman Kementerian Luar Negeri China atas penangkapan Presiden Venezuela…

GMNI Desak Pencopotan Bahlil, Adili Jokowi dan Pembubaran PIK Sebagai PSN

Marhaenist.id, Jakarta - Aliansi Mahasiswa yang tergabung dalam Front Pengadilan Rakyat menggelar…

Menumbuhkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digitalisasi

Marhaenist.id - Untuk mendasarkan kehidupan kita pada Pancasila, tak cukup dengan sekedar…

Tanggapi Kenaikan PPN 12%, GMNI Kendari Minta PJ Gubernur Sultra Lakukan Upaya Antisipasi Dampak Eskalasinya

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Esensi Perang Gerilya Dari Che Guevara

Marhaenist - Kemenangan perjuangan bersenjata rakyat Kuba atas kediktatoran Batista bukan hanya…

Di Banyuwangi, Atikoh Sampaikan Pentingnya Gunakan Hak Pilih

Marhaenist.id, Banyuwangi - Siti Atikoh Ganjar mengajak masyarakat untuk datang ke Tempat…

Gelar Konfercablub, Ogi Sahputra – Daniel Alfa Resmi Terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris DPC GMNI Pekanbaru Periode 2025-2027

Marhaenist.id, Pekanbaru - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?